
"Aku sudah tidak sabar lagi melihat kehancuran kalian, jangan kalian pikir dengan aku berada di sel tahanan ini, maka kalian bisa bebas begitu saja. Nikmati saja dulu kebahagiaan kalian saat ini, menikah, bersenang-senang sebelum kalian berdua nanti merasakan apa yang telah aku rasakan saat ini. Ara, Leo, sampai kapanpun dendam aku ini akan selalu ada di dalam hati untuk kalian. Camkan itu kata-kataku! Jangan panggil aku Tama kalau aku tidak bisa membuat hidup kalian berdua menderita. Mungkin saat ini belum, tapi suatu saat nanti kalian pasti akan menyesal dengan apa yang sudah kalian lakukan terhadapku," gumam Tama dalam hati sembari mengepal erat kedua tangannya menahan emosi yang saat ini bergejolak di dalam hatinya.
...
Keesokan harinya, Ara telah siap dan akan pergi ke Perusahaan seperti biasa akan diantar oleh sang suami. Hari ini ia begitu banyak kerjaan karena baru saja menjalin kerjasama dengan perusahaan lain, ditambah lagi Amira yang saat ini masih izin tidak masuk kerja dikarenakan menunggu ibunya yang belum siuman, sehingga membuat Ara hari ini harus tetap pergi ke kantor. Tetapi setelah dari kantor nanti, ia berniat akan kembali mengunjungi bu Laras yang masih berada di rumah sakit. Sedangkan Bu Maria pagi ini sudah berniat akan langsung mengunjungi sahabat lamanya itu setelah tadi malam dipaksa oleh Ara dan Amira untuk pulang ke rumah terlebih dahulu dan beristirahat.
Pagi ini Leo tampak bangun terlebih dahulu dan menyiapkan sarapan untuk mereka. Memang Leo sudah mengatakan kepada istrinya, jika tugas membuat sarapan tidak harus seorang istri, karena ia juga ingin sesekali menyiapkan sarapan untuk istri tercintanya dan Ara pun menyetujui apa yang diinginkan oleh suaminya itu. Setelah menikmati sarapan sandwich yang dibuat oleh Leo, mereka pun segera saja pergi menuju ke perusahaan.
Saat di kantor, Ara tampak sibuk dengan pekerjaannya. Ia merasa sedikit kewalahan karena tidak adanya Amira, ia juga dapat merasakan apa yang Amira rasakan selama ia tidak bekerja. Untungnya ada beberapa staf yang saling berhubungan dengan pekerjaannya saat ini yang dapat membantunya sehingga Ara masih dapat bernafas lega.
...
Sepulang dari kantor, Seno langsung saja melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit untuk mengunjungi Amira dan melihat kondisi bu Laras. Entah kenapa Seno begitu khawatir terhadap Amira, meskipun saat ini ia tahu jika Bu Maria sedang berada di rumah sakit dan menemaninya karena bu Laras adalah sahabat dari bu Maria, tetapi Seno tetap saja merasa khawatir dan merasa Amira hanya sendirian. Ara juga belum dapat mengunjungi bu Laras karena kesibukannya di kantor, begitu juga dengan Leo.
Setibanya di rumah sakit, Seno langsung saja menuju ke ruangan ICU. Seno melihat bu Maria yang saat ini sedang berada di luar ruangan, sedangkan Amira sedang berada di dalam melihat kondisi ibunya. Seno pun menghampiri bu Maria yang terlihat sangat sedih itu.
"Tante," ucap Seno.
"Seno, kamu baru datang?" Tanya bu Maria.
"Iya Tante, Seno baru aja sampai. Tante udah makan?" Jawab Seno dan bertanya.
"Udah tadi siang, Tante udah makan bareng Amira," jawab Bu Maria.
__ADS_1
"Syukurlah Tante, Seno lega dengernya. Seno pikir Tante dan Amira belum makan," ucap Seno.
"Kamu tenang aja Sen, meskipun dalam kondisi sedih kayak gini, Tante pasti tidak akan lupa untuk makan, terlebih lagi Amira saat ini juga harus menjaga kondisinya. Kalau Tante sendiri nggak mau makan, gimana dengan Amira? Siapa yang akan mengingatkan Amira?" Tanya bu Maria.
"Iya Tante, Tante benar. Seno jadi merasa lega," jawab Seno.
"Kamu kayaknya khawatir banget ya Sen sama Amira?" Tanya bu Maria.
"Oh, iya Tante, tapi bukan apa-apa kok, hanya sebagai teman aja," kata Seno.
Bu Maria pun tersenyum mendengar ucapan Seno, "Lebih dari teman juga enggak apa-apa kok Sen. Amira juga jomblo kan? Terus Amira itu juga anak yang baik."
"Tante bisa aja," kata Seno. Akan tetapi Seno juga senang melihat bu Maria yang tadinya sedih kini tersenyum.
Saat itu, bu Maria dan Seno sama-sama melihat ke arah pintu ruang ICU yang terbuka, Amira keluar dari ruangan tersebut dengan kondisi matanya yang membengkak akibat kurang tidur dan juga menangis sedari semalam. Hatinya tidak bisa tenang, ia terus saja memikirkan ibunya yang belum juga sadar.
"Tante ... ," ucap Amira pula lalu menghamburkan pelukannya kepada bu Maria.
Hati Seno terasa sangat tersentuh, ia dapat merasakan kesedihan yang Amira rasakan saat ini.
"Ada apa ini? Apa aku benar-benar udah jatuh cinta sama Amira? Masa sih? Tapi kalau iya pun juga nggak masalah lah, toh Amira juga jomblo," gumam Seno dalam hati.
...
__ADS_1
Ara baru saja menyelesaikan pekerjaannya, saat ini ia sedang menunggu Leo menjemputnya. Mereka berdua akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk bu Laras. Akan tetapi, sampai pukul 06.00 sore Leo belum juga menampakkan batang hidungnya. Ara pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di dalam ruangannya, hingga tanpa sadar Ia pun terlelap karena kelelahan.
Leo baru saja tiba di Perusahaan Caitlin Desainer milik Ara. Ia pun langsung masuk ke dalam perusahaan karena tidak melihat sang istri ada di depan menunggunya. Dia juga berapa kali menghubunginya tetapi tidak ada jawaban. Setelah menanyakan kepada satpam tentang keberadaan Ara dan satpam mengatakan jika bos-nya itu sama sekali belum terlihat, Leo pun bergegas melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Direktur untuk mencari keberadaan istrinya itu.
Saat tiba di ruangan Ara, Leo melihat istrinya yang saat itu sedang terlelap. Sedangkan ponselnya dalam keadaan mode silent, maka dari itu Ara sama sekali tidak mendengar telepon dari suaminya.
"Ya ampun, ternyata istri aku lagi tidur. Pantesan aja sama sekali nggak jawab di telepon. Kayaknya kamu capek banget ya Sayang," ucap Leo.
Karena tidak tega membangunkan Ara yang terlihat sangat lelah, Leo pun berinisiatif untuk menggendong istri tercintanya itu menuju ke mobil. Akan tetapi baru saja Leo menyentuh pundaknya, Ara langsung terbangun dan refleks memukul wajah Leo. Ara tidak tahu jika yang menyentuhnya itu adalah suaminya sendiri.
"Aw," rintih Leo karena terkena pukulan di pipinya.
"Sayang, maafin aku ya. Aku nggak tahu kalau itu kamu," ucap Ara yang baru tahu jika yang ada yang ada didepannya saat ini bukanlah orang jahat.
"Sayang, padahal niat aku baik lho mau gendong kamu, tapi kamu malah gampar aku kayak tadi," ucap Leo dengan mode bete.
"Iya aku minta maaf deh Sayang, aku kira tadi siapa mau macam-macam sama aku, rupanya kamu," ucap Ara
"Iya deh nggak apa-apa, aku maafin tapi kiss dulu dong," pinta Leo yang jahil menggoda Ara.
"Kamu nih, mulai deh cari kesempatan," kata Ara.
"Mau nggak? Kalau nggak mau aku ngambek nih," kata Leo.
__ADS_1
"Ih cowok ngambekkan," ledek Ara tetapi ia pun mengecup sekilas bibir suaminya itu sehingga membuat Leo tersenyum sumringah
...****************...