
Setibanya di rumah sakit, Ara langsung saja dibawa ke ruang pemeriksaan dan segera ditangani.
Bu Amara tampak risau menunggu di depan ruang pemeriksaan. Ia terus saja mencoba menghubungi anaknya tetapi hasilnya tetaplah sama. Akhirnya ia hanya bisa dapat berdiam diri sambil menunggu hasil pemeriksaan Ara
Krek …
Tidak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan dan menemui bu Amara.
"Dok bagaimana keadaan menantu saya?" Tanya bu Amara yang begitu antusias.
"Bu, Ibu tidak perlu khawatir. Sekarang menantu Ibu juga sudah siuman kok, hal ini memang sudah biasa terjadi kepada ibu hamil," kata dokter Mila.
"Ibu hamil? Maksud dokter menantu saya hamil gitu?" Tanya bu Amara yang belum mengerti akan maksud dari dokter Mila.
"Iya Bu benar, Bu Ara sedang hamil. Atau Ibu memang belum tau ya," kata dokter Mila.
"Belum Dok, karena memang kebetulan hari ini menantu saya itu pingsan, jadi saya bawa ke sini," kata bu Amara.
"Oh … kalau gitu selamat ya Bu, karena menantu ibu hamil dan sebentar lagi Ibu akan mempunyai cucu. Calon bayinya juga sehat di dalam perut ibunya," kata dokter Mila.
"Terima kasih banyak ya Dokter. Saya senang sekali mendengarnya," kata bu Amara dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Iya Bu sama-sama, Ibu boleh kok menemui Bu Ara sekarang. Saya permisi dulu ya," ucap Dokter Mila.
"Iya Dok, terima kasih banyak ya sekali lagi," ucap bu Amara.
"Sama-sama Ibu, jawab Dokter dan berlalu dari pandangan bu Amara.
Sedangkan bu Amara langsung saja menuju ke ruang pemeriksaan untuk menemui menantunya itu.
"Sayang!" Panggil bu Amara.
__ADS_1
"Iya Mam," jawab Ara.
Lalu Bu Amara pun mendekati menantunya itu dan memeluknya sejenak.
"Mami, Ara kenapa? Kenapa Ara bisa ada di sini?" Tanya Ara, ia juga bingung kenapa tiba-tiba ibu mertuanya itu memeluknya.
"Sayang, kamu lupa ya kalau kamu tadi telepon Mami minta Mami datang. Mami khawatir banget sama kamu, jadi mami langsung datang, dan begitu Mami sampai, kamu pingsan gitu aja di pelukan Mami," kata bu Amara.
"Jadi Mami yang bawa Ara rumah sakit?" tanya Ara.
"Iya Ra, Mami minta tolong satpam di rumah kamu tadi sebentar," jawab bu Amara.
"Maaf ya Mi jadi nyusahin Mami. Ara benar-benar nggak ingat, yang Ara ingat tadi Ara lagi berjuang berjalan untuk menuju ke ruang depan," ucap Ara.
"Kamu nih ngomong apa sih Sayang, sama sekali nggak menyusahkan. Dan syukurlah Sayang kamu nggak apa-apa," ucap bu Amara. "Oh ya kamu udah tau belum kabar bahagia saat ini yang sedang terjadi?" Tanyanya.
"Kabar bahagia? kabar bahagia apa Mi?" Tanya Ara.
"Memangnya Dokter Mila tadi nggak kasih tau ke kamu ya?" Tanya bu Amara pula.
"Kamu hamil Sayang, selamat ya," ucap bu Amara.
Ara menutup mulut dengan kedua tangannya, ia tidak percaya mendengar kabar bahagia itu. Ara tidak menyangka jika saat ini di dalam perutnya kini telah tumbuh benih cinta dirinya dan sang suami yang sangat dicintainya itu. Ara pun mengelus lembut perutnya yang masih terlihat datar, tersimpul senyum tipis di sudut bibirnya karena merasakan kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan.
"Mami, Ara beneran hamil?" Tanya Ara dengan air mata terharu bahagia yang menetes.
"Iya Sayang, kamu hamil. Mami udah coba hubungi suami kamu dari di jalan tadi, tapi sama sekali nggak ada jawabannya," kata bu Amara.
"Leo hari ini ada meeting penting sama investor dari Kanada Mi. Mungkin hp-nya di-silent atau ditinggal di ruangannya," kata Ara.
"Oh gitu, pantas saja. Ya udah nggak papa, biar nanti jadi kejutan buat Leo. Yang penting kamu baik-baik aja, malahan ada kabar bahagia kayak gini. Mami seneng banget, Mami akan segera kasih tau sama Mami kamu kalau kita bakalan punya cucu," kata bu Amara dengan sangat bahagia, sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh Ara saat ini.
__ADS_1
...
Rapat dengan investor dari Kanada telah selesai dan berjalan lancar. Perasaan Leo begitu lega meskipun dalam rapat tadi sesekali ia merasakan hatinya gelisah, gelisah karena memikirkan sang istri yang kurang sehat di rumah. Selesai rapat pun ia langsung saja menuju ke ruangannya dan meraih ponsel untuk segera menghubungi Ara. Saat itu ia melihat di ponselnya ada beberapa panggilan tak terjawab dari bu Amara.
"Mami? Mami ngapain ya telepon aku sampai berkali-kali kayak gini?" gumam Leo.
Karena perasaannya tidak enak, Leo pun segera memanggil kembali nomor telepon yang baru saja menghubunginya itu.
"Halo Mami," ucap Leo saat maminya itu telah menjawab panggilannya.
"Halo Leo, kamu dari mana aja sih Leo?" Tanya bu Amara. Padahal dia sudah tahu jika Leo tadi sedang rapat, Ara sendiri yang menjelaskannya. Akan tetapi bu Amara saat ini hanya sedang berpura-pura saja.
"Maaf Mi, Leo baru aja selesai meeting. Mami Ada apa telepon Leo berkali-kali?" Ucap Leo dan bertanya.
"Mendingan sekarang kamu langsung ke Rumah Sakit Medika aja, istri kamu sekarang ada di rumah sakit ini," kata bu Amara.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Leo sangat terkejut dan tidak tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Mami, Mami serius? Istri Leo sakit apa Mi?" Tanya Leo.
"Iyalah Mami serius, nggak mungkin Mami main-main. Kamu sekarang ke rumah sakit aja ya. Tetap hati-hati bawa mobilnya, jangan ngebut-ngebut. Kamu tenang aja di sini ada Mami yang jaga Ara, Ara juga udah ditangani kok sama dokter," kata Bu Amara. Ia mendadak khawatir jika Leo tergesa-gesa maka akan sangat berbahaya di perjalanan nanti.
"Iya Mi, titip Ara ya. Leo segera ke sana," kata Leo.
Lalu panggilan telepon pun terputus, Leo bergegas pergi ke rumah sakit untuk menemui sang istri.
Selama di dalam perjalanan, hatinya begitu tidak tenang. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dapat segera melihat kondisi istrinya. Untungnya siang ini jalanan tidak terlalu ramai dan cuaca sangat cerah, sehingga Leo dengan cepat dan selamat tiba di rumah sakit.
Leo menghampiri istri dan ibunya yang saat ini masih berada di ruang pemeriksaan, ia begitu sangat khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya itu.
"Sayang," ucap Leo saat ia telah masuk ke ruang pemeriksaan. Ia pun langsung saja mendekati sang istri lalu meraih tubuh Ara ke dalam pelukannya serta mencium kening dan rambut istrinya itu.
__ADS_1
Kini hatinya sedikit lega karena melihat sang istri yang ada di depannya baik-baik saja.
...****************...