Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_255


__ADS_3

"Stop Yah! Apa Ayah gak kasian liat Ibu yang kesakitan seperti ini?" Teriak Amira. Kini ia telah berdiri di hadapan pak Yanto, hatinya begitu sakit dan menetap ayahnya itu dengan penuh kebencian.


"Kamu itu tau apa, kalau kamu tidak mau Ayah menyiksa ibumu, makanya kasih Ayah uang," kata pak Yanto.


"Uang, uang, uang, itu aja yang ada dalam otak Ayah, kalau Ayah mau uang, harusnya Ayah itu kerja. Bukannya udah tugas Ayah sebagai seorang ayah dan suami harus bekerja untuk keluarganya? Ini enggak, malah selalu aja merampas uang hasil Ibu jualan, kalau gak dapat langsung aja main tangan menyiksa Ibu. Laki-laki macam apa Ayah itu, laki-laki tidak berguna," kata Amira yang dengan berani menentang ayahnya karena emosi dalam dirinya sudah berapi-api dan tidak dapat dibendung lagi.


Plak … sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Amira hingga membekas kemerahan dan luka di sudut bibirnya, akan tetapi rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Lagi Yah, tampar aku lagi biar Ayah puas!" Teriak Amira dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Dasar anak kurang ajar!" Teriak pak Yanto sembari mengangkat tangannya hendak menampar Amira lagi.


"Jangan … aku mohon jangan sakiti Amira lagi," pinta bu Laras yang menangis tersedu-sedu sembari memegang kaki suaminya itu hingga pak Yanto pun mengurungkan niatnya.


"Sekarang berikan aku uang, atau kalian berdua akan aku habisi," bentak pak Yanto.


"Ini Mas, aku cuma ada uang segini, ini pun untuk modal aku jualan besok," kata bu Laras dan memberikan empat lembar uang 50 ribu kepada pak Yanto.


"Jangan Bu, itu buat Ibu jualan besok kan," larang Amira.


"Udah Nak gak papa," kata bu Laras. Lebih baik ia memberikan uangnya dari pada harus melihat Amira disakiti. Baginya biarlah dirinya yang selalu disakiti asalkan bukan anaknya.


"Gini dong dari tadi kan enak," ucap pak Yanto lalu menyambar uang tersebut dari tangan bu Laras.


Setelah itu, pak Yanto pun keluar dari rumah, untuk apa lagi kalau bukan bermain judi. Ia jarang pulang, tapi jika pulang pasti hanya untuk meminta uang.


"Bu, maafin Amira ya belum bisa kasih kehidupan yang baik untuk ibu. Ini Amira ada uang 300 ribu, Ibu ambil ya 200 ribunya untuk modal jualan besok, 100 ribunya buat pegangan Amira," ucap Amira sembari memberikan uang tersebut kepada bu Laras.


"Jangan Nak, kamu juga perlu untuk sehari-sehari kamu, untuk isi bensin, untuk makan siang," tolak bu Laras.


"Gak papa Bu, 100 ribu ini cukup kok. Lagian satu Minggu lagi Amira gajian, Ibu terima ya," kata Amira.


Akhirnya bu Laras pun menerima uang tersebut karena terus dipaksa oleh Amira.


"Terimakasih ya Nak," ucap bu Laras.

__ADS_1


"Iya bu sama-sama," jawab Amira lalu memeluk ibunya.


...


"Malam Mi, Pi, ucap Leo yang menghampiri kedua orang tuanya di ruang keluarga sedang menonton televisi.


"Malam juga Sayang," balas bu Amara.


"Malam Leo, gimana kerjaan kamu lancar?" Tanya pak Ardi.


"Alhamdulillah lancar Pi, kerjaan Papi di Bekasi gimana?" Jawab Leo dan bertanya balik.


"Ya alhamdulillah lancar juga," jawab pak Ardi.


"Syukurlah Pi, jadi Papi berapa hari di Jakarta?" Tanya Leo lagi.


"Tiga hari aja, besok Papi mau ke kantor kita yang di sini dulu," jawab pak Ardi.


"Hm … baru pulang itu coba kek istirahat dulu di rumah, ini gak langsung ke kantor lagi," gumam bu Amara sembari mengganti chanel televisi dan pandangan mata yang terfokus pada siaran televisi.


"Papi cuma sebentar aja kok ke kantornya, siang Papi pulang terus kita shopping ya Mi," kata pak Ardi.


"Tau ah," jawab bu Amara dengan wajah cemberut tanpa melihat ke arah lawan bicaranya itu.


"Hayo ... Nyonya udah ngambek tuh Pi," kata Leo melirik ibunya.


"Mi, jangan ngambek dong, pujuk pak Ardi," akan tetapi tetap tidak digubris oleh istrinya.


"Pujuk terus Pi, ada tas limited edition baru keluar loh di butiknya Tante Maria," bisik Leo.


"Hm ... Mi, besok kita beli tas limited edition yang baru keluar di butiknya Bu Maria ya, masih hangat lho," pujuk pak Ardi lagi sembari mencolek-colek lembut lengan bu Amara.


"Emangnya Papi tau dari mana?" Tanya bu Amara.


"Leo tuh Mi yang kasih tau Papi," jawab pak Ardi.

__ADS_1


"Emangnya itu beneran Sayang?" Tanya bu Amara.


"Beneran Mi, Ara yang bilang. Katanya besok siang gitu," jawab Leo.


"Memang dalam rangka apa Ara cerita masalah tas sama kamu?" Tanya bu Amara lagi.


"Gak dalam rangka apa-apa Mi, biasalah cerita-cerita aja jadi lari kesitu pembahasannya," jawab Leo.


"Oh … gitu," gumam bu Amara dan masih mempertahankan ngambeknya karena gengsi, padahal dalam hatinya mau banget tas limited edition, siapa coba yang mau menolak dibelikan tas mahal, langka pula.


"Gimana Mi, mau gak?" Tanya pak Ardi.


Dengan rasa sedikit malu-malu, bu Amara menganggukkan kepalanya. Pak Ardi dan Leo tersenyum melihat akan sikap wanita yang sangat mereka cintai itu.


"Tapi paginya Papi pergi ke kantor dulu boleh kan?" Tanya pak Ardi.


"Iya, tapi jangan bohong ya," jawab bu Amara.


"Gak Sayang, senyum dong," pinta pak Ardi.


Lalu bu Amara menatap mata suaminya dengan senyum yang mengambang. Pak Ardi pun segera meraih tubuh bu Amira kedalam dekapan hangatnya.


Leo tersenyum, ia sangat bahagia melihat harmonisnya hubungan kedua orang tuanya itu. Meskipun usia mereka tidak lagi muda, akan tetapi keromantisan antara mereka tidak pernah pudar.


...


Keesokan harinya, Ara melihat Amira yang sedari tadi hanya diam dan fokus di depan laptop-nya. Tidak seperti biasanya, meskipun banyak kerjaan Amira tetap menyempatkan diri untuk bercanda dan bersikap ramah kepada Ara.


"Ada apa ya dengan Amira, kenapa dari tadi diam aja, apa lagi ada masalah atau aku yang gak sengaja buat salah dengan Amira? Sebaiknya aku tanyain apa gak ya? Tapi gimana kalau Amira gak suka aku ikut campur masalah pribadinya? Ah itu urusan belakang deh, mau Amira cerita apa gak itu terserah Amira aja, haknya dia. Yang penting aku tanya dulu sebagai bentuk kepedulian aku sama Amira," ucap Ara yang bermonolog dengan hatinya.


Ara pun segera menghampiri Amira dan bertanya "Mir, apa kamu baik-baik aja?"


Amira mendongakkan kepalanya, betapa terkejutnya saat ia melihat wajah memar Amira dan ada luka di sudut bibirnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2