Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-315


__ADS_3

Dengan sangat telaten dan tanpa rasa jijik, Bu Amara membersihkan sisa muntah yang belepotan di mulut Ara dan memberinya minum serta mengusap-usap pundaknya dengan minyak angin.


"Makasih ya Mi, maafin Ara," ucap Ara.


"Gak apa-apa Sayang, gak usah minta maaf. Nggak ada yang salah kok," ucap bu Amara tersenyum.


"Ara minta maaf karena udah nyusahin Mami, bahkan Mami sampai membersihkan bekas muntahan Ara kayak gini, Ara benar-benar enggak sopan ya Mi," ucap Ara.


"Sayang, kamu ini ngomong apa sih. Siapa yang bilang kamu nggak sopan? Lagipula ini kan bukan keinginan kamu juga. Ingat, sekarang itu kamu lagi lemah Sayang, udah ya gak usah berpikiran macam-macam. Yang penting kamu pikirin aja kesehatan kamu," kata bu Amara.


Ara pun mengangguk, ia sebenarnya merasa sangat tidak enak terhadap ibu mertuanya itu, akan tetapi mau gimana lagi, ia saat ini benar-benar tidak mampu untuk mengurusi dirinya sendiri, apalagi untuk mengurus suaminya.


"Kamu coba makan lagi ya beberapa suap, karena kamu harus minum vitamin," kata bu Amara.


Ara pun mengangguk menyetujuinya, lalu bu Amara pun kembali menyuapi menantunya itu. Setelah beberapa sendok bubur masuk ke perutnya, Ara merasa kembali ingin muntah. Ia memilih merebahkan tubuh kembali agar bubur yang baru saja ditelannya tidak keluar lagi. Akan tetapi usahanya itu sia-sia, lagi-lagi Ara langsung saja mengeluarkan seluruh isi perutnya hingga habis. Rasanya begitu pedih, dadanya juga terasa sesak saat itu.


Bu Amara sangat kasihan melihat kondisi Ara saat ini, akan tetapi ya itulah kodratnya sebagai wanita, mual-mual seperti yang Ara rasakan saat ini adalah hal biasa dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Setelah waktunya nanti berakhir, setiap ibu pasti akan merindukan masa-masa ini.


Setelah dirasa dadanya tidak lagi sesak, Ara meminum susu ibu hamil dan juga vitamin yang sudah disiapkan oleh bu Amara. Bu Amara juga menyiapkan beberapa potong buah untuk Ara, agar ia bisa sedikit makan buah-buahan tersebut untuk mengisi perutnya.


"Sayang, kamu bawa tidur aja ya lagi supaya rasa mual kamu itu berkurang seperti biasa," kata bu Amara.


"Iya Mi, nggak apa-apa kan kalau Ara tidur lagi?" Tanya Ara.


"Ya nggak apa-apa Sayang, kamu istirahat aja ya. Mami akan selalu ada di sini temenin kamu," jawab bu Amara.

__ADS_1


"Iya Mi, makasih ya," ucap Ara.


"Sama-sama Sayang," jawab bu Amara.


Lalu Ara pun mencoba memejamkan matanya, sedangkan bu Amara duduk di sofa sambil menonton televisi.


.....


Di saat Ara yang sedang mengalami morning sickness, berbeda dengan Sarah yang saat ini telah melewati masa morning sickness-nya itu. Karena usia kandungannya saat ini sudah memasuki trimester 2 yaitu kandungnya sudah memasuki usia empat bulan. Akan tetapi, meskipun demikian Bryan tetap menjadi suami yang siap siaga dan sangat memperhatikan istrinya. Meskipun Sarah sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah, tetap saja ia melarangnya, ia tetap memperkerjakan pembantu untuk melakukan tugas-tugas tersebut. Sedangkan ibunya Bryan, Bu Sinta juga selalu sibuk untuk mengurus Kayla. Tapi bukan berarti bu Sinta tidak memperhatikan Sarah, ia juga sangat memperhatikan Sarah meskipun ada pembantu yang menyiapkan segalanya untuk Sarah.


"Bu udah biar Sarah aja. Sarah kan sekarang udah baik-baik aja, Sarah bisa masak kok," kata Sarah.


"Nggak usah Sayang, mumpung sekarang Kayla lagi istirahat, kamu juga ikut istirahat aja gih sama Kayla. Biar Ibu aja yang masak," kata bu Sinta.


"Ya udah deh kalau gitu, Sarah ke kamarnya Kayla ya Bu," kata Sarah.


"Iya Sarah, kan Ibu dari tadi udah suruh kamu ke sana," jawab bu Sinta.


"Tapi Sarah nggak enak Bu sama Ibu," ucap Sarah.


"Kamu nggak perlu ngerasa nggak enak sama ibu, yang penting kamu istirahat, jaga kondisi kamu, ingat di dalam perut kamu itu ada anak yang butuh istirahat juga Sayang," kata bu Sinta seraya menunjuk perut menantunya yang sudah terlihat agak membuncit.


"Tapi kan katanya ibu hamil itu nggak boleh manja-manja Bu," kata Sarah.


"Udah, buruan sana istirahat! Pokoknya untuk makan malam kali ini biar ibu yang siapin," kata bu Sinta dan Sarah pun hanya menyetujuinya saja.

__ADS_1


Sarah sangat beruntung karena memiliki ibu mertua seperti ibu kandungnya sendiri, yang begitu menyayanginya. Kasih sayang yang sudah lama tidak ia dapatkan dari orang tuanya, kini telah ia dapatkan kembali dari ibu mertuanya itu.


Sarah pun menuju ke kamar Kayla anaknya, ditatapnya wajah polos sang anak yang saat tertidur pulas. Ia mengusap lembut rambut sang anak lalu mencium keningnya, terbesit di dalam hatinya merasa sangat bersedih karena sebentar lagi Kayla yang baru saja berumur 2 tahun akan memiliki seorang adik. Meskipun sebenarnya itu tidak menjadi masalah, terlebih lagi Kayla juga sudah tidak meminum ASI. Sarah hanya berpikir jika kasih sayang untuk Kayla nantinya akan berkurang jika anak keduanya sudah lahir. Tetapi pikiran seperti itu segera dibuangnya jauh-jauh, mana mungkin ia akan mengurangi kasih sayang kepada anak pertamanya, dia, Beni dan juga bu Sinta pastinya akan berusaha untuk menyayangi keduanya dengan sepenuh hati dan adil tanpa pilih kasih.


...


Malam ini sangat indah, karena terangnya sinar rembulan ditemani ribuan bintang-bintang di langit. Tampak Aria yang sedang duduk seorang diri di depan teras rumahnya sembari menatap keindahan itu, entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Entahlah, hanya Aria dan Tuhan saja yang tahu.


Saat itu Arka yang sudah bersiap-siap akan pergi menjemput sang kekasih pun menghampiri adiknya itu.


"Ngapain kamu Dek? bengong aja," tanya Arka.


"Ye … ganggu aja deh, terserah aku dong mau bengong kek, mau apa kek, udah sana pergi! kasian tuh Kak Sherin udah nungguin," hardik Aria.


"Ye sewot, ditanyain juga. Ada masalah apa? Masalah cinta bertepuk sebelah tangan yang belum juga tergapai ya?" Tanya Arka dengan maksud meledek adiknya itu.


Akan tetapi ia tidak menyangka jika ledekannya itu membuat wajah adiknya tiba-tiba menjadi muram.


"Dek, emang beneran ya? Maaf, maaf, Kakak cuma bercanda aja kok," ucap Arka.


"Nggak papa Kak, lagian yang Kakak bilang itu memang benar kok. Aku memang saat ini lagi mikirin tentang hubungan aku sama Kak Rio. Aku nggak tau apa mau Kak Rio, dia kayak memberi harapan tetapi sama sekali nggak ada kejelasannya. Atau aku nyerah aja kali ya Kak," kata Aria yang membuat Arka tidak percaya dengan ucapannya itu.


Karena menurut Arka, adiknya itu adalah seseorang yang pantang menyerah sebelum mendapatkannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2