Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-245


__ADS_3

Pagi menyingsing, sinar mentari pagi masuk melalui celah jendela membangunkan Ara dari mimpinya. Pagi yang indah tetapi tidak mempengaruhi suasana hatinya, ia masih saja teringat akan penculikan yang menimpanya satu Minggu yang lalu. Karena penculikan itu, Ara jadi belum bisa untuk memulai membangun bisnisnya karena belum bisa fokus, terlebih lagi ia harus bolak balik melihat Leo yang saat ini sedang dalam masa pemulihannya di rumah. Sementara teman-teman yang lainnya sudah pulih dan beraktivitas seperti biasa.


Tok ... tok ... tok ... "Sayang, kamu udah bangun," Teriak bu Maria sembari mengetuk pintu kamar Ara.


"Udah Mi, masuk aja!" Teriak Ara. Sulit untuk mendengar suara jika mereka tidak saling berteriak, karena tempat tidur Ara lumayan jauh dari pintu.


Krek ... pintu di buka lalu bu Maria pun masuk ke dalam.


"Sayang," ucap bu Maria yang telah mendekat.


"Mam," ucap Ara lalu memeluk ibunya.


"Kamu mimpi buruk lagi?" Tanya bu Maria. Terlihat dari wajah Ara yang begitu tegang seperti ketakutan, ia pun mengusap-usap lembut punggung anaknya itu agar merasa lebih tenang.


"Sayang, kamu yang tenang ya, karena saat ini Polisi masih mencari Bos dari para penjahat itu, meski anak buahnya sudah tertangkap semua, tapi mereka sama sekali tidak tahu siapa nama orang yang bekerja sama dengan Bos mereka, taunya hanya seorang wanita yang mereka panggil Bos Nona," ucap Bu Maria.


"Wanita ...?" Tanya Ara untuk memastikannya.


"Iya Sayang, kamu tenang aja ya, Polisi akan terus mengusut masalah ini," jawab bu Maria.


"Mi, Ara mau siap-siap, mau ke rumah Leo," kata Ara lalu melepaskan pelukan ibunya.


"Ya udah, tapi abis mandi sarapan dulu ya, Mami tunggu di bawah," kata bu Maria.


"Iya Mam," jawab Ara.


...


"Apa wanita?" Tanya Leo gang begitu syok mendengar apa yang Ara katakan.


"Iya, kata Mami anak buah para penjahat itu yang bilang ke Polisi," jawab Ara.


"Sepertinya dugaan aku gak salah, memang dia lah pelakunya," kata Leo.


"Dia? Dia siapa maksud kamu?" Tanya Ara tidak mengerti.


"Karina," jawab Leo.

__ADS_1


"Hah? Kamu yakin? Tapi apa mungkin dia? Tanya Ara tidak yakin.


"Aku yakin, kamu pikir aja lah Sayang, kenapa coba kamu dan Seno yang diculik. Kalau memang orang itu gak suka sama aku, misalnya saingan bisnis aku pasti cuma kamu aja diincar, atau kamu sama aku, gak mungkin bawa-bawa Seno yang cuma orang lain," ujar Leo.


"Jadi maksud kamu, Karina memang sengaja suruh orang buat culik aku dan Seno karena dia punya dendam gitu sama kami berdua? Tapi kenapa? Aku gak pernah merasa punya salah sama Karina," ucap Ara.


"Sayang kan udah jelas kalau wanita itu memang gak suka sama kamu," kata Leo.


"Iya, karena aku udah jadi penghalang buat dia dekatin kamu, tapi Seno?" Kata Ara seraya berpikir. "Oh iya aku ingat sesuatu, waktu itu saat di RS, kamu ingatkan kalau Seno udah bantuin kita buat ngerjain Karina, pasti dia kesel banget gara-gara itu deh. Karena pas benget malamnya aku dan Seno diculik.


"Kamu benar, mendingan kita ke kantor polisi sekarang untuk melaporkan Karina," kata Leo.


"Gak bisa Sayang, kita gak punya bukti kuat," ujar Ara.


"Jadi kita harus gimana? Gak mungkin kan kita biarin aja wanita itu berkeliaran dengan bebasnya di luar sana," kata Leo.


"Aku punya ide," kata Ara lalu membisikkan sesuatu di telinga Leo.


"Sayang, kamu yakin?" Tanya Leo.


"Iya aku yakin, yang penting kamu mau melakukannya dengan baik," jawab Ara.


...


"Bry, gimana ...? Apa ada kabar lagi soal penyelidikan kasus penculikan Ara dan Seno?" Tanya bu Sinta disela-sela sarapan mereka.


"Sejauh ini masih sebatas penangkapan anak buahnya Boy aja Bu, sementara Boy sendiri belum tertangkap sampai saat ini, kabarnya dia kabur keluar Negeri. Tapi Polisi juga sudah bekerja sama dengan Polisi beberapa Negara yang dicurigai menjadi tempat persembunyian Boy itu Bu," jawab Bryan.


"Benar-benar penjahat kelas kakap yang handal ya, bisa gitu dia kabur gak ketangkap juga dari kemaren," kata Sarah.


"Ya begitulah, katanya Boy itu pernah menjadi tahanan di Malaysia selama tiga tahun karena kasus korupsi, jadi gak mungkin kalau kali ini dia kabur ke sana," terang Bryan.


"Ya mudah-mudahan aja lah cepat ketangkap, biar cepat ketauan juga siapa dalang dibalik ini semua," ucap bu Sinta.


"Aamiin, iya Bu kasian Ara jadi gak tenang, jadi suka mimpi buruk kalau teringat sama kejadian itu," kata Sarah.


"Iya, belum lagi Leo yang sampai sekarang belum bisa beraktivitas seperti biasa karena ulah Boy itu," sambung Bryan.

__ADS_1


"Ya udah, kita lanjutkan sarapannya dulu," kata bu Sinta.


"Iya Bu," jawab Sarah.


"Aku udah selesai Bu. Bu, Ma, aku ke kantor dulu ya," ucap Bryan dan beranjak dari tempat duduknya lalu menyalami dan mencium punggung telapak tangan ibunya, tidak lupa pula Bryan mencium kening istrinya sebagai awal dari terbukanya pintu rezeki didalam rumah tangga.


"Hati-hati ya Nak," pesan bu Sinta.


"Hati-hati Pa, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya," pesan Sarah pula.


"Iya Bu, Sayang," jawab Bryan.


Setelah berpamitan Bryan pun bergegas meninggalkan rumah menuju ke perusahaan untuk bekerja.


...


"Yo, aku gak nyangka banget deh kamu nyuruh aku datang ke rumah kamu kayak gini. Biasanya kamu paling anti walaupun hanya soal kerjaan," ucap Karina.


"Kamu tau kan kalau ini soal kerjaan, jadi gak usah sok akrab ngomong pakai aku kamu, saya gak suka," ucap Leo ketus.


"Tapi ini kan di luar kantor Yo," protes Karina.


"Tetap aja kita ini lagi kerja, jadi saya ini Bos kamu," kata Leo.


"Iya Pak, saya minta maaf," ucap Karina tiba-tiba mengubah gaya bahasa bicaranya kepada Leo.


"Sayang, kamu jangan galak-galak dong," ucap Ara dari sebrang telepon.


Saat ini Leo sedang menggunakan headset bluetooth di telinganya, dengan menutupinya dengan topi hoodie membuat Karina sama sekali tidak mengetahuinya, sedangkan ponsel Leo diletakkan di kamar.


"Maaf Pak kenapa Bapak pakai hoodie ya? Itu kepalanya ditutup gitu, kita kan di dalam rumah," tanya Karina.


"Terserah saya lah," jawab Leo.


"Aneh, kenapa Leo jadi cuek lagi ya sama aku? Padahal kemarin sikapnya ke aku udah baik banget. Apa jangan-jangan Leo tau sesuatu, gawat, aku harus waspada," gumam Karina dalam hati.


"Sayang, kalau kamu galak-galak kayak gitu, Karina bakal curiga dan kita gak akan dapat informasi apa-apa dari dia. Jaga sikap kamu dong, yang sabar," suara Ara terdengar kembali di telinga Leo.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2