
"Sama-sama Mir, udah ah makasih mulu," kata Ara.
"Cuma itu yang bisa aku ucapin Mbak, aku gak bisa balas apa-apa," kata Amira. "Oh ya Mbak, selain cerita kondisi aku waktu pingsan, Seno ada cerita apa lagi sama Mbak? Apa dia-" ucapan Amira terhenti.
"Iya Mir, Seno cerita semuanya sama aku," jawab Ara yang sudah tahu apa yang akan Amira tanyakan.
"Aku jadi makin malu Mbak. Selain Mbak Ara, sekarang Seno juga tau kondisi keluarga aku," kata Amira.
"Mir, kamu gak perlu malu. Justru aku senang kalau kamu mau cerita sama aku, terbuka sama aku, sama sekali gak bermaksud ikut campur Mir, paling gak kamu bisa lebih tenang setelah cerita sama aku kan. Gak baik juga Mir kalau masalah kamu pendam sendiri," kata Ara.
"Iya Mbak aku tau kok, benar kata Mbak aku jadi lebih tenang setelah cerita sama Mbak. Selama ini aku gak punya teman dekat, hanya sibuk kerja dan kuliah, jadi gak ada waktu juga Mbak untuk cerita. Aku benar-benar beruntung banget bisa kenal sama Bos sebaik Mbak, bahkan Mbak udah anggap aku kayak adik sendiri, apa aku pantas anggap Mbak Ara sebagai Kakak aku?" Ucap Amira dengan tatapan matanya yang sendu.
"Tentu aja pantes, aku malahan seneng banget Mir," ucap Ara tersenyum dan juga dibalas senyuman itu oleh Amira.
...
"Siang ladies," sapa Seno yang tiba-tiba ada di kantin perusahaan Ara.
Karena perusahaan sudah berjalan dengan normal, jadi kantin juga sudah menjual makanan yang dibutuhkan oleh semua orang terutama yang bekerja di perusahaan tersebut.
"Siang juga Pak Seno," balas Amira.
"Mir, udah aku bilang berapa kali sama kamu, jangan panggil aku Pak, panggil nama aja. Emang aku setua itu ya, kita itu seumuran Mir. Aku juga bukan Bapak kamu Mir," protes Seno.
"Iya, aku minta maaf Sen," ucap Amira.
"Nah gitu kan enak," ucap Seno.
"Ehm, siapa yang izinin kamu berkeliaran di perusahaan saya?" Tanya Ara bercanda.
"Ampun Bu Ara, saya salah," ucap Leo tersenyum.
__ADS_1
"Kamu nih ya, jadi kamu ngapain ke sini? Keluyuran mulu, aku kaduin om Haris ya nanti," kata Ara.
"Kak Ara, coba ulangi sekali lagi, apa aku gak salah dengar tadi Kak Ara nyebut diri Kakak, aku?" Tanya Seno dengan senyum sumringah.
"Kenapa emangnya? Bahagia banget hanya karena aku nyebutin diri dengan sebutan aku," kata Ara.
"Jelaslah Kak aku bahagia banget, akhirnya Kak Ara mau juga akrab sama aku, gak pakai bahasa baku lagi," ungkap Seno.
"Oh ya, lagian aku juga bukan atasan kamu lagi kan?" kata Ara.
"Iya Kak benar," jawab Seno.
"Kamu tadi belum jawab pertanyaan aku Sen," kata Ara.
"Oh iya soal itu, tadi aku abis meeting di luar Kak, kebetulan gak jauh dari sini, di Restauran Shangrila. Jadi sekalian aja mampir ke sini buat makan siang," jelas Seno.
"Apa? Kamu dari restauran mahal tapi malah milih makan siang di kantin kayak gini. Otak kamu udah geser ya Sen?" Tanya Ara meledek.
"Mir, kok kamu diam aja sih, belain aku kek. Masak Kak Ara bilang otak aku geser sih," rengek Seno yang meminta pembelaan dari Amira.
" Nah bener kan Mir, kamu yang belum lama kenal sama dia aja ngomong gitu, apa lagi aku Mir," kata Ara.
"Huft … ya udah deh yang kompak, aku bisa apa," ucap Seno yang pura-pura sedih.
"Hm … ngambek, lagian kamu juga sih kenapa coba gak makan siang langsung bareng klien atau bareng sekretaris baru kamu," kata Ara.
"Boro-boro mau ajak klien makan bareng Kak, siap meeting aja buru-buru cabut katanya udah janji sama istri. Kalau sekretaris langsung aku suruh balik kantor aja lagi Kak kalau dia udah makan, lagian gak seru banget sekretaris sesama jenis, gak bisa tebar pesona dong aku," terang Seno.
"Lah memang kenapa? Sekretaris aku juga sesama jenis, kita biasa aja tuh, makan bareng, cerita-cerita, malahan kami bisa jadi sahabat," kata Ara.
"Iya Sen, itu cuma alasan kamu aja kan. Bilang aja alasan sebenarnya itu karena memang kamu mau ketemu sama Mbak Ara," kata Amira.
__ADS_1
"Loh kok jadi bawa-bawa aku sih, Amira … kamu ya," ucap Ara sembari menatap Amira.
"He … he … he … aku bercanda, maaf ya Mbak," ucap Amira nyengir.
"ha … ha … ha …aku juga bercanda kok," ucap Ara tertawa. Entah kenapa ia sangat senang melihat Amira yang mau bercanda dengannya.
"Tapi apa yang dibilang Amira benar kok, aku memang mau ketemu sama Kak Ara dan Amira juga dong," kata Seno.
...
"Kak harusnya Kakak gak boleh dong simpan ini semua dari kita, kalau aku sama Papa gak pulang, mau sampai kapan coba Kakak sembunyikan soal perusahaan dari aku dan Papa," protes Aria yang baru saja kembali dari luar Negeri.
Kini Aria telah menjadi seorang Dokter umum dan akan bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta. Aria melamar di rumah sakit tersebut sewaktu ia masih berada di Amrik melalui daring. Tentunya langsung diterima, mana mungkin rumah sakit tersebut menolak Dokter lulusan terbaik dari luar Negeri.
"Dek, aku cuma gak mau kamu dan Papa khawatir. Kakak bisa kok menghadapi semuanya sendiri. Buktinya semua udah membaik kan sekarang," kata Arka
"Ya syukurlah, tapi kenapa aku liat Kakak terlihat masih sedih, apa itu karena kepergian Kak Nadia yang tiba-tiba?" Tanya Aria.
Sebenarnya bukan hanya itu penyebabnya melainkan Sherin juga, tapi untunglah Aria menganggapnya seperti itu. Jika Aria tahu Kakaknya itu sedang patah hati, sudah pasti Aria akan langsung melabrak Sherin seperti dia melabrak Cinta dulu.
"Iya kamu benar, gak percaya aja rasanya kalau Nadia udah gak ada di dunia ini lagi," kata Arka.
"Kakak yang sabar ya, aku tau kok gimana sedihnya Kakak, gimanapun juga kalian pernah dekat dan hampir menikah. Bahkan Kakak juga pernah mencintai Kak Nadia dalam diam kan?" Ucap Aria, ia masih ingat jelas bagaimana hubungan Kakaknya itu dengan Nadia dulu.
"Iya Dek, Kakak udah coba ikhlas kok," ucap Arka.
"Oh ya Kak, besok ajak aku ketemu Kak Sherin ya, aku kan mau ketemu sama calon Kakak ipar aku," kata Aria.
"Gak usah besok ya, Kakak sibuk dek," tolak Arka.
"Kalau gitu kasih alamatnya aja, atau nomor hp-nya deh biar aku ajak ketemuan," kata Aria.
__ADS_1
"Sherin sibuk kerja," kata Arka beralasan, kerena dia sendiri saja tidak tahu bagaimana hubungannya dengan Sherin saat ini.
...****************...