
"Saya datang ke sini secara baik-baik, tapi Anda sama sekali tidak menghargai saya," ucap Tama.
"Tidak menghargai bagaimana maksud Anda? Saya sudah berbicara kepada Anda dari awal, kalau masalah penanaman dan penarikan saham itu bukan urusan saya, karena itu masih tanggung jawab orang tua saya sebagai pemilik perusahaan," kata Leo.
"Tapi Bukankah Anda CEO di perusahaan ini? Jadi Anda juga bisa mengurusnya lah," kata Tama.
"Iya kamu benar, tapi untuk yang satu ini bukan urusan saya. Lagian mau perusahaan kamu bangkrut kek mau nggak, bukan urusan saya. Seharusnya saat ini yang Anda lakukan adalah pergi ke perusahaan Arka dan minta maaf sama dia atas apa yang sudah kamu lakukan.
Tama menggeram, telinganya semakin panas mendengar ocehan Leo yang sangat memancing emosinya.
"Saya heran dengan Anda, ini kan masalah saya dengan Arka, kenapa ya jadi kamu yang ikut campur," kata Tama.
"Karena kamu melibatkan seorang wanita bernama Sherin, dan kamu tahu jelas siapa Sherin itu kan? Sherin adalah sahabat Ara dan Ara adalah calon istri saya. Apa kamu tidak bisa menyimpulkan dari itu semua?" Kata Leo.
"Kurang ajar, ternyata benar ini semua karena wanita itu? Dia sudah berani meninggalkan aku dan ternyata dia juga menceritakan masalah ini kepada semua orang," batin Tama. Ia mengepalkan erat kedua tangannya menahan emosi yang sudah berapi-api.
"Sebaiknya sekarang Anda pergi Pak Tama, saya lagi banyak kerjaan, tidak ada waktu untuk melayani Anda," usir Leo.
"Tanpa kamu usir pun, saya akan pergi dari sini. Dan perlu kamu ingat, tanpa saham dari perusahaan keluarga kamu ini, perusahaan saya pasti akan bisa bangkit kembali," kata Tama dengan angkuhnya.
"Oh ya? Baguslah, asalkan Anda tidak melakukan kecurangan-kecurangan lagi, saya yakin perusahaan Anda akan bangkit kembali. Tapi jika anda berbuat curang bahkan lebih dari itu, perusahaan Anda bukan akan bangkit tapi akan bangkrut," kata Leo.
"Brengsek!" Kata Tama. Ia yang sudah tidak tahan lagi menahan emosinya, langsung saja menghantam wajah Leo sehingga meninggalkan bekas luka di sudut bibir lawannya.
Bukan membalas, tetapi Leo hanya memegang sedikit lukanya yang telah berdarah, lalu ia pun tersenyum smirk menatap Tama.
Karena tidak mendapatkan perlawanan dari Leo, Tama pun segera pergi meninggalkan perusahaan milik Pak Ardi tersebut.
"Kurang ajar, dia pikir dia siapa berani mencari masalah denganku," gumam Leo.
...
"Mir yuk pulang," ajak Ara saat waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 sore.
"Iya mbak, ini aku baru aja siap ngerapiin meja," kata Amira.
"Jadi kamu pulang sama siapa Mir?" Tanya Ara.
"Aku naik ojek aja Mbak ke bengkel tempat motor aku di taruh tadi," jawab Amira.
"Enggak usah Mir, bareng sama aku aja ya," ajak Ara.
__ADS_1
"Enggak usah Mbak, nggak apa-apa kok aku naik ojek," tolak Amira yang merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa Mir, udah ah yuk nggak usah ngerasa nggak enak kayak gitu, kayak nggak biasa aja deh sama aku," ajak Ara lagi.
"Ya udah deh Mbak, kata Amira yang akhirnya menyetujuinya.
Lalu Ara dan Amira pun berjalan keluar perusahaan menuju ke parkiran mobil. Setelah itu langsung saja mereka masuk ke dalam mobil, Ara segera melajukan mobilnya menuju ke bengkel dimana motor Amira diperbaiki.
Setibanya di bengkel...
"Mas, gimana motor saya, udah selesai belum?" Tanya Amira kepada abang montir di bengkel tersebut.
"Oh motor yang tadi pagi itu ya Mbak?" Tanya abang montir.
"Iya bener, udah siap belum?" Tanya Amira lagi.
"Udah Mbak, tunggu sebentar ya saya ambilkan motornya," kata abang montir.
Beberapa saat kemudian, abang montir pun kembali dan membawa sepeda motor milik Amira yang disimpannya di dalam ruangan khusus.
"Udah oke nih kan Mas?" Tanya Amira.
"Jadi berapa Mas biayanya?" Tanya Amira.
"Udah dibayar Mbak biayanya," jawab abang montir.
"Hah …,?" Amira merasa terkejut karena ia sama sekali belum membayarnya. Bagaimana mungkin montir tersebut mengatakan bahwa biaya kerusakan motornya itu sudah dibayar? "Siapa yang bayar Mas?" Tanyanya.
"Tadi ada mas-mas yang datang ke sini, tapi saya juga nggak tau siapa dia mbak, gak nyebutin nama," kata abang montir.
"Oh gitu, kalau saya boleh tahu biayanya tadi berapa ya Mas yang udah dibayar sama Mas itu?" Tanya Amira yang penasaran.
"Biayanya, Rp. 1.200.000 Mbak. Notanya udah saya kasih juga sama Mas itu," jawab abang montir.
"Ya udah deh kalau gitu, makasih banyak ya Mas. Saya ambil motor saya," ucap Amira.
"Iya Mbak sama-sama," jawab abang montir
Lalu Amira pun keluar dari bengkel membawa motornya menghampiri Ara.
"Gimana Mir udah beres?" Tanya Ara.
__ADS_1
"Udah Mbak. Makasih ya Mbak udah anterin aku ke sini," ucap Amira.
"Iya sama-sama Mir," jawab Ara. Akan tetapi Ara masih bingung kenapa dengan wajah Amira yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Mir ada apa?" Tanya Ara.
"Aku lagi bingung aja Mbak, siapa ya yang udah bayar biaya kerusakan motor aku? Soalnya kata montir biaya kerusakannya udah dibayar sama mas-mas," jawab Amira.
"Oh ya, emang siapa kalau menurut kamu?" Tanya Ara.
"Itu dia Mbak yang aku nggak tau, total kerusakannya nggak kecil loh mbak, Rp. 1.200.000, aku jadi nggak enak," kata Amira.
"Kalau menurut aku sih ya, mungkin itu Seno," ujar Ara.
"Seno?" ucap Amira mengulangi ucapan Ara tadi.
"Iya Seno, kan cuma dia yang tau kalau motor kamu ada di bengkel," kata Ara yang membuat Amira pun tampak berpikir.
"Benar juga yang Mbak Ara bilang, masuk akal," kata Amira.
"Ya udah nanti kamu coba tanyain aja sama Seno," kata Ara.
"Ya Mbak, ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya mbak," kata Amira. "Mbak juga mau pulang kan?" tanyanya.
"Iya Mir. Ya udah kalau gitu kita berpisah di sini ya, bye …," ucap Ara.
"Iya mbak, bye …," balas Amira.
Lalu mereka pun menaiki kendaraan mereka masing-masing dengan tujuan mereka masing-masing pula.
...
Tanpa Amira ketahui, ternyata Ara mengikuti Amira dari belakang.
Setibanya di rumah, lagi-lagi Amira melihat pemandangan yang tidak enak di matanya, yaitu ibunya yang saat ini sedang dipukuli oleh ayahnya. Langsung saja Amira berlari untuk menyelamatkan ibunya itu. Ara yang penasaran akan kelakuan Amira itu pun diam-diam mengikuti Amira hingga berada di depan rumahnya.
"Ayah hentikan!" Teriak Amira. "Ini ada apa lagi sih Ayah? Sampai kapan Ayah akan berhenti untuk menyiksa ibu," ucap Amira dengan isak tangisnya, ia sangat sakit melihat ibunya yang disiksa terus-menerus.
Pak Yanto semakin murka, ia pun segera menaikkan tangannya dan akan memukul Amira, akan tetapi tiba-tiba saja tangan Pak Yanto dihentikan oleh seseorang.
...****************...
__ADS_1