
Hari ini terlihat sangat ramai di kediaman bu Jasmine, tetangga, keluarga dan para sahabat telah berkumpul. Setelah diawetkan selama dua hari karena perjalanan jauh yang dilewati, siang ini jenazah Nadia akan segera di kebumikan.
"Nadia ... kenapa kamu harus pergi tinggalin kita secepat ini," ucap Sarah dengan air mata yang bercucuran.
"Udah Sayang, ikhlasin Nadia supaya dia bisa pergi dengan tenang," ucap Bryan.
"Nad, semoga kamu tenang di alam sana. Satu hal yang aku sesali, aku pernah mencintai kamu dalam diam tanpa pernah mengungkapkannya. Kamu adalah wanita yang baik Nadia, aku senang bisa kenal sama kamu, tapi Tuhan lebih sayang sama kamu hingga kamu diambil kembali olehnya. Kamu saat ini udah bahagia kan bisa ketemu lagi sama Ayah kamu," ucap Arka yang bermonolog dengan hatinya.
"Ar, Sherin mana?" Tanya Ara yang yang mengejutkan Arka.
"aku gak tau Ra, aku gak mau bahas dia sekarang," jawab Arka.
Ara mengerutkan keningnya, "ada apa dengan Arka dan Sherin? Ah udah lah, bukan saatnya buat bahas itu sekarang, mending nanti aku tanyain aja lagi sama Arka," gumam Ara dalam hatinya.
"Nadia, meskipun aku belum lama kenal sama kamu, tapi aku udah ngerasa deket banget sama kamu. Kamu baik banget sama aku Nad, kamu udah banyak nolongin aku, aku doain kamu tenang di sana ya," ucap Cinta lirih.
"Nad, meskipun kamu udah gak ada di sini, tapi kamu selalu ada di hati kami Nad, kami berusaha ikhlas untuk menerima semuanya," ucap Ara pula.
Suasana duka mengiringi kepergian Nadia untuk selamanya, banyak yang ikut serta mengantar Nadia ke tempat peristirahatan terakhir. Terlihat juga orang tua Arka, kedua orang tua Ara dan kedua orang tua Leo hadir memberikan ucapan belasungkawa kepada keluarga Nadia yang ditinggalkan.
...
Beberapa saat kemudian, proses pemakaman telah selesai, semua orang yang ikut serta telah pergi meninggalkan area pemakaman. Sherin yang sedari tadi hanya berani melihat dari kejauhan, kini ia melangkahkan kakinya menuju ke pusara yang masih basah itu.
"Nad, maaf ya aku baru bisa datang. Makasih ya Nadia atas semua kebaikan yang pernah kamu lakukan sama aku, aku seneng banget bisa kenal sama kamu Nad. Kamu akan selalu ada di hati aku Nad, aku gak akan pernah lupa kalau kamu adalah sahabat baik aku sampai kapanpun. Kamu yang tenang ya Nad di sana, bahagia di sana," ucap Sherin.
Sementara itu Leo dan Ara saat ini masih berada di parkiran pemakaman.
Leo melihat Ara sedang bingung seperti mencari sesuatu dalam saku dan tasnya.
"Sayang, kamu cari apa?" Tanya Leo.
"Hp aku, kamu ada liat gak Sayang?" Jawab Ara dan bertanya.
"Gak liat, emangnya ilang dimana?" Tanya Leo balik.
"Kalau tau ilang dimana, gak perlu dong aku cariin," ujar Ara.
__ADS_1
"He … he … he … maaf Sayang, maksud aku terakhir kali kamu taruh mana tadi?" Tanya Leo.
"Seingat aku sih, aku bawa ke sini tadi, tapi gak ada, di mobil juga udah aku cari tapi gak ketemu," jawab Ara.
"Jatuh di makamnya Nadia mungkin Sayang," ujar Leo.
"Bisa jadi, coba aku cari dulu ya Sayang ke sana," kata Ara.
"Aku temenin ya Sayang," ucap Leo.
"Gak usah Sayang, kamu tunggu aja ya di sini sebentar," tolak Ara.
"Ya udah, aku tungguin ya," ucap Leo.
Ara mengangguk lalu melangkahkan kaki menuju ke makan Nadia.
Saat sedang fokus mencari hp dan hampir tiba di makam Nadia, dari jauh Ara melihat seseorang yang sedang menangis dan memegangi batu nisan di makam tersebut.
"Siapa ya? Perasaan tadi udah bubar semua," gumam Ara.
"Sherin," panggil Ara.
Sherin segera menoleh dan melihat ke arah orang yang memanggilnya.
"Ara," ucap Sherin. Lalu Sherin pun berdiri dan langsung berhamburan memeluk Ara. Karena memang sejak tadi Sherin sangat membutuhkan sandaran hatinya yang sedang rapuh, untungnya Ara datang dan membuat hatinya sedikit lebih tenang.
"Sherin, yang kuat ya. Kamu kenapa baru keliatan ...?" Tanya Ara.
"Aku minta maaf Ra, keadaan yang udah buat aku gak bisa memunculkan diri di hadapan kalian," ucap Sherin dengan isak tangisnya.
"Apa ini semua ada hubungannya dengan Arka?" Tanya Ara seraya melepaskan pelukan mereka.
"Iya Ra, aku udah jahat sama Arka. Aku udah mengingkari janji aku untuk selalu berada di samping Arka, aku malah ninggalin dia di saat dia lagi terpuruk. Tapi aku melakukan ini semua demi kebaikan Arka, aku-" ucapan Sherin terhenti.
"Ehm Sher, kayaknya gak pantes kalau kita ngobrol di sini. Kamu tadi ke sini sama siapa?" Tanya Ara.
"Naik ojek," jawab Sherin.
__ADS_1
"Kalau kamu mau dan gak keberatan, mau gak kamu ikut aku ke mobil, kamu cerita sama aku sekalian aku anterin kamu pulang," ucap Ara.
"Iya Ra, aku mau," jawab Sherin.
"Nadia, aku pulang dulu ya," pamit Ara.
"Nadia aku pulang," pamit Sherin pula.
Setelah itu, mereka berdua pun segera meninggalkan area pemakaman.
*****
Sherin telah menceritakan semuanya kepada Ara, ia merasa sangat kesal dengan apa yang telah Tama lakukan kepada Arka dan juga Sherin.
"Nyebelin banget sih tuh orang, memangnya dia itu pemilik Perusahaan mana sih sampai punya kuasa menjatuhkan Arka kayak gitu," ucap Ara yang sangat geram sembari mengeratkan giginya.
"Kalau gak salah aku sih, Perusahaan Jaya Grup," jawab Sherin.
Chit … tiba-tiba Leo mengerem mobilnya secara mendadak yang membuat Ara dan Sherin terkejut, untungnya mereka memakai safety belt sehingga mereka lebih aman.
"Sayang, kamu apa-apaan sih, kenapa coba rem mendadak kayak gitu?" Tanya Ara.
"Maaf Sayang, kalian gak papa kan? Tadi aku dengar Sherin bilang Jaya Grup ...?" Tanya Leo.
"Iya memang benar, ada apa Mas ...?" Tanya Sherin.
"Siapa namanya, Tama? Tama Wijaya anaknya Pak Tedy Wijaya maksudnya?" Tanya Leo.
"Iya Mas gak salah lagi," jawab Sherin.
"Sayang, kamu tau ya …?" Tanya Ara.
"iya Sayang, aku ingat waktu itu aku sama Papi ke Perusahaan Jaya Grup, ada Papi kamu juga di sana, kami nanam saham di perusahaan itu sebelum Pak Tedy keluar Negeri. Perusahaan Jaya Grup itu juga termasuk salah satu perusahaan terbesar di Jakarta yang baru buka cabang juga di luar Negeri," terang Leo.
"Oh ya, bagus dong. Aku jadi punya ide," ucap Ara tersenyum smirk.
...****************...
__ADS_1