Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_257


__ADS_3

"Ra, aku sekarang lagi ada di Amrik, aku temenin Nadia yang lagi kritis," kata Rio.


"kritis kenapa Yo ...?" Tanya Ara.


Rio menceritakan apa yang telah terjadi dengan Nadia Serta mengirim foto kondisi Nadia saat ini kepada Ara. Seketika tubuh Ara melemah, isak tangis keluar dari mulutnya dan air mata yang bercucuran, ternyata dugaannya terjadi sesuatu dengan Nadia itu benar. Akan tetapi apa yang bisa diperbuatnya saat ini, mereka bukan hanya beda daerah tetapi beda Negara.


"Kenapa kamu baru kasih tau aku sekarang Yo? Kenapa setelah kritis kamu baru kasih tau ke aku hah?" Tanya Ara dengan emosi.


"Aku juga baru tau Ra, Tante Jasmine yang kasih tau ke aku tanpa sepengetahuan Nadia. Karena Nadia lah yang melarang untuk kasih tau ke kita, dia gak mau kita khawatir," kata Rio.


"Nadia ... hiks ...," ucap Ara dengan histeris, ia tidak menyangka Nadia akan mengalami nasib yang mengkhawatirkan untuk kedua kalinya.


"Ra, doain Nadia ya. Tolong kamu kasih tau ke temen-temen yang lain dan minta doa dari mereka. Aku gak sanggup Ra mau kasih tau ke mereka," ucap Rio.


"Iya Yo, aku titip Nadia ya, kalau ada apa-apa tolong kasih tau aku secepatnya," kata Ara.


"Iya Ra makasih banyak ya," ucap Rio.


"Iya sama-sama Yo," jawab Ara.


"Ya udah Ra, aku jaga Nadia dulu ya," ucap Rio.


"Salam ya buat Tante Jasmine, kalian harus kuat demi Nadia, semoga ada keajaiban untuk kesembuhan Nadia," ucap Ara.


"Iya Ra, aamiin. Udah dulu ya Ra, da ...," ucap Rio.


"Da ...," balas Ara.


Lalu panggilan telepon pun terputus.


...


Tok ... tok ... tok ... suara ketukan pintu rumah Sarah. Sarah yang sedang membuat sarapan itu pun segera menghentikan aktivitasnya dan membuka pintu.

__ADS_1


"Ara, ada apa ...?" ia sangat terkejut karena pagi-pagi sekali sudah melihat Ara di depan rumahnya dengan wajahnya yang sembab dan terlihat sangat panik.


"Sar, Nadia Sar," ucap Ara lalu memeluk Sarah dengan air matanya yang tidak dapat dibendungnya lagi.


"Kenapa dengan Nadia?" Tanya Sarah.


"Tadi malam Rio nelpon, dia sekarang ada di New York. Katanya Nadia kena gagal ginjal akut dan kali ini tidak bisa lagi menerima donor, Nadia kritis Sar, hu ... hu ... hu...," kata Ara yang terus menangis tersedu-sedu.


Deg, jantung Sarah terasa sakit setelah mendengar kabar itu. Matanya berkaca-kaca lalu menangis membasahi kedua pipinya. Sama halnya dengan Ara, kini tubuh Sarah terasa lemah tidak berdaya.


Bryan yang melihat istri dan sahabatnya itu berpelukan sambil menangis tersedu-sedu membuatnya menjadi khawatir lalu menghampiri mereka.


"Sayang, Ara, ada apa?" Tanya Bryan.


Ara dan Sarah melepaskan pelukan mereka, mereka duduk di ruang tamu lalu Sarah pun menceritakan apa yang telah terjadi dan membuat mereka menangis.


"Kasian banget Nadia, padahal waktu dia pulang ke Indonesia kemarin kelihatannya baik-baik aja. Pasti saat ini hati Rio terasa sangat hancur," kata Bryan.


"Itu udah pasti lah. Nadia kamu harus kuat," ucap Sarah yang kini beralih memeluk suaminya, Bryan.


"Kalau Leo nanti aja aku kasih langsung saat kita ketemu," ucap Ara dalam hati.


"Eh ada Ara ya, ini ada apa kok pada sedih-sedihan gini?" Tanya bu Sinta yang tiba-tiba menghampiri mereka bersama dengan Kayla.


"Iya Tante," jawab Ara lalu menyalami bu Sinta.


Sarah menceritakan kepada ibu mertuanya itu apa yang menjadi penyebab mereka bersedih, tentu saja setelah tahu, bu Sinta sangat terkejut dan ikut merasa sedih.


"Astagfirullah hal'azim, kasian sekali Nadia. Meskipun Ibu tidak terlalu mengenal Nadia, hanya mendengar cerita dan kabarnya dari kalian aja Ibu tau kalau Nadia adalah orang yang sangat baik," ucap bu Sinta.


"Nadia memang orang baik Bu, makanya kita bertiga itu cocok banget sahabatan," kata Sarah.


"Yang sabar Sarah, Ara, sedih boleh tapi jangan berlarut-larut, air mata gak bisa membantu apapun. Yang harus kita lakukan adalah berdoa untuk kesembuhan Nadia," ucap bu Sinta.

__ADS_1


"Iya Tante," jawab Ara mengangguk.


"Iya Bu," jawab Sarah.


...


"Ya Allah, berita duka apalagi sih ini. Di saat kondisi Arka lagi terpuruk, kini ada berita duka tentang Nadia. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ucap Sherin yang terlihat sangat stress.


Bagaimana tidak? Saat ini ia sedang merasa terpuruk dengan apa yang telah terjadi pada Arka, Sherin sangat sedih akan tetapi terpaksa menjauhi Arka agar Tama mau mengembalikan keadaan perusahaan Arka seperti semula. Ya waktu itu Tama menghampiri Sherin dan memberitahu semuanya tanpa sepengetahuan Arka. Dan kini hati Sherin bertambah sakit setelah mengetahui Nadia kritis.


"Maafin aku Arka udah buat hati kamu sakit dan terpuruk, tapi ini semua demi perusahaan kamu, aku gak tega liat kamu terus-terusan uring-uringan seperti itu terus. Biarlah kali ini aku yang berkorban buat kamu," gumam Nadia. Dasar pacar tidak punya hati nurani, harusnya saat ini dia berada di samping Arka untuk selalu memberikan semangat seperti janjinya dan seperti keinginan Arka, bukannya malah mengambil jalan pintas meninggalkan Arka dan membuat Arka semakin terpuruk.


"Aku harap kamu bisa bangkit lagi meskipun aku gak ada di samping kamu Sayang. Dan buat kamu Nadia, aku cuma bisa berdoa dari sini, semoga kamu lekas membaik agar kita bisa bertemu lagi," gumam Sherin dengan air mata yang bercucuran.


...


Sore harinya, Leo berkunjung ke rumah Ara sesuai janjinya. Ara juga sudah menceritakan kepada Leo tentang apa yang terjadi pada Nadia, lagi-lagi air matanya lolos begitu saja setiap kali mengingat atau menceritakan soal Nadia. hatinya sangat tidak tenang dan sangat ingin melihat kondisi sahabatnya itu.


"Sayang, udah dong jangan nangis terus," pujuk Leo sembari mengelus lembut pundak Ara yang saat ini berada di dalam dekapannya. Ia sangat iba melihat kondisi tunangannya itu yang merasa sangat khawatir dengan Nadia.


Ara melepaskan diri dari pelukan Leo lalu menyampaikan ide yang terlintas dalam pikirannya, "Sayang, besok aku mau ke New York."


Sontak Leo sangat terkejut dan menatap mata Ara dengan sangat dalam.


"Apa kamu serius sama ucapan kamu?" Tanya Leo.


"Aku serius, aku gak pernah main-main sama ucapan aku," jawab Ara.


"Enggak, aku gak izinin kamu pergi sendirian. Lagian kamu ingat dong peresmian perusahaan kamu udah di depan mata," kata Leo.


"Nadia lebih penting," ucap Ara dengan tegas.


Leo menghembuskan nafas kasar, ia tahu betul jika Ara sudah berkehendak maka tidak ada yang bisa melarangnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2