Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_229


__ADS_3

Nadia tidak mengerti dengan apa yang Rio maksud, kenapa terdengar begitu horor di telinganya.


"Maksud kamu apa Sayang?" Tanya Nadia.


"Maksudnya, aku mau menghabiskan waktu bareng kamu malam ini. Please mau ya, dua hari lagi kan kamu bakalan ninggalin aku," pinta Rio yang ingin sekali ditemani oleh Nadia.


"Sayang, aku itu bukan mau ninggalin kamu untuk selamanya. Setelah kuliah aku selesai, aku bakalan balik lagi ke sini dan gak akan pergi lagi," kata Nadia.


"Tapi itu masih lama Sayang," rengek Rio.


"Jadi kamu maunya gimana...?" Tanya Nadia..


"Kita habiskan waktu berdua malam ini ya," jawab Rio.


Nadia mengerutkan keningnya, ia semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan Rio saat ini, yang jelas Nadia tidak percaya jika Rio memintanya untuk menemaninya tidur.


"Kamu kenapa bengong Sayang? Jangan-jangan kamu mikirnya aku ngajak kamu untuk macam-macam ya?" Tanya Rio menggoda.


"Terus apa kalau bukan untuk itu?" Tanya Nadia.


"Aku cuma mau kamu temenin aku aja kok, kita bisa nonton atau apa yang penting aku bisa sama-sama kamu terus malam ini, kalaupun harus tidur, kamu bisa tidur di kamar dan aku tidur di sofa. Kamu tenang aja Sayang, aku gak akan macam-macam kok, aku akan jaga kesucian kamu sampai kita menikah nanti," kata Rio.


"Kamu ngomong apaan sih," kata Nadia yang merasa malu.


"Kamu mau kan?" Tanya Rio.


"Tapi gimana kalau mama cariin, aku mesti bilang nginap dimana malam ini?" Tanya Nadia kebingungan.


"Hm... gimana ya," Rio tampak berpikir.


"Ya udah deh, aku mau bareng kamu malam ini. Lagian aku kangen banget Sayang," kata Nadia.


"Serius? Terus mama kamu gimana Sayang?" Tanya Rio.


"Tenang aja, bisa diatur," jawab Nadia meyakinkan.


"Makasih ya Sayang," ucap Rio dengan tatapan mata berbinar.


...


Ara tampak sibuk membahas pekerjaannya dengan Seno, sampai tidak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore dan sudah waktunya pulang.


"Kak udah waktunya pulang," kata Seno mengingatkan.


"Kamu duluan aja, saya masih harus siapkan ini dulu," kata Ara.


"Kalau Kakak gak pulang, saya juga gak pulang. Lagian bukannya kalau di kerjain berdua akan lebih cepat selesai ya," kata Seno.


"Terserah kamu aja lah," jawab Ara.


Drt... drt... drt... ponsel Ara bergetar, langsung saja Ara menjawab telepon tersebut tanpa melihat nama siapa yang tertera pada layar ponselnya.

__ADS_1


"Halo..." ucap Ara saat menjawab telepon.


"Ara, kamu jadi kan temenin aku ketemu tante Tania?" Tanya Cinta.


"Cinta, ya ampun aku lupa," kata Ara.


"Kamu masih banyak kerjaan ya? Kalau iya gak apa kok, lain kali aja ketemu tante Tanianya," kata Cinta.


"Eh jangan gitu dong, gak enak juga sama tante Tania. Hm... sekarang ini aku memang lagi ada kerjaan, tapi bentar lagi siap kok," kata Ara.


"Beneran Ra, takutnya malah ganggu kerjaan kamu," kata Cinta.


"Gak sama sekali Cinta," ucap Ara.


"Ya udah kalau gitu kita ketemu langsung di sana aja ya Ra nanti," kata Cinta.


"Iya Cinta, sekalian aku kabarin ke tante Tania dulu ya, kata Ara.


"Iya Ra, bye..." ucap Cinta.


"Bye..." balas Ara.


Lalu panggilan telepon terputus.


"Tuh kan Kakak ada urusan," celetuk Seno.


"Iya Sen, tapi saya lupa. Ya udah buruan bantuin biar ini cepat selesai," kata Ara.


"Mau bantuin gak nih...?" Tanya Ara.


"Mau dong Kak," jawab Seno.


Dengan bantuan Seno, pekerjaan itupun cepat selesai dari perkiraan Ara.


"Selesai," ucap Seno.


"Sen, makasih ya atas bantuan kamu. Berkat kamu pekerjaan aku jadi cepat selesai," ucap Ara.


"Sama-sama Kak, gak usah sungkan. Udah tugas aku sebagai asisten dan sekretaris Kak Ara kan," jawab Seno.


"Iya, tapi harusnya kamu udah pulang, gara-gara bantuin aku kamu jadi pulang telat," ujar Ara.


"Kak Ara bukannya Kakak ada janji ya, mendingan buruan deh Kak pergi," kata Seno mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya, kalau gitu aku duluan ya Sen," pamit Ara.


"Hati-hati ya Kak," pesan Seno.


Ara hanya mengangguk dan segera pergi meninggalkan perusahaan.


...

__ADS_1


Setibanya di restauran yang telah disepakati, tampak Cinta, Beni dan Leo sedang menunggu Ara di parkiran.


"Sayang, kamu kemana aja, kok lama banget...?" Tanya Leo.


"Kok kamu ada di sini, Beni juga?" Tanya Ara pula, bukan menjawab pertanyaan Leo.


"Gini Ra, tadi waktu aku sampai sini, aku liat tante Tania sama Rolan, jadinya aku hubungi Beni," jelas Cinta.


"Dan aku tang hubungi Leo," sambung Beni.


"Gak papa kan Ra...?" Tanya Cinta.


"Oh... gitu, ya gak papa lah," jawab Ara.


"Sayang aku tanya loh tadi, kamu dari mana? Kenapa telpon gak di angkat? Bikin khawatir aja tau gak," kata Leo.


"Maaf Sayang, aku tadi nyiapin kerjaan aku dulu. Masalah hp aku gak sempat lagi mau liat, lagian aku baik-baik aja kan seperti yang kamu liat," ucap Ara.


"Ya Sayang," jawab Leo.


"Ya udah guys, yuk buruan kita masuk. Kasian tante Amara kelamaan nunggu kita," ajak Ara.


"Ya udah yuk," jawab Leo.


"Yuk Sayang," Beni mengajak dan menuntun istrinya yang sedang hamil itu.


Lalu mereka segera masuk ke dalam restauran dan langsung saja menghampiri bu Tania bersama Rolan yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan mereka.


Bu Tania tersenyum melihat Ara dan yang lain sedang melangkahkan kaki mendekati mereka. Berbeda dengan Rolan, ia tampak gugup dan ketakutan.


"Mi, kenapa ada Leo dan Beni...?" Tanya Rolan.


"Mami juga tidak tahu Sayang, tapi kamu tenang saja ya, semua akan baik-baik saja," jawab bu Tania.


"Hai Tante, Rolan, maaf ya kita terlambat," ucap Ara.


"Hai Ra," balas Rolan.


"Hai Ra, tidak apa-apa kok, kami juga baru sampai," kata bu Tania. "Kalian semua silahkan duduk!"


"Makasih Tante," ucap Leo dan Ara lalu duduk.


"Makasih Tan," ucap Bryan dan Cinta juga langsung duduk.


Bu Tania menatap Cinta yang duduk di depannya itu, melihat perut buncit Cinta yang sedang mengandung anak Rolan yang berarti adalah cucunya. Ingin rasanya ia memaksa Rolan untuk bertanggung jawab atas Cinta dan anaknya. Akan tetapi semua sudah berlalu, Cinta telah menikah dengan laki-laki yang sangat mencintai dirinya.


"Tante ada apa...?" Tanya Cinta yang sadar sedang di perhatikan oleh bu Tania.


"Ehm Tidak ada apa-apa Cinta," jawab bu Tania yang tampak gugup, ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana.


Sedangkan Rolan hanya diam saja, bahkan ia sama sekali tidak berani untuk menatap Cinta dan Beni.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2