
Selesai membersihkan diri, kini tiba saatnya Ara merebahkan tubuhnya yang sudah begitu lelah di atas kasur king size yang sangat empuk miliknya.
Ara meraih ponselnya di nakas, dilihatnya ada beberapa pesan watshap yang masuk dari Leo.
"Sayang aku udah sampai."
"Kamu lagi apa Sayang?"
"Kamu baik-baik aja kan?"
"Kamu gak marah sama aku soal tadi kan?"
"Sayang, kamu udah tidur ya?"
"kenapa gak balas WA aku?"
Isi pesan wathsap dari Leo. Saat Ara akan membalasnya, tiba-tiba saja Leo menghubunginya melalui telepon wathsap.
"Halo Sayang, kamu gak kenapa-kenapa kan..?" Tanya Leo dari sebrang telepon.
"Aku gak papa kok Sayang, cuma baru sempat pegang hp aja," jawab Ara.
"Huft... Syukurlah, aku khawatir banget sama kamu karena dari tadi kamu gak baca WA aku, makanya pas liat kamu online langsung aku telpon," kata Leo.
"Aku gak papa kok Sayang, aku baik-baik aja, beneran," kata Ara.
"Ya Sayang, aku cuma takut kamu marah sama aku gara-gara yang aku omongin tadi," kata Leo.
"Sama sekali gak kok," jawab Ara mencoba menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Ya udah deh kalau gitu sekarang kita istirahat ya, besok aku juga ada meeting pagi," kata Leo.
"Iya Sayang, aku juga udah ngantuk banget. Good night," ucap Ara.
"Good night too, i love you Sayang," ucap Leo pula.
"I love you too," balas Ara.
Lalu panggilan telepon terputus.
Setelah panggilan itu berakhir, langsung saja Leo memejamkan matanya dan terlelap. Sedangkan Ara yang belum bisa tidur, hanya menggulingkan tubuhnya ke sana kemari berharap mata dan tubuhnya itu dapat berkompromi.
__ADS_1
Hingga pukul 3 dinihari barulah dia bisa terlelap hingga alarm berbunyi membangunkannya di pagi hari.
...
Keesokan harinya, Ara merasa tubuhnya begitu lelah karena kurangnya beristirahat. Bahkan saat Seno sedang mejelaskan tentang berkas yang dibawanya, Ara sama sekali tidak menyimaknya, matanya terasa berat untuk dibuka.
Tampak sesekali tidak sengaja Ara memejamkan matanya, Seno yang melihat akan hal itupun merasa sangat heran, ada apa dengan CEO-nya hari ini? Tidak biasanya Ara mengantuk di saat jam kerja seperti ini, pikirnya.
Hingga saat benar-benar sudah tidak tertahan lagi, Ara benar-benar menutup kedua matanya dan akan menjatuhkan kepalanya di atas meja, namun dengan cepat Seno menangkap dan menjadikan tangannya sebagai bantal sehingga Ara tidak merasakan sakitnya terantuk meja dan dapat dengan tenang melanjutkan mimpi indahnya.
"Kak Ara, cantik banget sih kalau lagi bobok," gumam Seno dalam hati.
Tok.. tok.. tok.. seseorang mengetuk pintu ruang kerja Ara.
Karena tidak mau di anggap mengambil kesempatan dalam kesempitan atau menganggap buruk tentang mereka, perlahan Seno melepaskan tangannya dari tindihan kepala Ara lalu menggantinya dengan sebuah buku, untungnya Ara sama sekali tidak terusik, mungkin karena rasa kantuknya yang terlalu berat.
"Silahkan masuk!" ucap Seno.
Seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Seno, kamu lagi ada di sini...?" Tanya pak Haris.
"Iya Om," jawab Seno lirih, ia takut jika suara kerasnya akan membangunkan Ara.
"Iya Om, tiba-tiba aja ketiduran saat Seno lagi presentasi berkas buat meeting besok Om. Kayaknya Kak Ara capek banget Om, mood-nya juga kayak kurang baik, gak biasanya dia kayak gini di jam kerja," kata Seno.
"Iya Sen, Ara selalu bersikap profesional meskipun dia sedang lagi ada masalah, mungkin kali ini dia benar-benar ada masalah berat yang membuatnya tidak bisa tidur tadi malam," kata pak Haris.
"Iya Om, Seno gak tega mau banguninnya," kata Seno.
"Hm ... kita biarin saja ya Ara istirahat, mendingan sekarang kamu presentasikan aja berkas itu ke Om," kata pak Haris.
"Sekarang Om ...?" Tanya Seno.
"Iya Sen, tapi sebaiknya di ruangan saya saja ya biar tidak mengganggu Ara," jawab pak Haris.
"Baik Om," jawab Seno.
Lalu Seno dan pak Haris pun melangkahkan kaki keluar dari ruangan Ara.
...
__ADS_1
Ara mengerjap-mengerjapkan matanya, sontak ia terkejut melihat dirinya yang tertidur di meja kerjanya.
"Hah jam 11, dimana Seno? Ini gawat! Duh ... kenapa aku bisa ketiduran kayak gini sih," Ara bermonolog di dalam hatinya.
Segera saja Ara keluar dari ruangannya, saat melewati meja kerja Seno, ia bingung karena tidak melihat asistennya ada di tempat. Ara melangkahkan kakinya ke toilet untuk mencuci muka agar terasa lebih segar.
Selesai mencuci muka, Ara menuju ke ruang Direktur utama untuk mencari Seno tetapi tidak menemukannya, bahkan pak Haris juga tidak berada di tempatnya. Berulang kali mencoba menghubungi Seno hasilnya juga nihil, Seno sama sekali tidak menjawab telepon dan membalas pesan watshap dari Ara. Akhirnya Ara pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya.
"Kak Ara!" Teriak Seno saat Ara baru saja hendak membuka pintu.
"Ya ampun Seno dari mana aja sih? Itu hp udah gak berfungsi lagi ya?" Tanya Ara saat Seno mendekatinya.
"Kak Ara udah bangun dan cariin aku ...?" Tanya Seno balik.
"Heh ini anak, ditanyain malah balik nanya," gerutu Ara. "Iya Sen saya cariin kamu, berkas tadi gimana? Bukannya kamu lagi jelasin ke saya ya, kenapa gak bangunin saya sih."
"Kak Ara, santai aja dong. Ini aku sengaja beliin Kakak kopi biar mata Kak Ara jadi melek. Mending di minum dulu Kak entar aku jelasin," kata Seno sambil memberikan satu cup kopi buat Ara.
"Makasih ya," ucap Ara dan menerima kopi tersebut.
"Iya sama-sama Kak," jawab Seno.
"Ya udah yuk masuk," ajak Ara dan Seno pun mengikutinya.
"Gimana Kak? Udah seger belum mata Kak Ara tidur selama dua jam lebih terus minum kopi?" Tanya Seno yang melihat Ara sudah lebih semangat namun tetap bertanya sebagai basa basi saja.
"Udah kok, makasih ya sekali lagi atas kopinya," jawab Ara.
"Iya Kak Sama-sama," jawab Seno.
"Oh ya jadi berkas tadi dimana Sen?" Tanya Ara.
"Oh ... masalah berkas Kak Ara tenang aja ya, udah langsung aku presentasikan di depan pak Haris dan juga langsung di acc Kak," jawab Seno.
"Hah seriusan? Kok bisa?" Tanya Ara yang kebingungan.
"Ya bisalah Kak," jawab Seno lalu menceritakan apa yang telah terjadi tadi kepada Ara di saat ia sedang tidur.
"Ya ampun Sen, saya beneran malu banget sama Om Seno, lagian kenapa kalian gak bangunin saya aja sih tadi," kata Ara, wajahnya memerah karena menahan malu.
Sedangkan Seno hanya tersenyum melihat ekspresi Ara yang menurutnya sangat menggemaskan.
__ADS_1
...****************...