
Pagi menyapa, ditandai dengan matahari yang muncul dari ufuk timur disertai dengan suara kicauan burung yang saling bersahutan.
Ara yang saat itu sedang memasak, tiba-tiba merasakan perutnya begitu keram. Memang usia kandungannya saat ini sudah memasuki usia 38 minggu, Ara merasa mungkin sudah saatnya ia akan melahirkan. Untungnya hari ini adalah hari Minggu, sehingga Leo sedang tidak bekerja dan berada di rumah.
"Akh … sakit banget!" Ara merintih kesakitan. Ia langsung saja mematikan kompor lalu meringkuk memegangi perutnya yang begitu terasa sangat sakit.
"Sayang … perut aku sakit!" Ara berteriak memanggil suaminya yang saat itu sedang mencuci mobil di samping rumah.
Leo yang mendengar akan teriakan istrinya itu pun langsung saja menghampirinya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Leo yang begitu panik melihat Ara kesakitan hingga keringatnya bercucuran.
"Sepertinya aku mau lahiran, sakit sekali rasanya," kata Ara.
"Ya udah kita langsung ke rumah sakit aja ya sekarang," Kata Leo dan Ara pun menyetujuinya.
Leo segera saja memerintahkan supir pribadinya untuk menyiapkan mobil dan meminta tolong Bibi untuk membantunya membawa Ara ke mobil, setelah itu Leo yang ditemani oleh Bibi dan supirnya bergegas membawa sang istri ke rumah sakit. Tak lupa pula Leo mengabari kepada ibu dan juga ibu mertuanya tentang kondisi Ara yang saat ini akan melahirkan. Dengan sangat antusias kedua orang tua mereka pun langsung saja pergi menuju ke rumah sakit karena tidak mau melewatkan momen untuk mendampingi anak dan menantu mereka yang akan melahirkan.
...
Ara saat ini sudah berada di ruang bersalin ditemani oleh sang suami, ia terus saja merintih kesakitan menahan kontraksi yang sedang ia rasakan tanpa henti.
"Sakit … sakit banget Sayang!" Teriak Ara.
"Yang sabar ya Sayang, anak kita akan segera lahir," ucap Leo memegang erat tangan Ara. Rasanya sungguh tak tega melihat kondisi sang istri saat ini, akan tetapi tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain menyemangati, mendoakan dan menguatkan istrinya.
Begitu juga dengan kedua orang tua Ara dan Leo, juga para sahabat yang telah hadir memberi doa dan dukungan untuk Ara di luar ruang bersalin.
Dokter datang dan memeriksa kondisi Ara, "Bu Ara, ini bukaannya sudah lengkap. Bersiap ya."
Dokter memberi arahan kepada Ara karena saat ini juga dia akan segera melahirkan secara normal. Dokter dan Suster pun bersiap untuk membantu proses lahirannya itu.
__ADS_1
"Ehg … ," Ara terus mencoba mengatur nafasnya dan mengejan sembari menahan rasa sakit.
"Iya terus, sedikit lagi Bu, jangan putus ya ngejannya. Sudah terlihat kepalanya," kata Dokter.
Sembari mencengkeram erat tangan Leo sehingga penyebabnya tangan sang suami terluka, Ara terus saja berusaha mengejan sekuat tenaganya, berjuang untuk mengeluarkan satu nyawa untuk melihat indahnya dunia.
"Owek … owek … ," tidak lama kemudian, suara bayi pun terdengar memecah seluruh ruangan bersalin.
Leo dan Ara begitu sangat lega dan senang mendengar suara tangisan anak mereka seraya mengucap rasa syukur.
"Makasih ya Sayang," Leo berbisik ditelinga sang istri lalu memeluknya.
"Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Bayinya juga sehat, normal dan sangat cantik seperti ibunya. Selamat ya Bu Ara dan Mas Leo," ucap Dokter.
"Terimakasih banyak Dok," ucap Leo dan Ara.
Suster segera saja mengambil bayi tersebut dan membersihkannya, setelah itu ia pun menyerahkan bayi perempuan yang sangat cantik bak bidadari kepada Leo untuk segera diazankan. Lalu Leo membawa bayinya tersebut mendekati Ara. Ara begitu sangat terharu, perjuangannya tidak sia-sia. Ia sangat lega dan rasa sakit yang dirasakannya tadi pun hilang seketika setelah melihat bayinya yang telah lahir dengan sangat sempurna. Air mata bahagia lolos begitu saja dari sudut mata Leo dan Ara sembari menatap anak mereka.
"Makasih ya Sayang, kamu udah berhasil melahirkan anak kita dengan selamat. Anak kita cantik banget Sayang, mirip sama kamu," ucap Leo.
Sedangkan orang tua dan para sahabat yang berada di luar ruang bersalin, merasa sangat senang mendengar suara bayi yang menandakan bahwa Ara sudah melahirkan. Mereka pun berbondong masuk untuk melihat Ara dan bayinya setelah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Bu Amara dan Bu Maria begitu sangat terharu bahagia karena melihat kehadiran cucu mereka. Ucapan selamat pun berdatangan dari para sahabat yang kini menghampiri mereka.
"Selamat ya Ara, Leo, anak kalian sudah lahir. Cantik banget ya, putih, hidungnya mancung, bulu matanya lentik," ucap Sarah.
"Iya dong, siapa dulu Mommy dan Daddy-nya," ucap Leo.
"Hm … iya deh iya," ucap Sarah.
"Makasih ya Sar, ini semua juga berkat doa kalian," ucap Ara.
__ADS_1
"Iya sama-sama Ra," jawab Sarah.
"Selamat ya Bro," ucap Bryan pula.
" Makasih banyak Bro," ucap Leo.
"Selamat ya buat kalian udah resmi jadi orang tua," ucap Arka dan Sherin.
"Makasih ya, mudah-mudahan kalian cepet nyusul," ucap Ara.
"Aamiin," ucap Arka dan Sherin yang begitu antusias.
Tak lupa pula, Rio, Aria, Beni, Seno dan Amira juga ikut mengucapkan selamat kepada dua orang yang baru saja menjadi orang tua. Tak ada kata-kata yang di bisa diungkapkan untuk mewakili rasa bahagia dari pasangan yang baru saja memiliki anak itu. Begitu juga dengan orang tua dan sahabatnya yang ikut merasakan bahagia yang saat ini sedang dirasakan oleh mereka.
...
Setelah satu malam menginap di rumah sakit, Ara pun diperbolehkan untuk pulang. Leo dengan sangat hati-hati membawa istri dan anaknya itu pulang ke rumah. Ia tidak mau sesuatu terjadi pada istrinya dan anaknya, bahkan hanya tergores sedikitpun. Biarlah ia dikatakan sebagai suami dan ayah yang overprotektif, ia sama sekali tak peduli. Yang penting istri dan anaknya itu selalu sehat dan selamat.
Bu Maria dan Bu Amira beserta suami mereka memutuskan untuk tinggal sementara di rumah Ara dan Leo agar dapat menjaga anak dan menantu mereka itu, serta selalu dekat dengan cucunya. Apalagi saat ini kondisi Ara juga belum stabil, sehingga ia membutuhkan bantuan dari orang lain.
Ara begitu sangat senang karena orang tua mereka sangat peduli dan menyayangi mereka serta anaknya, apalagi anak Leo dan Ara yang diberi nama Liora Andini itu merupakan anak pertama dan cucu pertama di keluarga mereka. Kini terasa lengkaplah sudah kesempurnaan dalam keluarga mereka sejak kelahiran Baby Liora. Semuanya begitu sangat menyayangi Liora, hingga tidak jarang dari kedua Oma dan Opanya pun berebut untuk bermain dan menggendong Liora.
Ara dan Leo sangat merasa bersyukur, karena setelah perjalanan panjang yang mereka lalui, menghadapi masalah demi masalah yang menghampiri, kini mereka bisa mendapatkan kebahagiaan yang datang secara bertubi-tubi. Hanya ucapan rasa syukur tanpa henti yang dapat mereka ucapkan dengan apa yang telah didapatkan saat ini.
Rasanya Ara tidak percaya, ia tidak menyangka akan menikah dan memiliki anak bersama dengan Leo, jika mengingat kembali bagaimana pertemuannya saat itu dengan Leo yang pada saat itu Leo masih berada di dunia lain. Ia sama sekali tidak menyangka Pria Tampan Dari Dunia Lain yang tadinya hanya menjadi sahabatnya adalah jodoh yang memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuknya.
Memang benar jika Tuhan itu sudah mengatur segala sesuatunya untuk masing-masing diri kita. Tinggal bagaimana kita menghadapi dan mensyukuri itu semua. Untuk menuju kebahagiaan itu juga tidak mudah, tidak ada sesuatu yang instan, sudah pasti melalui proses yang panjang. Intinya terus semangat berjuang dan bersabar, maka kebahagiaan yang akan kita dapatkan.
...***** TAMAT *****...
Hai para readers setia. Terima kasih ya yang udah setia baca sampai di episode terakhir. Mohon maaf jika banyak kekurangannya, karena otor hanyalah manusia biasa yang tempatnya salah dan silap, mohon dimaafkan ya.
__ADS_1
Sampai di sini dulu kisah Leo dan Ara setelah menempuh perjalanan panjang. Jika sudi dan berkenan silahkan mampir ke karya otor yang lain ya. Di tunggu ya guys, terima kasih atas dukungan kalian selama ini, tanpa kalian otor bukan siapa-siapa. Lope-lope deh pokoknya buat kalian. ❤️❤️❤️🥰🥰🥰
See You. 👋