Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-327


__ADS_3

Bagaimana dengan Aria dan Rio? Mereka saat ini masih belum saling bertegur sapa, mereka berdua tetap saja seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. Meskipun Arka sudah mulai berbicara dengan Rio dan menganggap semuanya biasa saja, tetapi tetap saja Rio merasa tidak enak jika harus mendekati adiknya lagi.


Setelah acara tujuh bulanan Ara yang berlangsung sangat meriah, kini para tamu undangan pun berangsur pulang.


Arka saat itu akan mengantar calon istrinya pulang, sedangkan Aria memilih untuk pulang sendiri dengan alasan ia ingin berjalan-jalan sendirian terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Arya memang mengizinkan adiknya itu, akan tetapi ia juga memberi kode kepada Rio untuk menghampiri Aria dan mengantarkannya pulang. Meskipun gugup dan merasa takut, akan tetapi Rio menyetujuinya. Ia sangat senang karena mendapatkan lampu hijau dari sang Kakak. Dalam beberapa bulan terakhir ini Arka selalu memperhatikan sikap Rio, dia percaya jika sebenarnya Rio tidak sepenuhnya bersalah dalam masalah ini. Untuk itulah kini Arka memberi kesempatan untuk Rio kembali mendekati Aria, terlebih lagi ia tahu jika Aria masih sangat mencintai Rio dan sampai kapanpun tidak akan tergantikan. Arka juga dapat melihat jika Rio saat ini sudah mulai memiliki perasaan terhadap adiknya, ia hanya berharap jika Rio benar-benar serius dengan adiknya dan tidak ada niat untuk mempermainkannya lagi. Rio sendiri saat ini merasa jika dirinya memang sudah mencintai Arya, ia benar-benar sudah mulai melupakan Nadia dan ia benar-benar sudah menutup kenangan tentang Nadia di hatinya. Rio tidak mau terus-menerus larut dalam kesedihan, biarlah Nadia menjadi kenangan indah di dalam hatinya.


...


Setelah semua para tamu undangan pulang dan tampak sepi, Rio yang yang sudah mengendarai mobilnya berhenti tepat di depan Aria yang masih berdiri di depan gerbang rumah Ara. Aria sadang menunggu taksi yang lewat dan sengaja tidak memesan taksi online.


"Ar mau pulang bareng aku nggak?" tawar Rio tanpa berbasa-basi.


"Nggak usah Kak, aku lagi nungguin taksi," tolak Aria mentah-mentah.


"Ar please! Aku sekalian mau ngomong sesuatu sama kamu," pinta Rio.


"Nggak ada yang perlu diomongin Kak, kalau mau bahas soal pekerjaan di kantor aja," ucap Aria ketus.


Lalu Rio pun keluar dari mobilnya dan menghampiri Aria.


"Ar, bisa nggak kalau kita ngomong sebentar aja. Aku mohon sama kamu. Walaupun setelah ini kamu benar-benar udah enggak mau lagi dekat sama aku, kamu akan benci sama aku atau bahkan nggak mau lihat muka aku lagi, nggak apa-apa kok Ar, ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku ganggu kamu," kata Rio.


Mendadak hati Arya menjadi gundah, hatinya goyah karena tidak mengerti akan maksud Rio untuk yang terakhir kalinya. Karena rasa penasaran, membuatnya menyetujui untuk masuk ke dalam mobil Rio dan mengikuti kemana Rio akan membawanya pergi.


Rio memberhentikan mobil di sebuah taman yang saat itu tidak terlalu sepi dan juga tidak terlalu ramai. Ia mengajak Aria duduk di sebuah kursi yang dekat dengan tempat permainan anak-anak. Sambil melihat anak-anak yang saat itu sedang bermain, Rio menyampaikan maksud dan tujuannya mengajak Aria ke taman tersebut.

__ADS_1


"Ar, aku boleh nggak ngomong sesuatu sama kamu?" Tanya Rio yang kini menatap Aria.


"Memang itu kan tujuan kita ke sini, jadi ngomong aja Kak. Aku juga udah ada di sini kan, jadi udah pasti aku dengerin," jawab Aria.


Rio meraih kedua tangan Aria lalu menggenggamnya dengan erat.


"Ar, terserah kamu mau percaya atau nggak, tapi aku mau jujur sama kamu kalau aku sayang dan cinta sama kamu Ar," ucap Rio.


Deg …


Pegangan tangan Rio yang tiba-tiba itu saja sudah membuatnya jantungnya berdetak kencang, ditambah pula dengan ucapan Rio barusan membuat jantungnya terasa mau lepas. Akan tetapi sebisa mungkin Aria mengontrol perasaannya itu, ia tidak bisa mempercayainya begitu saja. Ia yakin saat ini Rio hanya sedang mempermainkan perasaannya, ia tidak mau terjebak dalam perasaan yang lebih dalam lagi.


Dengan cepat Aria melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rio.


"Terus gimana sama Kak Nadia? Apa Kakak sama sekali udah nggak ingat sama Kak Nadia lagi? Kakak benar-benar udah yakin kalau udah move on dari dia? Aku nggak mau ya Kak kalau aku cuma dijadikan pelampiasan Kakak aja," kata Aria.


"Ar aku sadar kalau aku udah jatuh cinta sama kamu dan melupakan Nadia. Bagaimanapun juga Nadia tidak akan pernah kembali lagi," ucap Rio.


Tapi aku nggak bisa percaya begitu aja Kak," ucap Aria.


"Aku harus berbuat apa supaya kamu percaya sama aku Ar?" Tanya Rio.


"Kakak buktiin aja kalau Kakak emang cinta sama aku. Setelah itu aku pasti akan cepat memberi jawabannya untuk Kakak," jawab Aria.


"Tapi kenapa kamu nggak percaya sama aku Ar? Apa kamu sama sekali udah nggak ada perasaan sama aku?" Tanya Rio.

__ADS_1


"Entahlah Kak, aku juga bingung sama perasaan aku sekarang. Kak Rio aku capek, aku mau pulang sekarang. Kalau Kakak masih mau di sini, aku bisa kok pulang sendiri," kata Aria.


Rio menghembuskan nafasnya kasar, ia merasa jika sikap Aria saat ini memang sudah berubah kepadanya. Mungkin Aria benar-benar sudah lelah mengharapkan cintanya itu. Tetapi Rio takkan pernah menyerah, seperti apa yang pernah Aria lakukan untuk mengejar cintanya. Ia pasti akan berjuang untuk mendapatkan posisinya kembali di hati Aria.


"Ya udah, kalau gitu aku anterin kamu pulang ya biar kamu bisa cepat istirahat," kata Rio dan Aria pun menyetujuinya.


...


"Amira kamu belum tidur Sayang?" Tanya Bu Maria saat melihat Amira saat itu sedang duduk termenung di ruang televisi.


"Belum Tante, Mira belum ngantuk," jawab Amira.


"Oh gitu, mau Tante temenin nggak?" Tanya bu Maria.


"Boleh Tante, tapi memangnya Tante belum ngantuk?" Tanya Amira.


"Belum Sayang, kebetulan Tante juga lagi butuh temen nih. Mau nonton film bareng nggak?" Jawab bu Maria dan bertanya.


"Mau banget Tante, Tante suka nonton film apa?" Tanya Amira pula.


"Tante sih suka nonton bareng film horor bareng Ara. Tante heran deh padahal ya Ara dulunya takut banget sama hantu, tapi nggak tahu deh kenapa dia jadi suka film horor semenjak katanya bisa lihat hantu," kata bu Maria.


Perkataan bu Maria barusan membuat Amira teringat bahwa Ara pernah bercerita padanya soal pertemuannya dengan Leo saat masih di dunia Lain. Amira jadi mengerti tentang apa yang dimaksud oleh bu Maria itu. Amira begitu merasa dekat dengan Ara dan bu Maria. Meskipun belum lama mengenal mereka berdua, tetapi mereka sangat terbuka kepada Amira tanpa menyembunyikan apapun. Amira sangat bahagia mempunyai keluarga baru saat ini, ia hanya butuh keikhlasan hatinya untuk merelakan sang ibu yang sudah pergi selama-lamanya dan bahagia di surga.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2