Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_259


__ADS_3

Rio terdiam, yang dikatakan oleh Ara memang benar. Seharusnya, dalam kondisi seperti ini Rio menjaga bu Jasmine bukan malahan menjadi pria lemah seperti ini. Pasti Nadia sangat kecewa jika tahu Rio tidak memperdulikan ibunya.


"Tante, Rio beliin makanan ya," kata Rio.


"Gak usah Rio, Tante benar-benar lagi gak pengen makan," tolak bu Jasmine.


"Tante jangan gitu dong, nanti Nadia sedih liat kondisi Tante yang kayak gini. Gini aja deh, biar Rio sama Leo beli makanan, entar kita makan bareng ya, Ara sama Leo juga belum makan Tante. Kalau Tante gak mau makan, kita semua juga gak akan makan, emangnya Tante mau liat kita semua kelaparan," kata Ara yang terdengar sedikit mengancam. Akan tetapi semua ia lakukan demi kebaikan bersama, terutama bu Jasmine.


"Ya udah, boleh," ucap bu Jasmine yang membuat Ara, Rio dan Leo begitu senang mendengarnya. Memang harus diakui jika Ara itu memang paling jago dalam urusan bujuk membujuk.


"Ya udah, Rio buruan beli makanan buat kita ya," ucap Ara. "Dan kamu sayang, temenin Rio ya beli makannya," pintanya pada Leo dan Leo pun menyetujuinya.


Lalu Rio dan Leo pun segera meninggalkan ruang ICU dan mencari makanan untuk mereka berempat di restauran yang tidak jauh dari rumah sakit.


...


Amira tampak tidak sehat hari ini, akan tetapi pekerjaannya begitu banyak, apalagi di saat Ara sedang tidak ada membuatnya harus lembur, bahkan kini sudah jam 6 sore pun ia belum juga bisa pulang.


Tok ... tok ... tok ... suara ketukan pintu.


"Masuk Aja!" Teriak Amira.


Segera saja seorang pria gagah membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Pak Seno, ada apa ke sini ...?" Tanya Amira.


"Kak Ara-nya ada?" Tanya Seno pula.


"Loh emangnya Bapak gak tau ya kalau Mbak Ara dan Mas Leo ke New York," ucap Amira.

__ADS_1


"Hah? New york? Kamu serius Mir?" Tanya Seno.


"Serius Pak, memang mendadak sih, baru dua hari yang lalu lah," jawab Amira.


"Ada apa? Kok mendadak mereka berdua ke Amrik, gak mungkin kan liburan di saat genting gini. Apalagi gak sampai satu Minggu lagi Perusahaan Kak Ara mau diresmikan," gumam Seno dalam hati.


"Mir, kamu tau gak kenapa mereka ke Amrik?" Tanya Seno yang sebenarnya ragu untuk ikut campur, akan tetapi ia juga penasaran ingin tahu.


"Tentu aja saya tau Pak," jawab Amira.


"Hm … gak papa kali ya kalau aku kasih tau Pak Seno, dia juga kan akrab sama Mbak Ara dan Mas Leo," batin Amira.


"Apa boleh saya tau ...?" Tanya Seno.


"Iya Pak boleh kok. Katanya sahabat Mbak Ara yang di Amrik sakit Pak, kritis kondisinya," jawab Amira.


"Kak Nadia maksudnya ...?" Tanya Seno.


"Padahal kemarin Kak Nadia itu baru aja pulang ke Indonesia, kenapa tiba-tiba mendadak sakit dan kritis?" Tanya Seno.


"Kalau itu Saya juga kurang tau Pak, karena Mbak Ara gak sempat mau cerita banyak waktu itu," jawab Amira.


Saat sedang fokus menatap layar pada laptopnya, tiba-tiba Amira merasakan kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang, pandangannya juga buram hingga Amira kehilangan kesadarannya begitu saja.


"Kasian banget Kak Ara, pasti sekarang ini dia lagi sedih banget deh karena sahabat baiknya sakit, coba aku yang ada di samping Kak Ara bukan Kak Leo, ah mikir apaan sih Sen," gumam Seno. Ia belum sadar jika Amira pingsan dengan posisi kepalanya yang terbaring di atas meja. Sementara Seno saat ini mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Barulah setelah itu ia menghadapkan pandangan ke arah Amira dengan maksud akan berpamitan.


"Mir, capek banget ya sampai sandaran di meja gitu, entar ketiduran loh, mana kantor udah sepi gini. Kalau ngantuk mendingan kamu pulang Mir," kata Seno tanpa tanggapan apapun.

__ADS_1


"Mir, Amira …," Panggil Seno sembari mendekatinya.


Karena berulang kali memanggil Amira tetapi tidak ada jawabannya, akhirnya Seno memberanikan diri untuk menyentuh Amira dengan menggoyang pelan pundaknya agar Amira bangun dan pulang. Menurutnya sangat bahaya jika Amira hanya berada sendirian di kantor.


Akan tetapi Amira tidak terbangun, Seno tidak sengaja mendorong tubuh Amira dengan keras sehingga hampir saja tubuh Amira itu jatuh jika Seno tidak segera menyambutnya. Seno yang tidak sengaja memegang tangan Amira merasakan jika tubuhnya panas. Untuk memastikannya lagi, Seno memberanikan diri memegang kening Amira yang ternyata memang sangat panas.


"Ya ampun, badannya Amira panas banget. Ini pasti Amira pingsan," gumam Seno yang mulai terlihat panik.


"Mir bangun Mir," lagi-lagi Seno memanggilnya untuk memastikan. Saat iya yakin jika wanita yang ada di depannya itu pingsan, Seno bergegas menggendong Amira ala bridal dan membawanya ke rumah sakit.


...


New York Amerika Serikat.


Saat ini Ara sedang masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat kondisi Nadia. Ara tidak kuasa menahan kesedihannya, air matanya bercucuran saat ia menatap wajah polos sahabatnya itu yang sedang tidak berdaya.


"Nad, ini aku Ara, aku datang jauh-jauh khusus buat ketemu kamu. Please kamu bangun ya, Nadia kamu jangan nyerah, kamu harus buktiin sama aku kalau kamu akan jadi Dokter yang hebat. Bangun Nad, kamu jahat banget sih cuekin aku. Mana Nadia yang yang cerewet, aku gak kenal sama Nadia yang pendiam kayak gini," ucap Ara sambil memegang tangan Nadia, air matanya juga jatuh membasahi tangan sahabatnya itu.


Tanpa di sadari, tiba-tiba air mata Nadia pun menetes. Memang benar jika orang koma itu bisa mendengar ucapan kita, hanya saja mereka tidak bisa membuka matanya, akan tetapi mereka juga sedang berjuang untuk kembali atau benar-benar pergi untuk selamanya.


"Nad, kamu gak lupa kan, sebentar lagi kita sama-sama akan menikah dengan pria yang kita cintai, kita akan punya anak, sama dengan Sarah. Pasti sangat seru dan bahagia banget deh kalau ngumpul bawa suami dan anak kita masing-masing," ucap Ara yang berusaha untuk tersenyum dibalik kesedihannya. Ia sangat berharap jika Nadia bisa mendengar dan menjadi motivasi untuk Nadia bangun.


Akan tetapi bukannya bangun, tiba-tiba layar monitor di dalam ruangan ICU itu berbunyi keras menandakan kondisi Nadia sedang tidak baik-baik saja, disertai dengan tubuh Nadia yang kejang-kejang yang membuat Ara syok melihatnya.


"Nadia, kamu kenapa Nadia?" Teriak Ara dan langsung saja menekan tombol emergency.


Dokter dan Suster segera berlarian ke ruang ICU yang membuat bu Jasmine, Leo dan Rio kebingungan.


"Ini ada apa ...?" Tanya bu Jasmine yang begitu panik.

__ADS_1


"Kita liat aja Tante," ajak Rio. Lalu mereka bertiga pun segera mendekat ke ruang ICU.


...****************...


__ADS_2