Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-307


__ADS_3

"Kalau saya boleh tau berapa ya biaya operasinya Dok?" Tanya Amira.


"Untuk pembayaran awal kamu harus segera membayarnya administrasinya sebesar 50 juta, nanti jika ada tambah-tambahan lainnya akan dikabarkan kembali," jawab Dokter.


"50 juta?" Mata Amira mendadak membulat sempurna, ia tidak tahu harus mendapatkan uang sebanyak itu dari mana, karena uang hasil ia bekerja sudah digunakan untuk menghidupi dirinya dan juga sang Ibu. Ditambah lagi ibunya yang sakit-sakitan dan memerlukan pengobatan rutin.


Amira tampak ragu untuk menandatangani berkas tersebut. Melihat akan hal itu, Ara pun langsung saja mendekati Amira, ia memberi gestur agar segera menandatanganinya.


"Amira, kamu nggak perlu memikirkan biaya. Di sini ada Tante dan Ara yang akan membantu kamu. Kamu percaya kan sama Tante dan Ara? Kami gak mungkin membiarkan kamu kesusahan sendiri Sayang," kata bu Maria.


"Apa yang di bilang sama Mami aku itu benar Mir," sambung Ara.


"Tapi utang Amira udah banyak dengan keluarga Mbak Ara," kata Amira.


"Mir, aku ikhlas bantu kamu, ku gak pernah kok anggap itu semua adalah utang. Kamu terima ya bantuan aku, kesembuhan Ibu kamu lebih penting Mir," kata Ara.


Amira terlihat sangat sedih dan bingung mengingat hutang-hutangnya yang sudah banyak karena Ara selalu membantunya dengan uang, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Karena baginya kesembuhan ibunya adalah yang terpenting seperti yang dibilang Ara tadi.


Amira pun menyetujuinya, ia segera menandatangani berkas tersebut dan memberikannya kepada Dokter. Dokter segera memberitahukan kepada Dokter lain dan juga Suster bahwa akan mengadakan operasi kepada bu Laras saat ini juga. Saat Bu Laras di bawa keluar dari ruang IGD oleh Suster, bu Maria begitu terlihat sangat syok karena sosok yang sudah lama dicarinya ada di atas brankar dan lewat di depan matanya saat ini.


"Laras," ucap bu Maria sembari menutup mulut dengan tangannya karena tidak percaya dengan yang baru saja ia lihat.


Ara dan Amira serentak menatap bu Maria, mereka juga terkejut karena bu Maria bisa mengenali bu Laras.


"Tante, Tante kenal sama Ibu saya?" Tanya Amira.


"Amira, itu beneran Laras Ibu kamu?" Tanya bu Maria yang tak dapat lagi membendung air matanya hingga jatuh bercucuran.


"Iya, itu Ibu aku Tante," jawab Amira.

__ADS_1


"Mami, kenapa Mami nangis? Terus kok bisa Mami kenal sama Bu Laras?" Tanya Ara.


"Ara, Amira, jadi Laras itu sahabat lama Mami. Dia yang pernah Mami ceritakan sama kamu Ara," kara bu Maria.


"Mami serius?" Tanya Ara.


"Iya Sayang, Mami gak nyangka akan ketemu lagi dengan Laras meskipun dalam keadaan seperti ini," kata bu Maria.


Ara dan Amira pun tidak percaya mendengar akan hal itu, tapi itulah takdir. Takdir yang telah mempertemukan sahabat lama itu meskipun dalam keadaan yang tidak mereka harapkan.


Lalu suster pun segera berlalu membawa bu Laras menuju ke ruangan operasi. Tidak lepas pula bu Maria, Ara dan juga Amira mengikuti Suster yang membawa bu Laras tersebut.


...


Operasi sedang berlangsung, tampak dari wajah mereka yang saat ini terlihat sangat tegang dan khawatir. Ara sedari tadi menggenggam tangan Amira agar ia merasa lebih tenang, sedangkan di sudut sana ia juga melihat ibunya yang terlihat sangat sedih dan memikirkan sesuatu. Ya Ara memang belum sempat menanyakan soal sahabat ibunya itu, dia juga tidak menyangka jika sahabat lama yang dimaksud oleh ibunya itu adalah bu Laras Ibu dari Amira yang sudah dianggap sebagai adiknya, bahkan Amira sendiri sudah dekat dengan Bu Maria.


"Laras, aku nggak nyangka kita bisa ketemu lagi di sini. Tapi kenapa kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini? Kamu harus kuat Laras, aku mau kamu sembuh. Aku akan melakukan apapun yang terbaik buat kamu seperti apa yang dulu pernah kamu lakukan buat Ibu aku, kamu dulu bahkan rela menjaga Ibu aku sewaktu sakit dan mengabaikan sekolah kamu. Saat ini adalah waktunya aku membalas semua kebaikan kamu Laras. Kamu harus kuat, ada aku di sini, sahabat kecil kamu yang selalu menunggu kamu Laras. Aku akan selalu berdoa untuk kesembuhan kamu," ucap Bu Maria dalam hati dengan linangan air matanya yang deras seperti hujan.


"Sayang," ucap Leo.


"Kak Ara, Amira, gimana kondisi Bu Laras?' Tanya Seno.


"Belum selesai operasinya," jawab Ara, sedangkan Amira hanya tertunduk saja menyembunyikan kesedihannya. meskipun mereka di situ semua tahu jika Amira saat ini sedang menangis.


Leo duduk di samping Ara, sedangkan Seno memilih duduk di samping Amira. Seno mencoba menghibur Amira dan memberanikan diri untuk memegang pundaknya, "Amira kamu yang sabar ya, aku doain Ibu kamu cepat sembuh, operasinya berjalan dengan lancar," ucapnya.


"Aamiin," makasih ya Sen," ucap Amira dan dijawab anggukan oleh Seno.


"Ya Amira, kamu harus kuat demi Ibu kamu. Aku yakin Ibu kamu juga sedang berjuang di dalam sana untuk sembuh," ucap Leo.

__ADS_1


"Iya Kak, makasih ya Kak Leo," ucap Amira.


"Ya sama-sama," jawab Leo. "Sayang, itu Mami Maria kenapa kelihatannya sedih banget?" Tanyanya kepada Ara.


"Iya, aku juga baru tau kalau ternyata Bu Laras itu sahabat kecil yang selama ini Mami cari," kata Ara.


"Apa? Jadi itu sahabat kecil Mami yang pernah kamu ceritain sama aku?" Tanya Leo.


"Iya Sayang, Mami senang bisa ketemu sahabat lamanya lagi, tetapi di sisi lain Mami juga sedih karena bertemu dengan sahabatnya itu dalam kondisi seperti ini. Amira juga saat ini lagi sedih banget, makanya aku biarin Mami untuk menenangkan hatinya dulu," jawab Ara.


"Ya udah, kalau gitu mendingan sekarang kita samperin Mami yuk. Biar di sini Amira sama Seno," kata Leo.


"Iya Kak Ara, bener apa kata Kak Leo, mendingan kalian samperin Tante aja dulu, biar Amira sama aku," kata Seno.


"Mir, aku samperin Mami dulu ya," kata Ara lalu melepaskan genggaman tangannya dari Amira, lalu ia pun mendekati Maminya, sedangkan Seno tetap berada di sisi Amira untuk menemaninya


"Mami," ucap Ara.


Bu Maria menoleh, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Ara.


"Sayang, Mami senang bisa ketemu sama sahabat lama Mami, Laras. Tapi Mami juga sedih karena saat ini kondisi Laras tidak berdaya," kata bu Maria.


"Mami, Mami harus sabar ya, kita doakan untuk kesembuhannya Bu Laras. Ara yakin kok kalau Bu Laras pasti akan sembuh. Dokter akan melakukan yang terbaik," kata Ara.


"Iya Mami, Mami pasti bisa bertemu dengan sahabat Mami lagi dalam keadaan sehat dan kalian juga bisa bersama seperti sedia kala," kata Leo.


"Aamiin, kita berdoa saja ya yang terbaik untuk Laras," ucap Bu Maria.


"Iya Mami, sekarang Mami jangan nangis lagi ya," pinta Ara seraya mengusap pelan pundak ibunya itu.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, ruang operasi pun telah terbuka. Mereka bersama-sama dengan sangat antusias menghampiri sang Dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


...****************...


__ADS_2