
Arka diam-diam mendekati Tama dan Karina, dimana saat itu mereka berada tidak jauh darinya. Ia semakin mendekat sehingga dapat mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"Kamu yakin kita bakalan masuk rumah sakit ini?" Tanya Tama.
"Ya iyalah aku yakin, gimana pun juga aku mau melihat gimana keadaan Leo sekarang," jawab Karina.
"Peduli banget sih kamu, udah jelas-jelas kamu ditolak sama dia mentah-mentah, berkali-kali pula. Ngapain juga masih peduli sama dia," kata Tama.
"Ayolah Sayang, gimana pun juga Leo itu tetap orang yang aku cintai sejak lama, jadi nggak salah kan kalau aku pengen tau gimana keadaan dia sekarang?" kata Kamu.
"Iya-iya, tapi kamu tidak akan berpaling kan dari aku?" Tanya Tama.
"Ya nggak dong, kamu itu tetap menjadi pemuas ranjangku," jawab Karina menggoda sembari mencolek dagu Tama yang membuat Tama cengar-cengir sendiri dan merasakan sesuatu di bawahnya sana berdiri.
"Sial hanya karena colekan dari Karina aja, Junior ini sudah langsung minta disentuh," batin Tama dengan pikiran joroknya.
"Tama, kenapa kamu diam? Muka kamu juga kenapa lagi jadi merah kayak gitu," Tanya Karina.
"Ini semua gara-gara kamu Karin," kata Tama.
"Kok gara-gara aku? Kenapa?" Tanya Karina kebingungan.
"Gara-gara kamu colek dagu aku, yang bawah sana juga minta disentuh," goda Tama.
"Apaan sih, lagi serius juga. Lagian cuma colek dagu doang kenapa jadi yang bawah ikut terusik.
"Karena setiap sentuhan dari kamu memang selalu membuat aku tersentuh, pokoknya pulang dari sini aku mau minta kamu memuaskan aku," kata Tama.
"Iya, kamu tenang aja. Yang penting kamu selalu menuruti apapun keinginan aku dan melakukannya untukku," kata Karina.
"Kalau masalah itu kamu tenang aja baby," kata Tama.
"Jadi mereka mau liat leo? Terus pembicaraan apa tadi yang aku dengar? Jijik banget dengernya, ternyata mereka berdua ini pasangan se**. Apa mungkin ya mereka berdua ada sangkut pautnya dengan pengeroyokan Leo. Tapi kenapa? Aku sama sekali belum mengerti apa masalah dari ini semua. Lebih baik aku ikuti mereka," gumam Arka dalam hati.
__ADS_1
"Tapi aku kan mau beli makanan buat Ara, Kasian Ara belum makan, gimana Ara mau makan kalau nggak ada makanannya. Ah udahlah mendingan aku abaikan aja dulu soal Tama dan Karina. Atau lebih baik aku hubungin Rio aja, biar mereka yang menyelidikinya, soalnya gerak gerik mereka benar-benar mencurigakan," ucap Arka yang terus saja bermonolog dengan hatinya.
Lalu Arka masuk ke dalam mobilnya, Ia mengirim pesan untuk Rio, setelah itu Arka pun mulai menjalankan mobilnya menuju ke sebuah restauran untuk membeli makanan.
...
"Arka WA gue nih," kata Rio berbisik kepada Beni.
Sementara saat ini Bryan sedang menemani Ara melihat Leo dari balik kaca.
"Wa apaan dia?" Tanya Beni.
"Nih lo baca aja sendiri," kata Rio dan memberikan ponselnya, lalu Beni pun membaca pesan WhatsApp dari Arka tersebut.
"Apa? Aku sih dari awal juga udah nebak ya kalau ini semua pasti perbuatan mereka," kata Beni.
"Hust, jangan bising, jangan sampai Ara dengar. Ini kan masih belum pasti, kita harus selidiki dulu kebenarannya baru kita kasih tahu ke Ara," kata Rio.
"Oh iya, tapi dimana mereka sekarang? Bukannya tadi kata Arka mereka masuk ke rumah sakit ini mau melihat Leo ya," kata Beni.
"Memang kenapa?" Tanya Beni.
"Gimana sih lo, lo kan tau sendiri kalau Tama dan Arka itu ada slek, ya pasti Tama juga udah tau lah kalau kita semua bakalan tau masalahnya, ya kan kita sahabatnya Arka," kata Rio.
"Iya juga ya, terus gimana dengan Karina?" Tanya Beni lagi.
"Kalau Karina udah pasti dia bakalan datang dan bersandiwara, lo liat aja nanti," kata Rio.
Saat mereka sedang berbincang berdua, benar saja tiba-tiba Karina datang, akan tetapi tidak bersama dengan Tama.
"Tuh loe liat sendiri kan, apa gue bilang pasti Tama ngumpet karena ngeliat kita di sini," kata Rio.
"Iya bener kata lo," jawab Beni.
__ADS_1
Karina melangkahkan kakinya berjalan mendekati Ara dan juga Bryan.
"Ara, gimana kondisi Leo?" Tanya Karina.
Ara pun terkejut saat menoleh dan melihat Karina ada di depan matanya.
"Karina? Kamu mau ngapain ke sini?" Tanya Ara ketus.
"Aku cuma mau jenguk Leo aja kok, gimanapun juga Leo itu kan Bos aku," kata Karina.
"Oh ya? Kamu yakin cuma mau jengukin aja, bukan karena mau memastikan gimana keadaan Leo sekarang setelah apa yang kamu lakukan?" Tanya Ara yang kini menatap Karina dengan murka.
Bryan, Beni dan Rio terkejut mendengar pertanyaan Ara itu, tetapi tidak dengan Karina, ia mengerti namun hanya berpura-pura tidak mengerti saja.
"Maksud kamu apa ya Ra?" Tanya Karina sembari menatap Ara yang tak kalah tajamnya.
"Kamu nggak usah pura-pura lah Karin, aku yakin kamu pasti tau kan kenapa Leo bisa kayak gini," tuduh Ara.
"Tau apanya? Aku benar-benar nggak tau kenapa Leo bisa kayak gini. Aku kan udah pulang duluan tadi malam. Leo itu pulangnya malam, ya aku nggak tau lah sama sekali," kata Karina belit-belit.
"Oh ya? Terus kamu tau dari mana kalau sekarang Leo ada di rumah sakit?" Tanya Ara, ia masih kekeh dengan rasa kecurigaannya terhadap Karina.
"Ya ampun Ara, semua orang di kantor juga udah tau kejadian tadi malam, hari ini di kantor juga heboh setelah mendapat kabar tentang CEO mereka," kata Karina mencari alasan.
Ara terdiam, alasan yang diberikan Karina juga masuk akal, tapi itu sama sekali tidak menghilangkan rasa curiganya kepada Karina
...
Malam pun tiba, Ara selalu setia untuk menemani sang pujaan hati yang saat ini masih saja terbaring lemah tidak berdaya. Ara ingin selalu berada di samping Leo, ia berharap saat Leo bangun nanti, ia akan menjadi orang pertama yang tau dan dilihat oleh Leo.
"Sayang, bangun dong. Kenapa kamu tidur terus sih? Kamu nggak kasian apa lihat aku kayak gini, aku nangis terus liat kondisi kamu. Aku cuma mau kamu bangun, enam hari lagi kita nikah loh, masa iya kamu tega biarin aku sendirian. Kamu bilang kamu mau nikah sama aku, kamu mau bisa sama-sama aku setiap hari, tapi kenapa kamu nggak bangun-bangun Sayang," gumam Ara, air matanya terus mengalir deras hingga jatuh dan membasahi tangan Leo yang sedang ia genggam.
Saat itu, tiba-tiba saja tangan Leo bergerak, Ara sangat terkejut melihat akan hal itu, sehingga ia pun berteriak memanggil ibu dan calon mertuanya yang berada di luar ruangan ICU. Bu Maria dan bu Amara langsung saja mendatangi Ara.
__ADS_1
...****************...