
"Siapa loe? mau jadi pahlawan loe hah," kata preman botak.
Sosok pria itu semakin terlihat jelas dan berdiri di depan mereka.
"Sherin," ucap pria itu.
"Arka," ucap Sherin pula.
Sherin menatap ke arah Arka dengan wajah sendu, ia tersenyum lega karena akhirnya ada orang yang datang untuk menolongnya.
"Lepaskan wanitaku!" teriak Arka.
"Banyak bacot loe, kata preman botak lalu memukul Arka, akan tetapi Arka yang pada dasarnya sangat jago bela diri itu bisa segera menghindar dan dengan mudah mengalahkan para preman.
Para Preman itu di buat babak beluk oleh Arka dan meminta ampun untuk di bebaskan, sedangkan Arka hanya mengalami luka memar pada wajahnya.
"Arka," Panggil Sherin lalu memeluk Arka, Arka pun membalas pelukan tersebut dengan erat.
"Ma-maaf Ka," ucap Sherin lalu melepaskan pelukan yang terasa nyaman baginya.
"Gak papa, kamu gak papa kan..?" Tanya Arka.
"Aku gak papa Ka, kamu yang terluka gara-gara aku," jawab Sherin. "Maaf ya dan makasih kamu udah nolongin aku," ucapnya pula.
"Gak papa Sher yang penting kamu baik-baik aja, lain kali kamu harus lebih hati-hati lagi kalau pulang sendirian. Lagian kamu dari mana sih malam-malam gini sendirian?" Tanya Arka menunjukkan kekhawatirannya.
Sherin tersenyum, ia sangat senang mendengar ocehan Arka yang menandakan kepeduliannya.
"Malah senyum-senyum lagi, bukannya jawab pertanyaan aku," kata Arka.
"Hust.... Udah yuk aku obatin dulu luka kamu," kata Sherin menutup mulut Arka dengan jari telunjuknya.
Arka terdiam dan tersenyum, lalu mereka pun masuk ke dalam mobil dan melewati jalan utama menuju ke rumah Sherin. Jalan sempit yang di lewati Sherin tadi hanyalah jalan potong khusus pejalan kaki agar cepat sampai ke rumah Sherin.
Setibanya di rumah Sherin...
"Akh...." Rintih Arka saat Sherin menyentuh luka di samping bibirnya.
"Maaf Ka, sakit banget ya?" Tanya Sherin dan di balas anggukan oleh Arka.
"Ya udah aku pelan-pelan aja," kata Sherin.
Perlahan Sherin membersihkan wajah Arka yang terluka sambil sesekali meniup agar pria di depannya itu tidak terlalu merasakan pedih. Hingga wajah Sherin yang begitu dekat dengan Arka, Arka menatap Sherin dengan kagum, jantungnya terasa berdetak lebih kencang dari biasa yang membuatnya tak mengerti apa sedang terjadi dengan dirinya.
__ADS_1
Saat itu, tanpa sengaja Sherin menangkap mata Arka yang sedang menatapnya. Setelah menyadari hal itu, keduanya segera mengalihkan pandangan mereka dan menjadi salah tingkah.
"Udah selesai Ka," kata Sherin.
"Oh iya, makasih banyak ya," ucap Arka.
"Iya sama-sama," jawab Sherin.
"Kalau gitu, aku balik dulu ya udah malam," pamit Arka.
"Iya, hati-hati ya Ka," kata Sherin.
"Iya Sher, bye...." Ucap Arka.
"Bye...." Balas Sherin.
Lalu Arka masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari pandangan Sherin. Sherin melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya dengan perasaaan yang sedang berbunga-bunga.
...
Tok.. Tok.. Tok.. Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Ara.
"Masuk," ucap Ara yang sedang sibuk memeriksa beberapa file.
"Tante Risa," ucap Ara saat melihatnya. Ia terkejut karena Bu Risa yang sedang berada di luar Negeri, tiba-tiba ada di depan matanya.
"Ara," ucap bu Risa pula, segera keduanya saling mendekat lalu berpelukan erat sebentar.
"Tante, ayo duduk sini," ajak Ara sembari membawa bu Risa duduk di sofa.
"Sayang, gimana kabar kamu..?" Tanya bu Risa.
"Ara baik Tan, Tante sendiri apa kabar...?" Jawab Ara dan bertanya balik.
"Tante juga baik kok," jawab bu Risa.
"Tante kapan pulang? Kok gak ngabarin Ara sih, Ara kangen tau," kata Ara sembari memeluk lengan bu Risa.
"Baru semalam sore Tante sampai rumah. Memang sengaja tidak kabarin sih, biar jadi suprise buat kamu," jawab bu Risa.
"Ehm... Tante," rengek Ara.
"Tante juga kangen sekali sama kamu, makanya Tante ke sini buat temuin Ara," kata bu Risa.
__ADS_1
"Oh ya, makasih banyak ya Tan," ucap Ara.
"Oh iya kabar Kak Irene gimana Tante, baik-baik aja kan sama Mas Bram?" Tanyanya pula.
"Semua baik-baik saja, mau kabar Irene ataupun hubungan rumah tangga mereka, ditambah lagi saat ini Irene sedang hamil," jawab bu Risa.
"Hamil..? Tante serius? Ara seneng banget Tante dengarnya," kata Ara dengan girang.
"Ya dong serius, Tante lega sekali karena akhirnya Irene bisa melupakan masa lalunya yang kelam itu, ini semua berkat kesabaran dari Bram," kata bu Risa.
"Iya Tante, Ara juga ikut seneng. Mudah-mudahan Kak Irene selalu bahagia," kata Ara
"Aamiin... Begitu juga doa yang sama buat kamu Sayang," kata bu Risa. "Oh iya Tante lupa, Irene titip ini buat kamu," kata bu Risa lagi sembari memberikan sebuah gelang emas putih kepada Ara, bentuknya simpel tapi terlihat sangat elegan dengan satu mutiara yang menghiasinya.
"Gelang buat Ara Tante...?" Tanya Ara.
"Iya benar, kamu pakai ya Sayang," pinta bu Risa.
"Tapi kenapa Kak Irene kasih gelang ini buat Ara Tan...?" Tanya Ara lagi.
"Gelang itu sengaja di pesan khusus sama Irene, cuma ada dua di dunia yaitu punya Irene dan kamu. Irene kasih gelang itu sebagai permintaan maafnya karena udah pernah jahat sama Ara. Jadi kamu pakai ya kalau kamu memang sudah memaafkan Irene," jelas bu Risa.
"Tante, Ara udah maafin kak Irene dari lama kok, Ara ngerti kenapa kak Irene bisa kayak gitu kemaren. Ara akan pakai gelang ini bukan karena Ara baru memaafkan kak Irene, tapi karena Ara seneng banget dapat hadiah khusus dari kakak angkat Ara Tante," ucap Ara tersenyum, begitu juga dengan bu Risa, ia tersenyum mendengar ucapan Ara tersebut.
"Mau gak Tante pakein gelangnya ke Ara sebagai ganti karena kak Irene gak ada di sini," pinta Ara.
"Mau dong Sayang," jawab bu Risa lalu memakaikan gelang tersebut ke tangan Ara.
"Makasih Tante," ucap Ara setelah selesai.
"Sama-sama Ra, kamu lagi tidak ada kerjaan...? Takutnya Tante ganggu kerjaan kamu," kata bu Risa.
"Sama sekali gak ganggu Tante, Ara cuma lagi periksa berapa file aja. Kalau gitu Ara siapin dulu ya, nanti kita makan siang bareng, Tante mau kan...?" kata Ara dan bertanya.
"Ya jelaslah Tante mau, di traktir kan sama CEO baru, Tante sampai lupa mau ucapin selamat atas kenaikan jabatan kamu, selamat ya Sayang," ucap bu Risa.
"Makasih Tante," ucap Ara.
"Iya Ara, kamu lanjutin dulu saja ya kerjaan kamu, Tante mau lihat suami Tante dulu," kata bu Risa.
"Iya Tante," jawab Ara.
...****************...
__ADS_1