
"Apa? Om, Ara gak salah dengarkan...?" Tanya Ara.
"Tidak Ara, kamu itu karyawan Om yang sangat berkualitas di segala bidang, Om juga yakin kamu pasti bisa memimpin Perusahaan Om," kata pak Haris.
"Om terlalu berlebihan muji Ara," kata Ara yang merasa malu.
"Ini serius Ara, bagaimana? apa kamu setuju?" Tanya pak Haris.
"Ara mau Om, gak mungkin kan Ara nolak kesempatan sebagus ini," jawab Ara. "Terus siapa yang bakalan gantiin Ara Om..?" Tanyanya pula.
"Om serahkan ke kamu untuk mencari kandidat yang ada di bawah kamu sekarang," kata pak Haris.
"Ara...? Om yakin serahkan ini semua ke Ara?" Tanya Ara.
"Kenapa tidak? Kamu pasti bisa Ara," kata pak Haris.
"Oke, Ara janji gak akan kecewain Om, makasih banyak karena Om udah percaya sama Ara," ucap Ara.
"Iya Ra, Om tunggu secepatnya ya. Karena posisi CEO juga harus segera kamu tempati," kata pak Haris.
"Iya Om, kalau udah gak ada yang mau di bahas lagi, Ara pamit ya Om," kata Ara.
"Iya Ra, silahkan!" kata pak Haris.
"Permisi Om," pamit Ara dan dijawab anggukan oleh pak Haris.
Lalu Ara pun keluar dari ruang Direktur dan menuju meja kerjanya sambil tersenyum.
"Ara, kayaknya lagi senang banget," kata Tari salah satu pegawai di kantor pak Haris.
"Hm... Kayaknya iya," kata Ara dan melebarkan senyumnya.
"Gak usah lebar-lebar senyumnya, entar masuk lalat," kata Tari.
"Hu syirik aja kamu, sana kerja!" kata Ara.
"Iya deh Bu Ara," jawab Tari.
Ara tidak perduli dengan candaan temannya yang memanggilnya dengan sebutan ibu, toh entar juga jadi ibu-ibu, pikirnya. Yang jelas hatinya sangat bahagia karena di kasih kepercayaan besar oleh pak Haris.
...
Ara melihat dirinya dibalik cermin yang besar, ia terlihat sangat **** dengan balutan long dress berwarna merah, ditambah lagi dengan serangkaian make-up natural yang menghiasi wajahnya serta dengan rambutnya yang panjang di buat sedikit bergelombang menambah kecantikan Ara malam ini.
"sempurna," gumam Ara tersenyum. "Ah rasanya kayak mau pergi kencan sama Leo aja, padahal cuma mau makan malam sama rekan bisnis papi dan keluarganya, ya paling gak gak bikin malu papi lah, yang ada papi dan mami bangga banget dong punya anak cantik kayak aku," gumamnya lagi.
Tok.. Tok.. Tok.. mami Ara mengetuk pintu.
__ADS_1
"Masuk aja," teriak Ara karena kamarnya memang tidak dikunci.
Bu Maria pun membuka pintu lalu masuk ke dalam.
"Wah..... Cantik sekali anak Mami," puji mami Ara.
"Iya dong Mi, Mami juga cantik banget," kata Ara tersenyum dan sangat senang mendengar pujian dari maminya itu.
"Bisa aja kamu, kalau sudah siap yuk turun. Papi sudah nungguin kita di bawah," kata mami Ara.
"Udah kok Mi, ya udah ayuk Mi, entar kasian papi nungguin kita kelamaan," kata Ara. "Oh ya Mi, papi nunggu kita dimana?" tanyanya pula.
"Biasa di ruang TV," jawab mami Ara.
"Kita turun lewat lift ke lantai 2 aja Mi, terus naik tangga," kata Ara.
Bu Maria yang tidak mengerti dengan maksud anaknya itu hanya mengerutkan kening dan mengikutinya.
Perlahan Ara dan maminya menuruni anak tangga hingga terlihat oleh pak Jackson, papinya Ara. Papi Ara berdecak kagum dan tidak berkedip melihat dua bidadarinya yang sangat anggun bak seorang Ratu dan Putri kerajaan. Ara tersenyum karena rencananya berhasil, ya memang tujuan Ara turun lewat tangga agar papinya terpesona melihat kecantikan anak dan istrinya itu dari bawah tangga. Memang dasar Ara, ada-ada saja ide konyolnya.
"Kalian cantik sekali," puji papi Ara saat mereka menghampirinya.
"Iya dong Pi, siapa dulu," kata Ara dengan bangganya. Sementara maminya hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya yang bukan anak kecil lagi itu.
"Anak dan Istri Papi dong, ya sudah kita jalan yang sekarang ya," kata papi Ara.
...
"Daddy apa-apaan sih, pulang dari luar Negeri terus maksa ngajak aku pergi. Aku kan udah bilang Dad, aku gak mau ikut Daddy dinner, aku gak tertarik sama bisnis Dad," kata Rolan dengan suara meninggi.
"Rolan, kamu ini benar-benar keterlaluan ya," kata daddy Rolan dengan penuh amarah.
"Stop... Ini apa-apaan sih, kalau ketemu sama sekali tidak bisa akur. Daddy kan bisa bicara baik-baik, ajak anaknya pergi, kasih penjelasan bahwa ini hanya dinner dan tidak akan membahas soal kerjaan. Kamu juga Rolan, tidak bisa ya kamu menghargai daddy kamu. Ini hanya makan malam biasa sesama keluarga rekan bisnis. Kamu ganti baju sekarang! Kata bu Tania.
Jika sudah maminya yang berbicara, Rolan hanya bisa pasrah dan menurutinya saja, sementara pak Hernandes hanya diam saja lalu keluar dari rumah, lalu bu Tania menyusulnya dan menunggu Rolan di dalam mobil.
Setelah selesai mengganti pakaian, Rolan juga keluar dari rumah menuju mobilnya.
"Kamu mau ngapain Rolan..?" Tanya daddy Rolan saat melihat Rolan hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Mau pergi lah, dinner kan...?" kata Rolan dengan santainya.
"Masuk ke dalam mobil ini!" perintah pak Hernandes.
"Aku mau......" Ucapan Rolan terpotong.
"Rolan, masuk!" Perintah mami Rolan memotong ucapan Rolan.
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa, Rolan masuk dalam mobil orang tuanya itu.
...
Ara dan keluarganya tiba di sebuah restauran mewah bintang lima. Sajian makanan lezat dan mewah telah dipesan oleh pak Jackson sambil menunggu kedatangan rekan bisnis bersama keluarganya.
"Pi, rekan bisnis Papi masih lama...?" Tanya Ara.
"Paling lagi di jalan," jawab papi Ara.
"Kenapa Sayang...?" Tanya mami Ara.
"Gak apa-apa sih Mi, cuma kok belum datang aja gitu," jawab Ara.
"Oh... Ya tidak masalah lah, lagian kan kita mau makan malam, makanannya juga baru di pesan," kata mami Ara.
"Iya Mi," jawab Ara.
Setengah jam kemudian, keluarga Rolan telah tiba ke restauran yang sudah di sepakati olehnya dan juga rekan bisnisnya.
"Ini semua gara-gara kamu Rolan, kita jadi terlambat!" Ucap daddy Rolan.
"Masih mending aku mau ikut," gerutu Rolan dan memutar bola matanya dengan malas.
"Kamu ini benar-benar anak kurang ajar ya," bentak daddy Rolan.
"Sudah, sudah, mau sampai kapan kalian itu berantem di sini, tidak malu apa jika di lihat banyak orang," kata mami Rolan.
"Sudahlah ayo kita masuk, awas ya kalau kamu buat gara-gara di dalam nanti," ancam daddy Rolan.
"Cih," gumam Rolan dengan senyum sinisnya.
Kini mereka telah tiba di salah satu ruangan VIP, saat membuka pintu tersebut...
"Nah itu rekan bisnis Papi sama keluarganya," kata papi Ara.
"Tania..." Gumam Bu Maria.
"Maria..." Gumam Bu Tania.
"Ara..." Gumam Rolan.
"Rolan..." Gumam Ara.
Mereka sama-sama syok, sementara pak Jackson dan pak Hernandes hanya saling memandang tidak mengerti dengan situasi saat ini.
...****************...
__ADS_1