
Akan tetapi saat itu lagi-lagi Ara merasakan mual dan juga ingin muntah, segera saja ia menyingkirkan tangan yang melingkar di perutnya karena segera ingin berlari. Tetapi karena sikapnya itu membuat sang suami terusik dan terbangun. Ara buru-buru berlari ke kamar mandi dan disusul oleh Leo yang merasa sangat khawatir.
"Sayang, kamu kok nggak bangunin aku sih. Terus kenapa kamu nggak muntah di situ aja," kata Leo.
"Ini kan masih pagi Sayang, aku masih sedikit bertenaga kok buat bangun, jadi mendingan aku ke kamar mandi aja," kata Ara.
"Iya, tapi keadaan kamu kan masih lemah Sayang, kamu harus tetap menjaga kondisi kamu dong. Kamu harus banyak istirahat," kata Leo.
"Justru kalau aku baring-baring terus di kasur, nggak gerakin badan, aku aku akan semakin lemah," kata Ara
"Kamu tuh ya, kalau dikasih tau sama suaminya ngeyel aja. Coba deh sekali-sekali ikutin apa kata aku," kata Leo.
"Sayang, aku bukannya bermaksud buat membantah apa kata kamu kok. Tapi itu memang kenyataannya yanga aku rasain," kata Ara.
"Ya udah, kalau gitu yuk sekarang kita ke kasur lagi. Kamu istirahat aja ya, aku mau ke bawah ambilin sarapan kamu," kata Leo.
"Tunggu dong, aku mau cuci muka sekalian, mumpung lagi di kamar mandi," kata Ara.
"Iya Sayang, aku juga," kata Leo.
Setelah itu pun Leo kembali memapah sang istri menuju ke tempat tidur. Lalu ia langsung saja turun ke bawah menuju ke dapur untuk mengambil sarapan Ara yang telah disiapkan oleh bibi. Saat itu ia juga bertemu dengan bu Amara yang sedang membuatkan sarapan untuk Leo.
"Pagi Mi," sapa Leo.
"Pagi Sayang, kamu udah bangun ya? Menantu Mami udah bangun belum?" Tanya Bu Amara.
"Iya Mi mumpung weekend. Ara juga baru bangun, tadi malam itu Ara bangun-bangun terus dan muntah Mi. Tapi pagi ini dia kuat bangun ke kamar mandi," jawab Leo.
"Oh ya? Bagus dong. Kalau Ara udah gak muntah-muntah lagi, entar badannya juga udah gak lemah kok," kata bu Amara.
"Iya Mi. Oh ya sarapan buat Ara udah siap Mi?" Tanya Leo.
"Udah dong, udah dari tadi. Sekalian ya kamu juga sarapan, Mami udah buatin kamu sarapan," kata Bu Amara.
__ADS_1
"Memangnya Mami buat sarapan apa?" Tanya Leo.
"Nasi goreng spesial kesukaan kamu. Nih Mami baru aja buatin," kata Bu Amara.
"Pantesan aja harum banget baunya. Jadi laper," kata Leo.
"Ya iyalah lapar, udah siang kayak gini. Ya udah biar sekalian Mami bantuin ya bawain bubur Ara, kamu bawa nasi goreng kamu deh ke kamar, kalian sarapan bareng aja. Biar Mami yang bantu suapin Ara," kata bu Amara.
"Nggak usah Mi, biar Leo aja yang suapin. Mumpung Leo ada di rumah, pokoknya Leo mau 24 jam urus istri Leo," kata Leo.
"Ya deh, tapi setelah itu kamu juga harus sarapan ya," kata Bu Amara yang begitu perhatian.
"Oke Mami sayang, yang penting Ara dulu biar bisa cepat minum obat dan vitaminnya," kata Leo.
"Iya benar kata kamu. Ya udah gih sana! Nih buburnya," kata bu Amara sembari menyerahkan nampan berisi semangkok bubur dan segelas susu untuk Ara. Leo pun segera menerimanya lalu membawa nampan tersebut ke kamar.
...
Tiba-tiba Arka menonjok wajah Rio sehingga membekas dan meninggalkan luka di sudut bibirnya. Rio yang saat itu dalam keadaan tak siap langsung terhuyung begitu saja lalu ambruk di lantai teras rumah Arka. Niatnya yang ingin menjemput Aria dan mengajaknya jalan-jalan, malah mendapatkan pukulan dari sang Kakak yang sama sekali tak diduganya.
Aria yang saat itu kebetulan melewati ruang tamu, tidak sengaja melihat apa yang barusan Kakaknya lakukan. Ia pun segera berlari dan menghampirinya, ia sangat terkejut karena ternyata orang yang dipukul oleh Arka adalah Rio, pria yang dicintainya itu.
"Kakak, Kakak apaan sih main pukul-pukul aja," teriak Aria.
Aria langsung saja menghampiri Rio, ia merasa sangat kasihan melihat Rio yang telah terluka karena ulah Kakaknya itu.
"Kak Rio, Kak Rio nggak apa-apa kan?" Tanya Aria yang tak dapat menyembunyikan rasa kekhawatirannya.
"Udahlah Ar, kamu mau ngapain lagi sih peduli sama cowok ini. Kamu lupa ya kalau dia yang udah mainin perasaan kamu, kalau cowok ini yang udah nyakitin hati kamu," bentak Arka sembari menarik tangan adiknya itu untuk berdiri.
"Lepasin aku Kak, Kakak itu enggak usah ikut campur sama urusan percintaan aku, urus aja urusan percintaan Kakak sendiri," kata Aria dengan nada tinggi.
Sedangkan Rio saat itu menjadi bingung sendiri, dia tidak mengerti apa maksud dari ucapan kakak beradik itu. Dengan susah payah Rio pun bangkit dari lantai dan kini telah berdiri tegak di depan mereka.
__ADS_1
"Ka, maksud lo apaan sih mukul gue kayak tadi? Memang gue ada salah apa sama lo?" Tanya Rio.
"Lo masih nanya ada salah apa? Sekarang gue yang tanya sama lo, Lo ngapain ada di rumah gue?" Tanya Arka.
"Udah biasa juga kan gue ke sini, udah jelas alasan gue ke sini mau ketemu sama Aria lah, bukan ketemu sama lo," jawab Rio.
"Untuk apa lo ketemu sama Aria? Aria ini adik gue," kata Arka.
"Ya gue tau lo Kakaknya. Niat gue datang ke sini baik-baik mau ngajakin Aria jalan sebagai sahabatnya. Tapi lo malah seenaknya aja mukul gue," kata Rio.
"Itu belum sebanding dengan apa yang udah lo lakuin sama adik gue," kata Arka.
"Ngelakuin apa sih maksud lo, gue sama sekali nggak ngerti," kata Rio.
"Lo sama sekali nggak kasih kejelasan tentang hubungan kalian, lo cuma manfaatin adik gue aja di saat Lo butuh, sama seperti yang lo lakuin sekarang ini," kata Arka.
"Stop!" ucap Aria, ia sudah tak tahan lagi mendengar pertengkaran dua pria yang ada di depan matanya saat ini.
"Tapi Dek, orang ini harus tau gimana sakitnya hati kamu," kata Arka.
"Stop kak! Udah. Kak Arka apa-apaan sih," kata Aria. "Dan Kak Rio bisa nggak pergi dari sini sekarang. Kalau tujuan Kakak kesini mau ngajakin aku jalan-jalan, maaf Kak aku nggak bisa. Aku sibuk," ucapnya.
"Tapi Ar, kita kan lagi nggak banyak kerjaan, memang kamu sibuk ngapain?" Tanya Rio.
"Memang harus ya kalau sibuk aku kabarin ke kamu, kayaknya nggak penting. Kakak juga bukan siapa-siapa aku kan?" Kata Aria, hatinya begitu perih jika mengingat bahwa dia dan Rio memang tidak ada hubungan apa-apa selain rekan kerja.
Sama halnya dengan yang Rio rasakan, entah kenapa dia merasa tak terima saat Aria mengucapkan kata-kata tersebut.
"Lo dengar kan apa yang adik gue bilang? Mendingan lo pergi aja sekarang dari sini. Kehadiran loe itu sama sekali nggak diharapkan sama Aria," kata Arka.
Rio terdiam, mungkin memang kehadirannya saat ini sangat mengganggu Aria, akhirnya ia pun pergi meninggalkan kediaman Pak Boby.
...****************...
__ADS_1