Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_247


__ADS_3

"Nah itu dia, menurut aku memang itu juga. Sayangnya rencana aku gagal," kata Leo membenarkan.


"Masuk akal," ucap Ara menganggukkan kepalanya.


"Terus kita harus gimana sekarang?" Tanya Seno.


"Harus korek informasi yang lebih dalam lagi, karena bukti ini sama sekali gak kuat, bisa aja kan nanti Karina mengelak dan cari alasan lain," kata Ara, ia yakin betul jika orang licik seperti Karina itu tidak bisa dengan mudah mengakui semuanya dengan sangat mudah, pastinya ia akan mempunyai banyak alasan agar Polisi mempercayainya.


"Jadi aku harus pura-pura baik lagi gitu sama dia? Sayang, aku itu jijik banget tau gak kalau harus sandiwara terus sama dia," kata Leo.


"Kamu yang sabar dong Sayang, anggap aja masalah ini belum ada dan kamu masih berteman sama dia, ngobrol santai aja. Kamu bisa kan? Ayolah Sayang, ini demi kita," pujuk Ara.


Leo terdiam, ia menatap Ara dan Seno secara bergantian yang terlihat dari tatapannya itu mereka sangat menaruh harapan kepada Leo.


"Hm ... ya udah deh," jawab Leo dengan sangat terpaksa.


Ara dan Seno memberikan senyum yang mengambang saat mendengar jawaban dari Leo itu. Karena senangnya, Ara pun segera memeluk Leo dengan erat.


"Makasih ya Sayang, aku jadi lebih bisa fokus ngurus perusahaan baru aku," ucap Ara.


"Sama-sama Sayang," ucap Leo serta membalas pelukan Ara dengan erat, sedangkan Seno hanya tersenyum melihat keromantisan mereka, kini ia lebih berlapang dada menerima jika Ara lebih bahagia bersama Leo, lagipula Seno sadar bahwa ia hanyalah orang baru yang datang ke kehidupan Ara.


Leo dan Seno kembali ke perusahaan tempat mereka bekerja masing-masing, sedangkan Ara masih berada di perusahaannya dengan beberapa staf pegawai untuk mempersiapkan segalanya termasuk juga merekrut kekurangan pegawai sebelum perusahaannya benar-benar diresmikan. Untuk sementara waktu, Ara akan menjabat sebagai Direktur sekaligus CEO di perusahaannya itu, dengan seiringnya waktu barulah nanti Ara akan mencari CEO untuk bekerja sama dengannya.


...


"Kenapa bisa jadi seperti ini Dante ...?" Tanya Arka kepada asistennya.

__ADS_1


"Kabarnya karena ada yang mempengaruhi mereka Pak, makanya beberapa investor menarik dana dari perusahaan Bapak. Perusahaan ini adalah pemegang saham terbesar di perusahaan kita yaitu Perusahaan Milioner Grup milik Pak Tedy, akan tetapi Pak Tedy sedang berada di luar Negeri, anaknya yang baru pulang dari luar Negeri yang kini menjalankan perusahaan tersebut Pak," jelas Dante apa adanya.


"Jadi maksud kamu anak Pak Tedy yang udah menghasut para investor untuk mencabut dana di perusahaan saya?" Tanya Arka.


"Iya Pak benar sekali," jawab Dante.


"Kurang ajar, siapa yang udah berani mau main-main saya?" ucap Arka dengan tatapan tajam dan mengepal erat kedua telapak tangannya karena menahan amarah.


Arka duduk di kursi kebesarannya memeriksa beberapa berkas sambil memijit batang hidungnya, kepalanya terasa pusing karena perusahaannya sedang berada diambang kebangkrutan. Untungnya saat ini Pak Boby sedang berada di Amerika mengunjungi Aria, kalau tidak pasti ia juga akan merasa ikut pusing melihat kondisi perusahaanya saat ini.


"Dante, kita ke Perusahaan Milioner Grup sekarang," ajak Arka.


Dante mengangguk dan segera saja menyiapkan mobil dan segera pergi.


Perusahaan Milioner Grup...


"Belum, tapi kami harus bertemu dengan Beliau Bu," jawab Dante.


"Maaf Pak, tapi beliau sedang tidak bisa diganggu kecuali yang sudah buat janji terlebih dahulu," ucap resepsionis itu lagi.


"Dante, ayo," ajak Arka. Menurutnya berbicara dengan resepsionis hanya buang-buang waktu sehingga ia memilih untuk langsung menerobosnya saja dan mencari dimana ruangan Direktur.


"Pak, tolong jangan Pak, saya bisa di pecat nanti," cegah resepsionis.


"Mbak udahlah, mbak tenang aja ya di sini," kata Dante lalu bergegas menyusul Bos-nya itu. Karena merasa khawatir resepsionis tadi segera meminta bantuan satpam.


Akhirnya Arka dan Tante menemukan ruang Direktur yang terletak di lantai lima belas, langsung saja Arka membuka pintu tersebut dan dilihatnya ada seorang pria dan seorang wanita yang sedang asyik bercumbu.

__ADS_1


Sungguh pemandangan yang menjijikkan, akan tetapi Arka tidak peduli akan hal itu, ia tetap fokus dengan tujuannya datang kesini. Betapa terkejutnya Arka saat pria tersebut memandang ke arahnya, pria itu adalah Tama yang waktu itu telah melecehkan kekasihnya, Sherin.


"Honey, nanti kita lanjutin lagi ya, saya sedang ada tamu terhormat," ucap Tama tersenyum smirk.


Wanita yang dipanggil sayang oleh Tama itu adalah sekretarisnya, dengan rasa malu wanita itu segera pergi meninggalkan ruang Direktur.


"Wow suatu kehormatan ya buat saya karena didatangi oleh tamu terhormat seperti Pak Arka," ucap Tama, ia terlihat sangat santai meskipun Arka menatapnya begitu tajam seakan ingin menerkamnya.


"Heh, ternyata Anda dalang dibalik ini semua, begitu takutnya Anda bersaing sama saya sampai harus melakukan hal curang seperti itu," kata Arka berusaha bersikap tenang.


"Wait! Saya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Anda maksud," kata Tama yang pura-pura bodoh.


"Ternyata selain licik Anda juga sangat menjijikkan, sudah punya teman wanita tapi tidak malu melecehkan kekasih orang lain," hardik Arka.


Tama yang mendengar akan hinaan itu segera beranjak dari tempat duduknya, emosinya seakan terpancing, terlihat dari tatapannya yang kini lebih menyeramkan dibandingkan Arka, giginya mengerat menahan gejolak amarah yang ingin segera ia luapkan.


Dengan langkah perlahan, kini Tama sudah berada didekat Arka, jaraknya hanya dua jengkal saja dengan saling menatap seakan ingin menyerang.


"Kenapa? Merasa marah, emosi, padahal ucapan saya benar kan?" Tanya Arka sengaja memancing emosi Tama lebih dalam lagi.


Tama menarik kerah baju Arka, Dante yang melihat akan hal itu merasa terkejut dan ingin melerainya, akan tetapi Arka memberikan isyarat dengan tangannya agar membiarkan saja apa yan akan dilakukan Tama pada Bos-nya itu. Dante pun segera mundur, ia juga percaya jika Arka pasti bisa menghadapinya sendiri.


"Jangan pernah membawa urusan pribadi kedalam urusan bisnis, mungkin sekarang Anda merasa menang, tapi itu tidak akan bertahan lama Bapak Tama," ucap Arka.


Tama melepaskan kerah Arka dengan sangat kasar, akan tetapi Arka tetap berusaha untuk tenang dengan menunjukkan senyum sinisnya. Ia tahu betul tidak bisa melawan orang licik seperti Tama dengan emosi dan tergesa-gesa, pelan tapi pasti Arka akan membalas perbuatan Tama itu.


"Dengar ya Bapak Arka terhormat, Anda telah salah karena terang-terangan dengan berani menantang saya, Anda telah mengusik hidup saya, saya tidak mungkin membiarkan Anda hidup tenang," ancam Tama yang terdengar sangat mengerikan tetapi tidak membuat Tama bergidik.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2