Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_238


__ADS_3

Bag ... Bug ... (Suara pukulan yang mendarat di pipi kanan dan kiri Tama).


"Arka stop!" Teriak Sherin, meskipun ia sangat marah terhadap Tama, tapi ia juga tidak mau jika Tama mati di tangan Arya.


"Brengsek! Berani banget loe berbuat yang tidak senonoh terhadap wanita yang gue cintai," Bentak Arka dengan penuh emosi sambil mencengkram erat kerah baju Tama.


"Arka udah, please udah Ka, aku gak mau kamu akan menjadi seorang pembunuh," pinta Sherin memelas.


Arka langsung melepas cengkeramannya itu karena tidak tega melihat Sherin yang sudah menangis, sedangkan Tama berusaha berdiri dan mengulas senyum tipisnya.


"Kamu gak papa kan? Harusnya itu, kamu gak usah mencegah aku buat menghabisi pria brengsek yang sudah melecehkan kamu," kata Arka.


"Kamu gak perlu mengotori tangan kamu untuk menghabisi pria itu. Kamu liat kan tadi, dia hanya diam aja tanpa membalas. Kalau dia mati di tangan kamu gimana Ka ...?" Aku gak mau kamu terkena masalah," kata Sherin, berharap Arka mengerti akan maksudnya.


Arka terdiam, sebenarnya Arka tidak perduli meskipun ia harus masuk penjara, yang terpenting untuknya adalah Sherin baik-baik saja. Akan tetapi saat ini ia tidak tega melihat kekhawatiran yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu.


"Heh, jadi loe pria yang udah berani merebut hati Sherin dari gue hah!" Kata Tama.


"Tama, kamu apa-apaan sih, kita udah putus dari dua tahun yang lalu. Kamu lupa ya kalau kamu yang udah ninggalin aku," kata Sherin dengan tegas.


"Aku memang ninggalin kamu waktu itu, tapi sama sekali belum ada kata putus dari kita Sher, itu artinya kamu masih sah pacar aku," ujar Tama.


"Aturan dari mana? Dasar bodoh!" Hina Arka.


"Diam loe gak usah ikut campur, loe itu cuma benalu yang menjadi parasit dalam hubungan kami," kata Tama.


"Gak salah ngomong loe, loe kemana aja selama ini? Tiba-tiba loe datang lagi dan bilang Sherin masih menjadi kekasih loe. Hei Sherin itu udah punya gue sekarang, kedatangan loe saat ini sama sekali gak diharapkan. Loe sadar dong kalau loe itu cuma masa lalu Sherin, hubungan kalian udah berakhir. Jangan jadi pecundang," hardik Arka.


Tama mengepal erat kedua tangannya, lalu dengan sekuat tenaganya ia menghantam wajah Arka hingga tersungkur. Tama sangat puas karena akhirnya ia bisa membalas dendamnya tadi meskipun di saat musuhnya itu sedang lengah.


"Arka, kamu gak papa?" Tanya Sherin yang panik dan membantu Arka untuk berdiri.


"Aku gak papa kok, kamu tenang aja ya," jawab Arka sambil menahan pedih di pipinya.


"Segitu doang kemampuan Loe, banci," ledek Tama.

__ADS_1


"Kurang ajar!" Hardik Arka, ia merasa sangat marah dan hendak membalas. Akan tetapi lagi-lagi Sherin menahannya hingga Arka pun mengurungkan niatnya.


"Tama, sebaiknya sekarang kamu pergi, atau aku akan panggil warga karena kamu tadi mau melecehkan aku," kata Sherin menatap Tama dengan tajam, menandakan bahwa perkataannya tidak main-main.


"Urusan kita belum selesai, tunggu aja pembalasan dari gue," ucap Tama sembari menatap Arka.


"Gue gak takut sama loe, gue tunggu!" Tantang Arka.


Lalu Tama pun pergi dari rumah Sherin, Sedangkan Arka diobati terlebih dahulu lukanya oleh Sherin, setelah itu barulah ia pulang ke rumahnya.


...


Ara menggulingkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman, namun tidak senyaman hatinya saat ini. Ini bukan pertama kalinya tetapi sudah sering Ara merasakan khawatir dalam hidupnya.


Kekhawatiran yang Ara rasakan pada saat ini salah satunya adalah ia takut jika nanti perusahaan yang ia dirikan tidak berjalan mulus seperti yang diharapkan. Bagaimana pernikahannya dengan Leo nantinya? Apakah keduanya akan sangat berpengaruh. Ara tidak mau jika nantinya masalah perusahaan akan mengganggu rumah tangga yang baru dibangunnya bersama Leo. Semua itu sangat mengganggu pikirannya hingga ia sangat sulit untuk memejamkan matanya.


"Duh ... Ara, kenapa malah jadi mikir yang enggak-enggak gini sih. Harusnya aku itu berpikir optimis, bukan malah belum apa-apa udah takut gagal duluan," gumam Ara.


Drt ... drt ... drt ... ponsel Ara bergetar, langsung saja ia menjawab panggilan telepon masuk dari Rio.


"Halo Yo," ucap Ara pula.


"Kamu udah tidur belum ...?" Tanya Rio.


"Kalau udah tidur, aku gak bisa angkat telpon kamu dong Yo," jawab Ara.


"He ... he ... he... basa-basi Ra, tapi aku gak ganggu kan?" Tanya Rio.


"Enggak kok, ada apa Yo?" jawab Ara dan bertanya balik.


"Aku mau nanya Ra, apa Nadia ada ngabarin ke kamu, udah sampai atau belum?" Tanya Rio.


"Belum ada sih, memangnya sama sekali belum ada ngabarin ke kamu ya? Harusnya sih udah sampai ya," kata Ara.


"Itu dia Ra, sama sekali belum ada. Aku hubungin ponselnya gak aktif. Kayak sekarang nih kan di sana siang Ra, gak mungkin kan Ra kalau Nadia lagi tidur. Tapi kenapa dia gak ngabarin aku sama sekali, bikin aku khawatir Ra," kata Rio.

__ADS_1


"Hm ... Tante Jasmine gimana? Kamu udah coba menghubunginya belum?" Tanya Ara.


"Udah, sama aja gak bisa dihubungin Ra," jawab Rio.


"Rio yang tenang ya, mungkin memang lagi gangguan untuk menghubungi ke luar Negeri.


Kita berdoa aja ya semoga memang gak ada apa-apa," ucap Ara.


"Iya Ra, Aamiin. Bikin aku gak bisa tidur Ra. Mana udah jam 12 lagi," ucap Rio.


"Kamu gak bisa tidur juga?" Tanya Ara.


"Hah? Juga ...? Pantes aja tumben masih online, rupanya gak bisa tidur juga," kata Rio.


"Gak gitu juga kali Yo," bantah Ara.


"Udahlah Ra, jujur aja sama aku. Gimanapun juga, kita itu pernah dekat sebagai sahabat maupun pacar kamu. Aku udah tau banyak soal kamu Ra," kata Rio.


"Tapi memang gak ada apa-apa kok Yo, beneran deh," kata Ara.


"Beneran nih? Yakin gak mau cerita sama aku?" Tanya Rio.


"Yakinlah, lagian aku udah ngantuk banget Yo, mau tidur, hoam ...," jawab Ara menguap.


"Ya udah deh Ra, selamat malam, selamat tidur, mimpi Indah ya Ra," ucap Rio.


"Iya Yo, selamat malam selamat tidur juga ya, bye ...," ucap Ara pula.


Lalu panggilan telepon terputus.


Ara mencoba memejamkan matanya seraya berdoa meminta untuk dijauhkan dari pikiran-pikiran negatifnya. Ia ingin semua yang telah direncanakan olehnya berjalan dengan lancar hingga akhirnya ia bisa menikah dengan Leo, pria yang dicintainya itu tanpa menundanya lagi. Namun itu hanyalah hal indah yang Ara inginkan, karena pada dasarnya manusia hanya bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan segalanya.


Setelah berdoa Ara pun terlelap hingga pagi menjelang.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2