
Kini bu Maria dan bu Amara juga sudah berada di rumah sakit, mereka langsung datang setelah mendapat kabar dari Rio.
Krek ... pintu ruang operasi terbuka dan Dokter keluar dari ruangan tersebut.
Ara pun segera menghampiri Dokter tersebut, diikuti oleh bu Amara dan bu Maria.
"Dokter, gimana keadaan Leo?" tanya Ara.
"Iya Dok, apa operasinya berjalan lancar ...?" Tanya bu Amara pula.
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, mas Leo sudah melewati masa kritisnya, hanya tinggal menunggu efek biusnya hilang maka beliau akan segera bangun," jelas Dokter.
"Syukurlah," ucap Ara yang sedikit tampak lega.
"Alhamdulillah," ucap bu Amara dan bu Maria, lalu mereka pun bersama-sama merangkul Ara.
Leo telah di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP yang ruangannya bersebelahan dengan ruangan Arka. Kini hanya tinggal Ara dan bu Amara yang menemani Leo, Sherin yang menjaga Arka, yang lainya sudah pulang karena harus beristirahat setelah kejadian yang menimpa mereka. Bu Maria baru saja pergi karena ada urusan, sedangkan Beni juga harus pulang karena harus menjaga kondisi kandungan istrinya yang lemah dan tidak boleh kelelahan.
Ara duduk di kursi samping ranjang tempat Leo terbaring sambil terus memegang tangannya, sedangkan bu Amara duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Sayang, bangun dong," pinta Ara sembari menitikkan air matanya.
Lalu tiba-tiba saja tangan Leo bergerak dan perlahan membuka matanya.
"Sayang, kamu udah bangun?" Tanya Ara yang begitu senang.
Bu Amara yang mendengar hal itupun segara menghampiri Leo.
"Leo, akhirnya kamu bangun juga Sayang," ucap bu Amara.
"Sayang, Mami," ucap Leo.
"Iya Sayang," jawab Ara dan bu Amara hanya mengangguk terharu bahagia.
__ADS_1
"Tante, biar Ara panggil Dokter ya," kata Ara lalu bergegas memanggil Dokter.
Lima menit kemudian Ara kembali bersama Dokter yang akan memeriksa kondisi Leo. Setelah memeriksa Leo dan mengatakan kondisinya baik-baik saja, Dokter pun segera keluar meninggalkan ruang rawat inap Leo.
"Syukurlah Nak kamu gak apa-apa, Mami khawatir banget sama kamu, kamu tau Ara nangis terus karena khawatir sama keadaan kamu," ucap bu Amara.
"Tante, jangan di ceritain dong, Ara kan jadi malu. Ara memang khawatir banget sama Leo Tante, apalagi Leo terluka gara-gara Ara," ucap Ara.
Bu Amara dan Leo tersenyum, Leo merasa lega karena akhirnya Ara selamat dari penculikan itu.
"Sayang, jangan nangis lagi ya, aku baik-baik aja kok," kata Leo.
"Maafin aku ya udah buat kamu kayak gini," ucap Ara.
"Stop nyalahin diri kamu sendiri, justru aku yang ngerasa bersalah banget karena gak bisa melindungi kamu sampai kamu di culik kayak gitu," ucap Leo.
"itu sama sekali bukan salah kamu, aku aja yang bodoh percaya gitu aja sama orang gak di kenal," ungkap Ara.
"Tapi-" ucapan Leo terputus.
"Iya Tante, Ara sama sekali gak kenal sama mereka, lagian kenapa coba Ara dan Seno yang diculik, pasti ada dalang dibalik ini semua," kata Ara.
"Iya kamu benar dan aku tidak akan mengampuni siapa dalang tersebut," kata Leo dengan wajah arogannya.
Ara dan Seno sudah menceritakan kronologi saat mereka di culik kepada polisi yang tadi datang ke rumah sakit dan di depan bu Amara, bu Maria juga semua teman-temannya yang tadi juga berada di rumah sakit. Yang mana Ara di culik karena berawal dari ada orang yang membohonginya, sedangkan Seno di pukul dengan orang yang datang ke rumahnya karena tahu Seno hanya tinggal sendirian di rumah, bahkan satpam pun dia tidak punya.
Kini polisi sedang mengusut kasus ini hingga tuntas dan mencari mobil Ara yang hilang dicuri para penjahat itu.
...
"Sialan ... kenapa bisa kacau gini sih jadinya, sekarang dua anak buah Boy udah ketangkap, gimana coba kalau mereka buka mulut soal Boy terus Boy ketangkap lalu buka mulut juga soal aku, bisa kacau semuanya. Akh ...!" Teriak Karina, ia juga merasa takut jika ketahuan dialah dalang dibalik penculikan Ara dan Seno.
"Ada apa sih Sayang, marah-marah mulu. Entar cantiknya ilang loh," ucap seorang pria yang merupakan kekasih Karina saat di luar Negeri.
__ADS_1
"Tama, sejak kapan kamu di sini ...?" Tanya Karina.
"Sejak tadi, kamu aja yang gak sadar. Sibuk sendiri sih," jawab Tama. Ia memang mengetahui password apartemen Karina sehingga bebas kapanpun ia hendak masuk.
"Bukannya kamu juga sibuk ya mengejar cinta lama kamu itu," kata Karina.
"Hm ... ternyata dia sudah punya kekasih," ungkap Tama.
"Ha ... ha ... ha... ternyata nasib kita sama," ucap Karina tertawa.
"Yah, tapi untungnya aku masih punya kamu," ucap Tama sembari menggoda Karina dengan mengerlikan sebelah matanya.
"Apaan sih kamu. Ingat ya Tama, kita itu gak pernah punya hubungan apa-apa, aku dari dulu hanya mencintai Leo dan kamu mencintai mantan kamu itu, kita berdua hanya teman tidur di saat kita dulu sama-sama kosong," kata Karina dengan gusar.
"Ya saat ini hati aku sedang kosong, aku membutuhkanmu Sayang," ucap Tama lalu memeluk Karina dari belakang.
"Tama lepasin, aku lagi gak mood," ucap Karina.
"Ayolah Baby, aku kangen banget sama kamu," ucap Tama yang semakin erat memeluk Karina.
"Tama, aku bilang lepas yang lepasin," pinta Karina.
Akan tetapi Tama seakan menulikan telinganya, sama sekali tidak peduli dengan ucapan Karina. Ia mulai menciumi tengkuk Karina sehingga membuatnya mendes**. Tidak hanya itu, Tama membalikkan tubuh Karina lalu ******* bibirnya itu dengan penuh gairah. Karina yang tadinya menolak, kini menikmati permainan Tama dan memintanya untuk lebih membuat puas, ia juga membalas ******* bibir Tama dengan sangat agresif.
Tama membaringkan Karina di atas kasur, lalu melucuti satu persatu pakaiannya sendiri juga Karina sembari menikmati setiap lekuk tubuh Karina. Padahal ini bukan pertama kalinya, bahkan Tama juga melakukannya dengan wanita lain, tetapi baginya Karina lah yang selalu membuatnya rindu dan sangat bergairah. Kini mereka berdua tidak memakai sehelai benangpun yang melekat pada tubuh keduanya.
"Akh ... Tam, ini banget, ayo lakukan yang lebih lagi," pinta Karina saat Tama meyesap put*** kedua gundukan yang ada pada dirinya, serta jari-jari tangan Tama yang menyusuri lembah terlarang milik lawannya itu.
"Tam, langsung aja. Aku udah gak kuat lagi," kata Karina.
"Oke Baby," jawab Tama.
Segera saja Tama melakukan penyatuan dan melakukan pergulatan hingga keduanya pun merasakan kenikmatan yang selalu mereka lakukan.
__ADS_1
...****************...