Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_268


__ADS_3

"Aku udah duga Mas, dari mereka nggak bakalan ada yang suka dengan kabar bahagia ini. Bahagia buat kita belum tentu bahagia buat mereka," kata Cinta seakan mengerti melihat ekspresi suaminya itu.


"Terserah mereka aja lah. Kamu yang sabar ya Sayang, gak usah berkecil hati, sambil kita berdoa semoga suatu saat nanti kedua orang tua kita mau menerima hubungan kita dan juga anak kita," ucap Beni.


"Aku nggak masalah kok Mas, karena dari awal kita juga udah berjuang berdua kan? Ya nggak berdua sih tapi berkat bantuan Kakek dan teman-teman yang menyayangi kita. Walau tanpa kedua orang tua kita, yang penting buat aku kamu selalu ada di sisi aku, kita sama-sama membesarkan anak kita Mas," kata Cinta.


"Iya Sayang, Mas juga nggak terlalu kok pikirin masalah itu. Yang penting buat Mas ada kamu ada anak kita itu udah buat hidup mas terasa lebih sempurna," ucap Beni.


"Iya Mas, mudah-mudahan hidup kita selalu bahagia ya," ucap Cinta pula.


"Iya Sayang. Oh iya, tapi mas kasih tau ke Tante Tania soal ini," kata Beni. "Ke teman-teman juga," sambungnya.


"Oh ya? Terus gimana responnya Tante Tania dan teman-teman kita?" Tanya Cinta.


"Tentu aja dong mereka bahagia banget dengernya, mereka ngucapin selamat dan titip salam buat kamu, nanti kalau sempat mereka bakalan jenguk kamu dan anak kita. Begitupun dengan Tante Tania, katanya dia seneng banget mendengar kabar ini. Kalau kamu bolehin, kalau kita nggak keberatan, Tante Tania mau jenguk anak kita nanti," jawab Beni.


"Terus kamu bilang apa?" Tanya Cinta lagi.


"Ya aku bilang bolehlah, bagaimanapun juga anak kita berhak mendapatkan kasih sayang seorang nenek kan? Apalagi kamu tahu sendiri, kedua orang tua kita nggak suka dengan kehadiran bayi ini, jadi menurut aku nggak ada salahnya kalau anak kita yang cantik ini mendapatkan kasih sayang dari seorang Nenek, ya Tante Tania," jawab Beni.


"Iya Mas, mungkin ini udah jalannya. Aku juga nggak masalah kok kalau anak kita nanti bakalan dekat sama Tante Tania," kata Cinta.


"Iya sayang," jawab Beni lalu kembali memeluk istri dan anaknya.


...


Ting ... tung ... terdengar suara bel rumah Rio. Rio yang sedang mengerjakan beberapa tugas yang belum selesai dari kantor, bergegas beranjak dari tempat duduknya dan menuju pintu utama untuk membukakan pintu.


Krek … pintu terbuka, Rio terkejut melihat sosok wanita yang ada di depan matanya saat ini.


"Aria," ucap Rio.

__ADS_1


"Hai Kak Rio, apa kabar?" Tanya Aria.


"Ba-baik kok, aku baik," jawab Rio gugup. "Kamu kok bisa ada di sini?" Tanyanya.


"Ya bisa lah Kak, aku kan udah pulang ke Indonesia dari kemarin," jawab Aria.


"Oh ya, kok aku nggak tau ya," ucap Rio.


"Iya Kak, makanya aku ke sini mau kasih tau ke Kakak, aku boleh masuk nggak?" Tanya Aria.


"Boleh kok boleh, masuk aja yuk silahkan!" Ucap Rio. Lalu Aria mengikuti Rio masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.


"Kakak lagi ngapain? Kakak sendirian aja ya?" Tanya Aria.


"Aku lagi ngerjain kerjaan dikit sih dari kantor, iya aku sendirian," jawab Rio.


"Oh maaf ya Kak, aku jadi ganggu Kakak. Mendingan Kakak lanjutin lagi deh kerjaannya, biar aku pulang aja," ucap Aria yang merasa tidak enak karena telah mengganggu pekerjaan Rio, ia menjadi salah tingkah sendiri dengan meremas jari-jarinya karena sudah berani datang ke rumah Rio malam-malam tanpa memberitahukan dulu kepadanya.


"Iya kak, aku juga sebentar aja kok mampir. Cuma pengen tau kabar Kak Rio aja," kata Aria.


"Oh ... gitu, kamu mau minum apa? Biar aku buatin," tanya Rio.


"Nggak usah, nggak usah repot-repot Kak, lagian kan aku cuman sebentar," jawab Aria. "Kak Rio, aku turut berduka cita ya atas meninggalnya Kak Nadia," ucapnya.


"Iya Ar, makasih ya ucapannya," ucap Rio sembari menatap Aria dengan tatapan sendu, terlihat jelas dari matanya bahwa Rio merasa sedih kehilangan Nadia.


"Duh … kayaknya aku salah ngomong deh, gara-gara aku ngucapin belasungkawa, kayaknya Kak Rio jadi teringat lagi sama Kak Nadia dan jadi sedih, aku harus gimana ya sekarang? Padahal tujuan aku datang ke sini buat menghibur Kak Rio, tapi kenapa aku malah bikin Kak Rio sedih," gumam Aria dalam hati.


"Kak Rio Maafin aku ya, aku jadi ngingetin Kakak sama kesedihan itu lagi. Tapi Kak, bagaimanapun juga Kak Nadia sekarang udah nggak sakit lagi, udah tenang di sana, pasti dia juga nggak mau deh ngeliat kakak sedih kayak gini terus," kata Aria.


"Iya Ar, aku nggak papa kok. Cuma terkadang aku belum bisa terima aja kalau Nadia udah nggak ada di sisi aku lagi," kata Rio dengan mata yang berkaca-kaca, lalu ia menundukkan kepalanya karena malu menatap Aria.

__ADS_1


"Kak nggak usah ditundukkin gitu dong kepalanya, kalau mau nangis ya nangis aja. Aku nggak akan ngeledek kok, aku ngerti gimana perasaan Kakak," kata Aria.


Rio terdiam, lalu ia menghapus air matanya yang belum sempat terjatuh. Rio juga tidak mau Aria menganggapnya sebagai pria lemah.


"Ar kamu mau nggak temenin aku jalan-jalan, kalau kamu nggak keberatan sih?" Tanya Rio.


Aria membelalakkan matanya karena terkejut, "Ini nggak salah Kak Rio ngajakin aku jalan-jalan? Aku mau banget Kak," batin Aria dengan begitu riangnya. Rasanya ia ingin jungkir balik saat itu juga, tapi karena ada Rio, ia tetap berusaha kalem dengan menampilkan senyum manisnya saja.


"Mau Kak, aku mau banget. Tapi bukannya tadi Kakak bilang Kakak lagi banyak kerjaan ya?" Jawab Aria dan bertanya.


"Tinggal dikit lagi kok, nanti bisa aku kerjain kalau udah pulang," jawab Rio.


"Oh ya udah, kalau gitu yuk Kak kita jalan," ajak Aria yang begitu bersemangat.


"Ya udah yuk," jawab Rio.


...


Ara baru saja selesai dengan pekerjaannya, kini ia sedang bersiap-siap akan pulang ke rumah, sedangkan Amira sudah ia suruh pulang terlebih dahulu.


Saat sedang melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangan, tiba-tiba saja seluruh lampu dalam perusahaan padam. Ara kelabakan mencari ponsel di dalam tas-nya dan mengeluarkan ponselnya tersebut.


"Syit … pakai acara mati segala lagi ni hp," gerutu Ara kesal.


Saat ini hanya Ara yang berada di perusahaan, sementara satpam yang berjaga pun hanya ada di luar tidak ada di dalam.


Ara tertatih-tatih serta meraba dinding melangkahkan kakinya di tengah kegelapan. Saat ia berhasil melewati pintu ruangannya, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangan Ara yang membuatnya sontak terkejut.


"Siapa kamu, lepasin aku!" Teriak Ara. Akan tetapi bukan melepas Ara seseorang tersebut kini malah beralih memeluk Ara.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2