
Karena tidak mau mengganggu kemesraan kedua orang tuanya, Ara pun memilih untuk pergi dari situ dan menuju ke kamarnya.
"Papi udah makan belum? Tanya Bu Maria.
"Udah tadi Mi, Papi Sekalian makan sama klien. Mami udah makan kan?" Jawab pak Jackson dan bertanya balik.
"Iya Pi, Mami juga udah makan kok, tadi soalnya Papi bilang kan pulang malam mau meeting di luar mungkin sekalian makan, Ara pun juga langsung makan malam bareng sama Leo, jadi Mami makan duluan deh sama Bibi," jawab bu Maria.
"Iya bagus dong kalau Mami udah makan. Oh iya, Ara udah pulang belum ya Mi?" Tanya pak Jackson.
"Tadi sih belum ya, tapi nggak tahu deh sekarang, nanti Mami cek ke kamarnya," jawab bu Maria.
"Iya Mi," jawab pak Jackson dan mengangguk.
"Ya udah, Papi mandi dulu gih! Terus istirahat. Mami mau rapikan baju ini sedikit lagi, terus mau ngecek Ara dulu udah pulang atau belum," kata bu Maria.
"Oke sayang, Papi mandi dulu ya," kata Pak Jackson, lalu bergegas menuju ke kamar mandi.
Setelah merapikan pakaian, bu Maria pun naik ke lantai atas untuk melihat apakah anaknya tersebut sudah pulang atau belum.
Tok ... tok ... tok ... suara ketukan pintu, Ara yang sedang berbaring itu pun langsung bergegas membukakan pintu kamarnya.
"Sayang, ternyata kamu udah pulang, Mami kira belum pulang tadi," kata Bu Maria.
"Udah kok Mi, baru aja sampai terus Ara langsung baring, ini Ara juga belum bersih-bersih badan sih," kata Ara.
"Oh baru banget ya berarti, kamu lewat kamar Mami dong tadi?" Tanya bu Maria.
__ADS_1
"Hm … lewat nggak ya?" ucap Ara tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum, kenapa hayo?" Tanya bu Maria.
"Ara lewat dong, Ara lihat loh Mami sama Papi lagi pelukan," jawab Ara tersenyum.
"Kamu nih, jadi kepergok deh Mami sama Papi lagi pelukan," ucap Bu Maria tersipu malu.
Ara hanya tersenyum melihat tingkah maminya itu yang malu-malu seperti anak ABG.
"Ya udah kamu cepetan bersih-bersih dulu, baru baring terus istirahat, Mami mau turun lagi ya," kata bu Maria.
"Iya Mi, Good night Mi," ucap Ara.
"Good night too Sayang," ucap bu Maria pula dan mencium kening anaknya. Lalu ia pun pergi meninggalkan kamar Ara.
...
Beni menggeliat lalu membuka matanya, "Ada apa sayang? Kamu kenapa?" Tanya Beni panik.
"Enggak tau nih Mas, perut aku rasanya sakit banget, nggak tau kenapa," jawab Cinta sembari memegang perutnya.
"Sakit banget ya? Kalau gitu kita langsung ke rumah sakit aja sekarang," ajak Beni ya terlihat begitu panik. Maklum saja ini adalah pengalaman pertamanya.
"Iya Mas kayaknya aku mau melahirkan," jawab Cinta.
"Ya udah, sekarang kita langsung ke rumah sakit," ajak Beni.
__ADS_1
Beni membangunkan salah satu asisten rumah tangganya untuk menemaninya membawa Cinta, lalu Beni pun segera melajukan mobil menuju ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Cinta langsung dibawa ke ruang pemeriksaan untuk diperiksa kondisinya, saat ini ternyata Cinta sudah bukaan 10 atau penuh dan siap untuk melahirkan.
"Pak Beni Silakan masuk! Temani istri Anda yang akan melahirkan Pak!" Perintah Dokter. Karena saat Cinta diperiksa tadi, Beni dan asisten rumah tangganya yang bernama Yanti itu sedang berada di luar ruang pemeriksaan.
"Baik Dok terima kasih," ucap Beni, lalu bergegas mengikuti Dokter masuk ke dalam ruang bersalin. Sedangkan Yanti hanya menunggu di luar dan berdoa untuk keselamatan Nyonya dan juga bayinya.
Beberapa saat kemudian, suara tangisan bayi pun pecah mengisi ruangan bersalin tersebut. Beni dan Cinta merasa lega sekaligus sangat senang, segera saja Dokter menyerahkan bayi perempuan yang cantik itu kepada Beni untuk segera di azankan. Setelah itu, Beni pun meletakkan bayinya di samping Cinta. Cinta tersenyum, ia merasa sangat bahagia, rasa sakit yang ia rasakan tadi semuanya sirna setelah melihat bayi mungilnya itu.
"Mas ini anak kita?" Tanya cinta lirih.
"Iya Sayang, ini anak kita. Selamat ya kamu udah berhasil melahirkan seorang bayi yang cantik, sama seperti kamu," ucap Beni.
"Makasih Sayang, makasih juga karena kamu udah menerima aku dan anak ini, kamu udah selalu ada di samping aku, kebahagiaan aku lengkap sudah dengan kehadiran anak ini Mas. Aku sayang banget sama kalian berdua," ucap Cinta sembari meneteskan air matanya.
Cinta menatap bayinya dan juga Beni secra bergantian, ia merasa bahagia dan bersyukur karena bisa memiliki Beni dan juga atas kelahiran anaknya dengan selamat, meskipun tadinya ia sempat berpikiran akan menggugurkan bayinya itu.
"Iya sayang, aku juga sayang banget sama kamu dan anak kita. Pokoknya aku janji akan selalu menjaga kamu dan anak kita sampai kapanpun dengan baik, aku nggak mau melihat kalian berdua susah atau tersakiti oleh siapapun, aku akan tanggung jawab penuh terhadap kalian berdua," ucap Beni tersenyum dan penuh keyakinan yang membuat hati cinta begitu menghangat dan merasa sangat beruntung memiliki hidup yang sempurna seperti ini.
Beni memegang tangan cinta dan mencium punggung telapak tangannya, lalu beralih mencium kening istrinya itu serta mencium kening anaknya itu. Sorot mata bahagia terpancar dari pasangan muda yang baru saja memiliki satu anak tersebut
Setelah bayinya lahir, tidak lupa Beni memberitahu kepada orang tuanya dan juga orang tua Cinta, meskipun sudah sangat jelas dari mereka sama sekali tidak ada yang peduli ataupun merasa bahagia atas kelahiran bayi yang tidak berdosa itu. Bagaimana mungkin orang tua Cinta mau menerimanya? Sedangkan dia sama sekali tidak merestui pernikahan Beni dan cinta waktu itu. Sedangkan orang tua Beni tidak bisa menerima anak tersebut selain karena tidak merestui pernikahan mereka, juga karena anak tersebut bukanlah anak dari Beni.
Beni hanya bisa pasrah, setelah itu ia pun memberitahukan kepada bu Tania dan juga teman-temannya tentang kabar bahagia ini. Bu Tania begitu senang dan bahagia, ia sangat antusias ingin melihat cucunya meskipun Cinta tidak menjadi menantunya. Beni juga tidak mau egois, bagaimanapun juga, anak yang Cinta lahirkan merupakan cucu dari bu Tania. Bayi itu juga berhak mendapatkan kasih sayang dari seorang nenek, terlebih lagi orang tuanya dan orang tua Cinta tidak mau menerima kehadiran bayi tersebut.
"Mas gimana …? Kamu udah kasih kabar ke orang tua kita?" Tanya cinta.
__ADS_1
Beni tampak lesu, akan tetapi ia tetap berusaha untuk tegar di depan cinta, menyembunyikan rasa kekecewaannya itu.
...****************...