
Arka sama sekali tidak takut dengan ancaman yang keluar dari mulut busuk Tama, ia malah menahan tawanya karena menganggap ucapan Tama itu hanyalah sebuah lelucon.
Ha ... ha ... ha ... Arka melepaskan tawanya begitu saja karena sudah tidak tahan lagi untuk ditahan.
Sedangkan Tama keheranan melihat Arka yang tertawa, jiwanya seakan terusik dan emosinya semakin meluap. Segera saja Tama memanggil satpam yang sedari tadi berdiri di depan pintu ruangannya, memang Tama yang memerintahkan Satpam itu untuk menunggu di depan sampai ia membutuhkannya.
Satpam segera masuk dan menghadap Bos-nya itu.
"Cepat bawa dua orang ini keluar dari perusahaan saya!" Perintah Tama.
"Baik Pak," jawab Satpam.
"Ho, udah merasa kalah ya sekarang. Dengar baik-baik Pak Tama, jika Anda tidak segera memperbaiki keadaan ini, saya tidak akan segan-segan menyebarkan semua tentang kebusukan Anda," ucap Arka.
"Silahkan! Jika Anda tidak takut dengan ancaman saya, saya juga sama sekali tidak takut dengan ancaman Anda. Anda tidak punya bukti apa-apa Pak Arka," tantang Tama sembari mengibaskan tangannya agar satpam segera menyeret kedua tamunya itu keluar.
"Maaf Pak, silahkan kalian pergi dari sini," usir Satpam sembari mengarahkan jalan keluar.
Arka dan Dante pun segera melangkahkan kaki hendak keluar dari ruangan tersebut, tapi tiba-tiba ...
"Tunggu!" Panggil Tama yang membuat langkah Arka dan juga Dante terhenti. Arka membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan Tama.
"Kenapa? Apa Anda berubah pikiran?" Tanya Arka.
"Saya mau memberikan penawaran buat Anda," kata Tama.
Arka menaikkan kedua alis matanya karena tidak mengerti akan ucapan Tama.
"Anda tinggalkan Sherin, maka saya akan memperbaiki semuanya, mudah saja seperti membalikkan telapak tangan," kata Tama.
"Heh, jangan pernah bermimpi. Tanpa saham dari Perusahaan kamu, saya bisa menormalkan perusahaan saya lagi," ucap Arka dengan mode serius lalu pergi meninggalkan Tama dan diikuti oleh Dante.
"Kalau berubah pikiran, Anda bisa datang temui saya atau kabarin lewat telepon juga boleh. Masak iya Anda biarin perusahaan Anda itu bangkrut hanya demi mempertahankan seorang wanita," teriak Tama dan tersenyum penuh kemenangan meskipun sebenarnya belum tentu dia yang menang.
"Brengsek! Apa-apaan dia, bukan Sherin juga yang menyebabkan perusahaan aku bangkrut, jadi mana mungkin aku mengorbankan Sherin demi kepentingan perusahaan, kamu lah yang harus bertanggung jawab Tama," batin Arka saat dalam perjalanan menuju ke perusahaannya.
...
__ADS_1
Ara masih tampak sibuk dengan aktivitasnya di kantor meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, bahkan Ara juga melewatkan makan siangnya karena terlalu fokus dengan pekerjaannya saat ini.
"Amira, kamu pulang aja ini udah jam 5 loh. Maaf ya hari pertama kerja aja kamu udah harus pulang telat kayak gini," ucap Ara.
Amira adalah sekretaris Ara yang baru saja tamat lulusan s2 jurusan Administrasi Perkantoran. Meskipun ia masih muda dan belum ada pengalaman bekerja sama sekali, itu tidak ada masalah buat Ara asalkan Amara cekatan dan mau berusaha maka Ara akan mengajarinya.
"Bu Ara, Bu Ara gak perlu minta maaf sama saya. Saya juga belum ada pengalaman sama sekali jadi harus banyak belajar Bu, terimakasih ya Bu udah mau kasih saya kesempatan," ucap Amira tersenyum.
Ara pun membalas senyuman itu dan berkata, "Sama-sama Mir, asal kamu mau terus berusaha itu sama sekali bukan masalah kok buat saya, terimakasih juga ya udah mau berjuang sama-sama dengan saya dari nol."
"Sama-sama Bu," jawab Amira.
"Ya udah kalau gitu bentar lagi kita pulang ya," kata Ara.
"Baik Bu," jawab Amira.
Beberapa menit kemudian, Leo telah tiba di perusahaan Ara, ia sengaja tidak memberitahu Ara agar menjadi kejutan. Yang jelas Leo tahu jika Ara masih berada di kantornya dari GPS yang terhubung di ponsel mereka. Namun hanya sekali-sekali atau dalam keadaan darurat barulah mereka menggunakannya.
"Surprise ...," Teriak Leo saat tiba di depan Ara.
"Sayang, kamu ngapain ke sini?" Tanya Ara sambil mengemasi meja dengan merapikan berkas-berkas di atas meja.
"Jadi kamu gak suka nih di samperin sama calon suami?" Tanya Leo.
"Bukan gitu Sayang, ini aku juga mau pulang, makanya lagi beres-beres sekarang," jawab Ara. "Iya kan Mir?" Tanyanya pada Amira dan di jawab dengan anggukan.
"Oh ... ya udah, kita pulang bareng ya Sayang," ajak Leo.
"Oke," jawab Ara singkat.
Setelah semua selesai, Ara, Leo dan Amira pun segera keluar dan saat ini mereka sedang berada di depan perusahaan.
"Oh ya Sayang, aku tadi belum sempat kenalin ke kamu, ini Amira sekretaris aku," ucap Ara.
Leo dan Amira pun saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri.
"Saya calon suaminya Ara Mir, makasih ya kamu udah bantu Ara di perusahaan barunya," ucap Leo.
__ADS_1
"Sama-sama Pak, itu memang sudah tugas saya sebagai sekretaris, apalagi Bu Ara juga udah baik mau kasih saya kesempatan," jawab Amira.
"Sayang, kamu gak bawa mobil ya?" Tanya Ara.
"Seperti biasa, gak dong. Gimana mau pulang bareng kalau bawa mobil sendiri-sendiri," jawab Leo.
"Hm ... kebiasaan kamu memang ya," gumam Ara. "Amira, kamu pulang naik apa?" Tanyanya pula.
"Saya naik motor Bu," jawab Amira sembari menunjuk ke arah motor matic merk scoopy miliknya.
"Oh ... ya udah kalau gitu kamu hati-hati ya Mir," pesan Ara.
"Iya Bu, Ibu sama Pak Leo juga hati-hati ya. Saya permisi dulu ya Bu, Pak," ucap Amira.
"Iya Mir," jawab Ara, sedangkan Leo hanya mengangguk.
Setelah Amira berlalu, barulah Ara dan Leo bergegas pergi meninggalkan perusahaan.
...
Malam hari, Rio tampak gelisah karena jarang mendapatkan kabar dari Nadia. Entah kenapa hatinya begitu khawatir takut terjadi apa-apa dengan tunangannya itu. Saat Rio sedang melamun, tiba-tiba saja ponselnya berdering, langsung saja Rio menjawab telepon tersebut yang ternyata dari bu Jasmine.
"Halo Rio," ucap bu Jasmine dari sebrang telepon. Dari suaranya terlihat sedang panik.
"Halo Tante, ada apa, kenapa Tante panik gitu?" Tanya Rio.
"Rio, Nadia masuk rumah sakit," ucap bu Jasmine.
Deg, bagai tersambar petir, Rio merasa sangat terkejut mendengar berita tersebut.
"Nadia kenapa Tante? Kenapa bisa masuk rumah sakit?" Tanya Rio.
"Tante juga gak tau Rio, akhir-akhir ini Nadia sering mengeluh pusing, mual dan sakit perut, sama seperti gejalanya dulu waktu terkena penyakit gagal ginjal," jelas bu Jasmine.
"Apa Tante? Terus apa kata Dokter di sana?" Tanya Rio.
"Masih dalam tahap pemeriksaan, doain Nadia baik-baik aja ya Rio," ucap bu Jasmine seraya menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
...****************...