
Karina terkejut dan sangat panik, ia tidak menyangka ternyata Leo dan Ara telah merencanakan ini semua.
"Karina? Kenapa malah bengong? Yuk aku anterin periksa," ajak Ara.
"Hm ... gak usah Ra makasih, aku udah gak papa kok," tolak Karina.
"Bu Karina gak boleh gitu dong, jangan menolak niat baik orang lain, jarang-jarang kan ada yang perhatian sama kita. Kalau aku jadi Ibu Karina, pasti aku senang banget dan gak akan nolak," oceh Seno.
"Ya udah kamu aja sana yang diperiksa," kata Karina gusar.
"Loh kenapa Ibu jadi emosi gitu sih, santai aja lah Bu," ucap Seno.
Sementara Ara dan Leo hanya tersenyum, mereka tau dari awal ini hanyalah akal-akalannya Karina untuk mencari perhatian Leo.
"Kamu mendingan diam aja deh. Terus itu apaan lagi manggil aku Ibu, aku bukan Ibu kamu," bentak Karina.
"Jangan marah-marah Kak nanti cepat tua," kata Seno.
"Diam!" Teriak Karina.
"Karina kecilkan suara kamu, jangan teriak-teriak, kita lagi di rumah sakit," kata Leo.
"Iya maaf. Tapi beneran Yo, aku udah baik-baik aja. Aku pulang aja ya," kata Karina.
"Loh jangan dong, periksa aja ya dulu. Ini idenya bos kamu loh Karin, dia panik banget waktu liat kamu hampir pingsan, makanya langsung minta aku ke sini buat temenin kamu. Ya sama-sama wanita kan lebih enak," kata Ara.
"Makasih banyak kalau gitu, tapi sama sekali gak perlu. Aku mau pulang aja istirahat di rumah," ucap Karina.
"Sen, tolong kamu anterin Karina ya, saya masih ada urusan sama Ara," ucap Leo.
"Gak usah, aku pulang naik taksi aja," tolak Karina.
"Gak papa Karina, mendingan kamu sama Seno aja. Searah kok, iya kan Sen ...?" Pujuk Ara dan bertanya kepada Seno.
"Hah? Iya bener," jawab Seno yang sebenarnya bingung.
"Sekali lagi terimakasih, aku duluan, bye ...," ucap Karina. Dengan rasa kesal, ia segera melangkahkan kaki meninggalkan Ara, Leo dan Seno.
"Bye ... hati-hati ya Karina," ucap Ara pula.
"Beneran gak mau aku antar nih Bu?" Tanya Seno.
__ADS_1
"Enggak," jawab Karina ketus.
"Ha .... ha ... ha ... lucu banget sih ngerjain orang licik kayak gitu," kata Seno tertawa.
"Sebenarnya kasian juga sih, tapi mau gimana lagi, biar kapok," kata Ara.
"Orang kayak gitu gak akan pernah kapok, liat aja nanti, entah rencana apa lagi yang akan dia lakukan," kata Leo.
"Untuk hal ini, Kakak juga harus terimakasih sama aku, aku loh yang udah bantuin kalian, aku juga udah anterin Kak Ara ke sini," kata Seno.
"Heh, padahal kamu suka kan ada kesempatan buat berdua sama Ara," hardik Leo.
"Kalau itu sih jelas Kak, tapi Kak Leo juga bareng Karina kan? Jadi impas lah," jawab Seno.
"Eh ... udah dong. Sayang aku kan udah bilang sama kamu, Seno gak seperti Karina yang berusaha buat menghancurkan hubungan kita," kata Ara.
"Aku mencintai Kak Ara dengan merelakannya bahagia dengan Kak Leo orang yang dicintai oleh Kak Ara. Tapi kalau kamu buat Kak Ara terluka, maka aku orang pertama yang datang untuk menghajar kamu dan merebut Kak Ara dari Kak Leo," ucap Seno.
"Duh bocil ngomong apaan sih, ngomong aja masih berantakan," ledek Leo.
"Sayang, stop! Bilang makasih sama seno sekarang, karena memang benar kan kalau Seno yang udah bantuin kita," kata Ara.
"Sayang ...," gumam Ara yang membuat Leo bungkam dan segera menuruti apa yang dihendaki oleh calon istrinya itu.
"Makasih," ucap Leo kepada Seno.
"iya sama-sama," jawab Seno.
"makasih ya Sen, kita duluan," ucap Ara.
"Iya Kak, sama-sama. Hati-hati ya kalian, da ...," ucap Seno pula.
"Oke sip! Da ...," balas Ara. Lalu ia dan Leo pergi meninggalkan rumah sakit.
...
"Sharelock aja, saya langsung ke sana sekarang."
Setelah menelpon, kini karina hendak menuju lokasi yang telah dikirim kepadanya melalui pesan wathsap.
"Kita ke jalan Abcd ya Pak, ucap Karina kepada supir taksi yang membawanya.
__ADS_1
"Baik Mbak," jawab Supir taksi.
"Awas aja kalian semua, pasti akan aku balas, pakai sok-sokan bilang khawatir segala. Kalian pikir aku sebegok itu sampai gak tau kalau ini semua rencana kalian. Ara, liat aja nanti, aku pastikan Leo akan jatuh kedalam pelukan aku," batin Karina.
Sesampainya di tempat tujuan, Karina langsung saja turun dari taksi lalu menemui seseorang yang berada di rumah tua. Rumah tersebut terlihat seperti markas para penjahat.
Plok ... plok ... plok ... terdengar suara tepuk tangan yang menyambutnya. Seorang pria dengan matanya yang ditutup sebelah seperti baja lauk sedang duduk di kursi kebesarannya sembari sesekali menyesap rokok yang ada di sela-sela jarinya itu.
"Welcome Karina, ternyata Anda ada nyali juga ya buat datang ke sini? Dimana Rolan? Bukankah kalian tidak membutuhkan bantuan saya lagi?" ucap Boy yang merupakan ketua dari para preman yang ada di markas tersebut.
"Terimakasih Boy, Rolan terlalu takut hingga aku harus bertindak sendirian," jawab Karina.
"Baiklah! Jadi apa mau mu Nona manis?" Tanya Boy.
"Saya mau kalian menculik dan memberi pelajaran buat mereka," kata Karina sembari mengirim foto targetnya kepada Boy.
"Oke, gak ada masalah, tapi kira-kira DP-nya kapan akan dikirim?" Tanya Boy dan langsung saja Karina memberikan sebuah amplop coklat yang berisi sejumlah uang.
Boy membuka amplop tersebut lalu menghitung uang yang jumlahnya cukup banyak.
"Baiklah! Aku pastikan secepat mungkin mereka akan tertangkap oleh anak buah saya, senang bekerja sama dengan Anda," ucap Boy dengan senyum sumringah.
"Saya tunggu secepatnya kabar baik itu. Kalau rencana itu berhasil, saya akan transfer sisanya bersama bonus," kata Karina.
"Siap Nona," jawab Boy yang sangat senang mendengarnya.
...
Ara terlihat sangat buru-buru hendak pergi saat mendengar kabar dari nomor tidak dikenal yang memberitahu ada seorang pria tertabrak di jalan Xxxx bernama Leo. Ditambah lagi ponsel Leo yang tidak aktif saat di hubungi membuat Ara semakin khawatir.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, untungnya hari sudah malam sehingga tidak terlalu banyak lagi kendaraan yang berlalu lalang di jalan.
Setibanya di lokasi yang di maksud si penelpon tadi, Ara melihat jalanan tersebut sangat sepi dan seperti tidak ada bekas kejadian apa-apa. Akan tetapi, untuk memastikannya Ara segera turun dari mobil.
"Perasaan ini benar kok jalannya, tapi kenapa gak ada apa-apa," gumam Ara yang sangat panik karena memikirkan Leo.
Namun tiba-tiba saja ada seseorang dari belakang yang membungkam mulut Ara dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius.
"Ehm ... ehm ...," teriak Ara dibalik bungkaman penjahat dan terus memberontak hingga ia tidak sadarkan diri.
...****************...
__ADS_1