
Ara, Leo, bu Amara dan bu Maria telah tiba di kediaman Cinta dan Beni.
Ting … tung … suara bel berbunyi.
Beni segera saja membukakan pintu untuk tamunya. Beni mempersilahkan tamunya itu masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamar Cinta.
"Maria, Amara, kok kalian nggak bilang-bilang sih mau ke sini?" Tanya bu Tania.
"Kan kita mau kasih surprise," jawab bu Amara.
"Tante," sapa Cinta lalu menyalami bu Amara dan juga bu Maria.
"Cinta, gimana kabar kamu?" Tanya bu Maria mewakili.
"Alhamdulillah baik Tante," jawab Cinta.
"Hai Cinta," sapa Ara.
"Hai Ra, Leo, makasih ya udah datang," ucap Cinta.
"Sama-sama Ta," jawab Ara.
"Wah cantik banget ya cucu Oma, kata bu Maria yang melihat Clarissa.
"Iya, cantik seperti Mama dan Neneknya," kata bu Tania.
"Iya, iya, aku jadi nggak sabar deh pengen punya cucu juga," kata bu Amara.
"Iya Ra aku juga," sambung bu Maria pula yang membuat Ara dan Leo senyum-senyum saja mendengar akan hal itu.
"Duh comel banget sih baby Clarissa, jadi pengen cubit-cubit terus deh," kata Ara gemas.
"angan diubit dong Aunty, antik pipi aku akit," kata Cinta meniru suara anak kecil.
"Abisnya kamu gemesin banget sih," kata Ara yang membuat Leo dan Bryan pun tersenyum mendengar ucapan Ara itu.
"Cepat-cepat Yo halalin, biar cepet punya baby juga. Kayaknya Ara udah pengen banget tuh punya baby," goda Bryan.
"Tenang aja, kita emang udah mau nyusul kalian kok," kata Leo.
"Oh ya? Emang kapan?" Tanya Cinta.
"Loh memang kalian belum tau ya? Eh kita emang nggak kasih tau ke banyak orang sih ya, tujuannya biar surprise aja," jawab Ara.
"Tapi sekarang kalian udah ngomong ke kita, jadi harus dilanjutin dong ucapan kalian," pinta Bryan.
__ADS_1
"Iya, kita udah mau nikah kok dua minggu lagi," kata Leo.
"Seriusan …?" Tanya Cinta.
"Iya Cinta, yang dibilang Ara dan Leo itu benar, kita baru aja dari butik, abis nemenin Ara dan Leo fitting baju," sahut bu Maria.
"Oh gitu ya Tante, syukur deh. Seneng banget dengernya," kata cinta tersenyum. Ia sangat bahagia mendengar kabar ini, begitu juga dengan Bryan dan yang lainnya.
"Selamat ya Leo, Ara, semoga rencana kalian berjalan lancar hingga hari H-nya nanti," ucap Bryan.
"Aamiin," ucap semua yang ada di situ ikut mendoakan.
Lalu mereka pun melanjutkan mengobrol-ngobrol santai. Bu Tania mengajak dua sahabatnya itu untuk mengobrol di depan, sementara Leo dan Bryan duduk di sofa yang agak jauh dari ranjang Cinta dan baby-nya, dan Ara sendiri memilih menemani Cinta dan juga anaknya.
"Cinta, aku boleh nggak nanya sesuatu sama kamu?" Kata Ara.
"Boleh, tanya aja," kata Cinta.
"Rolan udah tau tentang kelahiran baby Clarissa?" Tanya Ara.
Cinta tampak terdiam mendengar pertanyaan itu yang membuat Ara menjadi merasa bersalah.
"Cinta, maaf ya kalau pertanyaan aku nggak enak didengar, kamu nggak usah jawab deh. Anggap aja aku nggak pernah nanya," ucap Ara.
"Ara, Nggak papa kok Ra. Aku rasa sih Rolan udah tau dari Tante Tania, tapi Tante Tania juga nggak ngomong apa-apa ke aku, mungkin buat menjaga perasaan aku dan kalau menurut aku nggak penting lah laki-laki itu mau tau atau enggak. Yang penting sekarang aku udah ngelahirin anak aku dengan selamat dan Beni juga udah nganggap Clarissa sebagai anaknya sendiri. Jadi nggak perlu lah Rolan tau tentang ini semua," Jawab Cinta.
"ini semua juga berkat dukungan dari kalian, terutama Beni, aku nggak tau gimana hidup aku kalau nggak ada Beni," kata Cinta.
"Iya Ta, semoga kalian selalu bahagia ya hingga akhir hayat," ucap Ara.
"Makasih ya Ra," ucap Cinta tersenyum.
"Sama-sama Ta," jawab Ara dan juga tersenyum.
...
Keesokan hari saat baru saja tiba di perusahaan, Ara melihat Amira yang baru saja turun dari mobil Seno.
"Wah … ada kemajuan nih kayaknya diam-diam," sindir Ara.
"Enggak Kak, ini tadi kebetulan aja," kata Seno.
"Iya Mbak, tadi motor aku mogok di jalan. Kebetulan ketemu sama Seno, Seno nawarin aku pergi bareng, jadi aku ikut," terang Amira.
"Udah-udah nggak usah dijelasin juga kali Mir, kalau kalian mau pergi bareng, pulang bareng pun nggak masalah, malah bagus," kata Ara tersenyum yang membuat Amira pun menjadi salah tingkah, begitu juga dengan Seno.
__ADS_1
"Ya udah deh kak Ara, Amira, aku pergi dulu ya," pamit Seno.
"Iya Sen, hati-hati," kata Ara.
"Hati-hati ya Seno, makasih udah anterin aku," ucap Amira.
"Sama-sama," jawab Seno.
Lalu Seno pun berlalu dari pandangan mata Ara dan Amira. Sedangkan kedua wanita itu kini berjalan berdampingan masuk ke dalam perusahaan.
"Gimana Mir perkembangannya hubungan kamu dan Seno?" Tanya Ara tiba-tiba saja yang membuat Amira terkejut.
"Hubungan? Hubungan apa Mbak?" Tanya Amira.
"Udah deh jujur aja, kalian udah dekat kan sekarang?" Tanya Ara.
"Ya Mbak, kita memang dekat tapi cuma sebagai temen aja kok," kata Amira.
"Oh … gitu, mudah-mudahan dari temen bakalan jadi demen deh," goda Ara.
"Apaan sih Mbak," kata Amira yang malu, wajahnya kini memerah seperti kepiting rebus.
Lalu Ara pun masuk ke dalam ruangannya, sedangkan Amira langsung duduk di meja kerjanya yang berada di depan ruangan Ara.
...
Sesuai janjinya, Tama kini kembali ke perusahaan Pak Ardi untuk bertemu dengan Leo.
Tok … tok … tok …Tama mengetuk pintu ruangan CEO.
"Masuk!" Ucap Leo.
Tama membuka pintu, lalu masuk ke dalam ruangan tersebut. Leo mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat siapa yang ada di depan matanya.
"Kamu lagi? Ada urusan apa lagi sih Anda ke sini?" Tanya Leo.
Tama kali ini berusaha untuk tetap tenang sesuai dengan rencananya, dan demi mencapai tujuannya.
"Maaf Pak Leo, bisa saya bicara dengan Anda?" Tanya Tama dan bertanya.
"Oh boleh, silahkan duduk!" ucap Leo, lalu Tama pun duduk di kursi seberang Leo.
"Pak Leo, apa boleh saya meminta tolong untuk kembali menanam saham di perusahaan saya?" pinta Tama tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Bukannya saya sudah bilang sama kamu, itu urusan Pak Ardi Papi saya bukan urusan saya," kata Leo dengan tegas yang membuat Tama begitu emosi mendengarnya dan menatap Leo dengan tatapan tajam seperti singa lapar yang hendak menerkam mangsanya.
__ADS_1
...****************...