Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_210


__ADS_3

"Ma ini aku bawain jus buat Mama," kata Cinta sembari memberikan segelas jus.


"Tumben, ada apa?" Tanya bu Lily.


"Gak apa-apa Ma, aku ngerasa bersalah aja sama Mama, maafin sikap aku yang tadi siang ya Ma. Gak seharusnya akan bentak-bentak Mama kayak gitu," ucap Cinta.


"Ya baguslah kalau kamu sadar," ucap bu Lily.


"Ya udah Ma ini jus-nya jangan lupa diminum dan dihabiskan ya Ma, aku mau tidur dulu," kata Cinta.


"Hm," jawab Lily singkat seolah tidak perduli.


Lalu Cinta pun keluar dari kamar bu Lily, di lihatnya dari celah pintu, bu Lily sedang menikmati jus jeruk tersebut dengan senyuman yang sangat bahagia.


"Selamat tidur panjang ya Ma, maaf aku terpaksa ikutin saran kakek buat masukin obat tidur ke minuman Mama, aku gak mau Mama ngerusak rencana honeymoon aku dan Beni yang sudah disiapkan sama sahabat-sahabat aku Ma, aku gak mau nanti mereka yang kecewa karena Cinta dan Beni tidak menghargai pemberian dari mereka," gumam Cinta dalam hati.


FLASHBACK OFF.


"Sebaiknya kamu pulang saja temui suami kamu, takutnya suami kamu itu malah asyik sama perempuan lain karena terlalu lama kamu tinggal," kata kakek Broto.


"Papa, Papa ngomong apa sih," kata bu Lily lalu meninggalkan pak Broto karena kesal.


"Lily.. Lily.. Bukan tanpa alasan Papa dulu melarang kamu menikah dengan laki-laki itu, suka main perempuan, menghormati Papa juga tidak, sayang sekali kamu harus mengkhianati Aldi yang begitu baik dan tulus mencintai kamu," gumam kakek Broto dalam hati.


...


"Halo, tolongin aku dong Rolan," pinta Karina lewat telepon.


"Minta tolong apa....?" Tanya Rolan.


"Aku gak tau nih tiba-tiba aja mobil aku mogok," jawab Karina.


"Kenapa minta tolongnya ke aku? Mana pria idaman kamu itu?" Tanya Rolan.


"Boro-boro mau minta tolong, mau nelpon aja gak bisa, nomor aku di blok. Udahlah gak usah banyak nanya, aku lagi di jalan Xxx buruan datang ya aku tunggu," kata Karina.


Tut.. Tut.. Tut.. Karina langsung memutuskan panggilan telpon.


"Heh, dia siapa? Main matiin telpon gitu aja, terus berharap aku datang, emang aku peduli. Tapi kalau aku gak datang gimana ya nanti, mana udah malam lagi, bisa aja ada orang jahat yang gangguin Karina. Akh... Udahlah aku ke sana aja, naik motor aja biar cepat," gumam Rolan lalu segera pergi.


Tidak lama kemudian...


Brum.. Brum.. Brum..

__ADS_1


Karina yang dari tadi berada di dalam mobil segera keluar karena melihat kedatangan Rolan yang mengendarai motor trail itu.


Brum.. Brum.. Brum..


"Duh... Berisik banget sih suara motor kamu, matiin gak!" Teriak Karina.


"Gak mau, masih mending aku datang," kata Rolan.


"Rolan, aku gak bisa ngomong kalau bising gini," kata Karina.


Lalu Rolan mematikan kontak motornya.


"Kenapa mobil kamu?" Tanya Rolan.


"Ya mana aku tau lah Rolan," jawab Karina.


"Makanya, punya mobil itu di rawat, jangan taunya cuma pakai doang," kata Rolan.


"Aku kan cewek, wajar aja lah," kata Karina.


"Alasan, Ara juga cewek, tapi mobilnya selalu terawat tuh," kata Rolan.


"Sampai segitunya ya kamu cinta sama tunangan orang, dalam hal urusan mobilnya aja kamu tau, hahaha," ledek Karina dan tertawa.


"Ya ampun Karin, ini sih air radiatornya kering. Kok bisa sih dalam hal kecil kayak gini aja kamu lalai, baru berapa lama sih kamu pakai mobil?" Tanya Rolan.


"Dari aku kecil juga udah pakai mobil sih, tapi mobil aku selalu di rawat sama supir. Di sini kan aku cuma tinggal sendirian," jawab Karina.


"Ya udah tunggu sini, aku beli air minum dulu di warung itu," kata Rolan sambil menunjuk sebuah warung yang ada di tepi jalan.


"Iya," jawab Karina.


Sebenarnya saat ini hati Rolan sedang tidak baik-baik saja, soal Ara yang terus saja mengacuhkannya, juga soal rencananya yang gagal untuk membuat Cinta dan Beni tidak jadi pergi ke Perancis, semua itu karena bu Lily yang tidak berguna, pikirnya. Tapi entah kenapa saat tahu Karina sedang membutuhkan pertolongan, ia pun segera menolongnya meskipun di mulutnya berkata tidak mau.


...


Keesokan hari...


Tok.. Tok.. Tok.. (suara ketukan pintu)


"Silahkan masuk!" Kata Ara.


"Pak Haris masuk bersama dengan seorang pria muda yang usianya lebih muda 3 tahun di bawah Ara.

__ADS_1


"Pak Haris, silahkan duduk Pak!" Kata Ara, ia juga mempersilahkan pria yang ada di samping Pak Haris untuk duduk.


"Ara, kenalkan ini Seno, dia akan menjadi sekretaris sekaligus asisten kamu karena kamu sekarang adalah CEO," kata pak Haris.


"Oh, iya Pak," jawab Ara.


"Saya Seno Argantara Bu," ucap Seno memperkenalkan diri.


"Saya Ara," ucap Ara.


"Ibu tenang saja, saya yakin bisa membantu Ibu untuk memajukan perusaan ini," kata Seno.


"Iya semoga saja ya, selamat bergabung Seno," ucap Ara.


"Terima kasih Bu," ucap Seno dan di balas anggukan oleh Ara.


"Ara, jadi Seno ini lulusan terbaik di salah satu universitas luar negeri, meskipun dia anak teman Saya, tapi tentunya dia sudah mengikuti seleksi. Dia juga sudah berpengalaman di bidangnya selama dua tahun," jelas pak Haris. "Benar begitu kan Seno?" Tanyanya.


"Iya Pak benar," jawab Seno.


"Iya Pak, terima kasih ya Pak," ucap Ara.


"Sama-sama, baiklah kalau begitu saya tinggal dulu ya Ara, Seno," kata pak Haris.


"Iya Pak," jawab Ara.


"Iya Pak, terima kasih banyak," ucap Seno.


"Baiklah Seno, kamu udah tau kan dimana tempat duduk kamu? sekarang kamu udah mulai bisa bekerja, kamu cek dulu email yang saya kirim ke alamat surel, jangan lupa kamu cek file yang saya kirim itu ya, buat laporannya ke saya hari ini juga!" Perintah Ara.


"Baik Bu Ara, saya akan melakukan tugas pertama saya ini. Saya permisi Bu," Kata Seno lalu keluar dari ruangan Ara.


Setelah duduk di tempat seharusnya Seno berkerja, matanya terus tertuju pada seorang wanita yang ada di sebuah ruangan, Seno terus menatapnya dari kaca yang tidak tertutup tirai.


"Ara, cantik, meskipun om Haris bilang umurnya 26 tahun, gak masalah kok kalau aku harus jadi brondong," gumam Seno dalam hati sambil tersenyum.


"Ehem.... Seno," pak Haris membuyarkan lamunan Seno.


"Maaf Om eh Pak," ucap Seno. Sama seperti Ara, jika berada di luar kantor atau tidak ada pegawai lain, Seno akan memanggil pak Haris dengan sebutan om.


"Jangan menatap Bos kamu terus, kerja-kerja," ledek pak Haris tersenyum sembari melangkahkan kaki.


Sementara Seno yang merasa malu karena ketangkap basah oleh pak Haris sedang menatap Ara, langsung saja mengerjakan tugas pertama dari Ara.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2