
Saat mobil Pak Hernandez baru saja keluar melewati pagar rumah, saat itu juga bertepatan dengan Beni yang baru saja masuk. Ia baru saja pulang dari kantor.
"Sayang, ada apa? Itu mobil siapa?" Tanya Beni kepada istrinya. Ia juga heran melihat wajah Cinta yang tegang.
"Itu Pak Hernandes suaminya bu Tania," jawab Cinta.
"Dia jemput Tante Tania?" Tanya Beni lagi.
"Iya Sayang, Pak Hernandes marah-marah. Katanya pulang ke rumah Tante Tania nggak ada di rumah malah di sini. Dia juga nyalahin aku karena udah biarin Tante Tania tinggal si sini," terang Cinta.
"Gak jelas banget sih tuh orang, tapi kamu nggak diapa-apain kan Sayang?" Beni bertanya kembali karena khawatir takut ada yang sudah bermacam-macam dengan istrinya.
"Nggak sama sekali Mas, justru aku kasian sama Tante Tania, aku syok liat Tante Tania di marah-marah bahkan tangannya ditarik kayak tadi," kata Cinta.
"Syukurlah kalau kamu nggak di apa-apain. Kalau masalah Tante Tania kita juga gak bisa ikut campur Sayang, itu kan suaminya. Ya mudah-mudahan Tante Tania bisa jelasin sama Pak Hernandes dan Pak Hernandes-nya bisa mengerti," ucap Beni.
"Iya Sayang," jawab Cinta mengangguk.
"Oh ya, anak kita yang tersayang itu mana?" Tanya Beni.
"Ada di dalam lagi tidur" jawab Cinta.
"Ya udah yuk kita masuk, Mas kangen banget sama Clarissa," kata Beni.
"Iya yuk," jawab Cinta. Lalu Beni dan Cinta pun masuk ke dalam rumah mereka.
Sebelum menemui baby Clarissa, Beni terlebih dahulu membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Karena setelah seharian beraktivitas di luar, sudah dipastikan ia telah membawa virus dan kuman dari luar yang sangat tidak baik jika langsung menemui bayi. setelah memastikan dirinya bersih, barulah Beni menghampiri anak dan istrinya.
__ADS_1
"Duh … anak Papa gemesin banget sih. Besok kamu mau ikut nggak kita ke pernikahannya Om Leo dan Tante Ara?" Tanya Beni kepada anaknya.
"Atu itut dong Pa, maca aku ditinggal dilian sih," jawab Cinta seolah menjadi Clarissa anaknya.
"Hehehe iya juga ya, nggak mungkin dong kamu ditinggal sendirian. Apalagi Nenek Tania lagi pulang," kata Beni.
"Iya, Papa sih ada-ada aja," kata cinta.
"Hahaha …," terdengar gelak tawa Cinta dan Beni.
"Tapi Mas, gimana ya Tante Tania? Kira-kira besok dia pergi nggak ke acara pernikahannya Ara dan Leo? Padahal kan kita udah sepakat mau pergi bareng-bareng," kata Cinta yang terlihat sangat khawatir.
"Entahlah Sayang, tapi itu kan urusannya Tante Tania dan suaminya, kita liat aja besok ya," kata Beni dan hanya di tanggapi anggukan oleh Cinta.
...
Tiba-tiba Aria merasakan perutnya sangat lapar, karena ia memang belum ada menyentuh makanan dari siang. Hari ini Aria sibuk dengan membuat lamaran pekerjaan, ia berencana akan melamar kerja di perusahaan besar di Jakarta. Ia memang lebih memilih untuk bekerja di perusahaan lain dibandingkan harus bekerja di perusahaannya sendiri, sama seperti Ara yang ingin merintis sendiri karirnya. Sementara perusahaan keluarga Aria itu telah dikelola oleh Kakaknya, Arka. Pak Bobby sendiri lebih memilih istirahat di rumah, hanya sesekali saja ia datang ke perusahaan untuk mengecek kondisi perusahaan.
"Cakep banget Kakak aku, tapi yang mau nikah siapa, yang fitting baju siapa," kata Aria dari pintu kamar Arka.
Arka pun langsung saja menoleh ke arah pintu dan melihat adiknya.
"Apaan sih Dek, syirik aja. Ya kan nanti Kakak bakalan jadi groomsmen, jadi nggak salah dong kalau Kakak fitting juga biar kelihatan keren," kata Arka.
"Iya deh, enak dong yang punya pasangan jadinya bisa jadi groomsmen dan pasangan bridesmaid-nya Kak Sherin," kata Aria.
"Loh bukannya kamu juga disuruh jadi bridesmaid ya," kata Arka.
__ADS_1
"Iya kak aku memang disuruh jadi bridesmaid, tapi kan harus ada pasangan groomsmen-nya kan? Kalau nggak ada, ya berarti aku nggak punya pasangan dong," kata Aria.
"Memangnya Rio nggak ngajak kamu jadi pasangannya?" Tanya Arka.
Aria menggelengkan kepalanya, terlihat dari sudut matanya jika ia sedikit kecewa dan mengharap jika Rio mengajaknya untuk menjadi pasangannya nanti di acara pernikahan Leo dan Ara.
"Oh belum aja kali tuh, tapi kalaupun nggak ya nggak masalah lah. Kamu harus tetap jadi bridesmaid Ara dan Leo nanti, di sana pasti bakalan ada kok groomsmen yang jomblo nanti," kata Arka.
"Masa sih Kak, belum tentu juga lah. Terus acara ke pernikahannya juga harus bawa pasangan kan, meskipun jomblo, apalagi ada pesta topeng," kata Aria.
"Iya sih, memang kamu sama sekali nggak punya temen cowok ya di sini?" kata Arka
"Nggak Kak, Kakak kan tau sendiri aku lama di luar Negeri. Teman-teman aku di sini yang cowok juga nggak tahu deh pada kemana, udah pada nikah kali. Lagian gak bisa sembarang juga lah Kak ajak cowok," kata Aria.
"Ya udah kamu yang sabar aja ya, masalah bawa pasangan ke acara pernikahan itu cuma candaan Ara doang kok. Siapapun yang diundang boleh datang, kamu bisa kok datang sama Papa," kata Arka.
"Iya sih Kak, tapi kan kalau beneran bawa pasangan itu lebih seru aja," kata Aria.
"Ya udah kamu buruan cari pasangan lah kalau kamu mau," kata Arka.
"Gimana sih Kakak, tau kan kalau aku sukanya sama Kak Rio. Tapi kalau Kak Rio-nya nggak suka sama aku, nggak mungkin juga aku mau maksa. Ya udahlah Kak aku mau lanjutin buat lamaran, Kakak lanjutin aja fitting-nya," kata Aria.
Arka hanya terdiam, sebenarnya ia juga merasa sangat kasihan kepada adiknya yang menganggap cintanya itu telah bertepuk sebelah tangan, akan tetapi Arka juga tidak bisa memaksa urusan perasaan seseorang.
...
Sementara itu di sebuah kamar aesthetic, Rio tampak termenung memikirkan sesuatu sembari mengotak-atik ponselnya.
__ADS_1
"Ajak, enggak, ajak, enggak, ajak, enggak, ajak," Rio terus saja mengulangi ucapannya itu. "Aduh … kira-kira Aria mau nggak ya kalau aku ajakin jadi pasangan aku besok? Gimana kalau Aria udah punya pasangannya. Tapi kalau kata Ara sih buat list pasangan bridesmaid dan groomsmen besok Aria nggak ada pasangannya. Aku telepon aja nggak ya? Gimana kalau ditolak? Apa salahnya juga dicoba, nggak akan tau kalau belum dicoba," ucap Rio yang terus saja berbicara sendiri.
...****************...