Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_231


__ADS_3

"Kamu tau dari mana kalau tempat ini ada taman mini kayak gini...?" Tanya Ara.


"Tau lah, kan aku yang punya taman ini," jawab Leo.


"Kamu seriusan Sayang? Kok bisa? Tanya Alexa tidak percaya.


"Iya beneran, apa sih yang enggak buat kamu," jawab Leo.


"Hm... aku gak percaya," ucap Ara yang terlihat acuh.


"Kalau gak percaya ya udah, yang penting aku udah kasih tau jujur ke kamu," kata Leo.


"Kalau memang bener kamu yang buat ini semua, tujuannya buat apa...?" Tanya Ara yang belum bisa percaya begitu saja.


"Simpel, tujuannya karena aku gak mau kehilangan tempat favorit kita. Dimana tempat ini menjadi saksi cinta kita berdua di saat aku koma, bahkan di saat aku mulai mencintai kamu lagi pada dunia nyata. Untuk itulah aku membeli sebagian lahan di sini, meskipun cuma dapat dikit, cukuplah untuk membangun taman yang mini ini khusus untuk kita berdua atau bareng sahabat kita," jelas Leo.


Ara tertegun, mana mungkin jika Leo berbohong dengan penjelasan yang begitu meyakinkan.


"Aku juga ingat waktu itu kamu bilang tempat favorit kita udah gak asik kayak dulu, pohon-pohonnya juga banyak ditebang, maka itu khusus aku buatin taman ini buat kamu. Kurang lebih enam bulan waktunya nunggu pepohonan ini tumbuh," kata Leo.


"Jadi kamu beneran melakukan ini semua buat aku Sayang...?" Tanya Ara.


"Iya Sayang, semua buat kamu, aku cuma mau liat kamu seneng. Kamu beneran suka kan...?" Jawab Leo dan bertanya.


Ara menatap wajah Leo di balik redupnya lampu di taman tersebut, namun meskipun seperti itu tetap tidak bisa menyembunyikan air mata Ara yang lolos begitu saja, ia sangat terharu atas pengorbanan yang telah dilakukan oleh calon suaminya itu.


"Sayang, kenapa kamu malah nangis?" Tanya Leo. "Maaf ya kalau aku udah buat kamu sedih," ucap Leo sembari mengusap air mata Ara dengan lembut.

__ADS_1


"Aku gak sedih Sayang, justru aku menangis karena bahagia," kata Ara.


Leo mencium kening Ara lalu menarik tubuh Ara dalam pelukannya.


...


"Makasih ya Sayang, udah anterin aku pulang," ucap Ara saat tiba di rumahnya.


"Sama-sama Sayang, maaf ya kamu jadi pulang telat gara-gara aku," ucap Leo.


"Gak papa Sayang, yang penting aku udah bilang ke mami jadi mami gak khawatir," kata Ara.


"Iya Sayang, aku juga udah bilang ke mami," kata Leo tertunduk, suasana hatinya tiba-tiba berubah.


Ara menatap heran wajah tunangannya itu, kenapa tiba-tiba berubah, apa ada ucapan atau sikap yang tidak sengaja Ara perbuat? Pikirnya.


"Gak ada apa-apa kok Sayang. Lebih baik sekarang kamu masuk ke rumah, pasti tante Maria udah nungguin kamu," jawab Leo.


"Beneran gak ada apa-apa? Tapi yang aku liat mood kamu tiba-tiba berubah. Apa ada sesuatu yang udah mengganggu pikiran kamu?" Tanya Ara lagi, kini tatapannya semakin tajam seolah memaksa untuk diberi tahu.


"Iya kamu benar Sayang, memang ada yang mengganggu pikiran aku, tapi lagi-lagi ini soal yang sudah kita sepakati untuk tidak dibahas dulu," jawab Leo.


"Maksud kamu...?" Tanya Ara yang tidak mengerti.


"Aku egois gak sih kalau pengen cepat-cepat nikah sama kamu, aku mau menikmati waktu bersama kamu tanpa yang mengganggu kita, yang nungguin kita di rumah, kita bebas. Aku tau kok kamu gak mau bahas ini dulu, tapi tiba-tiba aja ini terlintas dalam pikiran aku," jawab Leo bersedih.


Ara tersenyum lalu memeluk calon suaminya itu, mencoba memberi ketenangan agar Leo tidak berlarut dalam kesedihan.

__ADS_1


"Aku ngerti kok Sayang, kamu jangan sedih lagi ya. Kamu gak salah dan gak egois. Yang egois itu aku, harusnya kita udah nikah kalau bukan karena ambisi aku yang mau menikah setelah aku punya perusahaan sebelum kita nikah. Entah kenapa aku begitu yakin, gak pernah mikir apa dampaknya sama kamu juga orang-orang di sekitar kita. Maafin aku ya Sayang," ucap Ara.


"Sayang jangan ngomong gitu, dari awal juga aku udah setuju sama kesepakatan kita, aku akan selalu mendukung kamu, maaf aku jadi ungkit masalah ini," ucap Leo.


Ara terdiam, ia paham apa yang menjadi keinginan Leo saat ini. Namun Ara juga tidak mungkin mengubah keputusannya yang sudah ada di depan mata.


"Sabar ya Sayang, sebentar lagi kok. Kamu doain aja ya semoga semuanya berjalan lancar," kata Ara sembari memeluk Leo dengan sangat erat.


Setelah cukup lama bercengkrama dalam pelukan, kini saatnya Leo pulang dan Ara masuk ke dalam rumahnya.


"Sayang, kenapa lama sekali baru masuk...?" Tanya bu Maria yang sedari tadi menunggu Ara di ruang tamu.


"Mami kok belum tidur...?" Tanya Ara, bukannya menjawab pertanyaan maminya.


"Mami nungguin kamu pulang, perasaan sudah setengah jam yang lalu kamu sampai," kata bu Maria dengan wajah datar.


"Iya Mi, maaf ya. Tadi ada yang di bahas dulu Mi," ucap Ara.


"Mami mau ngomong sama kamu. Mami tahu kalau kalian sudah bertunangan, tapi rasanya kurang pantas jika setiap malam kalian pulang larut seperti ini, tidak enak juga kan kalau di lihat sama tetangga. Mami tidak melarang kok kalian untuk pergi sama-sama, kemana saja terserah kalian, tapi ingat waktu Sayang, lihat dong ini sudah jam 12 lewat. Sudah Dua malam berturut-turut loh, tadi malam jam setengah 12, malam ini lebih larut lagi. Bahkan pulang kerja langsung pergi tanpa pulang ke rumah dulu," kata bu Maria.


"Maafin Ara Mi, Ara tau kok kalau Ara salah," ucap Ara tertunduk, ia tidak bisa melawan apa kata maminya karena memang dia lah yang salah.


"Ya sudah, Mami juga minta maaf ya kalau kamu menganggap Mami ini mengatur kamu atau apa, tapi maksud Mami itu buat kebaikan kamu. Kamu anak perempuan Mami satu-satunya, Mami hanya khawatir Sayang. Mami percaya kok kamu sama Leo pandai menjaga diri, tapi tetap saja tidak pantas kalian selalu bersama sampai larut malam kayak gini, kecuali kalian sudah menikah, kalian bebas mau bersama kapan saja, mau pulang jam berapa tidak akan ada yang melarang. Sekarang ini kamu masih tanggung jawab Mami dan papi, kamu ngerti kan maksud Mami?" kata bu Maria.


"Iya Mi, Ara ngerti kok maksud Mami. Ara ke kamar dulu ya Mi mau bersihin badan terus istirahat, capek banget Mi," kata Ara dan hanya di jawab anggukan oleh bu Maria.


Lalu Ara melangkahkan kaki menuju ke kamarnya, di dalam pikirannya terlintas apa yang baru saja maminya tadi katakan dan tentang perkataan Leo yang keduanya saling bersangkutan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2