Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_228


__ADS_3

Cinta masih terdiam, ia bingung harus bagaimana saat ini, meskipun di mulutnya mengatakan ia sangat membenci Rolan, akan tetapi di dalam hatinya masih terbesit rasa kasihan terhadap Rolan.


"Oke, aku mau ketemu sama Tante Tania, tapi aku gak mau ketemu sama Rolan," kata Cinta.


Ara menatap Cinta, ia tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Cinta dalam waktu secepat ini.


"Sayang, apa kamu yakin....? Aku gak akan pernah memaksa kalau kamu gak mau, aku akan selalu mendukung apapun yang menjadi keputusan kamu," tanya Beni.


"Aku yakin Mas. Yang Ara bilang memang benar, kalau waktu itu aku menikah sama Rolan, aku tidak mungkin sebahagia saat ini bersama kamu," jawab Cinta dengan penuh keyakinan.


Beni yang sangat terharu dengan ucapan Cinta itu segera saja memeluknya.


"Makasih ya Sayang, aku mencintaimu," ucap Beni.


"Sama-sama Mas, aku juga cinta sama kamu," jawab Cinta.


"Ehem.. Ehem.. Kita jadi obat nyamuk nih Sayang," sindir Leo, sedangkan Ara hanya menanggapinya dengan senyuman, ia sangat terharu melihat kisah cinta antara Cinta dan Beni.


Beni dan Cinta segera melepaskan pelukan mereka karena mendengar sindiran dari Leo itu.


"Maaf terbawa suasana," ucap Cinta.


"Gak papa kok Ta, aku ngerti kok sama situasinya," kata Ara.


"Ah loe Bro, padahal loe punya Ara, kenapa beranggapan jadi obat nyamuk sih, Ara aja bisa ngerti," kata Beni.


"Ya loe berdua sadar dong lagi ada tamu di rumah, mesra-mesraannya kan bisa nanti tunggu kita pulang," protes Leo.


"Ya ampun cuma pelukan doang, kita juga udah sering kali liat kalian berdua pelukan, depan umum lagi," gerutu Beni.


"Duh... Kalian apa sih malah ribut hanya perkara gitu doang, kita itu lagi bahas soal lain di sini," kata Ara.


"Calon suami kamu tuh Ra, iri, minta di peluk dia," kata Beni.


"Apaan sih loe," ketus Leo.


"Cinta, kamu kapan bisa ketemu sama Tante Tania...?" Tanya Ara yang tidak lagi menggubris perdebatan Leo dan Beni.

__ADS_1


"Terserah kapan Tante Tania maunya aja Ra. Tapi kamu bisa kan temenin aku?" Jawab Cinta dan bertanya pula.


"Tante Tania mau secepatnya, iya aku bisa kok temenin kamu," jawab Ara.


"Sebaiknya besok sore aja Ra kalau kamu udah pulang kerja, jangan malam-malam kasian istri aku lagi hamil," ujar Beni.


"Boleh, nanti aku kasih tau ya ke Tante Tania," kata Ara menyetujui.


"Iya Ra," jawab Cinta.


"Sayang, kalau udah gak ada urusan lagi kita cabut yuk," ajak Leo.


"Iya Sayang," jawab Ara. "Beni, Cinta, maaf ya udah ganggu kalian, makasih atas jamuannya, kita pulang dulu ya," pamitnya.


"Sama-sama Ra, hati-hati ya Ra, Leo," ucap Cinta.


"Pulang dulu Bro," pamit Leo.


"Hati-hati Bro," ucap Beni.


"Gak nyangka banget ya dengan menikah hidup mereka bisa bahagia seperti itu, mereka yang benar-benar mau berjuang sendiri tanpa menyusahkan orang tua kini bisa membuktikannya. Bisa punya rumah sendiri, bisa beli mobil lagi, padahal Cinta dan Beni sama-sama udah punya mobil. Aku benar-benar salut sama cintanya Beni yang begitu tulus buat Cinta, ternyata benar kata orang tua, rezeki suami akan ngalir kalau suami memuliakan istrinya," kata Ara saat dalam mobil di perjalanan pulang.


"Sayang, kita juga bisa kok nanti seperti mereka. Bahkan bisa lebih, karena aku sangat mencintai kamu," ucap Leo tersenyum lalu mencium punggung telapak tangan Ara.


"Aku juga cinta sama kamu," balas Ara tersenyum.


...


Nadia tampak gelisah menanti kehadiran Rio, sudah satu jam ia menunggu Rio di cafe yang telah mereka sepakati, akan tetapi tunangannya itu belum juga tiba.


"Duh.... Rio kemana sih," gumam Nadia sambil terus mengotak atik ponselnya, berulang kali mencoba menghubungi Rio tetapi tidak di jawab bahkan saat ini ponselnya tidak aktif.


Karena takut terjadi sesuatu terhadap calon suaminya, akhirnya Nadia memutuskan untuk pergi dari cafe dan menuju ke rumah Rio.


Tidak lama kemudian, Nadia telah tiba di rumah Rio, di lihatnya mobil Rio yang ada di depan rumah.


"What.....? Jadi Rio benar-benar masih ada di rumah," gumam Nadia.

__ADS_1


Tok.. Tok.. Tok.. Nadia mengetuk pintu rumah Rio, sama sekali tidak ada jawaban apa lagi yang membukakan pintu untuknya.


"Rio......." Teriak Nadia.


Sementara itu Rio yang sedang bermimpi Indah itu terbangun karena mendengar suara teriakan memanggil namanya.


Perlahan Rio mengerjap-ngerjapkan matanya, di lihatnya ruangan yang tadinya masih terang kini menjadi gelap.


Ting.. Tung.. Tok.. Tok.. Tok.. "Rio, buka pintunya," lagi-lagi suara bel, ketukan pintu dan teriakan terdengar di telinga Rio.


"Nadia? Jam berapa ini...?" Gumam Rio. Ia meraih ponselnya yang ternyata kehabisan daya.


"Gawat," gumam Rio setelah mengingat janjinya akan bertemu dengan Nadia pukul 7 malam, sementara sekarang sudah pukul 8.30 malam.


Rio berjalan tergesa-gesa dan meraba untuk menghidupkan lampu seluruh ruangan, hingga ia tiba di depan pintu utama dan segera membukanya.


"Sayang," gumam Rio tersenyum, sedangkan Nadia tampak cemberut menahan amarahnya. "Please jangan marah dong, aku bisa jelasin," pintanya.


"Kamu lupa ya sama janji kita?" Tanya Nadia.


"Sini masuk dulu, gak enak kalau tetangga lewat," kata Rio sembari menarik tangan Nadia masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf aku ketiduran Sayang, capek banget pulang kerja tadi, niatnya istirahat sebentar, eh malah ketiduran dan kebablasan sampai malam gini. Aku juga gak tau kalau hp aku mati, maaf ya Sayang," ucap Rio yang terus memujuk sang pujaan hati.


"Tau ah, aku udah dandan cantik-cantik gini, nungguin kamu satu jam di cafe, eh gak taunya kamu malah enak-enak tidur di rumah, jahat banget sih," rengek Nadia.


"Sayang, aku gak mungkin sengaja ngelakuin itu. Mana mungkin aku sengaja melewatkan waktu berdua sama kamu, bahkan aku ingin dua puluh empat jam bareng sama kamu terus, apalagi dua hari lagi kamu bakalan balik lagi ke Amrik," kata Rio.


"Tuh tau, tapi kenapa ini bisa terjadi sih. Aku marah pokoknya sama kamu," gerutu Nadia yang mengerucutkan bibirnya.


Cup.... Tiba-tiba saja Rio menempelkan bibirnya dia atas bibir Nadia, ia gemas melihat tingkah tunangannya yang sedari tadi mengomeli dirinya.


Nadia sangat terkejut, akan tetapi ia juga membalas ciuman tersebut dan melingkarkan tangannya di leher Rio, segera saja Rio membaringkan gadisnya itu di atas sofa agar ciuman yang mereka lakukan semakin leluasa dan terasa panas, hingga Nadia yang mulai kesulitan untuk bernafas, barulah Rio melepaskan ciuman tersebut.


"Sayang, aku gak akan lepasin kamu malam ini," bisik Rio yang membuat Nadia membelalakkan matanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2