
"Tante, malam tante," ucap Leo dengan perasaan malu, begitupun juga dengan Ara yang segera menjauh dari Leo dan mendekati maminya.
"Malam juga Leo, kamu gak masuk dulu?" Kata bu Maria sambil tersenyum karena tahu bahwa anak dan calon menantunya itu sedang menahan malu.
"Makasih Tante, tapi mungkin lain kali. Leo mau langsung pulang karena udah malam Tante, kasian Ara juga mau istirahat Tan," kata Leo.
"Oh gitu, ya sudah deh. Salam ya buat mami kamu" kata bu Maria.
"Iya Tan, entar Leo sampaikan. Leo pamit dulu ya," kata Leo lalu menyalami dan mencium punggung telapak tangan bu Maria.
"Ya Leo, hati-hati ya," pesan bu Maria.
"Iya Tante," jawab Leo. "Sayang, aku pamit ya," kata Leo kepada Ara.
"Iya Sayang, bye," ucap Ara.
"Bye Sayang, Tante," ucap Leo pula.
Lalu Leo pergi dan berlalu dari pandangan Ara dan maminya.
"Yuhu, ada yang ketangkap basah nih," ledek bu Maria sambil tersenyum.
"Ih, Mami gitu deh ngeledek anaknya aja," kata Ara yang wajahnya memerah karena malu.
"Sama Maminya sendiri malu-malu, yuk masuk," ajak bu Maria.
"Iya Mi yuk," jawab Ara lalu menggandeng tangan maminya bersama-sama masuk ke dalam rumah.
"Oh ya Sayang, tadi kan Mami telpon-telponan sama tante Amara, dia titip salam buat kamu," kata bu Maria.
"Oh gitu, Mami ngapain telponan sama tante Amara?" Tanya Ara.
"Memang kenapa? Tidak masalah dong mami telponan sama sahabat Mami," kata bu Maria dan bukannya menjawab pertanyaan Ara.
"Di tanya malah balik nanya, iya gak masalah kok Mi, tapi Ara tau kok paling yang Mami bahas sama tante Amara itu soal tante Tania," kata Ara.
"Ya, kamu benar Sayang," ungkap bu Maria dan tampak sedih.
"Mami jangan sedih ya, Ara doain hubungan persahabatan antara Mami, tante Amara dan tante Tania lekas membaik ya Mi," kata Ara.
"Makasih ya Sayang. Mami juga tidak menyangka ternyata cowok yang kemaren ke rumah itu, siapa namanya?" Tanya bu Maria.
"Rolan Mi," jawab Ara.
"Nah iya, rupanya dia itu anaknya Tania sahabat lama Mami," kata bu Maria.
__ADS_1
"Iya Mi, Ara juga gak nyangka," kata Ara pula.
"Ya sudah, kamu naik atas gih Sayang, bersih-bersih badan terus langsung istirahat! " Kata bu Maria.
"Ya Mi, Mami selamat istirahat ya, good night Mami sayang," ucap Ara lalu mencium pipi maminya.
"Good night too Sayang," balas bu Maria.
Lalu mereka sama-sama melangkahkan kaki menuju ke kamar masing-masing.
...
"Mas, Kek, ini minumannya," kata Cinta memberikan teh hangat yang baru saja ia buat untuk suami dan kakeknya yang sedang duduk di teras rumah pada pagi hari.
"Makasih ya Sayang," ucap Beni.
"Terima kasih Neng," ucap kakek Broto pula. "Dimana Mama kamu?" Tanyanya.
"Sama-sama Mas, Kek. Biasalah Kek jam segini ya belum bangun," jawab Cinta.
"Mama kamu itu ya, entah rencana apa lagi ya akan dia lakukan untuk mengganggu kalian. Besok sudah waktunya kalian ke Paris. Kakek yakin ada suatu rencana yang buat mama kamu masih tetap di sini, padahal sudah tiga hari tapi belum juga pulang.
"Aku juga feeling yang sama dengan kakek," kata Cinta.
"Sayang, gak boleh gitu ah. Gimanapun juga, itu orang tua kamu. Jadi jangan berpikiran negatif ya?" Kata Beni.
"Morning semua," ucap bu Lily.
"Pagi juga Ma," balas Beni. Sementara yang lain hanya diam.
"Apa? Mama? Kalau bukan karena sedang bersandiwara, malas sekali aku di panggil mama sama pria ini. Ingat Lily, harus main cantik," gumam bu Lily dalam hati.
"Nak Beni, terima kasih ya, cuma kamu yang mau balas ucapan Mama," ucap bu Lily.
"Iya Ma, ayo sini Ma sarapan bareng," ajak Beni, ia merasa senang karena selama tiga hari berada di Bandung, ibu mertuanya itu memperlakukannya dengan baik, meskipun itu hanya sandiwara yang tidak diketahui oleh Beni.
"Oh, iya Beni," jawab bu Lily.
"Sayang, teh buat mama mana?" Tanya Beni.
"Gak ada, suruh buat aja sendiri," jawab Cinta.
"Sayang, buatin gih!" Perintah Beni.
Dengan sangat terpaksa dan menunjukkan wajah kesalnya, Cinta pun pergi ke dapur untuk membuatkan teh.
__ADS_1
"Lily, kapan kamu akan pulang?" Tanya Kakek Broto.
"Pulang? Kenapa Papa ingin sekali aku pulang? Harusnya Papa senang dong karena di temani sama anak Papa satu-satunya," kata bu Lily.
"Kamu pikir Papa tidak tahu jika kamu punya tujuan tertentu. Selama ini kamu tidak pernah ingat sama Papa, sibuk dengan suami baru kamu itu," Kata kakek Broto.
"Kenapa ngomong gitu sih Pa? Tanya bu Lily.
"Memang seperti itu kenyataannya," kata kakek Broto.
"Tapi ini lagi di depan menantu aku Pa, harusnya gak usah lah buka-buka aib gitu," kata bu Lily.
"Jadi kamu bilang itu aib? Kamu malu depan menantu kamu, terus apa yang kamu lakukan kemaren di pesta itu memangnya tidak memalukan?" Tanya kakek Broto.
"Pa, aku kan udah minta maaf, Beni-nya saja sudah maafin aku kok," kata bu Lily. "Iya kan Ben?"
"Iya Ma," jawab Beni.
"Tuh kan Pa," kata bu Lily.
Lalu Cinta kembali membawakan minuman untuk bu Lily.
"Ini Ma teh-nya," kata Cinta.
"Terima kasih ya Sayang," ucap bu Lily dan tidak di gubris oleh Cinta.
"Neng Cinta, Beni, kalian jadi kan ikut Kakek ke kebun teh?" Tanya kakek Broto.
"Jadi dong Kek, yuk kita berangkat," jawab Cinta semangat, karena pada dasarnya Cinta malas ada di rumah bersama mamanya itu.
"Mama gak ikut?" Tanya Beni.
"Sayang, kamu ngapain sih?" Tanya Cinta.
"tidak Beni, Tante mau jaga rumah saja," jawab bu Lily yang tahu bahwa Nadia tidak mau mamanya ikut.
"Ya udah kami pergi dulu ya Ma," pamit Beni lalu pergi bersama Cinta dan kakek Broto.
"Selamat bersenang-senang di kebun teh, ini kesempatan aku buat cari dimana tiket itu," gumam bu Lily.
Bu Lily melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah lalu menuju ke kamar Cinta dan Beni. Saat itu pintu tidak di kunci, sehingga dengan mudah bu Lily masuk. Ia mulai mencari di laci-laci pada meja kecil samping kasur, hingga membongkar koper dan yang terakhir ia akan membuka tas kecil milik Cinta yang digantung di belakang pintu.
"Ehem, mau ngapain Ma?" Tanya Cinta.
Kedatangan Cinta yang tiba-tiba itu membuat bu Lily terkejut.
__ADS_1
...****************...