Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab_217


__ADS_3

"Kejutan apa lagi Mi...?" Tanya Ara.


"Nanti kalau sudah di dalam kamu juga bakalan tahu," jawab bu Maria.


Ara dan Leo beserta ibu mereka itu pun melangkahkan kaki masuk ke dalam restauran. Tiba-tiba langkah bu Amara terhenti dan di ikuti yang lainnya karena sedang mencari keberadaan orang yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Nah, itu dia sahabat Mami sama anaknya," ucap Bu Amara sembari menunjuk.


"Itu Tante Tania sama Rolan...?" Tanya Leo.


"Iya, yuk kita ke sana," ajak bu Amara.


Leo menarik tangan Ara dan berkata, "Sayang, kita keluar aja yuk."


"Eh, no... Kita ke sana sekarang," kata bu Amara.


"Katanya Mami mau arisan...?" Tanya Ara.


"Iya, Mami memang mau arisan sama Tante Amara dan Tante Tania," jawab bu Maria.


"Terus kenapa kita harus di bawa-bawa sih...?" Tanya Ara.


"Loh memang kenapa, lagian kamu senang kan bisa ketemu sama Leo," kata bu Maria.


"Iya, tapi males banget Mi mau ketemu Rolan," kata Ara.


"Mami juga katanya diundang makan malam sama teman lama, kenapa gak bilang kalau sama Tante Tania," kata Leo.


"Ya ampun hanya soal ini saja memang harus ya di perjelas, sekarang kita ke sana, tidak ada kabur-kaburan," ajak bu Amara lalu kembali berjalan, dengan sangat terpaksa Ara dan Leo pun mengikutinya.


Saat tiba di meja tujuan, Leo memegang erat tangan Ara, ia mau Rolan tahu jika Ara hanya miliknya, tidak ada celah untuk Rolan mendekati calon istrinya itu.


"Apa-apaan sih Leo, sok romantis banget pegangan tangan di depan umum kayak gini, sengaja banget ya mau panas-panasin gue," gumam Rolan dalam hati.


Mereka saling menyapa lalu duduk di tempat yang telah di sediakan.


"Leo, Ara kapan kalian akan menikah...?" Tanya bu Tania.


"Secepatnya Tante," jawab Leo tersenyum.


"Oh... Jangan lama-lama ya Leo, entar Ara keburu di samber sama cowok lain," ucap bu Tania asal, karena ia tidak tahu situasi yang sedang terjadi saat ini.


"Maksud Tante...?" Tanya Leo.

__ADS_1


"Eum.... Tante, sebenarnya Leo udah sering ngajak Ara nikah, tapi Ara masih punya satu keinginan yang belum tercapai sebelum nikah. Tante doain aja rencana kita buat menikah tahun depan terwujud," kata Ara, ia tahu jika Leo sangat tidak nyaman dengan perkataan bu Tania tadi.


"Oh gitu, aamiin. Tante doain ya semoga lancar semuanya," ucap bu Tania.


"Amiin, makasih Tante," ucap Ara, sedangkan Leo dan Rolan saling bertatapan tidak suka.


...


Ting.. Tung.. Suara bel rumah Arka.


Arka yang saat itu sedang menikmati makan malamnya, segera membukakan pintu karena hanya dia yang saat ini masih terjaga. Pak Boby dan ART di rumahnya sudah tidur.


"Malam Ar," sapa Sherin saat Arka tiba di depan matanya.


"Sherin, kamu ngapain sih malam-malam kesini...?" Tanya Arka yang tampak khawatir.


"Maaf, kamu gak suka ya aku ke sini ganggu kamu," ucap Sherin menundukkan wajah.


"Bukan gitu, heh... Sini masuk dulu," kata Arka dan menarik tangan Sherin masuk ke dalam rumah.


"Aku pulang aja ya, sebenarnya aku ke sini karena mau liat keadaan kamu aja, syukurlah kamu udah sembuh," kata Sherin sambil melihat luka-luka di wajah Arka yang telah memudar.


"Kamu sama sekali gak ganggu aku, kamu gak ngerti ya kalau aku itu itu lagi khawatir sama kamu. Kamu kenapa sih masih aja keluyuran malam-malam gini sendirian," kata Arka.


"Ya ampun Arka, ini masih jam 8 malam, kamu gak usah khawatir berlebihan gitu lah," kata Arka.


Sherin tersenyum dan menatap tajam mata Arka.


"Kamu ngapain natap aku kayak gitu...??" Tanya Arka.


"Aku mau nanya sama kamu," kata Sherin.


"Apa...?" Tanya Arka.


"Waktu kamu datang buat nolong aku malam itu, kenapa kamu bilang kalau aku wanitamu....?" Tanya Sherin.


"Lepaskan wanitaku!"


Arka teringat akan kata-kata yang ia ucapakan saat itu.


"Oh itu, aku cuma asal sebut aja," jawab Arka.


"Oh... Aku kira karena kamu memang menganggap aku seseorang yang penting dalam hidup kamu, ternyata aku salah, aku aja yang ke GR-an," kata Sherin yang tampak kecewa.

__ADS_1


"Ngomong apaan sih kamu. Oh ya udah malam nih, aku antar kamu pulang ya," kata Arka.


"Gak usah Ka, aku bisa pulang sendiri kok. Aku pulang dulu ya," kata Sherin lalu melangkahkan kaki ke arah pintu.


Sementara Arka hanya diam saja menatap punggung Sherin yang semakin menjauh dan keluar dari rumahnya. Ada sedikit kebingungan, ia tidak tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini.


"Begok.. Begok.. Bisa-bisanya sih Sher kamu beranggapan kalau Arka suka sama kamu," gumam Sherin, ia berjalan menyusuri jalan yang dingin dan sepi untuk mencari taksi.


Akan tetapi taksi tidak juga muncul, hingga sebuah mobil BMW berwarna hitam berhenti di depannya.


"Sher, ayo aku anterin pulang," ajak Arka yang menongolkan kepalanya di jendela mobil.


Sherin terlihat cuek dan pura-pura tidak mendengar panggilan Arka, hingga Arka pun keluar dari mobil dan menghampiri Sherin.


"Sher, kamu marah sama aku...?" Tanya Arka.


"Enggak," jawab Sherin.


"Kalau gak marah, napa kamu cuekin aku?" Tanya Arka lagi.


"Gak papa," jawab Sherin.


"Sekarang kamu mau masuk mobil aku sendiri, atau aku akan gendong kamu," kata Arka.


Sherin masih tampak cuek hingga Arka mulai mendekat dan benar-benar membopongnya.


"Arka, kamu ngapain sih. Turunin aku," teriak Sherin, akan tetapi Arka tidak menggubrisnya hingga meletakkan Sherin ke dalam mobilnya.


Sherin yang kesal itu di buat bingung oleh sikap Arka yang terkadang tampak cuek, tapi juga sangat perhatian.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam. Arka ingin memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hatinya, ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada Sherin.


Setibanya di rumah Sherin...


Kalau tujuan kamu cuma buat aku bingung, cuma buat aku berharap, mendingan kamu gak usah sok perhatian lagi sama aku," kata Sherin, lalu ia keluar dari mobil.


Sedangkan Arka masih terdiam tidak tahu harus berbicara apa, ia masih menetralisir perasaanya.


"Dan satu hal lagi, kita gak usah ketemu lagi," kata Sherin lagi lalu menutup pintu mobil dan melangkahkan kaki menuju ke rumahnya.


Arka menghembuskan nafas kasar, ia mencoba tenang, lalu keluar dari mobil dan mengejar Sherin.


"Sherin," panggil Arka lalu menarik tubuh Sherin ke dalam tubuh Sherin. Sherin yang terkejut itu berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari pelukan Arka.

__ADS_1


"Please jangan di lepas, biarin aku peluk kamu sebentar aja buat yakinin perasaan aku," pinta Arka.


...****************...


__ADS_2