Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-282


__ADS_3

"Sayang, kamu harus bangun, kamu lupa ya kita kan mau nikah, kenapa kamu jadi seperti ini sih?" Ucap Ara lirih yang saat ini sedang berada di samping calon suaminya itu.


"Sayang, udah ya. Kamu jangan kayak gini terus dong, Mami yakin Leo akan baik-baik aja," ucap bu Maria yang terus berusaha menenangkan hati Ara. Bu Maria juga meraih tubuh anaknya itu kedalam pelukan hangatnya.


"Mi, sampai kapan Leo harus kayak gini? Gimana bisa Mami bilang Leo nggak kenapa-napa, sementara sekarang ini Leo nggak sadar Mi. Siapa yang udah berani mukulin Leo kayak gini? Apa salah Leo Mi? Seminggu lagi kami mau nikah, tapi kalau keadaannya kayak gini pernikahan kita pasti bakalan gagal," ucap Ara dengan linangan air mata.


"Entahlah siapa yang tega melakukan ini, tapi Pak Ardi udah mencari tau tentang ini semua. Dia udah melaporkan tentang kejadian ini ke Polisi, Mami yakin dalam waktu cepat polisi akan menemukan siapa pelakunya dan apa motif dari ini semua," kata bu Maria.


"Iya Mi, mudah-mudahan aja ya. Ara nggak tega banget liat Leo kayak gini Mi, Ara juga nggak akan pernah maafin orang yang udah tega ngelakuin ini sama Leo. Liat aja Ara bakalan balas ini semua," kata Ara dengan tatapan penuh dendam.


"Ara Sayang, Mami ngerti sama perasaan kamu. Tapi sifat pendendam itu bukanlah sifat kamu, Mami tau betul siapa kamu. Udah ya kita serahkan aja ini semua kepada Polisi, Polisi akan memberikan hukuman yang setimpal sama orang-orang yang telah mencelakai Leo," kata bu Maria. "Tugas kita saat ini mendoakan untuk kesembuhan Leo, mudah-mudahan Leo cepat sadar, cepat sehat dan pernikahan kalian tidak akan gagal."


"Iya Mi," jawab Ara diiringi anggukkan kepalanya.


"Leo … Leo …," panggil bu Amara, ia Yang telah sadar dari pingsannya langsung saja berlari menuju ke ruang ICU untuk melihat keadaan anaknya.


Bu Maria dan Ara langsung melerai pelukan mereka, lalu menenangkan bu Amara.


"Ra, kamu yang sabar Ra, Leo pasti akan baik-baik aja," ucap bu Maria.


"Tante," ucap Ara lalu memeluk ibu dari tunangannya itu.


...


"Kalian semua udah dengar kan apa yang terjadi sama Leo saat ini?" Tanya Bryan kepada Rio, Arka dan juga Beni. Mereka berempat memang janjian untuk bertemu saat istirahat makan siang.


"Iya, gue udah dengar," jawab Arka dan diikuti juga oleh yang lainnya.


"Menurut kalian, siapa yang udah berani melakukan ini terhadap Leo?" Tanya Bryan lagi.

__ADS_1


"Entahlah, yang jelas ini orang punya dendam pribadi sama Leo," jawab Rio.


"Tapi siapa? Setau gue Leo itu nggak pernah buat masalah sama siapapun," kata Arka.


"Ya menurut gue juga kayak gitu, Leo itu orang yang baik. Tapi mungkin aja ya karena kebaikannya itulah yang bikin orang jadi tidak menyukainya," sambung Beni.


"Apaan sih Ben, siapa coba yang nggak suka sama orang baik," celetuk Rio.


"Ya pasti ada aja lah orang yang nggak suka dengan orang baik, yang jelas orang itu pasti orang jahat," kata Beni membela diri.


"Makin gak jelas lo Ben, gue rasa mungkin ada sikap Leo yang menyinggung perasaan orang itu, atau mungkin saingan bisnisnya," kata Arka.


"Nah gue juga berpikir kayak gitu, apa mungkin ya kalau orang ini sakit hati sama Leo karena sesuatu yang Leo lakukan," sambung Bryan.


"Tapi apa? Apa yang saat ini Leo lakukan sampai-sampai ada orang yang tidak suka dan membuatnya jadi seperti itu?" Tanya Rio.


"Ini dia yang harus kita selidiki. Gimana kalau pulang kerja nanti kita langsung ke rumah sakit? Aku rasa Ara tau sesuatu, kita bisa cari tau masalah ini sama Ara," ujar Arka.


"Ya aku juga setuju," ucap Beni.


"Tapi bukannya Polisi juga sedang menyelidiki tentang ini semua," kata Rio tiba-tiba yang membuat ketiga sahabatnya itupun menatapnya.


"Lo tau dari mana?" Tanya Bryan.


"Dari Tante Maria," jawab Rio.


"Oh iya, gue lupa kalau lo deket ya sama Tante Maria," kata Bryan.


"Iya, malah hampir jadi menantunya gue, tapi nggak jadi," kata Rio bercanda.

__ADS_1


"Malah bercanda lagi, orang lagi serius juga," kata Beni.


"Ini juga serius kali Ben, siapa juga yang bercanda," hardik Rio.


"Udah-udah, kenapa jadi berdebat sih kalian, pokoknya kita sepakat ya, nanti abis pulang kerja kita semua ke rumah sakit buat jengukin Leo sekalian kita korek informasi dari Ara," kata Arka.


"Iya-iya, terus para wanita kita gimana dong, diajakin apa gak?" Tanya Bryan.


"Bryan, nggak harus juga kali ke mana-mana bawa wanita, biar kita berempat aja yang ke rumah sakit. Lagian kan Istri lo di rumah ada temennya, ada ibu dan anak lo kan? Istri gue juga baru siap melahirkan, nggak mungkinlah gue ngajak Cinta," kata Beni.


"Iya kan kita biasanya juga pergi bareng sama wanita kita masing-masing," kata Bryan membela diri.


Sementara Arka saat itu hanya tertunduk, ia teringat akan hubungannya dengan Sherin yang sampai saat ini belum ada titik terang. Begitu juga dengan Rio, ia baru saja kehilangan Nadia wanita yang sangat dicintainya dan hampir menjadi istrinya. Beni dan Bryan saling berpandangan, mereka pun ikut terdiam dan menyadari bahwa perkataan mereka tadi mungkin telah menyinggung perasaan dua sahabat yang ada di depan mata mereka. Mereka teringat akan kesedihan yang saat ini sedang mereka alami.


"Arka, Rio, kalian berdua kenapa jadi pada diem gitu sih, nggak asik banget," kata Bryan.


"Iya, kenapa jadi pada diam lo berdua? Kita tadi kan lagi ngebahas Leo. Udahlah kalian berdua nggak usah sedih-sedih kayak gitu, namanya juga masalah hidup, kita semua pasti pernah kok mengalaminya," sambung Beni.


"Iya, kali ini gue setuju sama Beni," kata Bryan.


"Gue nggak papa kok," kata Arka.


"Gue juga nggak apa-apa," kata Rio pula.


"Eh gue denger-denger lo lagi deket sama adiknya Arka ya Yo?" Tanya Bryan yang memecah suasana, agar mereka melupakan kesedihan mereka itu.


"Enggak, siapa bilang? Gue cuma temenan biasa aja kok sama Aria," jawab Rio.


"Ah masa, atau lo takut ya mau mengakui depan Kakaknya Aria. Lo jangan galak-galak dong Ka, kasihan Adik lo ntar nggak laku," kata Beni sembari melirik Arka.

__ADS_1


"Apaan sih lo, kalau Rio dan Aria dekat atau jadian itu hak mereka lah, tapi gue cuma nggak mau kalau adik gue dijadiin pelampiasan aja," kata Arka sembari melirik Rio yang membuat Rio sontak menatap ke arahnya.


...****************...


__ADS_2