Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-322


__ADS_3

Hingga tanpa sadar Ara pun terlelap begitu saja di dalam pelukan sang suami. Begitu juga dengan Leo, setelah melihat istrinya itu tertidur pulas di dalam dekapannya, ia pun ikut memejamkan mata dan terlelap hingga pagi hari menyapa.


...


"Bego, bego, bego," ucap Rio seraya memukuli kepalanya dengan tangan kiri. "Rio … Rio, kenapa sih sampai sekarang kamu itu nggak bisa memastikan gimana perasaan kamu sama Aria? Come on dong Yo, Nadia itu udah pergi lama, masa iya kamu nggak bisa move on juga. Sadar dong Yo, Nadia nggak akan pernah bisa kembali lagi. Sekarang udah jelas-jelas ada Aria yang sayang sama kamu, yang perhatian sama kamu dan kamu udah tau kalau Aria itu mencintai kamu. Aria juga wanita yang cantik, baik, mandiri, nyaris sempurna," kata Rio yang terus aja berbicara sendiri.


Ia benar-benar merasa jadi pria yang paling bodoh sedunia karena tidak bisa menghargai wanita yang benar-benar tulus mencintainya dan ada didepan matanya demi wanita yang sudah pergi untuk selama-lamanya.


Saat ini Rio sedang berada di dalam perjalanan menuju ke perusahaan, ia bingung apa yang harus dikatakan dan bagaimana dia harus bersikap saat bertemu Aria di kantor nanti. Dalam hatinya merasa begitu sangat bersalah karena mungkin memang benar jika dia sudah mengabaikan Aria selama ini dan hanya mementingkan perasaannya sendiri tanpa memikirkan perasaan Aria.


Karena terus saja memikirkan Aria selama di dalam perjalanan, tanpa disadari kini ia telah tiba di perusahaan. Dilihatnya juga Aria yang baru saja turun dari mobil Arka dan hendak masuk ke dalam perusahaan. Arka yang biasanya menyapanya pun kali ini benar-benar sama sekali tidak menganggapnya ada dan pergi berlalu begitulah saja. Wajar saja jika Arka bersikap seperti itu, ia tidak terima adik satu-satunya dipermainkan oleh orang lain. Jika Rio ada di posisi Arka, sudah pasti dia akan melakukan hal yang sama seperti Arka lakukan.


Rio segera saja memarkirkan mobilnya, lalu ia turun dari mobil dan masuk ke dalam perusahaan menyusul Aria. Ia hanya dapat berjalan pelan di belakang Aria tanpa berani untuk menegurnya saat ini, terlebih lagi Aria sendiri mengatakan bahwa ia tidak mau membahas hal-hal lain dulu selain pekerjaan.


"Pagi Pak," sapa Aria saat ia mengantarkan sebuah berkas kepada Rio.


Wajah datarnya masih terlihat jelas karena kekecewaannya terhadap Rio. Senyuman manis yang biasa ia berikan untuk Rio, kini bagaikan lenyap di telan bumi.


"Pagi juga Aria," balas Rio yang agak gugup.


"Ini pak berkas yang Bapak minta, semua materi meeting sudah selesai. Saya sudah mempersiapkan semuanya di sini," kata Aria.


"Ya, terimakasih ya Aria, saya akan mempelajarinya sebentar. Nanti siang kita meeting dimana?" Tanya Rio.

__ADS_1


Padahal dia sudah tahu, tapi hanya ingin berbasa-basi saja agar dapat berbicara kepada Aria dan memecahkan suasana canggung saat ini.


"Di Restauran Purnama Pak. Pak Andri meminta kita meeting di sana agar dapat menikmati makan siang bersama sekalian," jawab Aria.


"Oh baiklah, kalau gitu nanti siang kita pergi ke sana bareng aja ya seperti biasa," kata Rio.


"Iya Pak, baik," jawab Aria. "Saya permisi dulu Pak," ucapnya dan ditanggapi anggukan kepala oleh Rio.


Dalam hatinya merasa sangat senang karena tidak ada penolakan dari Aria. Meskipun ini hanyalah dalam pekerjaan, paling tidak Aria masih mau pergi satu mobil bersama dengannya. Sedangkan Aria sendiri sama sekali tidak menolak permintaan Rio karena biasanya dia juga menerimanya dengan senang hati meskipun kali ini dalam keadaan yang berbeda. Ia benar-benar bertekad akan melupakan Rio, karena bagaimanapun juga usaha apapun yang dia lakukan, Rio sama sekali tidak akan pernah memberikan kesempatan untuknya mengisi hati Rio. Aria tidak ingin mempunyai perasaan yang lebih dalam lagi untuk Rio, karena menurutnya perasaannya yang sekarang saja sudah sangat menyiksa karena tidak mendapat balasan apapun dari pria yang dicintainya itu.


...


"Sepertinya ada yang aneh, kenapa ya setiap malam sehabis meminum kopi dari Bi Minah kita menjadi ngantuk dan kompak tidur," kata salah satu bodyguard rumah pak Hernandes kepada satpam yang menjaga rumahnya juga.


"Iya benar kata kamu, kita semua yang berjaga di rumah ini sama-sama tidur dan terbangun pada keesokan harinya. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres," kata satpam.


"Iya kamu benar," kata bodyguard 1.


"Dan yang saya heran, kenapa setiap kita tidur malam sehabis diberi kopi sama Bi Minah, dari situ sampai pagi rekaman CCTV-nya selalu saja hilang seperti diretas oleh seseorang. Sepertinya ini memang ada yang tidak beres," kata satpam .


"Nah itu kan biasanya terjadi setiap seminggu sekali dan ini sudah seminggu yang lalu. Bagaimana kalau malam ini kita selidiki saja, seandainya Bi Minah memberi kita kopi lagi, kita pura-pura saja meminumnya, tapi kopi itu kita buang dan setelah itu kita pura-pura tertidur. Bagaimana?" Usul bodyguard 1.


"Ya, ide kamu boleh juga Mas. Saya setuju," kata satpam.

__ADS_1


"Ya sudah, kita lihat saja nanti malam," kata bodyguard 2.


Tanpa sengaja, ternyata pembicaraan mereka itu didengar oleh bi Minah yang saat itu kebetulan sedang lewat hendak membuang sampah. Ia pun mengurungkan niatnya untuk membuang sampah tersebut dan kembali masuk ke dalam untuk menemui nyonya-nya.


Tok … tok … tok …


Bi Minah mengetuk pintu kamar sang Nyonya.


Bu Tania bergegas membukakan pintu dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam, karena ia tahu jika bibi akan menyampaikan hal yang sangat penting, sedangkan di luar kamar sudah ada pantauan CCTV yang langsung terhubung dengan ponsel pak Hernandes. Tidak dengan kamar bu Tania, bu Tania melarang untuk memasang CCTV di kamar karena sangat privasi meskipun suaminya sendiri yang melihatnya. Bibi pun tidak bodoh dengan datang ke kamar nyonya-nya begitu saja. Ia berpura-pura membawakan makan siang untuk tuan rumahnya itu.


"Ada apa Bi?" Tanya bu Tania.


Lalu bibi pun menceritakan apa yang tadi barusan saja ia dengar di depan, tentang percakapan satpam dan bodyguard-nya itu.


"Terima kasih ya Bi, ini sangat penting sekali informasinya. Berarti kita harus mengatur rencana lain, karena rencana yang sudah kita gunakan sudah tidak akan berfungsi lagi. Mereka sudah curiga dengan kita," kata bu Tania.


"Iya Bu, terus bagaimana kalau seandainya pak Hernandes akan menyelidiki ini semua dan menanyakannya langsung sama kita Bu?" kata bi Minah.


"Sudah, Bibi tenang aja ya. Bibi nggak perlu takut, saya janji akan selalu melindungi Bibi dan Bibi tidak akan pernah terkena masalah ini," ucap bu Tania meyakinkan asisten rumah tangganya itu.


...****************...


Hai para readers tersayang, sambil nunggu aku up kiranya sudi mampir di karya aku yang lain.

__ADS_1


Jangan lupa like, coment ya, terimakasih. 🥰😘



__ADS_2