
"Cantik Sayang, cantik banget," puji Leo yang membuat Ara tersipu malu.
"Pantesan aja serius banget natapnya, sampai tercengang kayak gitu, orang cantik banget," kata bu Amara.
"Iya dong, anak aku itu," kata bu Maria membalas perkataan bu Amara yang tadi.
"Iya, iya tau. Calon menantu aku itu," kata bu Amara.
"Mami, Tante, udah dong. Kan Ara jadi malu," kata Ara.
"Kenapa juga harus malu, memang kamu cantik kok," kata bu Amara.
"Calon istri siapa dulu, calon istri Leo," ucap Leo dengan bangganya.
"Iya deh iya. Dua Minggu lagi kalian bakalan jadi suami istri yang sah," kata bu Amara.
"Iya, pokoknya Leo jadi milik Ara dan Ara jadi milik Leo deh," sambung Bu Maria yang membuat Ara dan Leo tersenyum.
Saat Bu Maria dan Bu Amara sibuk dengan urusan pernikahan anak mereka, berbeda halnya dengan bu Tania yang saat ini sedang sibuk mengurus cucunya. Karena dia sendirilah yang meminta untuk tinggal bersama di kediaman Beni, agar dapat membantu merawat cucunya itu.
"Ra, Tania ngabarin ke aku kalau dia sekarang udah tinggal di rumahnya Cinta dan Beni," kata bu Maria.
"Oh ya, bagus dong. Nggak nyangka banget ya kalau Cinta itu selain mau menerima Tania sebagai Nenek dari anaknya, dia juga mengizinkan Tania untuk tinggal di rumahnya," kata bu Amara.
"Iya, beruntung banget Tania. Cinta juga beruntung bisa mempunyai suami sebaik Beni yang sudah menerima dia apa adanya juga menerima Tania tentunya," sambung bu Maria.
"Memang Tante Tania beneran udah tinggal di rumah Cinta ya Mi, Tante?" Tanya Ara yang tidak sengaja mendengar percakapan antara ibu dan ibu mertuanya itu.
"Iya sayang, nih Tante Tania baru aja kabarin Mami," jawab bu Maria.
"Oh gitu, syukurlah, jadikan Cinta juga ada temennya kan," kata Ara.
"Iya Sayang," jawab bu Maria.
__ADS_1
"Oh iya, kalian udah pada ngeliat anaknya Cinta belum?" Tanya bu Amara.
"Belum Mi, kita belum sempat. Rencananya kalau nggak hari ini sih, ya besok," jawab Leo.
"Iya bener Tante, rencana kita sih hari ini kalau udah selesai fitting," jawab Ara pula.
"Ya udah, kalau gitu kita barengan aja gimana? ya kan Mar?" Tanya bu Amara.
"Iya boleh-boleh, kita barengan aja," jawab bu Maria.
"Iya Tante, itu ide yang bagus," kata Ara.
"Ya udah cepetan kalian ganti baju lagi, terus kita berangkat ke rumahnya Cinta," kata Bu Maria.
"Beli oleh-oleh dulu dong Mi, masa iya kita pergi dengan tangan kosong," kata Ara.
"Iya sayang, Mami juga tahu. Ya yang jelas tujuan kita mau ke sana lah," kata bu Maria dan semuanya tersenyum.
...
"Kamu benar-benar sudah buat Papi kecewa Tama, kamu bilang kamu akan menemui Pak Jackson, tapi nyatanya apa? Sampai sekarang kamu tidak bisa kan bertemu dengan beliau," kata pak Tedy.
"Tapi aku udah berusaha untuk bertemu dengan Pak Jackson Pi, bahkan aku sama sekali tidak terlambat. Pak Jackson aja yang kayaknya memang sengaja mau menghindar dari aku Pi," kata Tama.
"Ah sudahlah, kamu itu terlalu banyak beralasan. Dalam waktu satu bulan ini, jika kamu tidak bisa mengembalikan kepercayaan Pak Jackson, jangan harap kamu akan tetap berada di sini," ancam Pak Tedy. "Lalu bagaimana dengan Pak Ardi? Kamu sudah menemui anaknya di perusahaan itu?" Tanyanya.
Tama terdiam, teringat pada saat itu ia ke perusahaan Pak Ardi dan bertemu dengan salah musuhnya. Dan yang membuatnya lebih syok lagi ternyata orang itu adalah CEO di perusahaan itu dan merupakan anak dari pemilik perusahaan Pak Ardi.
Flashback on...
"Wow ternyata ada CEO dari Perusahaan Jaya Group yang datang ke sini, sungguh suatu kehormatan bagi saya," kata Leo menyambut kedatangan Tama.
"Jadi Anda CEO dari perusahaan ini?" Tanya Tama yang begitu syok.
__ADS_1
"Iya benar. Kenapa Anda keliatan sangat terkejut Bapak Tama?" Jawab Leo.
"Jadi apa alasan Anda memutuskan kerjasama dengan perusahaan saya?" Tanya Tama yang terlihat mulai emosi.
"Maksud Anda? Saya tidak mengerti maksud dari perkataan Anda, lebih baik Anda duduk dulu dan berbicara santai sama saya," kata Leo sembari mempersilahkan Tama duduk di kursi seberangnya.
Akan tetapi Tama tidak mau duduk, melainkan semakin mendekati Leo, "Kalau kamu punya dendam pribadi sama saya, seharusnya kamu tidak melibatkan ini dengan perusahaan."
"Oh … jadi ini permasalahannya. Yang memutuskan kerjasama dengan perusahaan Anda itu adalah pemilik perusahaan ini yaitu orang tua saya, pak Ardi," ucap Leo dengan santai, meskipun lawan bicaranya itu terlihat emosinya sedang menggebu-gebu.
"Tidak salah lagi, ini semua pasti karena ulah Anda. Anda kan yang sengaja mau bikin perusahaan saya bangkrut," tuduh Tama.
"Maaf pak Tama, saya tidak seperti Anda yang mau membuat perusahaan orang lain tidak bersalah menjadi bangkrut, seperti apa yang sudah Anda lakukan terhadap perusahaan Arka," kata Leo. "Seharusnya Anda itu sadar, Anda juga sudah melakukan kecurangan-kecurangan selama ini, Anda pasti tidak menyangka kan jika para investor besar sudah mencurigai kelakuan Anda sejak awal," kata Leo.
Tentu saja Tama sangat syok mendengar akan hal itu, bagaimana mungkin Leo bisa mengetahui tentang ini semua? Tanpa banyak tanya pun ia segera saja pergi meninggalkan perusahaan Leo.
Flashback off.
"Tama, kenapa kamu diam saja? Papi ini sedang bertanya sama kamu," kata Pak Tedy.
"Iya Pi, aku belum sempat, karena kemarin aku masih fokus untuk bertemu dengan Pak Jackson terlebih dulu. Papi sendiri juga kan yang bilang kalau saham Pak Jackson di perusahaan kita lebih kuat," jawab Tama.
"Iya memang benar, tapi bukan berarti kamu juga bisa mengabaikan Pak Ardi dong, kamu juga harus segera bertemu dengan Pak Ardi atau anaknya," kata Pak Tedy.
"Baik Pi, besok aku akan menemui Pak Ardi ataupun anaknya," jawab Tama.
"Apa? Besok kamu bilang, hari ini juga Papi tidak mau tahu kamu harus ke sana," kata pak Tedy.
"Baik Pi," jawab Tama, ia terpaksa mengiyakan. Bagaimana jika sampai pak Tedy tahu bahwa CEO dari perusahaan Pak Ardi adalah musuhnya dan mengetahui apa yang telah ia lakukan terhadap perusahaan Arka? Sudah jelas pak Tedy pasti akan murka kepadanya.
Tama tampak berpikir dan memutar otaknya, apa yang harus ia lakukan untuk datang kembali ke perusahaan milik pak Ardi, tentunya ia juga akan bertemu kembali dengan Leo musuhnya.
...****************...
__ADS_1