Pria Tampan Dari Dunia Lain

Pria Tampan Dari Dunia Lain
Bab-314


__ADS_3

Bu Tania terjungkal begitu saja karena tamparan keras dari suaminya itu. Ia pun merintih kesakitan karena selain sudut bibirnya yang terluka, tubuhnya juga merasakan sakit terhempas di lantai. Pak Hernandes begitu terkejut melihat keadaan istrinya saat ini, dia tidak menyangka jika emosinya itu telah mencelakai istrinya sendiri. Dia pun langsung saja menghampiri bu Tania dan ingin menolongnya.


"Mami maafkan Mas ya," ucap pak Hernandes dengan wajahnya yang terlihat sangat khawatir. Ia pun memegang tangan Bu Tania ingin membantunya untuk berdiri.


"Lepaskan! Jangan sentuh aku Mas," ucap bu Tania dengan suara lantang dan tatapan tajam, ia merasa sangat kecewa terhadap suaminya itu.


"Tapi Mi, itu bibir kamu berdarah. Biar Aku obati ya," kata pak Hernandes.


"Nggak perlu, aku bisa kok obati sendiri," tolak bu Tania sembari memegangi pipi dan juga sudut bibirnya yang saat itu terasa sangat perih.


Bu Tania lebih memilih untuk meminta tolong kepada pembantunya yang kebetulan lewat dan melihat nyonya rumahnya terjungkal di lantai. Tadinya bibi ingin pergi karena tidak mau ikut campur urusan keluarga tuannya, akan tetapi karena bu Tania yang memanggil, akhirnya ART-nya itu pun mendekat dan membantunya untuk berdiri.


"Semua ini juga salah kamu, kalau kamu nurut apa yang aku katakan, tidak membantah, aku tidak mungkin melakukan ini," kata pak Hernandes. Dia tetap saja tidak mau disalahkan meskipun sang istri telah terluka karena sikap arogannya.


"Lebih baik kamu diam. Akh … ," rintih bu Tania karena merasa kesakitan saat berbicara kuat. "Ayo Bi kita ke kamar sekarang," katanya. Lalu Bibi pun memapah sang nyonya menuju ke kamarnya.


Saat di kamar, bibi segera keluar mengambil kotak P3K dan juga es batu untuk mengompres serta mengobati luka yang saat ini di alami bu Tania. Selesai mengobati, bibi langsung saja meninggalkan kamar bu Tania.


Setelah bibi pergi dari kamarnya, bu Tania memilih mengunci pintu kamar agar pak Hernandes tidak dapat masuk ke kamar dan mengganggunya.

__ADS_1


Tok … tok … tok …


"Tania … buka pintunya!" Teriak pak Hernandes sembari mengetuk pintu.


Bu Tania sama sekali tidak menggubrisnya, ia menutup telinganya menggunakan kedua tangan agar sama sekali tidak mendengar ocehan suaminya itu. Saat ini ia benar-benar marah dan kecewa terhadap pak Hernandes serta tidak ingin bertemu dengannya. Pak Hernandes yang mengerti akan kekecewaan yang bu Tania rasakan memilih untuk pergi dan membiarkan istrinya untuk tenang terlebih dahulu, ia berharap jika esok pagi bu Tania akan memaafkannya dan mau ikut bersama dengannya pergi ke luar Negeri.


Akan tetapi ternyata dugaan Pak Hernandes itu salah, keesokan harinya pun bu Tania tetap tidak mau membuka pintu untuk pak Hernandes. Bu Tania sudah menyiapkan semua keperluan pak Hernandes yang diletakkannya di depan pintu kamar. Sedangkan koper yang akan dibawa pak Hernandes sudah berada di dalam mobil sejak tadi malam sebelum pertengkaran dengan sang istri terjadi di ruang keluarga.


Karena jadwal penerbangan sudah sangat dekat, akhirnya pak Hernandes pun segera saja pergi. Kali ini ia mengalah, karena menurutnya sikapnya yang semalam dilakukannya itu sangat keterlaluan. Akan tetapi bukan berarti bu Tania bebas, ia tetap menyuruh supir sekaligus asisten bu Tania untuk selalu mengawasi istrinya dan memberi kabar kepadanya setiap saat. Tidak hanya itu, sikap pak Hernandes kali ini semakin menjadi-jadi, ia telah mengutus dua Bodyguard untuk berjaga-jaga di depan rumahnya. Karena ia tidak mau bu Tania akan keluar dari rumah untuk menemui Cinta dan Beni, atau Cinta dan Beni lah yang datang berkunjung ke rumahnya menemui bu Tania.


...


"Mi, Leo udah pergi kerja ya?" Tanya Ara saat dia baru saja terbangun, sementara waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi.


"Udah Sayang, suami kamu udah pergi dari jam 07.30 tadi," jawab bu Amara.


"Oh … maaf ya Mi, Ara sekarang jadi suka bangun siang. Habisnya larut malam Ara baru bisa tidur, terus kalau bangun pagi itu rasanya mual banget, kepala Ara juga pusing," ucap Ara.


"Sayang, itu nggak jadi masalah kok buat Mami, kenapa juga kamu harus minta maaf? Mami mengerti. Waktu Mami hamil Leo dulu juga sama seperti kamu, bahkan Mami sampai sempat masuk ke rumah sakit loh gara-gara Mami terlalu lemah. Kalau kamu ini masih tergolong kuat, mual-mual itu biasa lah. Bawaan bayi itu memang beda-beda, yang penting anak dalam kandungan kamu baik-baik aja Sayang," kata bu Amara.

__ADS_1


"Iya Mi, tapi Ara kasian sama Leo. Ara jadi nggak bisa nyiapin sarapan untuk suami Ara atau menyiapkan semua keperluannya," ucap Ara.


"Ya nggak masalah dong. Leo itu udah gede, dia udah biasa menyiapkan segalanya sendiri. Cuma semenjak punya istri aja jadinya manja," kata bu Amara.


"Bukan manja Mi, tapi memang Ara yang mau menyiapkan semuanya. Kan itu juga udah menjadi kewajiban istri supaya dapat pahala," kata Ara.


"Iya kamu benar, itu seperti yang Mami lakukan bahkan semua istri melakukannya kok. Mami tadi cuma bercanda aja," kata bu Amara.


"Iya Mi. Mami udah sarapan?" Tanya Ara.


"Udah, Bibi yang siapin sarapannya. Oh ya kamu juga sarapan ya, Bibi juga udah bikinin kamu bubur," kata Bu Amara.


"Iya Mi boleh," jawab Ara.


Bu Amara membantu Ara untuk duduk, setelah itu ia pun menyuapi menantunya itu bubur yang sudah tersedia di dalam mangkok, memang Bibi tadi sudah mengantarkan makanan tersebut kira-kira baru sepuluh menit yang lalu sehingga bubur tersebut masih terasa hangat.


Baru saja satu suap bubur tersebut masuk ke dalam mulut Ara, ia langsung saja merasakan hendak muntah. Saat itu juga Ara pun memuntahkan bubur yang baru saja ditelannya ke dalam kantong plastik yang sudah disiapkan di samping tempat tidur Ara tersebut. Leo yang sudah menyiapkannya agar sang istri tidak kesusahan harus bangun menuju ke toilet. Dia hanya pergi ke toilet jika ada hal yang benar-benar mendesak.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2