
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Puluhan lelaki bertopeng kain hitam bersenjatakan kapak hijau berlari beramai-ramai menuju pusat Perguruan Cambuk Neraka. Namun, tidak ada seorang pun dari murid perguruan yang siap menyambut untuk adu nyawa. Mereka justru melihat mayat-mayat yang bergelimpangan. Ada pun orang hidup mereka lihat sedang berkumpul di teras pendapa yang jauh di dalam.
“Mana lawan kita?” tanya satu anggota Rombongan Kapak Hijau sambil berlari paling depan.
“Di atas!” teriak pemimpin pasukan sambil menunjuk ke atas. “Lempar!”
Mereka memang sudah melihat keberadaan satu sosok makhluk cantik yang melayang di udara. Tanpa mau mencari tahu bagaimana cara bisa melayang di udara tanpa tipu-tipu, para lelaki berpakaian hitam itu ramai-ramai melempar kapaknya ke atas.
Wut wut wut …!
Puluhan kapak hijau pun melesat berputar-putar mengudara, menyerbu sosok Permaisuri Dewi Ara.
Wut wut wut …!
Teb teb teb …!
“Aak! Akh! Akk …!”
Terkejutlah pasukan berkapak itu, karena semua kapak yang mereka lempar mengudara, mendadak berbalik arah tanpa izin dan tanpa mengurangi kecepatan.
Hasilnya pun mengerikan. Sebagian dari kapak-kapak itu menancap di kepala, bahu, dada, perut dan anggota tubuh para lelaki itu. Sebagian kapak lagi ada yang bisa ditangkap oleh pemiliknya sendiri dan ada yang lolos ke area kosong. Orang-orang yang terkena kapak ada yang langsung almarhum dan sebagian harus menderita kesakitan karena hanya sekedar terluka.
Para lelaki berkapak yang masih sehat bugar jadi berhenti karena mereka bingung harus bagaimana. Mereka bingung untuk menyerang Dewi Ara, jika serbuan kapak saja bisa dibalikkan dengan mudah.
“Bagaimana ini?” tanya salah seorang di antara mereka.
“Biarkan saja, kita serang ke dalam!” teriak satu orang yang punya ide.
“Ayo!”
Maka, puluhan orang-orang berkapak yang tersisa kembali melanjutkan larinya. Mereka mencoba mengabaikan sang permaisuri.
Seorang permaisuri diabaikan? Oooh, permaisuri mana yang mau diabaikan?
Bduk! Bdak! Bduk …!
“Akk! Ugh! Aw …!”
Kekacauan terjadi. Puluhan orang yang berlari itu tiba-tiba mengalami kecelakaan beruntun terbanyak di dunia. Mereka yang berlari tiba-tiba tidak bisa mengontrol larinya, mereka saling bertabrakan satu sama lain.
Kecelakaan massal itu jadi terlihat lucu. Ada yang adu jidat, ada yang adu kepala, ada yang adu perut, dan ada yang adu bokong. Bahkan ada yang adu mulut, alias tabrak muka. Tak ayal lagi, mereka semua saling jatuh bergelimpangan.
__ADS_1
Dengan perasaan yang kacau dan merasa menjadi orang-orang bego, para lelaki bertopeng itu kembali berusaha bangkit berdiri, meski sedikit sempoyongan sambil meringis di balik topeng masing-masing.
Dewi Ara membiarkan mereka semua kembali berdiri. Luka benturan tidak menjadi luka serius bagi para lelaki bertopeng itu, tapi juga bukan luka yang bercanda.
Bdak bdak bdak …!
Entah dari mana Dewi Ara mendapat inspirasi, sehingga ia punya ide tidak biasa. Dengan kekuatan ilmu Tatapan Ratu Tabir, tiba-tiba semua lelaki itu dibuat terbanting wajahnya ke tanah keras perguruan. Pemandangan itu terlihat seperti bunuh diri massal.
Namun, itu tidak sampai membuat orang-orang itu tewas. Mereka menggeliat mengerang kesakitan. Tidak ada satu pun dari mereka yang masih menggenggam kapaknya. Sebagian berusaha bangkit berdiri, meski harus sempoyongan seperti orang mabuk.
Melihat sebagian bergerak berdiri, kekuatan mata indah Dewi Ara kembali bekerja, melempar orang-orang yang berdiri itu jauh ke belakang. Tidak tanggung-tanggung, jarak lempar yang diberikan oleh Dewi Ara sejauh sepuluh tombak.
“Akk! Akk! Akk …!”
Orang-orang itu menjerit dan mengerang kesakitan ketika ada tulang-tulang mereka yang patah-patah. Sebab, lemparan Dewi Ara bukanlah atraksi yang memiliki standar keamanan.
Sementara itu di kejauhan, di teras pendapa perguruan, orang-orang sampai berdiri ramai-ramai dengan wajah terperangah melihat kejadian di depan sana. Pertunjukan itu membuat mereka semakin percaya bahwa wanita yang sejak tadi melayang di udara itu adalah Permaisuri Geger Jagad, salah satu permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil yang berkesaktian tinggi. Terbukti, hanya dengan kekuatan mata saja, Dewi Ara bisa menghancurkan satu pasukan musuh tanpa banyak gaya.
Ketika ada orang bertopeng yang masih bisa bangkit, maka orang itu langsung dilempar jauh ke belakang.
Beralih ke titik lain.
Pasukan panah dari Rombongan Kapak Hijau yang sejak tadi bersiaga dalam formasi Benteng Setan Malam, akhirnya kedatangan apa yang mereka tunggu-tunggu.
Set set!
“Arah utara!” teriak satu anggota wanita dari pasukan panah itu, karena dua sinar biru yang adalah anak panah itu itu datang dari arah utara.
Kompak seluruh formasi itu mengubah arah badannya dan langsung membidik ke arah datangnya dua anak panah bersinar itu.
Set set set …!
Bduar!
Tanpa komando lagi, para pemanah bertopeng itu langsung melepaskan anak panah yang sejak tadi terpasang di busur mereka.
Lebih dua puluh anak panah melesat menyongsong dua panah bersinar. Anak panah kelompok itu jadi bergerombol dan bersatu menabrak kedua panah bersinar.
Hasilnya, terjadi ledakan kecil yang mementalkan semua anak panah, termasuk menjatuhkan kedua anak panah bersinar yang kemudian padam sinarnya.
“Ini benar-benar ilmu Panah Samudera milik Pangeran Istana Kabut Kuning,” ucap Beleng Tarmehek lirih tapi yakin.
Setelah berhasil menggagalkan serangan dua anak panah dari orang yang tidak terlihat, orang-orang berpanah itu kembali menghadap ke posisi awalnya, yaitu menghadap ke luar lingkaran formasi.
Setelah menunggu lagi agak lama.
__ADS_1
Set set!
“Selatan!” teriak seorang anggota pemanah.
“Utara!” teriak anggota yang lain lagi nyaris bersamaan waktu.
Kompak para pemanah yang tegang itu mengubah posisi hadapnya menjadi dua yang bertolak belakang, yakni ke arah selatan dan utara.
Memang, dari dua arah itu muncul satu anak panah yang bersinar biru seperti tadi.
Set set set …!
Bduar bduar!
Dua ledakan kecil terjadi di udara ketika dua gerombolan anak panah menghadang laju anak panah bersinar biru yang datang dari dua arah.
Set!
“Keparat!” maki Beleng Tarmehek saat ia merasakan ada serangan datang dari atas langit.
Ctarzz!
Sambil mendongak, Beleng Tarmehek melecutkan Cambuk Usus Bumi kepada sebatang anak panah bersinar biru yang datang dari langit.
Cambuk Usus Bumi menghancurkan anak panah yang memang mengincar Beleng Tarmehek. Saat cambuk itu menangkis anak panah, muncul kelebatan serat listrik putih yang cukup besar di sekitar Beleng Tarmehek.
Kemunculan listrik sinar putih yang semakin besar itu membuat Beleng Tarmehek tersenyum.
Ketika pertama kali berlatih menggunakan Cambuk Usus Bumi, Beleng Tarmehek akhirnya menyimpulkan bahwa cambuk pusaka itu memiliki kekuatan petir yang semakin sering dilecutkan, maka kekuatan petirnya akan semakin besar keluar.
Wut wut wut …!
Tiba-tiba Beleng Tarmehek dan pasukan panahnya dikejutkan oleh suara dengungan yang ramai.
“Arah barat!” teriak beberapa anggota bersamaan sambil terkejut.
Mereka semua sontak menghadap ke arah barat dengan panah langsung membidik. Namun, mereka lebih terkejut saat melihat serombongan benda hijau melesat berputar-putar di udara mendekat dengan cepat ke arah posisi mereka.
Ketika rombongan benda yang adalah kapak hijau itu masih jauh, gerakannya terlihat lambat. Namun, ketika sudah mendekat, lesatannya begitu cepat.
Set set set …!
Serentak pasukan panah itu memanah ke arah serangan pasukan kapak yang datang, karena memang mereka tidak punya pilihan lain untuk berusaha bertahan.
Memang, anak-anak panah itu mengenai kapak-kapak yang datang di udara, tetapi ternyata itu tidak berpengaruh banyak. Kapak-kapak yang dikirim oleh Dewi Ara itu tetap menghujani pasukan panah, termasuk Beleng Tarmehek.
__ADS_1
Teb teb teb …! Ctarzz!
Kapak-kapak itu menancap di kepala, dada, bahu, perut dan anggota tubuh yang lain dari pasukan panah. Sementara beberapa kapak yang menyerang Beleng Tarmehek hancur ketika terkena satu lecutan cambuk sekaligus. (RH)