Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 20: Pembebasan Budak


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Suara ledakan-ledakan di kejauhan telah membangunkan lelaki berusia separuh baya lebih sepuluh tahun ini. Demikian pula sang istri yang tidur bersamanya satu ranjang satu selimut.


Kediaman Menteri Kete Weleng memang tidak terlalu jauh dari Gerbang Kepeng, yang menjadi pusat pertarungan antara Pendekar Bola Cinta dengan Laksamana Muda Kamboja Hua.


“Sepertinya ada pertarungan hebat di Pelabuhan Kepeng,” kata Kete Weleng kepada istrinya.


Ia lalu bergerak keluar dari selimut dan turun dari ranjang. Sejenak dia terlihat buto di dalam keremangan kamar sebelum akhirnya menutupi tubuh bawahnya lebih dulu dengan celana paket lengkap.


“Apakah Kanda Menteri ingin keluar?” tanya sang istri.


“Iya. Aku ingin melihat apa yang terjadi,” jawab Kete Weleng sambil mengenakan pula baju hitamnya yang berhias bordiran benang perak.


Dia lalu mengambil busur bagus warna merahnya. Tidak ada anak panah yang dibawanya.


“Bagaimana jika perwira Kerajaan Puncak Samudera memergoki Kanda Menteri?” tanya sang istri dengan posisi bertahan di bawah selimut.


“Aku akan hati-hati. Mungkin saja orang-orang Putri Mahkota datang menyerang,” katanya.


“Berhati-hatilah, Kanda Menteri,” kata sang istri.


“Iya.”


Kete Weleng yang memelihara jenggot sedagu itu lalu keluar dari kamar. Dia langsung menuju pintu depan. Ketika pintu dibuka dan dua prajurit berseragam kuning menjura hormat, dari arah gerbang halaman rumah telah muncul bayangan serombongan orang. Cahaya obor yang tidak begitu besar atau tidak banyak, membuat wajah-wajah orang yang datang itu tidak terlihat jelas. Ada laki-laki, ada wanita.


Kedatangan ketiga lelaki dan dua wanita itu membuat kedua prajurit jaga segera pasang panah di busur. Kete Weleng pun dilanda ketegangan. Sebab, baru saja mau keluar secara sembunyi-sembunyi, malah ada yang datang. Pastinya kelima orang itu bukan dedemit yang mau balas dendam.


“Menteri Kete Weleng!” panggil salah satu lelaki yang datang mendekat itu.


Terkejutlah Kete Weleng.


“Pangeran Bewe Sereng?” sebut Kete Weleng.


Tidak berapa lama, wajah dan sosok kelima orang itu telah terlihat separuh jelas. Mereka memang adalah Pangeran Bewe Sereng bersama Setya Gogol, Bagang Kala, Anik Remas dan Lentera Pyar yang telah melewati Gerbang Kepeng.


“Sudah waktunya kita melawan. Bantuan telah tiba,” ujar Bewe Sereng yang terus mendekati Menteri Perikanan itu, di saat keempat rekannya telah berhenti melangkah.

__ADS_1


“Di mana Putri Mahkota?” tanya Kete Weleng cepat.


“Sedang bertempur di Pelabuhan Pintu Kabut bersama Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Bewe Sereng.


“Apa?! Kenapa Pangeran membiarkan Putri Mahkota berperang? Itu sangat berisiko!” protes Kete Weleng.


“Jangan cemaskan Putri Mahkota, Menteri. Ayo, kita serang Istana dan bunuh Pangeran Tololo Coi!” kata Bewe Sereng.


“Pangeran jamin bantuan ini bisa menumbangkan orang-orang Kerajaan Puncak Samudera?” tanya Kete Weleng.


“Aku jamin, kita akan menang,” tandas Bewe Sereng.


“Kalau begitu, kita serang Penjara Kabut Bumi. Lebih baik pasukan yang menjadi budak dan dipenjara di sana kita bebaskan. Kita membutuhkan pasukan untuk melewati Ibu Kota,” kata Kete Weleng.


“Baiklah,” kata Bewe Sereng sepakat.


“Kalian, tetaplah berjaga di sini!” perintah Kete Weleng kepada kedua prajuritnya.


“Baik, Gusti,” ucap keduanya yang sudah menurunkan busurnya.


Maka, Kete Weleng ikut dalam rombongan Bewe Sereng. Sebelum ke ibu kota Tanah Hitam, mereka lebih dulu pergi ke Penjara Kabut Bumi.


Penjara Kabut Bumi terletak antara Ibu Kota dengan daerah Pelabuhan Kepeng.


Penjara Kabut Bumi adalah sebuah bangunan batu berbenteng. Tidak terlalu besar. Bahkan luasnya lebih kecil dari luas lapangan bola kaki. Namun, ruang-ruang di bawah tanahnya yang luas ke mana-mana dan merupakan penjara yang tidak nyaman. Selain penghuni penjara yang melebih kapasitas berkali-kali lipat, kondisi penerangannya sangat minim yang membuat ratusan tahanan yang berstatus budak berdesak-desakan dalam gelap gulita. Selain itu, jikapun ada penerangan, kondisinya pun berkabut. Untuk urusan penyiksaan, jangan dikata. Jagonya.


Bewe Sereng dan rombongannya telah berdiri di depan pintu gerbang penjara yang tidak memiliki penjagaan. Di dua menara pendek yang lebih tinggi dari dinding benteng tidak terlihat ada prajurit yang berjaga, padahal ada obor besar yang menyala. Mungkin penjaganya tertidur.


Set set set …!


Sebelum melakukan sesuatu, Bewe Sereng lebih dulu melepaskan panah sinar biru sebanyak dua kali ke sembarang arah.


“Mau lewat mana?” tanya Kete Weleng.


“Biar Setya Gogol yang membukanya dari dalam,” kata Bagang Kala menawarkan rekannya.


Wuss!


Mengandalkan ilmu Angin Gulung Lembah, Bagang Kala menerbangkan tubuh Setya Gogol naik tinggi dan melemparnya melewati ketinggian tembok benteng penjara.

__ADS_1


Meski agak tidak terbiasa, tetapi Setya Gogol bisa mendarat di balik tembok. Ia lalu pergi ke balik gerbang besar. Ternyata sederhana, gerbang itu hanya dikunci oleh dua palang kayu tebal.


Sejatinya, satu balok seharusnya diangkat oleh dua orang. Karena itulah, Setya Gogol harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengeluarkan dua balok itu dari kuncian satu demi satu.


Gredeg gredeg!


Ternyata, pintu gerbang itu ketika dibuka menimbulkan suara deritan yang cukup keras. Akibatnya, prajurit jagi di dua menara terbangun dan melihat langsung ke arah gerbang, sepertinya mereka sudah hapal dengan suara khas pintu gerbang itu.


Set set!


“Aak! Akh!” jerit kedua prajurit berseragam biru itu ketika tubuh mereka ditusuk tembus oleh panah sinar biru yang datang.


Bewe Sereng dan rombongan berjalan masuk. Selaku yang punya negeri, Bewe Sereng dan Kete Weleng tentu sudah akrab dengan penjara itu.


Suara jeritan kedua penjaga menara ternyata membangunkan prajuri lainnya. Namun, jumlah mereka hanya dua dan tiga orang. Mudah bagi Setya Gogol dan Lentera Pyar mengakhiri karir para prajurit itu.


Bewe Sereng langsung pergi ke pos pintu masuk ke penjara bawah tanah. Di pos itu, dua prajurit jaga tertidur saling berpelukan. Kedua prajurit berkumis itu begitu imut seperti dua anak kucing yang terlelap.


Namun, tanpa timbang-timbang, Lentera Pyar membunuh keduanya dengan pedang kecilnya, memberi konpensasi tidur sepanjang masa.


Kunci sel-sel penjara diberikan kepada Bewe Sereng.


Dengan membawa dua obor, Setya Gogol dan Lentera Pyar menemani Bewe Sereng dan Kete Weleng masuk ke penjara bawah tanah yang gelap oleh gelap dan kabut. Sementara Bagang Kala dan Anik Remas berjaga di luar.


“Gusti Pangeran, bebaskan kami!”


“Gusti Pangeran, bebaskan kami!”


“Bangun! Bangun! Gusti Pangeran datang menyelamatkan kita!”


“Kita bebas! Kita bebas!”


Teriak para prajurit yang berjubel di dalam sel dengan kondisi tanpa baju dan hanya bercelana seadanya. Jika ada yang panjang, mereka pakai. Jika tidak ada yang panjang, pendek pun jadi.


Dengan penuh gembira, haru, dan semangat, para prajurit itu berbondong-bondong keluar dari penjara bawa tanah. Ada yang segar, ada yang pincang, ada yang sakit, dan ada yang lemah.


Ada lebih dari dua ratus prajurit yang bebas malam itu.


“Siapa di antara kalian yang siap bertempur, persiapkan diri dan cari senjata!” seru Bewe Sereng.

__ADS_1


Akhirnya, setelah disortir, maka ada sekitar seratus lima puluh prajurit yang siap lahir batin untuk bertempur. Adapun yang lainnya diizinkan mengamankan diri dan mengobati diri.


Dari Penjara Kabut Bumi, Bewe Sereng bersama pasukannya pergi menuju Ibu Kota. (RH)


__ADS_2