Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 30: Pertarungan 30 +


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


 


“Adipati Biadab!” teriak Bagang Kala memanggil Adipati Kuritan yang berada dalam kurungan lesatan batang-batang bambu.


“Baiklah jika aku memang dikehendaki mati oleh Gusti Permaisuri!” desis Adipati Kuritan yang memutuskan untuk pasrah. “Aku pun tidak mau mati begitu saja dengan pendekar kemarin sore sepertimu!”


Adipati Kuritan akhirnya berdiri tegak. Ia tidak peduli lagi soal malu karena dia sudah terlanjur hilang urat malu. Maka ia melepaskan tangannya yang memegangi “adipati kecil”. Ia tidak peduli lagi jika seluruh dunia melihat pusakanya yang dalam pengaruh obat kuat.


“Aaaa! Hihihi …!” pekik histeris segerombolan murid wanita ketika Adipati Kuritan membuka keperkasaannya yang disukai dan ditakuti oleh kaum wanita. Pekikan mereka disertai tawa genit, seperti fans yang bertemu dengan idolanya dari Negeri Opa-Oma, tetapi tidak bisa pegang peluk cium.


Meski ada pagar bambu bergerak yang mengurung posisi Adipati Kuritan, tetapi itu tidak menghalangi orang untuk melihat bebas kepribadiannya. Sebab, pagar potongan bambu itu melesat pada ketinggian setara perut ke atas.


Meski Dewi Ara mengizinkan Bagang Kala untuk mengesekusi Adipati Kuritan, tetapi wanita cantik itu tidak menghentikan benteng bambu pada Adipati Kuritan.


Jress! Jress!


Tiba-tiba kedua telapak tangan Adipati Kuritan bersinar merah berbentuk lidah api. Adipati Kuritan memang harus mengandalkan kesaktian lain selain cambuk.


Bagang Kala pun bersiap untuk memulai pertarungan. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah melenyapkan benteng bambu terbang itu.


“Brojoool! Berhentilah lari terus!” teriak Arda Handara yang tiba-tiba muncul dari satu sisi sambil berlari kencang mengejar seekor bajing yang memang sedang berlari sekuat tenaga.


“Iya, jangan lari terus, lelah kami mengejar!” teriak Sulin Mamas yang juga berlari dua tombak di belakang Arda Handara.


Bajing yang bernama Brojol memang berlari kencang lewat di tengah-tengah lapangan, lewat di depan mata Bagang Kala dan Adipati Kuritan.


Bagang Kala dan Adipati Kuritan yang sudah siap tarung, hanya bisa terkejut dengan iklan yang lewat di tengah-tengah mereka.


“Hahaha …!”


“Hihihi …!”


Tertawalah para penonton melihat keanehan kondisi yang terjadi.


Sementara ibu yang punya anak, hanya diam tanpa komentar melihat putranya tahu-tahu muncul mengejar bajing. Anak itu seolah sedikit pun tidak memahami apa yang sedang terjadi.


Tikam Ginting, Lentera Pyar dan Setya Gogol yang sudah mengenal kegilaan sang pangeran, hanya tertawa melihat kelucuan itu.


Melihat kemunculan Arda Handara dan Sulin Mamas yang berlari ke medan pertarungan, membuat Lunar Maya terkejut dan panik.


“Suliiing!” panggil Lunar Maya kencang.


Panggilan itu tidak hanya mengejutkan Sulin Mamas, tapi juga Arda Handara. Hal itu membuat kedua bocah tersebut mengerem mendadak di tengah tanah lapang. Keduanya langsung mengedarkan pandangannya dengan ekspresi wajah bego dan mulut ternganga karena terengah-engah.


“Wuaaah! Ramai sekali!” pekik Arda Handara saat tersadar bahwa mereka berdua berada di tengah-tengah orang banyak.


“Aaaa! Monyet bugiiil!” jerit Sulin Mamas yang matanya ternodai oleh pemandangan di dalam kurungan benteng bambu terbang. Secara, pemandangan yang lebih dulu dilihatnya adalah kondisi Adipati Kuritan daripada diri ibunya.


“Hahahak …!” Meledaklah tawa khalayak ramai mendengar jeritan Suling Mamas.

__ADS_1


“Arda!” panggil Tikam Ginting agak keras, membuat Arda Handara menengok ke arahnya.


Saat Arda Handara melihat kepadanya, Tikam Ginting menunjuk ke atas. Arda Handara pun mengikutkan pandangannya ke arah tunjukan pendekar wanita itu.


“Eh, Ibunda! Hehehe!” sapa Arda Handara lalu tertawa cengengesan saat melihat sosok ibunya yang melayang diam di udara sambil menatapinya.


Memang, Arda Handara tadi tidak melihat keberadaan ibunya di udara karena ia fokus melihat kepada Brojol, yang sekarang berhasil lolos lagi dari pengejaran. Sepertinya Brojol kurang nyaman dengan Arda Handara sejak jenis kelaminnya diperiksa oleh bocah itu.


“Anak kecil, cepat pergi dari sini, Adipati bugil itu akan menyerang!” seru Bagang Kala cepat kepada sepasang bocah itu.


Arda Handara segera beralih memandang kepada Adipati Kuritan yang semakin marah dengan ulahnya. Melihat kedua tangan Adipati Kuritan sudah bersinar semakin besar, Arda Handara mendelik.


“Kabur, Suling!” teriak Arda Handara sambil dia berlari cepat ke tempat para pengawal ibundanya.


“Ibuuu!” teriak Suling Mamas sambil berlari cepat ke posisi ibunya yang sudah ia lihat keberadaannya.


“Hiaaat!” pekik Adipati Kuritan sambil menghentakkan kedua lengan kekarnya.


Jress! Jress! Bluarr!


Dua sinar merah melesat dari kedua tangan Adipati Kuritan yang menghantam benteng bambu terbang yang mengurungnya. Hantaman itu cukup kuat yang menghancurkan benteng bambu terbang. Potongan-potongan bambu itu berpentalan ke berbagai arah, termasuk langsung terlempar menyerang Bagang Kala.


Pendekar Angin Barat yang sudah siap bertarung, cepat mengibaskan kakinya dengan tinggi ke depan, menepis dua potongan bambu yang menyerangnya.


Setelah hancurnya kurungan bambu terbang, maka fix Pendekar Angin Barat dan Adipati Kuritan berhadapan tanpa penghalang lagi.


“Hahaha!” tawa khalayak ramai ketika melihat Adipati Kuritan berlari maju dengan cepat tanpa busana sehelai pun.


Wuss! Wuss!


Bagang Kala juga cepat bergerak menyambut kedatangan Adipati Kuritan yang membawa dua sinar merah di kedua telapak tangannya. Ia mengandalkan tinju anginya, yang sebelum kepalan menghantam lawan, angin padatnya yang lebih dulu meghantam.


“Hukh!” keluh Adipati Kuritan saat dadanya dihantam angin padat yang tidak terlihat. Ia terdorong mundur beberapa tindak.


Jress! Jress!


Karena tidak bisa menjangkau langsung sosok Bagang Kala, maka Adipati Kuritan langsung melepaskan dua sinar merahnya kepada Bagang Kala.


Pendekar Angin Barat ternyata memapak kedatangan dua sinar itu dengan kekuatan anginnya.


Wuss! Bluarr!


Peraduan dua kekuatan tenaga sakti menciptakan ledakan sinar merah yang mementalkan Bagang Kala sejauh dua tombak. Sementara yang tidak pakai baju celana terdorong sejauh satu tombak. Hasil peraduan itu menunjukkan bahwa kesaktian Adipati Kuritan bisa diadu.


Hasil itu mendorong Bagang Kala untuk meningkatkan daya tarungnya.


Wuutr! Sets! Bruaks!


Bagang Kala mengayunkan kedua tangannya, memunculkan gelombang angin kuat yang mengangkat sejumlah potongan bambu-bambu yang berserakan di tanah lapang itu. Gerombolan potongan bambu kemudian berlesatan menyerang kepada Adipati Kuritan.


Sang adipati kali ini mengerahkan dua sinar merahnya bukan untuk menyerang, tetapi sebagai alat bertahan. Hasilnya, gelombang batangan bambu yang meniru kesaktian Dewi Ara sebelumnya, hancur memecahkan dan menjadikan batangan bambu itu terbelah-belah dalam wujud bilah-bilah.

__ADS_1


Adipati Kuritan terdorong mundur tidak terkendali, membuatnya hilang kuda-kuda tanpa terkait dengan gagalnya ia main kuda-kudaan.


Set set set …!


Tanpa diduga, ternyata di belakang serangan gelombang bambu tadi, Pendekar Angin Barat ikut melenting melayang sambil mengibasakan kedua tangannya berkali-kali dan bersusulan.


Bset bset bset!


“Aaak! Akh …!”


Sebanyak enam gelombang angin tajam yang tidak terlihat tapi sangat terasa, menyerbu Adipati Kuritan.


Dalam posisi kuda-kuda yang hilang, Adipati Kuritan sebisa mungkin menghindari serangan ilmu Angin Setajam Lidah itu.


Dua serangan angin pertama bisa ia hindari dengan gerakan hindar yang sedemikian rupa. Namun, serangan angin ketiga berhasil menyambar bahu kirinya. Ia pun menjerit tinggi seiring darah terlompat dari luka sayatan yang dalam.


Angin keempat bisa Adipati Kuritan hindari dengan melakukan gerakan setengah kayang. Namun, itu membuat pusaka biologisnya begitu menonjol seolah hendak menusuk langit. Dan untung tak dapat dipinang, mujur tak dapat diharap. Posisi tubuh seperti itu justru jadi sasaran empuk bagi serangan Bagang Kala.


Singkat cerita. Para penontong yang awalnya tertawa-tawa melihat pertarungan bugil sebelah piha itu, jadi terkejut ketika tahu-tahu sudah tercipta pancuran darah kecil.


“Adipati kecil” telah terpental jatuh menjadi seonggok daging mandiri di tanah lapang, meninggalkan luka keran darah pada bagian bawah perut sang adipati.


Begitu tajamnya sunatan dari ilmu Angin Setajam Lidah, sampai-sampai Adipati Kuritan tidak merasakan sakit ketika pusaka biologisnya itu terpotong putus.


Namun, pada serangan angin keenam, perut dan dada Adipati Kuritan terbeset telak, menciptakan luka robek yang menganga panjang.


Bersama jeritannya yang panjang, Adipati Kuritan tumbang bersimbah darah. Setelah itu, barulah ia juga merasakan rasa sakit yang pedih pada bagian bawah perutnya. Luka besar pada bahu dan badan depan membuatnya tidak sempat lagi untuk memeriksa nasib alat produksi keturunannya.


“Kuritan anakkuuu!” teriak Citari Lenting histeris melihat putranya tumbang dalam kondisi begitu mengenaskan. Sudahlah tanpa pakaian, berbanjir darah pula. Lalu teriaknya melengking murka, “Hiaaat!”


Bress!


Citari Lenting mengeluarkan ilmu tertingginya dengan tekhnis ia memutar-mutar cambuk merahnya mengelilingi tubuhnya. Dengan cepat muncul sinar merah besar pada tali cambuk.


Para pengeroyok yang terdiri dari beberapa petinggi perguruan dan belasan murit tingkat atas, segera mundur menjauh karena daya jangkauan sinar merah pada cambuk itu cukup panjang.


Ctass! Bduaar!


Ada sebola sinar merah yang menjelma pada ujung cambuk Ketua Tiga. Dan ketika cambuk itu dilecutkan menghantam tanah, bola sinar merah itu meledak dahsyat. Tanah yang dihantam terbongkar luas dan naik berhambur ke udara, menciptakan kubangan besar.


Para petinggi dan murid-murid tingkat atas yang mengeroyok Citari Lenting, berpentalan lalu jatuh berjengkangan.


Ternyata, momentum ledakan besar itu dimanfaatkan oleh Ketua Tiga untuk berkelebat cepat meninggalkan keramaian.


Blett!


“Akk!” pekik tertahan Cintari Lenting saat merasakan betis kirinya dililit tali panas yang kemudian menariknya dengan keras ke belakang.


Rupanya, Anik Remas bertindak cepat dengan berkelebat sambil melesatkan ujung cambuk putihnya yang berhasil menjerat betis kiri bekas madunya itu. Anik Remas menarik dengan keras cambuknya, memaksa Cintari Lintang tertarik dan jatuh ke tanah.


“Anik Remas sundal!” maki Cintari Lenting begitu marah saat tahu siapa yang menghalanginya untuk menyelamatkan diri.

__ADS_1


“Menyeralah atau kita akhiri, Kakak Madu!” kata Anik Remas, menantang dengan mengajukan dua tawaran. (RH)


__ADS_2