
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Syahbandar Santra Buna cukup terkejut melihat empat dari Delapan Penendang tidak dapat melanjutkan pertarungan karena mereka terluka dalam serius. Berarti tinggal enam personel keamanan Kota Bandakawen yang terus bertarung dengan tangguh. Bahkan dua pendekar dalam rombongan Rowo Kejang tewas oleh kapak Jago Jantan dan Jampang Kawe.
“Sepertinya aku telah meremehkan Kelompok Ronggo Keling,” ucap Santra Buna yang masih berdiri di atap berdampingan dengan Dewi Ara.
“Tapi tetap mereka hanya sekedar mengantar nyawa,” kata Dewi Ara datar tanpa berpaling dari memandang pertarungan.
Setelah berhasil menumbangkan empat anggota Delapan Penendang, para anggota Ronggo Keling yang tidak mengalami luka dalam, segera mengubah kombinasi regu karena eksekutor yang terluka dalam dipastikan tidak bisa melepaskan ilmu Tiga Dalam Satu lagi. Hasilnya hanya ada tiga regu yang terbentuk dan mereka segera mendekati lawan yang ditarget.
Melihat hanya tiga regu yang terbentuk untuk melepaskan ilmu Tiga Dalam Satu, Putri Tompel memerintahkan tiga anak buah yang berdiri bersamanya untuk maju menjadi tim yang keempat.
“Apakah tidak masalah jika aku merusak sedikit kotamu, Syahbandar?” tanya Dewi Ara.
“Oh, tidak. Itu akan memberiku alasan untuk datang ke Sanggana Kecil dan meminta ganti rugi,” kata Santra Buna legowo.
Sret tak tak!
Setelah Santra Buna menjawab seperti itu, tiba-tiba genteng-genteng atap bangunan yang nereka berdua pijak, bergerak naik melayang di udara, melepaskan diri dari fungsinya sebagai atap. Ada ratusan lembar genteng yang mengudara.
Melihat pergerakan di atas sana, Putri Tompel dan Rowo Kejang terbeliak. Mereka pun cepat bertindak memperingatkan anak buah dan rekan mereka.
“Awas …!” teriak Rowo Kejang keras.
“Serangaaan!” teriak Putri Tompel pula lebih nyaring, memotong teriakan Rowo Kejang.
Set set set …!
Pada saat itulah, ratusan lembar genteng berlesatan menyerang para pendekar yang berstatus bayaran.
Prak prak prak …!
“Aak! Akk! Akh …!”
Para anak buah Putri Tompel yang hendak melakukan proses pelepasan ilmu Tiga Dalam Satu, jadi bubar demi menangkis dan menghindari hujan genteng. Sementara keenam pendekar kubu Kota Bandakawen segera melompat mundur. Mungkin hanya di sinilah satu-satunya tempat yang pernah mengalami hujan genteng.
Sebagian dari para pembunuh bayaran itu berhasil menghindar atau menangkis serangan genteng, tetapi ada juga empat atau lima orang yang harus meregang nyawa saat wajah atau kepala mereka mendapat hantaman. Perlu diketahui, hantaman genteng itu bukan sekeras lemparan anak sekolah yang tawuran, tetapi mengandung tenaga dalam ekstra yang cukup untuk membuat syaraf-syaraf di kepala berantakan.
Bung bung!
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah lain, muncul bola sinar kelabu sebesar rumah yang bergerak memantul seperti balon raksasa.
Pada pantulan kedua, bola sinar itu jatuh di tengah-tengah arena pertarungan, bahkan menargetkan Putri Terompet dan rekan botaknya.
Lagi-lagi para pendekar bayaran itu berkelebatan seperti sekumpulan lalat demi menghindari bola sinar kelabu, yang merupakan kesaktian Pendekar Bola Cinta yang bernama Penjara Bola Cemburu.
Meski sudah menghindar ramai-ramai, tetap saja ada dua pendekar yang tertabrak oleh bola sinar kelabu itu, salah satunya adalah Kerik Gemulai, pendekar wanita kurus yang ikut gelompok Rowo Kejang. Mungkin keduanya belum minum air mineral sehingga galfok.
Dua pendekar yang terjerat masuk ke dalam bola sinar raksasa hanya bisa terombang-ambing di dalam bola tanpa bisa keluar menembus dinding sinar. Bola sinar itu akhirnya berhenti memantul dan menggelinding.
Drap drap drap …!
“Seraaang!” teriak seorang lelaki tiba-tiba. Seorang pemuda gendut dan gemuk yang datang berkuda bersama rekan-rekannya. Dia adalah Bong Bong Dut. Tangan kirinya memegang tali kendali kuda dan di tangan kanannya ada seutas cambuk.
Di atas kuda lain ada Tikam Ginting, Setya Gogol, Lentera Pyar, Bagang Kala, dan Anik Remas. Tidak terlihat keberadaan Ratu Wilasin dan Bewe Sereng.
Mereka datang bak layaknya para jagoan yang selalu muncul di belakang untuk meraih kemenangan.
“Anik Remas! Pendekar Angin Barat!” sebut Dewi Ara tiba-tiba.
Panggilan itu membuat Anik Remas dan Bagang Kala mengerem mendadak kuda tunggangannya. Mereka menengok ke atap yang tinggal kerangka saja.
“Hahaha!” tawa Santra Buna mendengar perkataan Dewi Ara.
Di saat Tikam Ginting dan yang lainnya melanjutkan dengan berkelebat dan menemukan lawan tarung, Bagang Kala dan Anik Remas jadi tersipu malu di atas kudanya. Keduanya pun mematuhi perintah dan memundurkan kudanya.
Keenam pendekar penjaga Kota Bandakawen kembali berlompatan maju memilih lawan yang tidak semudah memilih calon kekasih.
Buk!
“Hukh!”
Baru saja masuk dalam medan tarung, Bong Bong Dut sudah mendapat tendangan geledek dari lawannya, membuatnya jatuh terjengkang, sehingga seluruh lemak tubuhnya terguncang.
“Matilah kau, Kerbau!” pekik pendekar tinggi besar sambil melompat seperti macan, tapi tombak di tangan ditusukkan ke arah perut Bong Bong Dut.
Sek!
Namun anehnya, tombak yang jelas-jelas mengarah perut gendut Bong Bong Dut itu bisa bergerak meleset, sehingga menusuk tanah di sisi kiri badan.
Buk buk!
__ADS_1
Hal itu dimanfaatkan oleh Bong Bong Dut dengan memasukkan dua tendangan ala kaki depan kuda, membuat lawannya terlempar pendek lalu jatuh berdebam di tanah.
Kedua pendekar berbadan besar itu sama-sama buru-buru bangun dan saling menyerang lagi.
Ctas!
“Akk!” pekik pendekar bertombak saat tangannya yang menggenggam terkena lecutan cambuk.
Tombak terlepas dari tangan.
Ctas ctas ctas …!
“Ak! Aw! Aw! Ak!” Pendekar bertombak berjeritan seperti perawan genit, ketika Bong Bong Dut mencambukinya dengan ritme yang cepat.
“Heaat!” teriak pendekar tombak sambil mengeluarkan sinar hijau pada tangan kanannya.
Bluar!
“Aaak!” jerit pendekar tombak dengan tubuh terjengkang, saat sinar hijau yang keluar dari tangannya meledak hebat di depan wajahnya sendiri, membuatnya terlempar dalam kondisi mulut penuh darah.
Bong Bong Dut hanya terkejut, karena dia tidak melakukan apa-apa yang membuat lawannya terkena kesaktiannya sendiri. Ia hanya memandang ke sekitar, yang ujung-ujungnya memandang ke atap. Ia memandang kepada sang permaisuri yang selalu ia kagumi.
“Terima kasih, Dewi!” teriak Bong Bong Dut dengan ekspresi bahagia.
Dewi Ara hanya memandang sejenak kepada Bong Bong Dut tanpa memberi komentar, padahal like dan komentar sangat mendukung semangat Bong Bong Dut dalam bertarung.
Meski tidak ditanggapi, Bong Bong Dut tetap bahagia. Dia sedikit banyaknya sudah akrab dengan karakter Permaisuri Geger Jagad. Ia melanjutkan kembali memilih lawan.
Bong Bong Dut adalah murid Perguruan Cambuk Neraka yang biasa-biasa saja. Ilmu cambuknya pun biasa-biasa saja. Ia selalu kalah jika tarung tanding dengan sesama murid perguruan. Kelebihan dia nyaris hanya berat badan.
Dewi Ara tahu bahwa kesaktian Bong Bong Dut tidak setinggi para pendekar pembunuh bayaran itu. Namun, pemuda gemuk itu memiliki semangat tinggi sampai tidak mengukur kemampuan diri sendiri. Karena itulah, Dewi Ara memberikan bantuan jarak jauh yang menjaga Bong Bong Dut dari cedera parah hingga dari kematian.
Bong Bong Dut kemudian tidak perlu kaget lagi, ketika ada kejadian-kejadian aneh yang berlaku di dalam pertarungannya. Itu justru membuatnya bersemangat, karena dia seperti seorang pendekar digdaya yang tidak terkalahkan.
Hingga pertarungan massal itu terhenti, Bong Bong Dut bisa membunuh enam pendekar. Rekor fantastis bagi karirnya, yang membuat ia bisa mendongakkan perutnya lebih tinggi.
Pertarungan massal itu dihentikan oleh Dewi Ara, di saat para pendekar musuh sudah banyak yang bertumbangan.
“Hentikan pertarungan kalian!” seru Dewi Ara. Suaranya pelan, tapi terdengar menggema seperti difasilitasi oleh speaker besar.
Pertarungan pun berhenti dan kedua belah pihak bergerak mundur beberapa langkah. (RH)
__ADS_1