Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Baut Mal 2: Kapal Bintang Emas


__ADS_3

*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*


Ada empat utas tambang besar yang kini terbentang tegang. Masing-masing tambang telah dipegang kencang oleh sepuluh lelaki yang pastinya kuat-kuat, karena mereka memang pelaut semua. Hanya besar tubuh dan keperkasaan saja yang berbeda-beda.


Ujung lain dari tambang-tambang itu terikat kuat pada bagian-bagian kapal besar berwarna kuning emas, seperti harta karun yang luar biasa besarnya. Namun, itu bukan emas sunggguhan atau emasnya negeri Tanah Jawi, tetapi itu kapal kayu besar yang dicat emas. Jangan tanya bahan catnya dari apa dibuat.


Saat itu kapal dan mereka semua berada di mulut sebuah gua besar yang menjadi kandang Kapal Bintang Emas. Kapal pamungkas dan kesayangan Bajak Laut Malam itu akan diturunkan untuk melaut karena Kapal Bintang Hitam tidak kunjung pulang.


Sementara itu, Ketua Bajak Laut Malam si Genggam Garam telah berdiri di atas kapal yang masih berdiri di atas batang-batang kayu gelondongan. Di sisi kanan ada dua lekaki yang menahan lambung kapal dengan kayu besar, guna menjaga keseimbangan kapal agar berdiri lurus. Demikian pula di sisi kiri kapal. Besarnya kapal membuat mereka harus menahan dengan bantuan tenaga dalam.


Sang ketua berdiri di atas kapal dengan didampingi oleh empat anggota wanita bajak laut, dua di antaranya adalah Segaris Ayu dan Sayup Desah.


“Lajuuu!” teriak Genggam Garam sambil menunjuk ke arah muara.


“Satu tiga lima, laju laju laju, yooo!” teriak para lelaki pemegang tambang sambil berjalan menarik sekuat tenaga, bahkan mereka mengerahkan tenaga dalam. Teriakan mereka terdengar begitu ramai penuh semangat.


Lunas kapal menggesek kayu gelondongan sehingga bergerak berputar menjadi roda di tanah, memudahkan kapal bergerak maju ketika ditarik. Keempat orang di sisi lambung kanan dan kiri juga ikut berlari sambil menahan lambung kapal agar tetap seimbang.


“Tahaaaan!” teriak Keong Gelap yang menjadi salah satu penahan lambung kapal, karena kapal mulai bergerak miring.


Kemiringan kapal membuat kapal harus dihentikan ditarik, agar bisa diseimbangkan lagi sebelum ditarik kembali.


Perahu itu semakin dekat ke pinggiran air muara. Sekali tarik lagi, kapal itu pasti akan mencium air.


“Lajuuu!” teriak Genggam Garam lagi setelah keseimbangan kapal telah baik kembali.


“Satu tiga lima, laju laju laju, yooo!” teriak para lelaki pemegang tambang lagi sambil berlari menarik sekuat tenaga.


Kapal Bintang Emas kembali bergerak di sepanjang kayu-kayu gelondongan.


Jbuuur!

__ADS_1


“Dewi Centing jayaaa!” sorak semua orang serentak ketika haluan kapal terjun mencium air muara, menyusul semua badannya terjun ke muara.


Mereka yang berkesaktian segera berlompatan naik ke atas kapal emas itu. Sebagian lagi harus berenang untuk mencapai tangga tali pada lambung kapal.


“Bajak Laut Malam datang kepadamu, wahai Laut. Sambut kedatangan kami para pelaut, yang mengarungimu menantang maut, sampai kulit-kulit kami berlumut!” teriak Genggam Garam dengan syairnya. Lalu teriaknya lebih keras, “Berlayaaar!”


“Berlayaaar!” teriak para anak buah Genggam Garam penuh semangat kegembiraan.


Kapal Bintang Emas meluncur santai dari muara memasuki lautan.


Seperti sebuah ritual ketika mereka semua berdiri diam sambil menarik napas panjang dan memandang kusyuk ke langit senja. Memang, itu adalah sikap yang dibudayakan setiap kelompok Bajak Laut Malam memulai pelayaran.


Sementara anggota yang tidak ikut hanya berdiri di pantai memandang kepergian kelompok mereka. Mereka kebagian jatah untuk membereskan sisa-sisa yang ditinggalkan dalam kondisi berantakan.


Tidak berapa lama, dayung-dayung panjang keluar dari kedua lambung kapal yang kemudian bergerak mendayung. Setelah cukup jauh meninggalkan pantai, barulah layar yang juga berwarna emas dikembangkan semua.


Namun, bendera yang berkibar di pucuk tiang utama berwarna hitam yang memiliki gambar bintang warna kuning.


“Ketua, di selatan ada perahu yang melambai,” lapor Raga Ombak.


“Hah! Bagaimana cara sebuah perahu bisa melambai?” tanya Genggam Garam dengan wajah serius, padahal ia hanya berseloroh. Maklum, ketua bajak laut yang ini memiliki selera humor yang akut.


“Maksudnya … orang yang di perahunya yang melambai, Ketua,” ralat Raga Ombak.


“Dekati, mungkin dia minta pertolongan!” perintah Genggam Garam.


“Baik, Ketua,” ucap Raga Ombak patuh.


Maka Raga Ombak pergi keluar dari area kakus kapal, di mana Genggam Garam saat itu sedang membuang rasa mulesnya, efek kebanyakan makan sambal dari cabai jurig tadi siang.  Biasanya efek sambal cabai jurig adalah di makan siang, maka mulesnya baru muncul malam.


Seperti kapal moderen masa depan, Kapal Bintang Emas sudah dilengkapi kamar kakus. Tempat buang hajat itu dibuat agar mereka bisa menjadi bajak laut yang lebih terhormat untuk urusan itu, agar tidak pula berjongkok lagi di pinggiran kapal dengan meninggalkan secuil jejak dari kotorannya.

__ADS_1


“Dekatkan kapal kepada perahu itu!” teriak Raga Ombak kepada para anak buah.


Raga Ombak dan para anggota yang penasaran, sudah pada berdiri di geladak untuk melihat siapa penumpang perahu yang melambai-lambai.


“Dewi Centing! Wanita cantik, Raga!” teriak Barong girang kepada Raga Ombak, saat memastikan bahwa salah satu penumpang perahu adalah seorang wanita cantik berkulit putih bersih, sangat kontras dengan warna kulit keempat wanita di dalam kelompok itu.


“Tapi wanita itu lebih tua darimu, Barong. Dia pantasnya dengan Ketua,” kata Raga Ombak kepada rekannya yang umurnya masih belia lima tahun yang lalu.


“Pemuda itu juga ganteng,” kata Segaris Ayu juga, mengomentari penumpang perahu yang lelaki.


Perahu kecil yang mereka dekati ditumpangi oleh dua orang. Seorang pemuda tampan dan seorang wanita yang lebih tua dari rekannya, tetapi cantik parasnya dan bermodal bodi yang terpelihara dari lemak jahat.


Pasangan penumpang perahu tanpa dayung itu tidak lain adalah Pendekar Angin Barat Bagang Kala dan istri barunya yang bernama Anik Remas, mantan janda cantik yang selalu menggoda untuk diremas-remas.


Kondisi pasangan pengantin baru itu berpakaian lengkap. Kondisi mereka tidak seperti kondisi Tadayu dan Putri Uding Kemala yang sampai buto dan busikit. Masalah yang mereka hadapi adalah mereka sudah dua malam dua siang terombang-ambing di lautan tanpa dayung dan tidak menemukan pulau atau tujuan hidup.


Di kala petang itu, mereka akhirnya melihat kilauan cahaya keemasan di kejauhan. Maka, dengan mendayung menggunakan kedua tangan, mereka mencoba mendekati emas raksasa yang mengapung di lautan. Setelah semakin dekat, ternyata benda seperti emas itu adalah sebuah kapal besar. Dilihat dari model kapalnya dan gambar benderanya, diduga kuat itu adalah kapal bajak laut.


Namun, dugaan bahwa itu adalah bajak laut, tidak menciutkan keduanya untuk mendekat. Sebagai dua orang pendekar, mereka perlu mencoba, mungkin mereka bisa ikut menumpang ke suatu pulau dan mendapat secangkir kopi asin.


Terlebih ketika melihat perawakan para penumpang kapal, Anik Remas semakin yakin bahwa itu adalah kelompok bajak laut.


“Siapa mereka, Sayang?” tanya Bagang Kala yang tidak memiliki pengetahuan tentang bajak laut sedikit pun. Sekarang ini dia dalam proses belajar membajak mantan janda yang kini menjadi permaisuri hatinya.


“Mereka bajak laut, orang-orang yang suka merampok di laut,” jawab Anik Remas.


“Tidak apa-apa, ada aku, suamimu yang perkasa,” kata Bagang Kala sebagai suami. Maklum, dia semakin percaya diri sebagai lelaki setelah berhasil membuat istrinya tidak berdaya di bawah tindihannya, meskipun ujung-ujungnya dia yang lebih lemas setiap usai berdayung di atas perahu.


Akhirnya perahu kecil itu telah mendekati Kapal Bintang Emas. Bagang Kala berdiri gagah di perahunya tanpa takut terlempar oleh goyangan ombak besar. Penyakit mabuk lautnya telah hilang karena kalah tarung dengan penyakit mabuk kepayangnya.


“Wahai para Kisanak! Siapakah kalian?” seru Bagang Kala dari bawah, karena posisi perahunya memang jauh lebih rendah dari ketinggian geladak kapal.

__ADS_1


“Hahaha …!” tawa Raga Ombak dan rekan-rekannya yang lain mendengar pertanyaan Bagang Kala yang tidak tahu diri. (RH)


__ADS_2