Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pertamak 5: Kesaktian Baru Ginari


__ADS_3

*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)* 


Clap!


Ketika kuda Permaisuri Ginari dan Prabu Banggarin berlari kencang saling mendekat dan jarak temu tinggal beberapa tombak, tahu-tahu sang permaisuri yang cantik jelita menghilang begitu saja dari punggung kudanya. Menghilangnya dirinya bukan berarti kecantikannya juga ikut hilang.


Meski demikian, Prabu Banggarin bukan pendekar setengah sakti. Wajahnya bergerak cepat mendongak mengikuti arah pandangan matanya yang bergerak cepat, seolah melihat objek asing yang bergerak cepat naik ke langit.


Zerzz!


Seiring kuda kosong Permaisuri Ginari lewat di sisi kudanya, Prabu Banggarin menusukkan kerisnya lurus ke atas.


Dari keris itu melesat segaris sinar hijau meluncur naik.


Jesss!


Tiba-tiba di atas muncul sosok Permaisuri Ginari yang terjun dengan posisi terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas. Tangan kanannya lurus ke bawah dengan telapak tangan menghadap bumi. Seiring itu, sudah ada piringan sinar merah bening yang lebar selebar gelaran martabak telur menempel pada telapak itu.


Piringan sinar merah bening menahan garis sinar hijau dan menekannya turun. Sementara keris yang tersambung bergerak cepat mengikuti lari kuda yang menjauhi titik turunnya tubuh Permaisuri Ginari.


Akhirnya, garis sinar hijau putus dan Permaisuri Ginari mendarat di tanah, tapi bukan dengan kepala dulu, tetap dengan kaki. Sangat iba jika wanita secantik Permaisuri Ginari harus mendarat di tanah dengan batok kepalanya.


“Hiaaat!” pekik Prabu Banggarin sambil melompat melenting meninggalkan punggung kudanya yang terus berlari liar.


Seperti masih muda saja, tubuh Prabu Banggarin berputar liar di udara dan arah gerakannya mendekati tempat Permaisuri Ginari berdiri.


Zerzz!


Dalam gerakan akrobatik di udara itu, Prabu Banggarin kembali melesatkan segaris sinar hijau dari keris pusakannya. Namun, Permaisuri Ginari masih berbekal piringan sinar merah bening di telapak tangan kanannya.


Jesss!


Sambil bergerak cepat menyambut kedatangan tubuh sang prabu, Permaisuri Ginari menangkis serangan keris dengan ilmu yang bernama Payung Peri itu.


Dak! Ces ces!


“Akkh!”


Seiring garis sinar hijau putus dengan sendirinya, Prabu Banggarin meluncurkan tungkai kaki kanannya yang mengandung tenaga dalam tinggi kepada Permaisuri yang menyambut kedatangan tubuhnya.

__ADS_1


Permaisuri Ginari menangkis tendangan keras itu dengan pergelangan tangan kiri yang juga sekokoh baja. Seolah tidak terpengaruh oleh kekuatan tendangan mengapak itu, jari-jari tangan kiri Permaisuri Ginari langsung bergerak meliuk mencengkeram kaki penendang.


Prabu Banggarin tidak bisa mengelak. Ternyata, kuku-kuku jari tangan kiri wanita itu bersinar kuning yang kemudian memberi sengatan tegangan tinggi pada kaki sang prabu.


Prabu Banggarin menjerit yang sontak berontak dengan menarik kakinya dan melempar tubuhnya bersalto ke belakang menjauhi lawan.


Jleg!


Ketika mendarat, Prabu Banggarin bisa merasakan bahwa kaki kanannya mengalami malfungsi. Kaki kanannya menjadi lemah dan kesemutan parah. Itu membuatnya limbung nyaris jatuh.


Parahnya lagi, pada saat limbung seperti itu, Permaisuri Ginari justru datang menyerang dengan tangan kanan berbekal piringan sinar bening yang bisa dijadikan senjata. Sementara tangan kiri berkuku sinar kuning dari ilmu Cubitan Peri.


Sambil terpincang-pincang, Prabu Banggarin bertarung dengan dua senjata, yakni keris di tangan kanan dan kuku-kuku tangan kiri yang menyala ungu.


Ternyata piringan sinar merah bening yang menempel pada telapak tangan Permaisuri Ginari bisa dijadikan senjata setajam pisau.


Tes tes tes!


Berulang kali Prabu Banggarin menangkis ancaman ketajaman piringan sinar yang panasnya terasa cukup menyengat di kulit kendornya. Sering juga cakaran bersinar ungu Prabu Banggarin menyerang Permaisuri Ginari yang bisa ditangkis menggunakan piringan sinar yang sekeras baja. Namun, Permaisuri Ginari tidak berani beradu cakar dengan Prabu Banggarin.


Pertarungan berkecepatan tingkat tinggi dengan risiko bahaya level maut tergelar apik dan sengit, disaksikan oleh ribuan mata prajurit. Tampak wajah-wajah pemimpin di pasukan Kerajaan Sanggana Kecil tenang setenang ketenangan. Berbeda dengan wajah Panglima Dendeng Boyo, Komandan Bengal Banok serta komandan dan pejabat lainnya. Wajah mereka menunjukkan raut gelisah segelisah kegelisahan.


Craks!


Pada satu ketika, Prabu Banggarin mencakarkan kuku bersinarnya dengan kuat, tetapi ditangkas oleh tepian piringan sinar Permaisuri Ginari. Setelah menangkis, Permaisuri Ginari melakukan dorongan kuat yang membuat si kakek terdorong setindak karena kekuatan kakinya tidak kuat bertahan.


Agar tidak semakin terpuruk, Prabu Banggarin cepat menusukkan kerisnya. Dalam kondisi tetap menekan, Permaisuri Ginari tidak menghindar, tetapi justru maju lebih rapat menangkis batang tangan lawan dengan lutut kanan.


Ces ces!


“Aakk!” jerit Prabu Banggarin.


Tak!


Sebelum Prabu Banggarin menarik tangannya dari lutut Permaisuri Ginari, cakaran tangan kiri sang permaisuri lebih dulu menyergap pergelangan tangannya, memberi sengatan tegangan tinggi. Karena itulah sang prabu menjerit yang juga memaksa kerisnya lepas dari pegangan dan jatuh ke tanah.


Prabu Banggarin cepat melompat mundur dengan menolakkan kaki kirinya yang bertenaga normal beberapa kali, untuk menciptakan jarak yang cukup jauh dari Permaisuri Ginari.


“Menyerahlah, Gusti Prabu!” seru Permaisuri Ginari, memberi kesempatan kepada orang tua itu dengan tidak memburunya lagi.

__ADS_1


“Belum, belum waktunya aku menyerah!” balas Prabu Banggarin.


Raja tua itu lalu mengangkat tinggi tangan kirinya dengan kuku-kuku yang memancarkan sinar ungu menyilaukan.


Melihat gelagat itu, Permaisuri Ginari melenyapkan ilmunya pada kedua tangannya, lalu kedua tangan itu melakukan gerakan yang diiringi gerakan jari-jari seperti tangan dukun.


Dalam waktu yang sebentar, muncullah sinar-sinar kuning halus dari gerakan jari-jari tangan Permaisuri Tangan Peri. Kemunculan sinar-sinar itu hanya bersifat sebentar, muncul lalu hilang.


Sementara itu, sinar pada kuku panjang dan tajam Raja Banggarin tambah membesar.


“Sepertinya kau benar-benar ingin membunuhku, Gusti Prabu,” kata Permaisuri Ginari.


“Tapi Cakaran Akhir Hidup-ku tidak akan bisa membunuhmu, Gusti Permaisuri!” seru Prabu Banggarin, lalu cakaran bersinarnya bergerak dari atas ke bawah seperti mencakar sesuatu yang panjang.


Meski jarak dengan sang prabu cukup jauh, tetapi Permaisuri Ginari bisa merasakan ada kekuatan besar yang datang dari atas kepalanya.


Cruass!


Permaisuri Ginari cepat memercikkan jari-jarinya ke atas, yang dari percikan itu bertabur sinar-sinar kuning yang indah, seperti keramaian serangga sinar yang indah.


“Apa?” kejut Prabu Banggarin ketika melihat kekuatan cakarannya dengan jelas membuyarkan sinar-sinar kuning kecil.


Namun, Prabu Banggarin melihat sosok Permaisuri Ginari seperti sosok hologram yang terkoyak oleh cakaran jarak jauh, tetapi tidak ambyar.


Permaisuri Ginari telah mengerahkan ilmu Raga Halus, salah satu ilmu pertahanan tertingginya.


Clap!


Setelah serangan Prabu Banggarin tidak tokcer, sosok Permaisuri Ginari mendadak hilang. Sebenarnya, Permaisuri Ginari melesat terlalu cepat kepada Prabu Banggarin.


Sang prabu yang tahu hal itu, cepat mengayunkan cakarannya kepada kedatangan Permaisuri Ginari.


Tus! Seeet!


Namun, Permaisuri Ginari terlalu cepat. Sebelum cakaran itu mengenainya, ujung telunjuknya yang bersinar merah lebih dulu menyentuh dada Prabu Banggarin. Setelah itu, sang permaisuri memutari tubuh sang prabu hingga ke belakangnya.


Ternyata ujung telunjuk Permaisuri Ginari menempelkan setitik sinar merah yang kemudian memanjang tanpa putus mengikuti pergerakan jari sang permaisuri. Seperti orang yang menempelkan permen karet lalu memanjang ketika ditarik.


Sambil memutari tubuh Prabu Banggarin setengah lingkaran, Permaisuri Ginari melempar sinar merah yang menempel pada telunjuknya. Ujung sinar itu jadi terlempar dan melesat memutuari tubuh Prabu Banggarin dengan bagian belakangnya terus memanjang dan meliliti tubuh orang tua itu beberapa putaran.

__ADS_1


Terlalu cepatnya gerakan Permaisuri Ginari membuat pembekukan itu bisa dilakukan terhadap orang sesakti Prabu Banggarin. Terbukti, saat itu Prabu Banggarin sudah berdiri dengan kondisi tubuh terlilit tali sinar merah. Setelah itu, Prabu Banggarin tidak berkutik lagi. (RH)


__ADS_2