Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 24: Petunjuk Mata Hati


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


 


Clap!


“Ehhem!” dehem Permaisuri Dewi Ara yang tiba-tiba muncul di ruang depan Istana Keratuan.


Deheman dan kemunculan Permaisuri Dewi Ara sedikit mengejutkan Prabu Dira yang sedang membahas suatu perkara serius bersama Ratu Tirana.


“Kakak Dewi Ara,” sapa Ratu Tirana cepat seraya tersenyum sejuk dan bergegas mendatanginya. Meski ia ratunya, tetapi ia yang menghormat kepada Permaisuri Dewi Ara.


Kemunculan Permaisuri Geger Jagad yang tiba-tiba pastinya membawa keperluan yang sangat penting, karena lama sekali dia mengurung diri di Istana Dewi Awan, sama seperti Permaisuri Asap Racun.


“Hahaha!” tawa pelan Prabu Dira sambil berjalan menghampiri permaisuri jelitanya itu.


Permaisuri Dewi Ara lalu turun berlutut dan menghormat dalam kepada suaminya.


“Bangunlah, Sayangku!” kata Prabu Dira sambil meraih kedua lengan Permaisuri Dewi Ara.


Prabu Dira lalu memeluk tubuh indah istrinya dan mengecup sejenak bibirnya.


“Ada apa?” tanya Prabu Dira setelah melepas kecupannya sambil membelai rambut wangi wanita berdahi lebar itu.


“Pangeran Arda hilang,” jawab Permaisuri Dewi Ara lirih.


“Ah, mungkin dia sedang bermain di satu tempat di istana ini,” kata Prabu Dira seraya tersenyum lembut.


“Jika Kakak Dewi Ara sudah menemui Kakang Prabu langsung, itu artinya dugaan hilangnya Pangeran Arda bisa benar adanya,” kata Ratu Tirana yang langsung menguatkan Permaisuri Dewi Ara.


“Ceritakan!” perintah Prabu Dira yang tiba-tiba hilang senyum. Ia langsung menyikapi serius kedatangan wanita berusia ratusan tahun itu.


“Gogol Setya, Lentera Pyar dan para prajurit Istana Dewi Awan sudah mencari ke berbagai tempat di dalam lingkungan Istana. Sejak selesainya pembelajaran di Pendapa Kebajikan hingga saat ini, anak kita belum diketahui ada di mana,” tutur Permaisuri Dewi Ara.


“Ayo kita ke Istana Mata Hati!” ajak Prabu Dira langsung potong kompas.

__ADS_1


Prabu Dira segera berjalan menuju ke pintu Istana Keratuan. Ratu Tirana dan Permaisuri Dewi Ara segera mengiringi dengan langkah yang cepat pula.


Di belakang mereka berjalan Riskaya, Kepala Pengawal Prabu, dan sepuluh dayang dari Ratu Tirana.


Ketika mereka keluar dari Istana Keratuan, di depan istana ternyata sudah menunggu Setya Gogol dan Lentera Pyar bersama sepuluh dayang dari Permaisuri Dewi Ara. Mereka kemudian bergabung di barisan belakang.


“Apakah tidak ada yang melihat Pangeran Arda terakhir kali?” tanya Ratu Tirana sambil berjalan.


“Terakhir dia terlihat bermain di dapur dan membantu menurunkan sayur dari pedati yang datang,” jawab Permaisuri Dewi Ara. “Aku curiga dia pergi ke luar Istana, sebab kesaktianku tidak bisa merasakan keberadaannya. Namun, prajurit penjaga Gerbang Naga yang memeriksa pedati yang keluar tidak melihat keberadaan Pangeran.”


Di tengah perjalanan, rombongan itu bertemu dengan rombongan Permaisuri Yuo Kai yang dikawal oleh Bo Fei, wanita berwajah putih tapi tegas yang berpakaian seperti seorang lelaki ala Negeri Jang. Ia menyandang pedang pada pinggang kirinya.


Selain sepuluh dayang, ada pula seorang anak lelaki berkulit putih bersih berusia empat tahun. Dia mengenakan pakaian model Negeri Jang warna merah cerah. Ia adalah putra dari Permaisuri Yuo Kai yang bernama Tutsi Chang Kok. Saat itu dia sedang digendong di punggung seorang pemuda berpakaian pendekar, yang merupakan pemomong lelakinya bernama Bendi Jaran. Adapun pemomong perempuannya yang bernama Ganitri berjalan di sebelah Bendi Jaran.


Rombongan Permaisuri Yuo Kai berhenti dan menjura hormat kepada Prabu Dira dan kedua istrinya.


“Sepertinya ada perkara yang genting?” tanya Permaisuri Negeri Jang yang sudah bisa menerka betapa pentingnya keberadaan Permaisuri Dewi Ara di dalam rombongan Prabu Dira.


“Pangeran Arda Handara menghilang, jadi kami ingin menemui Permaisuri Guru. Kau mau ikut?” kata Prabu Dira.


Maka semakin ramailah rombongan yang menuju ke Istana Mata Hati.


Istana Mata Hati adalah tempat tinggal Permaisuri Mata Hati yang bernama asli Permaisuri Nara, orang tersakti yang ada di Kerajaan Sanggana Kecil.


Setibanya di Istana Mata Hati yang berwarna kuning emas nan indah dengan tiga pilar depan yang besar, para prajurit penjaga turun berlutut menghoprmat.


Anehnya, tidak terlihat ada gerbang pintu pada bagian depan istana tersebut. Namun, Prabu Dira bersama Ratu Tirana, Permaisuri Dewi Ara dan Permaisuri Yuo Kai terus berjalan ke arah tiang besar yang berposisi tengah.


Slep slep slep!


Prabu Dira dan para istrinya terus berjalan yang berniat menabrak tiang besar itu, bukan maksud untuk bunuh diri, tapi memang itulah jalan masuk ke Istana Mata Hati. Tubuh sang prabu dan ketiga istri masuk begitu saja menembus tiang besar tersebut, seperti batu masuk ke dalam air. Masuknya mereka membuat mereka tidak terlihat lagi.


Tinggallah Kepala Pengawal Prabu Riskaya, pemomong, Tutsi Chang Kok dan ketiga puluh dayang diam menunggu di depan Istana Mata Hati.


Prabu Dira dan ketiga istrinya berjalan menyusuri lorong yang ada di sisi kanan Istana. Lorong itu akan membawa mereka ke bagian belakang Istana.

__ADS_1


Setibanya di belakang, mereka berada pada satu tempat yang luas. Terlihat Permaisuri Nara sedang berdiri pada satu titik yang membelakangi kedatangan suaminya dan madu-madunya.


Secara berulang dia melesatkan satu gelombang tenaga sakti yang tinggi kepada seorang wanita cantik jelita. Cantiknya seperti apa? Pokoknya cantik sekali, tidak dua kali. Wanita berambut panjang itu berpakaian serba hitam. Bentuk tubuhnya pun VIP punya, tidak ada di pasaran. Ketika dia melirik kepada kedatangan Prabu Dira, maka terlihatlah keindahan mata yang bening laksana antariksa.


Wanita itu adalah Permaisuri Ginari yang digelari Permaisuri Tangan Peri. Ia murni sudah sembuh dari sakit mental yang pernah menderanya sepuluh tahun lalu.


Bayangkanlah, gelombang-gelombang tenaga sakti berkekuatan tinggi yang dilesatkan kepadanya, dihancurkan hanya dengan gerakan tangan yang cepat.


Kedatangan Prabu Dira membuat Permaisuri Nara menghentikan penggemblengannya terhadap muridnya itu. Ia segera berbalik dan menjura hormat secukupnya.


“Kakang Prabu. Hihihi!” panggil Permaisuri Ginari sambil berlari kecil mendekat dan tertawa gembira. Ia pun kemudian menghormat, “Hormat sembah hamba, Kakang Prabu!”


“Bagaimana perkembangan Tangan Peri, Sayang?” tanya Prabu Dira kepada Permaisuri Nara sambil membelai rambut Permaisuri Ginari.


“Nyaris sempurna. Mungkin tinggal beberapa purnama lagi kesaktiannya akan setara dengan Permaisuri Pedang,” jawab Permaisuri Nara, merujuk pada Permaisuri Kusuma Dewi yang berjuluk Permaisuri Pedang.


“Permaisuri Mata Hati!” panggil Permaisuri Dewi Ara dengan nada agak tinggi, karena terbawa oleh ketidaksabaran.


“Kau mencari Pangeran Arda?” tanya Permaisuri Nara menerka.


“Kau tahu?” tanya Permaisuri Dewi Ara cepat.


“Pangeran Arda tidak ada di dalam benteng Istana, tapi sudah di luar Istana,” tandas Permaisuri Nara dengan tenang.


“Kenapa Permaisuri Nara diam saja dan membiarkan putraku keluar dari benteng Istana?” tanya Permaisuri Dewi Ara dengan nada lebih tinggi, ia agak emosi.


“Tenangkan dirimu, Sayang,” ucap Prabu Dira.


“Aku pikir Pangeran Arda keluar dari benteng Istana atas sepengetahuanmu,” kilah Permaisuri Nara tetap datar dan wajah menghadap lurus. “Aku tidak tahu, apakah dia keluar atas kehendak sendiri atau dibawa oleh seseorang.”


Mendengar itu, mulai terlihat ketegangan berhias cemas pada wajah Permaisuri Dewi Ara.


“Permaisuri Guru tahu ke mana Pangeran Arda pergi?” tanya Prabu Dira cepat.


“Tidak. Aku hanya tahu sebatas bahwa dia berada di Sanggara. Apakah Pangeran Dira sudah keluar dari Sanggara atau belum, aku tidak tahu,” jawab Permaisuri Nara.

__ADS_1


“Ayo, kita harus cepat mencarinya sebelum hari gelap!” kata Prabu Dira dengan nada yang telah berubah khawatir pula. (RH)


__ADS_2