
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Kapal hitam Bajak Laut Malam bergerak meluncur siap menabrak barikade perahu perang Pasukan Keamanan Pelabuhan Manisawe yang jauh lebih kecil.
“Tembaaak!” teriak Komandan Bengisan sekencang-kencangnya, agar pasukannya ikut terbakar semangatnya.
Set set set …!
Sebanyak dua puluh satu panah tombak dilepaskan dan melesat berjemaah ke arah kapal besar yang sudah masuk dalam jangkauan.
“Hah! Kenapa tombaknya tidak sampai-sampai?” kejut prajurit di perahu komando.
“Itu karena tombaknya mati!” jawab Komandan Bengisan kesal, tapi kemudian meralat, “Eh, bukan mati, tapi berhenti!”
Semua prajurit terpaksa terkejut, karena tombak-tombak yang mereka lepaskan berhenti di udara sebelum mencapai kapal.
“Sesekali kita harus unjuk kesaktian,” kata Dewi Ara kepada Bewe Sereng dan Tikam Ginting.
“Iya, Dewi,” jawab Tikam Ginting.
Sementara itu, para prajurit semakin menunjukkan ekspresi panik dan ketakutan. Pasalnya, mereka melihat tombak-tombak itu balik kanan.
Set set set …!
Kemudian, semua tombak itu berlesatan menyerang balik.
Teb teb teb …! Ting!
“Aak! Akk! Akk …!” jerit para prajurit di atas perahu-perahu perang.
Jbur jbur jbur!
Sebagian prajurit menjerit panjang dengan mata tertutup. Sebagian lagi dengan cepat melompat terjun ke air, padahal semua tombak menancap di bagian depan perahu, tidak ada yang mengenai mereka, kecuali satu tombak yang menyerang Komandan Bengisan.
Satu tombak yang sengaja disasarkan langsung oleh Dewi Ara kepada Komandan Bengisan, dengan cepat ditangkis oleh tombak oranye sang komandan. Tombak yang menyerang terpental dan jatuh ke air laut.
“Aaak …!” jerit para prajurit itu bersamaan karena tahu-tahu badan depan kapal yang besar berkali-kali lipat dari perahu mereka telah tiba menabrak beberapa perahu perang, terutama perahu Komandan Bengisan.
Jbur jbur jbur …!
Para prajurit itu berlomba-lomba melompat seperti para atlet renang dari berbagai negara.
Berbeda dengan Komandan Bengisan ketika perahunya ditabrak. Dia melompat dan berlari di atas air.
Jbur!
Awalnya Komandan Bengisan terlihat keren berlari di atas ombak. Namun, itu hanya sebentar karena Komandan Bengisan tidak memiliki tempat berlabuh. Ujung-ujungnya dia tercebur juga.
“Hahahak!” tawa Bong Bong Dut melihat Komandan Bengisan tercebur ke air.
“Hihihik!” tawa Mimi Mama melihat nasib para prajurit pelabuhan itu.
__ADS_1
“Turunkan layar, buang jangkar, semua keluar, pertempuran kelar!” teriak Setya Gogol keras.
Maka layar diturunkan, dua buah jangkar dibuang ke lautan, para penumpang berkeluaran, sehingga atas kapal kembali penuh oleh keramaian.
Kemunculan Nahkoda Dayung Karat bersama awak dan para penumpang yang selamat, membuat Syahbandar Pasir Geni terkaget-kaget. Ia sangat mengenal Dayung Karat yang saat itu tampil dengan senyum yang sangat menjengkelkan bagi Pasir Geni.
Komandan Bengisan dan para prajurit yang sedang berenang di air hanya bisa melongo melihat kondisi di atas kapal, yang kini penuh oleh para penumpang warga sipil, bahkan ada ibu-ibu yang menggendong bayi dan anak kecil.
Akhirnya Komandan Bengisan melampiaskan amarahnya dengan membentak Dayung Karat.
“Dayung Karat Gurita Gosong!” teriak Komandan Bengisan dari bawah.
Dayung Karat terkejut dibentak keras seperti itu.
“Hahaha!” tawa Dayung Karat kemudian.
“Apa-apaan ini, hah?! Apakah kau anggota Bajak Laut Malam?” teriak Komandan Bengisan marah.
“Kapalnya memang kapal bajak laut, tapi kami semua bukan bajak laut,” jawab Dayung Karat.
Di sisi lain, anak buah Dayung Karat bekerja merapatkan lambung kapal ke dermaga kayu.
“Pelan-pelan menyeberangnya! Satu per satu!” teriak awak kapal kepada para penumpang yang langsung diarahkan untuk menyeberang.
Syahbandar Pasir Geni berdiri di pinggir dermaga bersama dua prajurit pelabuhan, menunggu para penumpang kapal menyeberang semua.
Ketika ada kesempatan, Syahbandar dan pengawalnya segera menyeberang ke kapal hitam. Di atas kapal, dia langsung menemui Dayung Karat.
Namun, sebelum Dayung Karat menjawab, Dewi Ara dan pengikutnya melintas di sisi mereka tanpa mengindahkan kemarahan Syahbandar Pasir Geni.
“Ini semua tipuan Gusti Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil!” bisik Dayung Karat kepada Syahbandar. Meski pelan, tetap saja omongan itu terdengar oleh orang-orang sakti yang baru saja melintas.
Terbeliak Pasir Geni mendengar bisikan Dayung Karat. Seketika ia melirik kepada Dewi Ara dan rombongannya. Namun, Dewi Ara tidak mengindahkan, dia tetap berjalan hendak menyeberang ke dermaga.
Sementara itu, Komandan Bengisan cepat berenang ke tepian. Setelah naik ke penyanggah tiang, sekali lompat dia mendarat di papan dermaga.
Dalam kondisi kuyup dengan air laut masih bertetesan, Komandan Bengisan berlari kecil menyongsong rombongan Dewi Ara dari depan. Sambil sejenak memandangi kecantikan Dewi Ara yang begitu anggun, Komandan Bengisan mendatangi Dayung Karat yang berjalan di belakang bersama Pasir Geni.
“Dayung Karat, kau mau aku haj …!”
Bdak!
Kata-kata Komandan Bengisan terpaksa terhenti saat tiba-tiba ia terbanting ke belakang dengan batok menghantam lantai dermaga.
“Hahaha!” tawa Bong Bong Dut dan Dayung Karat.
Pasir Geni cepat menghampiri Komandan Bengisan yang apes.
“Wanita bidadari itu Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil. Dia yang menghentikan tombak-tombak kalian tadi,” kata Pasir Geni.
“Apa? Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil? Kerajaan mana itu?” kejut Komandan Bengisan, tapi malah tidak tahu.
__ADS_1
“Dasar kau, wawasanmu hanya sebatas dermaga pelabuhan ini!” rutuk Pasir Geni. Lalu jelasnya, “Sanggana Kecil itu adalah kerajaan baru. Rajanya adalah pendekar tersakti karena dia memiliki Tongkat Sejengkal.”
“Maksudmu tongkat yang itu?” tanya Komandan Bengisan sambil melirikkan matanya ke bagian atas celana Syahbandar.
“Kau ini!” rutuk Pasir Geni sambil memukul pelan kepala komandan itu.
“Pokoknya kau jangan berani macam-macam kepada Gusti Permaisuri, jika tidak ingin mati,” kata Dayung Karat yang berdiri di belakang Pasir Geni.
“Aku sudah hampir mati tadi!” gerutu Komandan Bengisan.
“Nahkoda!” panggil seseorang dari belakang Dayung Karat.
Mereka segera menengok, ternyata Bong Bong Dut.
“Gusti Permaisuri memanggil syahbandar di sini,” ujar Bong Bong Dut.
“Apa sa-sa-salahku?” tanya Pasir Geni tergagap, karena dialah syahbandarnya.
“Gusti Permaisuri ingin bertemu orang yang bertanggung jawab di sini,” jawab Bong Bong Dut dengan gaya berwibawanya.
“Cepat ke sana, jangan sampai Gusti Permaisuri menunggu!” desak Dayung Karat.
“Iya,” ucap Pasir Geni lalu bergegas berlari menuju ke tempat Dewi Ara berhenti.
Dewi Ara hanya memandangi para prajurit yang bekerja menyelamatkan perahu perang mereka dari tenggelam, setelah terbalik ditabrak kapal.
“Kau juga, Nahkoda,” kata Bong Bong Dut.
“Iya, iya,” ucap Dayung Karat lalu buru-buru menyusul Syahbandar.
Tinggallah Komandan Bengisan seorang diri meratapi nasib, karena ia dan pasukannya telah dikerjai oleh permaisuri asing itu.
Permaisuri Dewi Ara seperti seorang pejabat tinggi yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Pulau Gunung Dua. Satu per satu orang-orang yang bertanggung jawab di pelabuhan dia panggil, termasuk Komandan Bengisan pada akhirnya.
Unjuk kesaktian yang dilakukan Dewi Ara sebelumnya, ternyata membuat para pejabat pelabuhan itu takut, tunduk dan patuh, seolah-olah sang permaisuri menjadi penguasa baru di Pelabuhan Manisawe.
“Apakah kau bisa membawa kami ke Pulau Karang Hijau, Nahkoda?” Itu salah satu pertanyaan Dewi Ara kepada Dayung Karat.
“Sangat bisa, Gusti. Namun, aku dan anak buahku harus kembali dulu ke keluarga sebentar, dan aku harus memeriksa dulu kondisi kapal agar bisa menyesuaikan diri. Maklum, itu kapal bajak laut,” jawab Dayung Karat.
“Aku beri kau dan anak buahmu dua hari untuk menyiapkan diri dan kapal. Apakah cukup?” tanya Dewi Ara lagi.
“Sangat cukup, Gusti!” jawab Dayung Karat cepat, meski sebenarnya waktu itu terlalu sempit. Namun, dia tidak mau mengecewakan permaisuri yang telah menyelamatkan nyawa mereka semua. Coba, jika dalam pelayaran dari Bandakawen Dewi Ara dan pengikutnya tidak naik kapal itu, tahu sendirilah jawabannya.
“Komandan, karena sudah membuatmu susah hari ini, antarkan kami ke warung kopi gunung panas terbaik yang ada!” perintah Dewi Ara kepada Komandan Bengisan.
“Baik, Gusti. Tapi … apakah aku boleh ganti pakaian lebih dulu?” tawar Komandan Bengisan.
“Tidak perlu. Pakaianmu akan kering sendiri,” tolak Dewi Ara.
“Ba-baik, Gusti,” ucap Komandan Bengisan mau tidak mau, tapi di dalam hati menggerutu. (RH)
__ADS_1