
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Permaisuri Dewi Ara membiarkan putranya, Ratu Wilasin, Anik Remas, Bewe Sereng, dan sangkar berisi Brojol tertahan di udara. Ia dan Tikam Ginting, Lentera Pyar, Setya Gogol serta Bong Bong Dut lebih memusatkan perhatiannya kepada seseorang yang datang dengan cara terbang.
Orang yang datang terbang dengan sebatang kayu sebagai kendaraan di kakinya adalah lelaki berperawakan sedang berjubah hijau. Lelaki berusia separuh baya lebih 17 tahun itu memelihara kumis dan jenggot tebal berwarna putih yang mencapai dada. Rambut putihnya yang masih dua warna dibiarkan terurai seperti wanita. Jubahnya yang berkibar ke belakang membuat sebatang bambu warna merah terlihat menggantung di pinggang kanannya.
“Itu Penembak Bambu!” kata Tikam Ginting yang mengenali pendekar tua yang datang.
Set!
Orang yang disebut bernama Penembak Bambu itu akhirnya melompat meninggalkan kendaraannya dengan cara bersalto seperti anak muda saja. Sementara balok kayu yang dipijaknya terus melesat dengan target Dewi Ara.
Wuss! Dak!
Namun, tiba-tiba segulung angin keras datang dari samping yang membelokkan laju balok kayu dan menghantam sebatang pohon besar. Datangnya angin terjadi sebelum kekuatan mata Dewi Ara bertindak.
Akhirnya Ratu Wilasin, Arda Handara dan lainnya yang melayang di udara diturunkan ke tanah dengan perlahan, maklum ada dua orang sakit.
Pendekar Angin Barat yang tadi melepaskan angin penghadang balok kayu, segera berkelebat ke hadapan Penembak Bambu. Bagang Kala emosi karena serangan membokong tadi jelas bertujuan membunuh. Ia mengagresi Penembak Bambu dengan ilmu Tinju Angin Batu.
Buk buk buk!
“Hahahaaak!” tawa terbahak Penembak Bambu yang ujungnya terdengar panjang, ketika tinju angin Bagang Kala yang sekeras batu menghantam dirinya beberapa kali.
Melihat lawannya justru tidak terpengaruh oleh ilmu tinjunya, Bagang Kala memilih melompat mundur sambil mengibaskan dua tangannya bergantian.
Set set!
“Eit! Eit! Hahahaaak!” kelit Penembak Bambu menghindari dua angin tajam dengan hanya bergeser setindak-setindak, lalu tertawa kencang, seolah sedang meledek. Lalu katanya, “Aku ajarkan kau cara bermain angin!”
Wusss!
Penembak Bambu yang bersuara cempreng itu mengayunkan tangan kanan seperti gerakan menciduk air. Dari gerakan itu muncul serangkum angin sangat kencang yang langsung menerbangkan tubuh Bagang Kala jauh ke belakang.
“Bagang Kala!” pekik Anik Remas panik melihat calon penunggangnya diterbangkan seperti kok badminton.
Wuss!
Bagang Kala tidak mau tubuhnya menghantam tanah untuk keduakalinya. Ia menghentakkan satu tangannya ke arah tanah, membuat embusan angin kencang ciptaannya menghantam tanah lalu memantul menyambut jatuh tubuhnya.
Blugk!
Tetap saja Bagang Kala jatuh menghantam tanah keras jalanan, tetapi jadinya tidak terlalu keras.
__ADS_1
“Penembak Bambu, apa yang kau inginkan terhadap kami?” tanya Tikam Ginting.
“Aku dengar, dalam rombongan ini ada Ratu Kerajaan Baturaharja. Aku ingin membunuhnya!” seru Penembak Bambu.
“Kau ingin memberontak?” tanya Tikam Ginting lagi.
“Aku tidak ingin memberontak, tetapi aku ingin kaya. Persediaan hartaku sudah menipis, jadi aku perlu mengisi kembali gudang uangku. Hahahak!” jawab Penembak Bambu.
“Apakah kau melihat dalam rombongan kami ada Ratu Kerajaan Baturaharja?” tanya Tikam Ginting.
“Aku tidak kenal dengan ratu itu, karenanya aku ingin membunuh semuanya. Namun, aku sedang kurang beruntung, tembakan pertamaku tidak membunuh satu orang pun,” kata Penembak Bambu. Lalu katanya lagi cepat, “Eh eh eh, tapi aku tidak sial juga, karena aku bertemu lawan yang begitu cantik memesona dan sakti. Selera mudaku jadi terpancing ke permukaan. Hahahaaak!”
“Lawan cantik itu akan menjadi kebahagiaan terakhirmu, Kisanak!”
Kali ini yang berbicara adalah Dewi Ara.
“Hahahaaak!” Penembak Bambu malah tertawa mendengar kata-kata Dewi Ara. “Mana bisa, mana bisa Penembak Bambu dikalahkan. Aku adalah satu dari sepuluh Pembunuh Bayaran Termahal di dunia persilatan se-Tanah Jawi. Itu artinya semua tugas yang aku jalani membunuh orang yang diperintahkan selalu berhasil tanpa ada kata gagal.”
“Maka nikmatilah kegagalanmu, Kisanak,” ucap Dewi Ara dingin.
Sreeek!
Tiba-tiba serpihan-serpihan kereta kuda yang berserakan di mana-mana, bergerak naik melayang ke udara. Hal itu membuat Penembak Bambu mendelik, bukan karena takut, tetapi lebih kepada takjub.
Set set set …!
Tidak pakai loading terlebih dahulu, puluhan serpihan-serpihan patahan kayu dari kereta itu lalu melesat serentak. Kayu dalam berbagai bentuk tersebut menyerbu sosok Penembak Bambu.
Bserss!
Dengan cepat Penembak Bambu mengolah gerakan kedua tangannya. Lapisan sinar biru terang berbentuk bidang lingkaran besar muncul berdiri di depan tubuh Penembak Bambu.
Hasilnya, semua kayu yang melesat berjemaah dan menghantam dinding sinar biru itu hancur musnah menjadi serbuk kayu halus. Tidak ada satu pun dari kayu itu bisa menembus lapisan sinar dari ilmu Dinding Pemusnah.
“Hahahaaak!” tawa terbahak Penembak Bambu karena berhasil menggagalkan serangan hebat Dewi Ara. “Sudah aku katakan, aku terlalu sakk!”
Penembak Bambu menjerit di tengah kata-katanya ketika tubuhnya tahu-tahu terjengkang keras.
“Hahahak …!” tawa terbahak Arda Handara melihat kejadian itu.
“Hihihik …!” tawa Ratu Wilasin pula.
Mereka berdua terpingkal-pingkal melihat apa yang dialami oleh Penembak Bambu.
“Hahahak! Tahu rasa dia. Belum tahu dia siapa ibundaku,” kata Arda Handara setelah tertawa.
__ADS_1
Penembak Bambu cepat melompat bangun berdiri ala anak muda. Memang, biasanya orang bugar itu selalu merasa muda, meski giginya tinggal dua.
“Sepertinya aku harus berjiwa muda bertarung denganmu, Nisanak!” seru Penembak Bambu sambil menunjuk ke arah Dewi Ara yang masih duduk di pelana kudanya.
“Sepertinya aku perlu menggerakkan tubuh untuk membuatmu diam,” kata Dewi Ara.
“Dengan senang hati aku akan menyambutmu, Sayang. Tapi, apakah kau yang berna ….”
Clap! Dagg!
Kata-kata Penembak Bambu terhenti, ketika sosok indah Dewi Ara tahu-tahu sudah melayang di depannya dengan batang kaki kanan tidak terlihat karena terlalu cepatnya mengibas.
Sebagai orang sakti, Penembak Bambu jelas masih bisa melihat pergerakan tendangan yang mengincar kepalanya.
Refleks Penembak Bambu memasang batang tangan kirinya sebagai perisai bagi kepalanya. Kaki Dewi Ara menghantam keras batang tangan kiri Penembak Bambu.
Bdak!
Meski bisa menyelamatkan kepalanya, tetapi tenaga tendangan yang begitu besar memaksa Penembak Bambu terbanting jatuh ke samping, tapi tangan kanannya menahan di tanah.
Bluar!
Masih satu waktu dengan posisi tubuh masih melayang, Dewi Ara menembakkan tenaga sakti dari telapak tangan kanannya ke arah bawah, tepatnya kepada tubuh Penembak Bambu yang sedang terbanting.
Serangan jarak sangat dekat itu langsung menciptakan ledakan besar yang membuat tubuh Penembak Bambu hilang seiring tanah jalanan yang terbongkar besar ke udara. Bahkan tubuh Dewi Ara sejenak tertutupi oleh tirai tanah. Namun, itu tidak membuatnya kotor atau kelilipan, karena tubuh sang permaisuri telah terlindungi oleh tabir tenaga sakti.
Bdak!
Ternyata tubuh Penembak Bambu muncul dalam posisi menghantam batang pohon besar dan jatuh terpental.
Ketika Dewi Ara menembakkan tenaga saktinya, Penembak Bambu telah melindungi dirinya dengan ilmu perisai yang tidak tampak. Namun, tetap saja dia harus terpental terlalu cepat dan menghantam batang pohon.
Ternyata, dua serangan beruntun Dewi Ara tidak membuat Penembak Bambu terluka. Dia justru bangkit sambil tertawa seperti orang mengejek.
“Hahahaaak! Aku suka, aku suka, aaaku suka!” kata Penembak Bambu seperti sedang beryel-yel.
Tanpa rasa malu dan sungkan kepada Dewi Ara, seenak saja tangan lelaki tua itu mencengkeram isi celananya. Untung dia tidak mengeluarkan isi celananya.
“Aku semakin bergairah! Hahahaaak!” kata Penembak Bambu lalu tertawa lagi.
Jelas, pemandangan yang ditunjukkan oleh Penembak Bambu membuat Dewi Ara gusar.
Dekk!
“Aaak!” jerit panjang Penembak Bambu seiring tubuhnya yang terpental jauh ke belakang, ketika ia merasakan ada satu tenaga besar yang tidak terlihat menghantam pusat kelelakiannya yang baru saja dia remas sendiri. (RH)
__ADS_1