Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 15: Kemunculan Penghadang


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


 


Pagi itu, Anik Remas kembali tampil cantik dan memesona. Agenda pagi ini adalah pergi ke Perguruan Cambuk Neraka Pusat. Tadi tengah malam, datang utusan dari Pusat yang membawa surat pemberitahuan tentang kematian Pendekar Cambuk Enam. Namun, surat itu tidak mengabarkan tentang dirampoknya pusaka Cambuk Usus Bumi.


“Kematian Pendekar Cambuk Enam tidak mempengaruhi jadwal Pertemuan Pengangkatan Ketua Satu.”


Itulah salah satu kalimat dalam surat yang dibawa oleh utusan dari perguruan pusat.


Pendekar Cambuk Enam adalah orang kepercayaan mendiang Ketua Satu. Kematiannya tentu merupakan berita duka bagi keluarga besar Perguruan Cambuk Neraka.


Karena itulah, Anik Remas tetap berangkat menuju Perguruan Cambuk Neraka Pusat sesuai jadwal.


Di halaman depan sudah menunggu sebuah kereta kuda dengan bak terbuka tanpa atap. Hanya ada payung besar yang dipasang sebagai pelindung dari sengatan matahari di kala siang.


Anik Remas datang dengan dikawal oleh Gelisa dan tiga wanita berseragam putih-putih dengan cambuk warna putih melilit di pinggangnya yang ramping.


Sementara di depan kereta kuda sudah menunggu pula empat ekor kuda yang diduduki oleh empat lelaki berseragam putih-putih pula. Ada empat kuda pula di sisi belakang kereta kuda yang masih kosong, tetapi dipegangi talinya oleh murid-murid lelaki yang lain.


Gelisa dan ketiga temannya pergi menaiki kuda-kuda yang ada di belakang kereta kuda, sementara Anik Remas yang tampil anggun dengan pakaian serba putih menghampiri pintu kereta yang sudah terbuka. Pintunya kecil dan terkesan hanya formalitas sebagai pelengkap.


Di dekat pintu kereta telah berdiri Bagang Kala yang berjuluk Pendekar Angin Barat. Ia yang membukakan pintu bak kereta yang berisi dua kursi empuk.


Meski sebenarnya Anik Remas bisa naik sendiri, tetapi pagi itu ia bersikap manja dengan cara mengulurkan tangannya kepada Bagang Kala dengan maksud agar dipegang.


Meski jarang keluar ke dunia luar, tetapi pemuda tampan itu mengerti maksud uluran tangan halus sang janda kembang. Ia pun menyambut tangan Anik Remas. Maklum, sudah cukup lama Anik Remas tidak dipegang tangannya dengan lembut oleh seorang pemuda tampan, maka dalam hatinya pun berbunga-bunga seiring senyumnya yang ia berikan kepada pengawal pribadi barunya itu.


Anik Remas naik ke atas kereta kuda lalu duduk dengan gerak gestur seolah ia seorang ratu, yang ketika duduk pun harus hati-hati.


“Duduklah di sini bersamaku, Bagang!” perintah Anik Remas.

__ADS_1


Ketika ia pertama kali berkenalan dengan Bagang Kala, pemuda itu mengaku tidak bisa naik kuda. Karena alasan itulah Anik Remas menawarkan untuk duduk bersamanya di kereta kuda.


“Terima kasih atas kebaikan Ketua Empat. Aku duduk bersama kusir saja,” tolak Bagang Kala santun setelah menutup pintu bak kereta.


Pemuda itu lalu pergi naik dan duduk di sisi kusir yang juga berseragam putih dan bercambuk pada pegangannya.


Anik Remas hanya tersenyum mendapati penolakan Bagang Kala, meski ada rasa kecewa. Namun, ia berusaha memaklumi. Mungkin Bagang Kala malu kepada para murid perguruan.


“Kita berangkat!” perintah Anik Remas sambil memandang punggung bidang Bagang Kala.


Maka berangkatlah rombongan itu dengan satu kereta kuda yang dikawal delapan murid berkuda. Dari wilayah timur Kadipaten Bojongkolot mereka pergi menuju ke wilayah utara, di mana Perguruan Cambuk Neraka Pusat berada.


Kuda Gelisa berlari cukup dekat di sisi kanan kereta, tepat di samping Anik Remas.


“Ketua Empat, bukankah Tetua Pendekar Cambuk Enam adalah orang yang bertanggung jawab menjaga Cambuk Usus Bumi? Aku berpikir bahwa cambuk itu dibawa oleh Tetua ketika dia disergap dan dibunuh,” ujar Gelisa sambil berkuda mengimbangi kecepatan lari kereta.


“Namun, surat yang dibawa utusan tadi malam tidak menyinggung tentang pusaka itu. Mungkin pusaka itu tetap di tangan perguruan,” kata Anik Remas.


“Menurut Ketua Empat, siapa yang akan disepakati menjadi Ketua Satu?” tanya Gelisa.


“Berarti itu termasuk Ketua Empat juga?” tanya Gelisa.


“Aku terbantahkan karena mereka juga menyerang dan ingin membunuhku,” jawab Anik Remas. Lalu tanyanya kepada Bagang Kala, “Bagang, apakah kau sanggup bertarung sampai mati demi melindungiku?”


Bagang Kala menengok ke belakang kepada Anik Remas, lalu jawabnya, “Aku akan melakukan tugasku meski aku harus bertaruh nyawa sendiri.”


Jawaban pemuda itu membuat Anik Remas tersenyum lebar dan Gelisa tersenyum secukupnya, membuat jantung Bagang Kala berdebar-debar. Yang membuat Bagang Kala berdebar-debar tentunya adalah senyuman Anik Remas, bukan senyuman Gelisa, meski gadis itu juga cantik.


“Aku berharap kau bisa menjadi pengawalku selamanya, Bagang,” ujar Anik Remas.


“Terima kasih, Ketua,” ucap Bagang Kala tanpa memberi jawaban terhadap harapan janda cantik itu.

__ADS_1


“Kau tidak mau memberi jawaban, Bagang?” tanya Anik Remas.


“Maafkan aku, Ketua. Aku baru hari ini mulai mengabdi kepadamu, jadi aku belum bisa mempertimbangkan,” jawab Bagang Kala dengan ekspresi yang malu-malu.


“Baiklah, aku tidak akan memaksa,” kata Anik Remas.


“Berhentiii!” teriak lantang seorang penunggang kuda di depan.


Rombongan kereta kuda itupun berhenti berjalan dan mereka memandang jauh ke depan.


Sepuluh tombak di depan sana, telah berdiri sebanyak dua puluh orang berpakaian hitam-hitam yang juga bertopeng kain hitam. Mereka berdiri menutupi jalan dengan satu tangan menggenggam kapak bermata satu berwarna hijau.


“Sudah aku duga akan ada yang menghadang. Awalnya aku kira kelompok Penguasa Dunia yang akan menghadang kita, tapi sepertinya ini berbeda,” kata Anik Remas sambil berdiri dari duduknya agar bisa melihat lebih jelas kelompok penghadang itu.


“Jika kita tidak mengenal mereka, kita belum tahu sehebat apa mereka, tapi jumlah mereka lebih banyak,” kata Gelisa. “Apa yang akan kita lakukan, Ketua?”


“Biar aku yang maju. Hitung-hitung aku memperkenalkan diri siapa itu Pendekar Angin Barat,” kata Bagang Kala.


“Tapi, jika kau maju seorang diri, berarti aku tidak dalam lindunganmu, Bagang,” kata Anik Remas keberatan.


“Baiklah, Ketua. Aku akan selalu berada di dekatmu,” kata Bagang Kala patuh, membuat wanita cantik nan harum itu tersenyum lebar, ia merasa bahagia mendengar kata-kata Bagang Kala.


“Bunaran, majulah dan tanyakan apa mau mereka!” perintah Anik Remas.


“Baik, Ketua!” sahut lelaki penunggang kuda di depan.


Lelaki yang bernama Bunaran segera menggebah kudanya untuk maju lebih jauh ke depan. Namun, ketika Bunaran kian dekat kepada barisan orang bertopeng, ….


Wut wut!


“Aaak!” jerit panjang Bunaran yang disambut oleh dua kapak yang melesat cepat berputar.

__ADS_1


Serangan tiba-tiba itu mengejutkan Bunaran dan membuatnya tidak bisa menghindar. Ia pun tumbang dari punggung kudanya lalu jatuh ke tanah jalanan. Ada dua kapak menancap keras di dadanya. Sementara kudanya berlari pergi sembarang arah.


Serangan terhadap utusan itu membuat Anik Remas dan pihaknya terkejut bukan main. Serangan dua kapak yang menewaskan Bunaran itu jelas adalah pengumuman yang jelas tentang maksud dari para penghadang. (RH)


__ADS_2