
*Penakluk Hutan Timur (PHT)*
“Hahahak!”
Tiba-tiba sesosok makhluk hitam terbang keluar dari dalam air tidak jauh di sisi Kapal Elang Telaga, sambil tertawa terbahak seperti bapak-bapak.
Kemunculan dan suara tawanya yang tiba-tiba cukup mengejutkan Ratu Tirana dan ketiga permaisuri, serta seluruh personel Pasukan Penguasa Telaga.
Jleg!
Setelah bersalto beberapa kali di udara, sosok berjubah hitam itu mendarat halus di geladak kapal.
“Hahaha!”
Kini berdirilah sosok Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara di antara mereka sembari tertawa senang, karena biasanya orang yang tertawa itu perasaannya sedang gembira.
Air bertetesan dari pakaian dan rambut panjang Alma Fatara yang kuyup.
“Bagaimana, Gusti Ratu? Apakah kau menemukannya?” tanya Permaisuri Sandaria lebih dulu. Sepertinya dia yang paling penasaran.
“Iya. Ternyata Ratu Fatara sudah lama menungguku,” jawab Alma Fatara yang membuat keempat wanita cantik di depannya terkejut.
“Bagaimana bisa?” tanya Permaisuri Getara Cinta.
“Sebelum Kerajaan Sanggana Kecil ada, Ratu Fatara berulang kali memimpikan tentang diriku yang akan datang menemuinya dan membawanya pergi ke laut lepas. Karena itulah dia telah lama menungguku. Isi mimpi itu akan menjadi kenyataan jika perang dengang Negeri Tanduk terjadi. Aku meminta bantuannya jika perang itu terjadi. Ratu Fatara bersedia membantu dengan syarat Kerajaan Sanggana Kecil tidak menangkap dan membunuhi ikan besar bersirip kuning, karena itu adalah ikan-ikan petelur. Jika ikan petelur musnah, maka tidak lama lagi ikan-ikan di telaga ini bisa habis, kecuali ikan Fatara dan Siluman Ikan ….”
“Siluman Ikan?” sebut ulang Ratu Tirana seakan tidak percaya.
“Ratu Fatara dan sejumlah ikan Fatara adalah golongan pemimpin. Siluman Ikan adalah golongan prajurit. Sejak Kerajaan Sanggana Kecil berdiri, mereka jarang naik ke permukaan. Oh ya, selain ikan petelur, Ratu Fatara juga meminta tidak menangkapi ikan-ikan kecil. Selama orang-orang Kerajaan tidak merusak keindahan telaga ini dan tidak menyakiti penghuninya, Ratu Fatara tidak akan mengganggu Kerajaan Sanggana Kecil. Biarlah berjalan seperti ini untuk ke depannya. Adapun jika ada nelayan yang dimangsa oleh ikan-ikan besar, Ratu Fatara tidak bertanggung jawab.”
Sebenarnya banyak hal penting yang diobrolkan antara Alma Fatara dengan Ratu Fatara, tetapi hanya sedikit yang disampaikan Alma Fatara kepada Ratu Tirana dan ketiga permaisuri.
Setelahnya, Ratu Siluman memutuskan untuk segera pulang tanpa mau menerima tawaran pakaian pengganti dari sohibul bait. Bahkan ia tidak membawa sekantung besek pun sebagai bekal dalam perjalanan pulang.
Dengan menunggangi Antula si laba-laba raksasa, Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara meninggalkan Kerajaan Sanggana Kecil.
Berita-berita dari dasar Telaga Fatara cukup disampaikan oleh Ratu Tirana kepada Prabu Dira Pratakarsa Diwana.
Sementara itu di dalam Istana Dewi Awan, Setya Gogol dan Lentera Pyar sedang menghadap kepada Permaisuri Geger Jagad atau Permaisuri Dewi Ara.
__ADS_1
Permaisuri Dewi Ara adalah wanita yang memiliki paras begitu jelita dengan berbagai kesempurnaan bentuk wajah. Kekhasan wajahnya ada pada bentuk dahi yang cukup lebar dan licin. Alisnya berketebalan sedang. Ia memiliki bentuk hidung mancung yang sangat cantik, yang jika dilihat dari sudut manapun, tetap cantik. Rambutnya panjang terurai hingga bokong. Meski dia sudah pernah melahirkan satu anak, tetapi bentuk tubuhnya masih begitu indah, meski tidak seindah gitar Spanyol.
Saat itu Permaisuri Dewi Ara mengenakan pakaian yang serba putih tanpa hiasan emas satu pun di kepala dan tubuhnya.
Kedua pemomong Pangeran Arda Handara sedang berlutut di depan Permaisuri yang duduk anggun sambil memegang sulaman.
“Coba kalian cari lagi sampai ke dapur Istana atau ke kandang kuda!” perintah Permaisuri Dewi Ara yang bersikap tenang menyikapi laporan hilangnya sang pangeran.
“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Setya Gogol dan Lentera Pyar yang merasa bersalah atas belum ditemukannya keberadaan Pangeran Arda Handara.
“Minta Bantar Sate untuk membantu mencari,” kata Permaisuri Dewi Ara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap keduanya lagi.
“Jika sampai menjelang senja putraku belum kalian temukan, melaporlah kembali!”
“Baik, Gusti Ratu.”
Setelah itu Setya Gogol dan Lentera Pyar mohon diri. Mereka pergi menemui Kepala Prajurit Istana Dewi Awan yang bernama Bantar Sate, untuk minta dibantu mencari Pangeran Arda Handara.
Bantar Sate mengerahkan sepuluh prajurit bawahannya untuk menyebar mencari.
Mereka mencari hampir di semua tempat, kecuali tempat-tempat yang memang tidak bisa mereka akses. Namun, mereka tidak sungkan bertanya kepada sesama prajurit dan pelayan. Mungkin saja Arda Handara sedang berada di salah satu area khusus yang hanya bisa diakses oleh keluarga Istana.
“Tidak, aku hanya melihatmu saat ini. Hahaha!” jawab lelaki gemuk gendut itu menggombal.
“Kakang Ayuuu!” pekik Lentera Pyar kesal dengan gigi yang saling menekan. “Aku bertanya sungguhan. Apakah kau melihat Pangeran Arda?”
“Eh, iya iya iya. Hehehe!” pekik Gembulayu sambil buru-buru menjauhi jari Lentera Pyar yang ingin mencubit perutnya. “Tadi sebelum siang, dia ada di sini bermain kentang.”
“Lalu ke mana?” tanya Lentera Pyar cepat, seolah menemukan titik terang.
“Tidak tahu setelah itu. Gusti Pangeran tidak pernah laporan kepadaku jika datang atau pergi,” jawab Gembulayu.
“Selesai main-main di sini, Gusti Pangeran ya pergi,” sahut Gowo Tungga sambil menepungi sebaskom besar daging ayam yang sudah dipotong-potong, sepertinya dia ingin membuat menu fried chicken.
Lentera Pyar hanya mengempaskan napas karena informasi kedua juru masak itu tidak cukup memberi titik terang.
“Coba cari di tempat lain, Pyar,” saran Gembulayu. “Anak itu bisa ada di mana-mana. Kau tanya saja kepada Joko Tenang.”
“Siapa Joko Tenang?” tanya Lentera Pyar kerutkan alis.
__ADS_1
“Eeeh, kau tidak tahu siapa itu Joko Tenang? Hahaha!” tanya Gembul Ayu sambil menertawakan.
“Tidak,” jawab Lentera Pyar selugu gadis hutan.
“Joko Tenang itu adalah raja yang beristri sebelas,” kata Gowo Tungga.
“Maksud kalian Gusti Prabu?” terka Lentera Pyar.
“Iya!” jawab kedua lelaki tukang masak itu kompak sambil senyum-senyum.
“Awas kalian, aku adukan nanti kepada Gusti Permaisuri Geger Jagad!” ancam Lentera Pyar.
“Hehehe! Jangan dong, Sayang,” rajuk Gembulayu cengengesan.
Lentera Pyar lalu keluar dari dapur Istana. Di dekat pintu belakang, dilihatnya seorang prajurit penjaga sedang duduk santai sambil menyeruput kopi hangat berteman cemilan kue cucur agar jujur dan mujur.
Berjaga di dapur adalah salah satu pos favorit bagi prajurit. Juru masak tidak pelit untuk sekedar menyajikan cemilan dan kopi luwak merah.
“Prajurit, apakah kau melihat Pangeran Arda?” tanya Lentera Pyar.
“Oh, Gusti Pangeran Arda? Tadi bermain-main ikut menurunkan sayur-sayuran dari pedati,” jawab si prajurit.
“Aku sejak siang mencari-cari Gusti Pangeran tapi tidak ketemu. Apakah dia pergi naik pedati sayur?” ucap Lentera Pyar.
“Kalaupun Gusti Pangeran main pedati, ya tidak ke mana-mana. Pasti tetap ada di dalam Istana,” kata si prajurit santai.
“Iya juga. Tidak mungkin prajurit mengizinkan Gusti Pangeran keluar dari lingkungan Istana,” kata Lentera Pyar menyimpulkan.
“Menghilangnya sejak kapan?” tanya si prajurit.
“Setelah belajar di Pendapa Kebajikan,” jawab Lentera Pyar.
“Coba kau tanya Resi Muda. Mungkin sedang bermain bersama putranya,” saran si prajurit.
Gadis cantik itu hanya mengangguk.
Lentera Pyar menepis kemungkinan bahwa Arda Handara pergi naik pedati ke luar Istana.
Namun, ketika Lentera Pyar hendak pergi ke area kandang kuda Istana, ia tetap memikirkan kemungkinan sang pangeran naik pedati sayur ikut keluar dari lingkungan Istana.
“Aku perlu memastikannya kepada prajurit di Gerbang Naga,” pikir Lentera Pyar.
__ADS_1
Ia pun berbelok arah. (RH)