Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Jalan Dara 13: Ki Ageng Naga


__ADS_3

*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*


Menjelang senja, rombongan Permaisuri Dewi Ara sudah berada di jalan hutan kecil. Mungkin sekitar setengah jam lagi mereka akan memasuki Kadipaten Jalur Bukit.


Saat itu Arda Handara duduk di depan tubuh ibunya. Sambil berkuda dia memainkan sebuah ketapel bagus berwarna putih dengan karet pelontar berwarna biru gelap.


“Ketapel ini bernama Ki Ageng Naga. Bahannya terbuat dari tanduk Naga Raja ribuan tahun yang lalu. Karetnya dibuat oleh pengrajin karet legenda di Negeri Kolong Angin yang ada jauh di seberang tujuh samudera,” kata Ragu Santang saat memberikan ketapel pusaka itu kepada Arda Handara sebagai hadiah.


“Uwwaaah! Ini senjata pusaka, Kek?” tanya Arda Handara tertakjub melihat keindahan senjata yang sering digunakan oleh kaum anak.


“Ini senjata pusaka. Semakin tinggi tenaga dalammu, maka senjata ini akan semakin sakti. Namun, Kakek berpesan, jangan menggunakannya untuk niat yang jahat. Niatmu nanti akan terhubung kepada Ki Ageng Naga. Tapi jika sekedar jahil, tidak mengapa. Kakek tahu kau suka jahil. Ki Ageng Naga juga suka jahil. Hahaha!” jelas Ragu Santang lalu tertawa ringan.


“Hahahak!” Justru Arda Handara yang tertawa kencang, karena hobi jailnya bisa tersalurkan melalui ketapel Ki Ageng Naga itu. Lalu tanyanya lagi, “Lalu, aku harus pakai peluru apa, Kek?”


“Apa saja. Nanti kau bisa melatihnya. Setelah kau sudah memiliki tenaga dalam yang mumpuni, kau bisa menciptakan peluru saktimu sendiri. Jadi, rajin-rajinlah berlatih.”


“Pelurunya pakai uyut-uyut juga bisa, Kek?” tanya Arda Handara lagi.


“Bisa, tapi harus kau niatkan agar uyut-uyutmu bisa melesat cepat, tapi tidak sampai terluka,” jawab Ragu Santang yang saat itu didampingi oleh Permaisuri Mata Hati.


Mendapat hadiah berharga dari Ragu Santang membuat Arda Handara girang bukan main. Ketika pulang dari Hutan Timur, Arda Handara langsung menemui ibu dan kedua pemomongnya untuk memberi tahu tentang ketapel pusaka tersebut.


“Tapi ingat, jangan tunjukkan benda ini kepada adik-adikmu, juga kepada Ayahanda dan Ibunda Ratu,” pesan Dewi Ara kepada putranya sebelum mereka berangkat meninggalkan Istana Sanggana Kecil.


Kembali ke dalam perjalanan.


Dewi Ara menghentikan laju kudanya, membuat yang lain juga menghentikan kudanya.


“Bola Cinta!” panggil Dewi Ara.


“Aku, Dewi!” sahut Tikam Ginting sembari mendekatkan kudanya kepada kuda sang permaisuri.


“Kau pergi lebih dulu ke Kediaman Adipati Siluman Merah. Katakan bahwa kita akan bermalam di kediamannya!” perintah Dewi Ara.


“Baik, Dewi,” ucap Tikam Ginting patuh.

__ADS_1


“Ibunda, aku boleh ikut?” tanya Arda Handara.


“Tapi aku akan berkuda sangat cepat, Arda,” kata Tikam Ginting cepat, agar bocah itu tidak berminat ikut.


“Tidak apa-apa, Kakak Ginting. Aku suka tantangan,” kata Arda Handara terdengar tua.


“Ikutkan saja,” kata Dewi Ara.


“Baik, Dewi,” ucap Tikam Ginting patuh.


Mendengar itu, Arda Handara segera turun dari kuda ibunya dan mendekati kuda Tikam Ginting.


“Arda mau naik di depan atau di belakang?” tanya Tikam Ginting.


“Di depan lebih nyaman,” jawab Arda Handara, lalu mengulurkan tangannya kepada gadis pendekar itu.


“Ayo!” ucap Tikam Ginting sambil menarik tangan Arda Handara untuk naik ke atas kuda dan duduk di depan badannya. Lalu katanya lagi, “Pegangan yang kuat, Arda.”


“Siap, Kakak Ginting!” teriak Arda Handara girang. Ia sudah menyimpan ketapelnya.


“Kami berangkat, Dewi,” pamit Tikam Ginting.


Dewi Ara membalas lambaian tangan putranya dengan lambaian seraya tersenyum.


“Hia hia!” gebah Tikam Ginting mulai memacu kudanya.


Kuda pun berlari kencang.


Posisi Arda Handara yang duduk di depan badan Tikam Ginting membuat gadis itu diam-diam merasa risih. Sebab, kedua bola dadanya selalu berbenturan dengan kepala belakang si bocah.


Namun, di saat Tikam Ginting diam-diam merasa risih, Arda Handara diam saja karena memang dia tidak merasakan hal yang terasa aneh. Hal itu dikarena Arda Handara sudah terbiasa tersentuh oleh kendi asi Dewi Ara, ibunya.


Pada akhirnya, Tikam Ginting membiarkan hal itu terjadi karena ia tidak melihat Arda Handara menunjukkan gelagat cabul.


“Tidak mungkin anak sekecil ini sudah berpikir yang tidak-tidak kepada orang dewasa,” batin Tikam Ginting.

__ADS_1


Kondisi itu terjadi karena lari kuda begitu kencang. Akan beda ceritanya jika kuda itu berlari pelan. Namun, Tikam Ginting wajib melarikan kudanya dengan cepat agar tiba dengan segera di kediaman Adipati Siluman Merah.


Tiba-tiba dari arah yang berlawanan muncul seorang lelaki botak berantakan. Dia berlari kencang sambil memanggul sesosok tubuh wanita yang berambut panjang terurai. Wanita yang dipanggul dalam kondisi diam dan bertelanjang bahu serta bersarung batik.


“Kakak Ginting, lihat, itu perwira gila!” seru Arda Handara yang cepat mengenal lelaki bertelanjang dada tersebut.


“Kau benar, Arda. Dia pasti menculik wanita itu,” kata Tikam Ginting.


“Berarti wanita itu harus kita selamatkan, Kakak,” kata Arda Handara.


Sebelum Tikam Ginting menjawab, lelaki yang memang Genap Seribu adanya, terus berlari menyelisihi kuda yang berlari kencang. Genap Seribu menatap tajam kepada Tikam Ginting dan Arda Handara sambil berlari melintas. Kedua orang yang duduk di atas kuda juga memandangi Genap Seribu yang berlalu seiring mereka saling menjauhi dan membelakangi, seperti perpisahan dua sejoli di jalan yang berlawanan arah.


“Kakak ditugaskan untuk segera sampai di rumah Adipati Siluman Merah. Apa yang dilakukan oleh perwira gila itu bukan urusan kita. Lagipula belum tentu dia menculik wanita itu, mungkin saja itu kekasihnya yang dia selamatkan,” kata Tikam Ginting kepada Arda Handara.


“Tapi tadi, Kakak Ginting sendiri yang yakin wanita itu diculik,” kata Arda.


“Iya, tapi itu sebelum Kakak berpikir lagi,” kilah Tikam Ginting.


Mendadak dari arah depan muncul pula seorang prajurit bertelanjang dada dengan ciri-ciri asesoris nyaris sama dengan Genap Seribu. Lelaki yang lebih tua dari Genap Seribu itu tidak lain adalah Perwira Serak Barbaya, Kepala Keamanan Kadipaten Jalur Bukit.


“Pendekar Bola Cinta, apakah kau melihat penculik putri Adipati?!” teriak Perwira Serak Barbaya, meski jaraknya dengan penunggang kuda masih cukup jauh. Rupanya dia sangat mengenali sosok penunggang kuda.


Cukup terkejut Tikam Ginting mendengar kalimat “penculik putri Adipati”. Hal itu memaksa Tikam Ginting menghentikan lari kudanya. Perwira Serak Barbaya juga menghentikan larinya.


“Maksudmu perwira gila dari Kadipaten Makmur?” tanya Tikam Ginting.


Giliran Perwira Serak Barbaya yang terkejut mendengar pertanyaan Tikam Ginting.


“Apakah penculik itu Perwira Genap Seribu?” terka Perwira Serak Barbaya.


“Iya, orang yang barusan berpapasan dengan kami adalah Perwira Genap Seribu, tetapi dia menjadi gila dan sudah diberhentikan dari keperwiraannya,” jelas Tikam Ginting.


“Kurang ajar!” gusar Perwira Serak Barbaya. “Akan aku kejar sampai ke Kadipaten Makmur sekalipun!”


Setelah berkata seperti itu, Perwira Serak Barbaya kembali melanjutkan larinya tanpa bakso basi lagi.

__ADS_1


Tikam Ginting pun kembali menggebah kudanya.


Belum terlalu jauh Tikam Ginting berkuda lagi, dari arah yang berlawanan muncul serombongan prajurit berseragam biru terang yang juga berlari kencang. Entah, sudah berapa kilometer mereka berlari mengejar. (RH)


__ADS_2