Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 6: Dua Kapal Bintang Berhadapan


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Kegelapan. Itulah yang terlihat, meski ada pergerakan sebuah kapal besar di laut itu. Orang-orang yang ada di atas kapal pun hanya melihat kegelapan di sekeliling mereka, kecuali jika mereka mendongak ke langit malam. Malam itu cerah, ada banyak bintang. Ada yang genit kelap-kelip, ada pula yang melotot, dan ada pula yang memilih terpejam.


Para orang dewasa sudah mendamaikan ketiga anak kecil yang sempat bergelut untuk pertama kalinya, di dalam gulita pula. Padahal, selain hidungnya yang lecet karena dicubit, Arda Handara juga merasakan selangkangannya agak sakit.


Permaisuri Dewi Ara memberi ketiganya hukuman, yaitu belajar membaca bintang kepada Nahkoda Dayung Karat. Proses pembelajaran pun gelap-gelapan.


“Itu namanya bintang golok,” kata Dayung Karat sambil menunjuk ke satu arah di langit.


“Bagaimana Paman bisa tahu?” tanya Arda Handara.


“Coba kalian perhatikan. Anggap saja kalian sedang ingin melukis sebuah golok di langit. Cari titik-titik bintang yang jika dibuat garis akan membentuk gambar golok,” kata Dayung Karat.


Sejenak suasana hening, ketika Dayung Karat memberi ketiga anak itu kesempatan untuk mengamati bintang-bintang di langit.


“Itu tidak seperti golok, Paman. Itu seperti pisang besar yang bengkok,” kata Arda Handara serius.


“Itu seperti golok. Lihat saja ada ujungnya,” kata Putri Keken.


“Pisang juga ada ujungnya!” debat Arda Handara. “Kalian tanya saja kepada Paman Dayung. Apakah pisangnya punya ujung? Di mana-mana, pisang itu bentuknya bengkok dan punya ujung.”


Di dalam gelap, Dayung Karat hanya mendelik. Ia tidak berharap bahwa salah satu anak perempuan itu bertanya tentang pisang miliknya, karena dia tidak punya pisang.


“Terserah kau mau menganggapnya pisang atau terong, kami berdua sepakat itu adalah gambar golok!” tandas Mimi Mama.


“Ya sudah. Bagiku itu adalah bintang pisang!” tandas Arda Handara pula. Lalu katanya kepada Dayung Karat, “Paman, coba lihat bintang-bintang di sebelah sana!”


Dayung Karat dan kedua gadis kecil itu menggeser pandangannya ke langit arah tunjukan Arda Handara.


“Itu pasti bintang ibu,” kata Arda Handara.


“Dari mana Pangeran menduga seperti itu?” tanya Dayung Karat.


“Gambarnya seperti susu Ibunda yang sering aku minum,” jawab Arda Handara.


“Apa? Sebesar ini kau masih menyusu, Ulat Bulu?” tanya Mimi Mama terkejut.


“Enak saja!” rutuk Arda Handara. “Aku sudah berhenti menyusu sejak sepuluh tahun yang lalu. Jangan-jangan kalian menyusu kepada sapi di kandang?”


“Sembarangan!” umpat Mimi Mama. “Kau jangan mulai lagi, Ulat Bulu!”


“Aku tidak memulai. Kalian saja yang suka mengajak aku berkelahi. Jangan lagi membayangkan kalian akan berjaya seperti tadi, tidak akan aku biarkan itu terjadi lagi,” kata Arda Handara.


Di saat terjadi perdebatan di antara trio kecil tersebut, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh perkataan Permaisuri Dewi Ara.


“Ada kapal besar tepat di depan kita. Nyalakan semua penerangan!” seru Dewi Ara.

__ADS_1


Detik berikutnya, semua penerangan yang ada di kapal itu menyala semua. Maka menjelmalah kapal hitam yang gelap menjadi seperti kepala monster di tengah lautan, karena pada bagian depan anjungan ada lubang besar seperti mata setan. Sumber penerangan yang berpusat di dalam anjungan membuat kapal seperti memiliki mata setan yang menyeramkan.


Sersss!


Tiba-tiba dari dalam kegelapan melesat sepuluh sinar biru terang seperti suar yang naik ke langit lalu meluncur jatuh ke arah kapal hitam.


Ketika kesepuluh sinar biru itu meluncur dari pelepasnya, sekilas terlihat benda kuning seperti emas beberapa puluh tombak di depan sana. Dan, ketika kesepuluh sinar biru itu mengudara tinggi, semakin terlihat jelas bahwa sinar itu bersumber dari kapal besar berwarna kuning emas.


Melihat serangan sinar itu, Bewe Sereng dan Seser Kaseser cepat bertindak. Seolah memiliki ilmu yang sama, kedua pembesar Negeri Pulau Kabut itu memanah panah sinar merah dengan busur yang tidak terlihat. Gerakan kedua dalam memanah sangat cepat.


Set set set …!


Lima panah sinar merah tambah lima panah sinar merah sama dengan sepuluh panah sinar merah. Uniknya, kesepuluh sinar merah itu melesat tidak lurus, tapi berbelok seperti rudal mendeteksi radiasi panas.


Ctar ctar ctar …!


Kesepuluh sinar biru yang datang dicegat di udara oleh kesepuluh panah sinar merah. Sepuluh ledakan nyaring terjadi di udara, menciptakan kembang api laksana bulan baru.


“Wow wow wow!” teriak Arda Handara senang melihat keindahan di langit malam.


Sementara itu di atas Kapal Bintang Emas yang berhadapan dengan Kapal Bintang Hitam, Genggam Garam selaku pelepas sepuluh sinar biru terang dibuat terkejut.


Lenyapnya kembang api di udara membuat Kapal Bintang Emas kembali tidak terlihat karena gelap.


“Nyalakan cahaya!” teriak Genggam Garam.


Blass!


Kejap berikutnya, Kapal Bintang Emas menyala terang dan bersinar emas. Wujudnya indah di dalam kegelapan lautan.


Kedua kapal yang sudah sama-sama terlihat terang itu terus bergerak saling mendekat, seperti sepasang kekasih yang telah lama berpisah. Namun, sebagian besar orang yang ada di atasnya diliputi ketegangan.


“Turunkan sauh dan layar!” teriak Genggam Garam.


“Rupanya Bajak Laut Malam,” ucap Bewe Sereng saat mengenali bendera kapal emas itu.


“Turunkan sauh dan layar!” perintah Dewi Ara pula datar, yang kemudian diteruskan oleh Nahkoda Dayung Karat.


“Turunkan sauh dan layar!”


Kedua kapal pun menurunkan jangkar dan layar mereka. Akhirnya, kedua kapal saling berhenti dan berhadap-hadapan dalam jarak belasan tombak.


“Gusti Permaisuri! Kami di siniii” teriak Anik Remas kencang dari kapal kuning emas.


Namun, Dewi Ara dan pengikutnya tidak menyahut.


“Panjang umur mereka,” komentar Tikam Ginting.


“Perintahkan mereka membebaskan Bagang Kala dan Anik Remas. Jika tidak, kapal mereka akan aku hancurkan,” perintah Dewi Ara kepada Tikam Ginting.

__ADS_1


“Baik, Gusti,” ucap Tikam Ginting patuh.


Namun, sebelum Tikam Ginting berteriak ke seberang sana, Genggam Garang lebih dulu berteriak yang mengandung tenaga dalam agar pesannya terdengar oleh pihak lawan.


“Permaisuri! Kembalikan kapal yang kalian rampok!”


“Bebaskan Bagang Kala dan Anik Remas! Atau, Gusti Permaisuri menghancurkan kapal kalian!” balas Tikam Ginting dengan teriakan bertenaga dalam pula, tanpa menjawab teriakan Genggam Garam.


“Aku tidak menawan kedua pendekarmu, Permaisuri. Mereka adalah tamu kapalku. Serahkan kembali Kapal Bintang Hitam!” teriak Genggam Garam.


Blar blar blar …!


Tiba-tiba lima ledakan terjadi di geladak depan Kapal Bintang Emas tanpa terlihat ada serangan yang mendarat.


“Dewi Centing!” pekik Genggam Garam terkejut.


“Bebek bugil!” umpat Perkosa Ombak terkejut pula.


“Cebok monyet, monyet bunting, bunting tua, tua setan!” maki latah seorang anggota bajak laut bertubuh besar.


Lima ledakan yang merusak geladak itu membuat Genggam Garam gusar, tapi dia bingung.


“Bagaimana bisa mereka meledakkan kapal tanpa menyerang? Jangankan kapal ini, kepala-kepala kita bisa saja diledakkan!” geram Genggam Garam.


“Lalu bagaimana, Ketua?” tanya Tangan Kanan.


“Peringatan terakhir untuk kalian! Bebaskan Bagang Kala dan Anik Remas! Sepuluh hitungan!” seru Tikam Ginting lagi.


“Kurang ajar mereka, Dewi Centing!” ucap Genggam Garam kepada dewi yang dipujanya, seolah-olah dewi itu ada dan mendengar.


“Satu!” teriak Tikam Ginting lantang.


“Hentikan hitungan! Aku akan bebaskan orang kalian!” teriak Genggam Garam cepat. Lalu perintahnya kepada Keong Gelap, “Keong, turunkan perahu dan kirim kedua tamu kita!”


“Baik, Ketua,” ucap Keong Gelap patuh.


“Katakan kepada permaisurimu, aku sudah membebaskan kalian, apa balasannya. Aku minta kapalku dikembalikan,” kata Genggam Garam kepada Bagang Kala dan Anik Remas. Selera humornya seolah telah pergi dalam situasi seperti itu.


“Baik. Terima kasih atas kebaikan Ketua terhadap kami,” kata Anik Remas seraya tersenyum cantik, tapi tidak dicantik-cantikkan karena istri Bagang Kala itu memang cantik.


“Tentu saja. Seandainya saja suamimu tidak di sini, aku pasti akan menunjukkan kelelakianku kepada permaisurimu demi mempertahankanmu tetap dalam kelompok ini,” ujar Genggam Garam seraya tersenyum.


Bagang Kala hanya menatap Genggam Garam dengan tatapan cemburu.


“Hahaha! Tidak perlu cemburu, Bagang. Aku berkata ‘seandainya’,” kata Genggam Garam yang mulai tersulut selera humornya.


“Dua!” teriak Tikam Ginting lagi karena tidak melihat tanda-tanda Bagang Kala dan Anik Remas dilepas.


“Hentikan hitungan! Kami bebas!” teriak Anik Remas kepada Tikam Ginting. (RH)

__ADS_1


__ADS_2